Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Siska yang sedang duduk menyilangkan kaki di kursi sudut toko tiba-tiba merasakan hawa yang sangat aneh.
Entah kenapa, suasana toko yang tadinya biasa saja kini terasa sangat nyaman, wangi, dan membuat hatinya damai.
Bahkan Siska yang tidak berniat membeli apa pun mendadak punya dorongan kuat untuk mengambil keranjang belanja.
"Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba aku ingin membeli camilan di rak ujung sana?" batin Siska kebingungan memegangi dadanya.
Di luar toko, pemandangan yang jauh lebih gila sedang terjadi di sepanjang jalan desa Sukamaju.
Warga yang sedang lewat dengan sepeda motor, ibu-ibu yang sedang berjalan kaki, hingga anak-anak sekolah yang baru pulang, tiba-tiba berhenti serempak.
Mereka semua menoleh ke arah Toko Grosir Hoki Pratama dengan mata berbinar-binar seperti melihat surga yang turun ke bumi.
Daya tarik magis dari aura penglaris itu benar-benar mengendalikan hasrat belanja mereka hingga tingkat maksimal.
"Wah, tokonya si Akbar sudah buka ya? Kok rasanya dingin dan nyaman banget lihat dari luar," ucap seorang bapak-bapak yang sedang menuntun sepedanya.
"Iya Pak, ayo kita masuk lihat-lihat, kebetulan beras di rumah sudah habis," ajak istrinya menarik tangan suaminya dengan semangat.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit setelah pintu dibuka, gelombang manusia mulai membanjiri masuk ke dalam toko.
Trak trak trak.
Suara puluhan troli dan keranjang belanja ditarik secara bersamaan oleh para pengunjung.
Mereka tidak hanya melihat-lihat, tapi langsung memasukkan barang-barang ke dalam keranjang seperti orang kesetanan.
Minyak goreng, beras karungan, gula pasir, hingga sabun mandi ludes diambil dari rak besi dalam sekejap mata.
Risa yang berdiri di belakang mesin kasir sampai melongo tidak percaya melihat lautan manusia di depannya.
"Ini... ini beneran warga desa kita Bar? Kok mereka belanjanya brutal sekali seperti mau kiamat besok," ucap Risa gemetar memegang pemindai barcode.
"Sudah kubilang kan Mbak Risa, toko kita ini pasti akan sangat laku keras," jawab Akbar santai sambil bersandar di meja kasir.
"Ayo cepat scan barang mereka, jangan sampai antreannya mengular sampai ke jalan raya."
Tit tit tit tit.
Bunyi mesin pemindai barcode berbunyi tanpa henti dengan kecepatan luar biasa.
Tiga orang kasir tambahan yang disewa Risa juga ikut kewalahan melayani pembeli yang terus berdatangan tanpa putus.
Uang kertas seratus ribuan dan lima puluh ribuan bertumpuk memenuhi laci kasir hingga nyaris tumpah.
Siska yang tadinya duduk meremehkan kini sudah berdiri mematung di sudut ruangan dengan mulut menganga lebar.
Dia sudah berkeliling ke banyak supermarket besar di Jakarta, tapi dia belum pernah melihat fenomena belanja segila ini.
Orang-orang desa ini memborong sembako dalam jumlah kartonan seolah uang mereka tidak ada habisnya.
"Ini tidak masuk akal, dari mana orang-orang desa ini punya uang sebanyak itu untuk memborong barang?" gumam Siska menggelengkan kepalanya.
Siska tidak tahu kalau Akbar sengaja menjual semua barang sembako itu dengan harga modal pabrik tanpa mengambil untung sepeser pun untuk hari pertama ini.
Ditambah lagi dengan efek aura penglaris tingkat dewa, perpaduan itu membuat hasrat memborong warga menjadi tidak terbendung lagi.
Waktu terus berlalu dengan sangat cepat diiringi hiruk-pikuk suara pembeli yang berdesakan.
Teng.
Jam dinding menunjukkan tepat pukul sebelas siang, batas waktu satu jam yang dijanjikan Akbar sudah habis.
Akbar berjalan santai menghampiri Risa yang sedang mengelap keringat di dahinya dengan tisu.
"Bagaimana laporannya Mbak Risa? Tolong bacakan total omzet satu jam pertama kita dengan suara keras," pinta Akbar tersenyum.
Risa menekan tombol rekap di mesin komputernya dan matanya kembali melotot melihat angka yang muncul di layar.
"Total omzet penjualan kita dari empat mesin kasir dalam satu jam ini adalah... seratus dua puluh lima juta rupiah Bar!" teriak Risa histeris saking gembiranya.
