Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Senyum Lembut Bu Siska
Malam harinya, suasana di dalam ruangan kelas TK 'Panda Merah' yang sudah sepi tampak sangat berbeda. Lampu ruangan dimatikan, hanya menyisakan pendar redup dari layar laptop tipis yang menyala di meja guru.
Ibu Siska—yang tadi siang tersenyum manis dan ramah pada anak-anak—kini duduk kaku dengan tatapan mata yang sangat dingin. Gaun kremnya yang anggun telah berganti dengan pakaian taktis serba hitam.
Di layar laptopnya, tertera dokumen rahasia berkode sandi tingkat tinggi. Foto Chiko, Mila, dan Lala terpampang jelas di sana.
Chiko: Pegawai Kantor Khusus / Terduga Agen Rahasia
Mila: Ibu Rumah Tangga / Terduga Kontak Luar Negeri
Lala: Subject 04 / Aset Genius IQ 210 Eks-Laboratorium Kuantum
Bu Siska menempelkan earpiece terenkripsi ke telinganya. Suara terdistorsi melintasi saluran rahasia.
"Bagaimana situasinya, Agen Siska? Apakah target sudah teridentifikasi?" tanya suara di ujung telepon.
"Konfirmasi," jawab Bu Siska dingin, tanpa ada sedikit pun sisa suara lembutnya saat mengajar. "Subject 04 berada di bawah pengawasan dua orang tua angkatnya. Mereka bertindak sangat protektif, tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa pasangan mereka masing-masing menyimpan rahasia besar. Keretakan penyamaran mereka adalah celah kita."
"Sempurna. Organisasi Arachne membutuhkan otak Subject 04 untuk mengaktifkan senjata Kuantum. Dapatkan anak itu hidup-hidup. Besok saat piknik sekolah... manfaatkan kelengahan orang tua angkatnya dan culik anak itu."
"Diterima." Bu Siska tersenyum culas.
Keesokan harinya, St. Starling Academy menggelar acara piknik tahunan di Taman Hutan Kota. Udara pagi terasa sejuk, dipenuhi gelak tawa anak-anak yang berlarian di atas rumput hijau.
Lala berjalan anggun di antara Chiko dan Mila. Hari ini, ia memakai topi jerami mungil dengan pita pink, bando telinga panda, serta tas punggung pandanya yang tak pernah ketinggalan.
"Bunda! Lihat! Ada kupu-kupu warna biru!" seru Lala gembira sambil menunjuk ke arah semak-semak. Puk-puk-puk! Langkah kaki kecilnya berlari-lari kecil.
"Jangan lari jauh-jauh ya, Sayang," ingat Mila lembut seraya menggamit lengan Chiko.
Chiko tersenyum, meremas pelan jemari Mila. Namun, di balik kacamata tebalnya, pindaian Lensa Pintar milik Chiko mendeteksi gangguan frekuensi radio di sekitar hutan kota.
‘Ada frekuensi pengacau sinyal buatan... Seseorang sedang mengisolasi area ini,’ batin Chiko waspada, berpura-pura canggung sambil membetulkan kacamatanya.
Di sisi lain, Mila menangkap bau tipis yang tidak asing di udara. ‘Aroma bahan peledak taktis dan minyak pelumas senjata K-9... Bau ini berasal dari arah semak-semak.’
Namun, demi menjaga penyamaran di depan pasangan masing-masing, Chiko tetap berakting sebagai suami penakut yang agak canggung, dan Mila tetap berpura-pura menjadi ibu rumah tangga yang lembut dan polos.
Tak lama, Bu Siska melangkah menghampiri mereka sambil membawa keranjang buah dan senyuman paling hangat.
"Selamat pagi, Pak Chiko, Bu Mila! Wah, Lala kelihatannya gembira sekali hari ini," sapa Bu Siska sangat ramah.
"Selamat pagi, Bu Siska," balas Chiko sopan dengan senyum karyawan biasanya.
"Pagi, Ibu Guru," tambah Mila manis.
"Lala sayang, ikut Ibu Guru sebentar yuk? Di sana ada tenda khusus mewarnai bersama teman-teman!" ajak Bu Siska sambil mengulurkan tangannya pada Lala.
Lala mendongak. Di dalam mata bulat nan polos milik Lala, sensor mikronya menangkap detak jantung Bu Siska yang melaju kencang—detak jantung seseorang yang sedang bersiap melancarkan serangan. Melalui pemindai di bando pandanya, Lala bahkan melihat sebilah jarum suntik penenang tersembunyi di balik lengan baju Bu Siska!
‘Wah... Bu Siska ternyata penjahat baru!’ batin Lala menjerit riang di dalam hati. ‘Pura-pura jadi guru ramah padahal mau culik Lala!’
Lala tidak takut sedikit pun. Sebaliknya, ia menyunggingkan senyuman paling imut.
"Mau! Lala mau ikut Ibu Guru!" sahut Lala riang, menggamit jari Bu Siska.
Namun, saat jemari mungil Lala menyentuh pergelangan tangan Bu Siska, tombol mikro di kotak pensil panda raksasa yang digendong Lala bergetar halus.
BZZZZT!
Sebuah sinyal mikro berpindah dari kotak pensil Lala langsung ke dalam jam tangan pintar Bu Siska, meretas seluruh data perintah organisasi Arachne dalam hitungan 0,05 detik!
‘Sip! Data markas dan rencana Bu Siska sudah masuk ke memori kotak pensil Lala!’ batin Lala tertawa cerdik.
"Papa, Bunda! Lala main mewarnai dulu ya sama Bu Siska!" pamit Lala sambil melambaikan tangan kecilnya.
Chiko dan Mila menatap kepergian Lala bersama Bu Siska menuju ke arah jalan setapak yang sepi.
Chiko berpura-pura pamit pada Mila. "Bunda, Papa ke toilet sebentar ya? Tiba-tiba perut Papa agak mulas."
"Iya, Papa. Bunda juga mau beli air mineral dulu di kantin," balas Mila manis.
Begitu mereka berpisah dan saling membelakangi, raut wajah polos kedua orang tua itu seketika sirna.
Chiko berbelok ke balik pohon besar, menyentuh jam peretasnya dengan tatapan dingin sang Mastermind. ‘Dia membawa Lala ke zona tanpa sinyal. Waktunya melumpuhkan mereka dari jarak jauh.’
Di sudut lain, Mila menyelinap ke balik semak-semak, menarik dua pisau titanium dari balik gaunnya dengan aura Ratu Viper yang mematikan. ‘Berani-beraninya dia menyentuh putriku... Aku akan habisi dia tanpa diketahui Chiko.’
Keduanya sama-sama bergerak cepat ke arah Hutan Pinus untuk menyelamatkan Lala secara terpisah—tanpa sedikit pun menyadari bahwa pasangan mereka juga sedang melakukan hal yang sama!
Bersambung..