Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: RIAN REBUT ANAK DI PENTHOUSE
Pukul 14.00 siang. Gedung Vion Tower. Lobi.
Hujan deras baru reda. Lantai marmer lobi yang biasanya mengilap kini basah kena sisa air pel.
Security yang biasanya berdiri tegak kayak patung hari ini panik luar biasa sambil berkerumun.
Soalnya, tepat di depan pintu kaca utama, berdiri seorang pria pakai jaket hijau driver ojek online basah kuyup. Helm usang di genggamannya, rambut berantakan, mata merah pekat, dan bau keringat tajam menyengat.
Rian.
Bukan lagi Rian yang kemarin nunggu diam di bawah terik. Tapi Rian yang sudah kehilangan kewarasan.
"ALESHA! KELUAR KAU! ALESHA! ANAK ITU DARAH DAGING KU! KAU TIDAK BERHAK HAMIL ANAK KU BERSAMA VION!"
Rian teriak histeris di tengah megahnya lobi Vion Tower, disaksikan lima puluh pegawai dan sepuluh wartawan yang kebetulan padat di sana karena kabar kehamilan viral sejak pagi tadi.
Semua orang menatap Rian dengan jijik dan kaget.
Security buru-buru maju amankan dia.
"Tuan, silakan keluar! Anda dilarang teriak di sini!"
Rian dorong petugas itu sampai jatuh ke lantai. Ia lari nerobos masuk ke lobi sambil angkat tinggi ponsel butut layar retak, nunjukin foto sepuluh test pack garis dua yang viral pagi ini.
"LIHAT! ISTRIKU HAMIL! ALESHA HAMIL ANAK KU! DIA SELINGKUH SAMA VION! ANAK ITU BENIH KU! KAMI PACARAN TUJUH TAHUN! VION CUMA SEPULUH HARI!"
Jeritan histeris itu menggema di seluruh lobi marmer tinggi dua puluh meter.
Sementara itu, di lantai 99, di penthouse mewah, Alesha yang baru selesai periksa sama dokter pribadi dan dipastikan hamil empat minggu, duduk bersandar di sofa dengan selimut putih nutup perut ratanya. Wajahnya masih pucat sisa mual pagi hari.
Vion berdiri tegak di balik dinding kaca raksasa, ngamati ke bawah dan menangkap titik hijau kecil di lobi. Rian.
Sorot mata Vion yang tadinya begitu lembut saat elus perut Alesha dan bilang "anak ini anak saya" kini berubah jadi CEO kejam yang paling ditakuti se-negeri. Rahangnya mengeras tajam, kepalan tangannya bikin buku jarinya memutih.
"Ratuku, tetap di sini. Jangan turun," perintah Vion dengan nada dingin seperti es.
"Tidak, Vion. Aku harus turun. Ini anak ku. Aku harus luruskan semuanya," bantah Alesha sambil coba bangkit.
Vion tahan bahu Alesha dengan halus tapi tegas.
"Tidak perlu. Kamu lagi hamil, tidak boleh stres. Biar aku yang beresin sampah itu."
Vion tekan tombol interkom di meja.
"Hendra. Seret Rian naik ke penthouse. Sekarang juga."
Lima menit berselang, lift eksekutif terbuka di lantai 99.
Rian digelandang paksa dua pengawal berbadan besar masuk ke penthouse seribu meter itu. Jaket ojeknya yang basah netesin air di karpet wol impor lima ratus juta. Helm usangnya terlempar jatuh ke lantai.
Pria itu dapati Alesha duduk di sofa berselimut putih dengan rupa pucat tapi memukau, sementara Vion berdiri tegak di depannya seperti benteng yang siap lindungi sang ratu.
Rian langsung jatuh berlutut di depan Alesha, ngabaikan Vion sepenuhnya.
"Alesha... Alesha... kamu hamil, kan? Itu anak ku, bukan? Anak kita? Aku tahu pasti, sebulan lalu kita masih... di apartemenmu... kita masih... Alesha, kembali ke aku... aku janji akan jadi ayah yang tanggung jawab... mari kita besarkan anak ini bareng... tinggalkan Vion..."
Alesha memandangi Rian yang bersimpuh di depannya pakai jaket bau apek, pria yang ia sayangi tujuh tahun, pria yang campakkan dia di altar, dan pria yang kini terpuruk jadi driver ojek.
Dulu, Rian bersimpuh begini pasti bikin hatinya luluh.
Tapi sekarang, tidak lagi.
Alesha bangkit perlahan, selimut putihnya jatuh ke bawah, ngekspos gaun hamil putih bersih yang baru dibeliin Vion pagi tadi.