Suara teriakan Risa itu terdengar sangat jelas oleh Siska yang sedang berjalan perlahan mendekati meja kasir.
Langkah kaki Siska langsung terhenti dan kakinya terasa sangat lemas mendengar angka seratus dua puluh lima juta tersebut.
Itu berarti dalam sehari, toko desa ini bisa meraup omzet lebih dari satu miliar rupiah jika pengunjungnya terus seramai ini.
Akbar memutar tubuhnya dan menatap Siska dengan pandangan kemenangan yang sangat mendominasi.
"Bagaimana Mbak Siska dari Jakarta? Apakah omzet segitu masih kurang meyakinkan untuk bosmu di sana?" tanya Akbar dengan nada mengejek yang halus.
Wajah Siska langsung memerah menahan rasa malu yang luar biasa karena sudah meremehkan pemuda di depannya ini.
Dia buru-buru mengubah sikap arogannya menjadi sangat profesional dan menundukkan kepalanya sedikit.
"Maafkan saya Mas Akbar, saya benar-benar salah menilai potensi pasar di toko Anda ini," ucap Siska dengan suara bergetar pelan.
"Omzet satu jam ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau toko Anda layak menjadi mitra prioritas kami."
Akbar mendengus pelan dan kembali menyilangkan tangannya di depan dada.
"Bagus kalau Mbak sudah sadar, tapi karena Mbak sudah meragukan kami di awal tadi, saya mau mengubah isi kontraknya sedikit."
Siska langsung mendongak kaget menatap wajah Akbar.
"Mengubah bagaimana maksud Mas Akbar? Harga yang kami berikan sudah harga distributor paling murah lho."
"Saya mau potongan harga sepuluh persen lagi dari total seluruh tagihan nota setengah miliar itu," tawar Akbar sadis tanpa ampun.
"Kalau bos Mbak tidak setuju, saya pastikan hari ini juga saya akan menelepon pabrik kompetitor kalian."
Mendengar ancaman pembatalan itu, Siska langsung panik setengah mati.
Kehilangan pelanggan grosir dengan perputaran uang secepat ini sama saja dengan membuang emas ke selokan.
"Baik Mas Akbar, saya yang akan bertanggung jawab mengambil selisih sepuluh persen itu dari jatah komisi pribadi saya," pasrah Siska menelan ludah pahit.
"Asalkan Mas Akbar tetap mengambil barang suplai dari perusahaan kami setiap minggunya."
Akbar tersenyum sangat lebar dan mengulurkan tangan kanannya ke arah gadis kota tersebut.
"Kesepakatan yang sangat cerdas Mbak Siska, selamat bekerja sama dengan Toko Hoki Pratama."
Siska menjabat tangan Akbar dengan rasa segan dan kagum yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
Pemuda desa ini tidak hanya punya modal uang yang besar, tapi insting bisnis dan cara negosiasinya sangat menakutkan layaknya mafia elit.
Ding.
Suara jernih sistem kembali bergema di kepala Akbar merayakan kemenangan negosiasinya.
[Tindakan dominasi bisnis dan manipulasi keuntungan berhasil dilakukan dengan sempurna.]
[Sistem memberikan penghargaan sebesar 40 Poin Hoki tambahan kepada Tuan.]
"Lumayan buat tambahan uang jajan dan beli barang gaib nanti malam," batin Akbar tertawa penuh kemenangan.
Di luar toko, antrian pembeli masih terus mengular panjang hingga ke pinggir jalan raya desa.
Kabar tentang toko grosir super murah milik Akbar sudah menyebar luas ke desa-desa tetangga dalam waktu singkat.
Orang-orang dari luar desa berbondong-bondong datang membawa mobil pick up dan motor keranjang untuk memborong.
Risa terus tersenyum melayani pelanggan meskipun tangannya sudah mulai pegal memindai barang.
Dia sesekali mencuri pandang ke arah Akbar yang sedang mengobrol santai dengan Siska di sudut ruangan.
Rasa kagumnya pada pemuda itu semakin hari semakin besar tidak terbendung.
Hari ini, Akbar Pratama telah resmi membuktikan kekuasaannya bukan hanya lewat tanah, tapi lewat perputaran roda ekonomi yang mematikan.
Siapa pun yang berani menantang atau meremehkan kerajaan bisnisnya, dipastikan akan bertekuk lutut memohon ampun pada akhirnya.
Perjalanan sang dewa hoki ini baru saja dimulai dengan ledakan keuntungan yang sangat gila.
Dan ini barulah pemanasan sebelum Akbar benar-benar menargetkan pasar yang jauh lebih besar di kota terdekat.