Ia melangkah tenang menghampiri Rian yang masih bersimpuh.
Langkahnya mantap.
Ia berhenti tepat satu meter di depan Rian.
"Rian," ucap Alesha dengan nada lembut, tapi tiap katanya tajam di ruangan sunyi. "Ingat kapan terakhir kali kau sentuh aku?"
Rian dongak dengan air mata. "Sebulan lalu... di apartemenmu... kita..."
"Menyentuh," potong Alesha dingin. "Kau sebut itu menyentuh. Tapi kau lupa, Rian. Sebulan lalu, tubuhmu sudah impoten."
Kata impoten itu menghantam Rian seperti petir di siang bolong.
Wajah Rian seketika pucat pasi.
Alesha lanjutkan dengan nada makin beku.
"Bulan lalu, kau pulang mabuk berat sama Clarissa. Kau niat sentuh aku, tapi tubuhmu tidak mampu berfungsi. Kau impoten total. Kau lampiaskan amarah dengan mukul aku dan caci maki aku sebagai wanita tidak berguna. Kau sudah pikun? Dokter pribadimu sendiri yang diagnosa kau impoten karena keseringan minum obat kuat sama Clarissa. Rekam medis itu masih tersimpan rapi di email ku. Mau aku tampilkan di depan wartawan di bawah?"
Rian merosot jatuh tersungkur di atas karpet mewah itu. Sekujur tubuhnya gemetar hebat.
"Tidak... tidak mungkin... aku..."
"Jadi, janin ini bukan benih darimu, Rian," tegas Alesha sambil elus perut ratanya dengan lembut. "Anak ini darah daging suami ku. Vion Mahendra. Buah hati yang tercipta dari cinta tulus, bukan dari obat kuat dan pengkhianatan busuk seperti kamu dan Clarissa."
Di balik punggung Alesha, Vion senyum tipis, senyum kepuasan mutlak sebagai pemenang.
Pria itu melangkah dekati Rian yang sudah tak berdaya di lantai, lalu jongkok tepat di depannya, tatap mata Rian yang merah.
"Dengar baik-baik, driver ojek," bisik Vion dengan suara rendah begitu dingin sampai bikin bulu kuduk merinding. "Istriku sudah bilang anak ini darah daging ku. Maka mutlak ia anak ku. Kalau kau berani klaim anak ini darahmu sekali lagi saja, aku akan pastikan kamu impoten selamanya. Bukan karena obat kuat. Melainkan karena aku akan potong."
Rian kehilangan kendali, cairan hangat tak tertahankan merembes basahi celana ojeknya yang sudah robek, ngotori karpet wol setengah miliar itu.
Vion bangkit dengan gestur jijik, lalu tekan tombol interkom lagi.
"Hendra. Bersihkan karpet ini. Buang dan ganti baru. Lalu seret sampah ini keluar gedung. Buang ke got depan kontrakan Tanjung Priok tempat ia tinggal, biar dia ingat dari mana asalnya."
Dua pengawal kembali cengkeram tubuh Rian yang sudah lemas dengan celana basah karena ngompol, seret pria itu keluar dari penthouse. Bau pesing tertinggal kuat di udara.
Pintu lift tertutup rapat.
Penthouse kembali sunyi.
Alesha masih berdiri di tengah ruangan, usap perut ratanya dengan air mata menetes pelan.
Vion hampiri dari belakang, lingkar lengan di pinggang wanita itu, lalu kecup mesra di leher jenjangnya.
"Jangan nangis, Ratuku. Bayi kita tidak suka ibunya sedih."
Alesha berbalik peluk Vion erat.
"Vion... apa benar anak ini darah dagingmu? Malam itu... malam pertama kita... aku tidak ingat sama sekali... aku teler karena mual..."
Vion diam sejenak, sebelum akhirnya senyum tulus dan kecup lembut kening Alesha.
"Tentu saja, Ratuku. Malam pertama kita. Kamu mungkin tidak ingat karena ketiduran habis minum anggur. Tapi aku ingat. Sangat detail. Dan aku nikmati setiap detiknya."
Alesha pukul dada Vion dengan malu luar biasa, wajahnya merah padam.
"Vion! Kau ini!"
Vion ketawa bahagia, tawa tulus dari seorang penguasa kejam yang siap jadi seorang ayah.
Sementara itu, jauh di bawah tepat di got depan Gedung Vion Tower, Rian terkapar tak berdaya dengan celana basah kotor karena ngompol, menengadah menatap megahnya penthouse lantai 99 yang menjulang tinggi, tempat istrinya yang tengah hamil darah daging pria lain.
Dan ia sama sekali tidak punya daya untuk ubah keadaan.