Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.
Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.
Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ultimatum
"Bicara yang jelas," kata Luki, suaranya tetap datar meski setiap otot di tubuhnya menegang, siap bergerak kapan pun situasi berubah menjadi ancaman langsung. "Aku tidak punya waktu untuk teka-teki, Antasena."
Antasena berjalan mengelilingi Luki perlahan, seperti predator yang menikmati momen sebelum menerkam mangsanya, meski keduanya tahu betul bahwa dalam ruangan ini, kekuatan sebenarnya jauh lebih seimbang daripada yang terlihat.
"Aku punya proyek," kata Antasena akhirnya, berhenti tepat di depan Luki, jaraknya cukup dekat untuk terasa mengancam tapi cukup jauh untuk tetap dalam batas aman. "Sebuah sistem kecerdasan buatan yang akan mengubah cara kita semua beroperasi di dunia bawah tanah. Enkripsi yang tidak bisa dipecahkan siapa pun, prediksi pergerakan aparat sebelum mereka sendiri tahu ke mana mereka akan bergerak. Tapi untuk melatih sistem seperti itu, aku butuh sesuatu yang sangat langka — pola pikir manusia dengan kapasitas kognitif ekstrem, yang bisa dipelajari, dianalisis, direplikasi."
"Kamu ingin menjadikan anakku kelinci percobaan," kata Luki, suaranya mulai bergetar dengan kemarahan yang sudah sulit ia tahan.
"Aku ingin meminjamnya," koreksi Antasena, seolah perbedaan kata itu mengubah sesuatu. "Enam bulan. Ia akan diperlakukan seperti tamu kehormatan, bukan tawanan. Setelah proyek selesai, ia akan dikembalikan padamu, hidup dan sehat, dan sebagai gantinya, aku akan memberimu tiga puluh persen wilayah operasiku di utara. Bayangkan itu, Luki. Kerajaanmu akan tumbuh dua kali lipat."
Untuk sesaat, keheningan menggantung di udara, dan Antasena tersenyum, mengira ia sudah berhasil menanamkan godaan yang cukup besar untuk membuat Luki mempertimbangkannya.
Tapi yang terjadi selanjutnya jauh dari yang ia perkirakan.
Luki tertawa — bukan tawa bahagia, melainkan tawa dingin yang penuh dengan kemarahan yang sudah tidak lagi bisa ditahan, tawa yang membuat bahkan pengawal-pengawal Antasena di sekeliling ruangan itu mundur selangkah tanpa sadar.
"Kamu pikir aku peduli soal wilayah?" tanya Luki, suaranya kini penuh dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari kemarahan biasa — sebuah ketenangan yang mengerikan, ketenangan seseorang yang sudah membuat keputusan final dan tidak akan pernah goyah lagi. "Kamu pikir ada tawaran apa pun di dunia ini yang bisa membuatku menyerahkan anakku selama satu jam sekalipun, apalagi enam bulan?"
"Pikirkan baik-baik sebelum menjawab, Luki," kata Antasena, suaranya mulai kehilangan keramahan palsunya, digantikan dengan sesuatu yang lebih tajam. "Aku menawarkan negosiasi damai. Alternatifnya jauh lebih berdarah untuk kalian berdua."
"Kalau begitu," jawab Luki, melangkah maju satu langkah, matanya tidak pernah lepas dari mata Antasena, "biarkan aku jelaskan sesuatu padamu dengan sangat jelas, agar kamu tidak perlu bertanya-tanya lagi soal jawabanku."
Ia berhenti tepat di depan Antasena, cukup dekat untuk membuat pengawal-pengawal di sekeliling mereka bersiaga, tangan mereka bergerak mendekati senjata masing-masing.
"Aku sudah kehilangan ayahku karena orang-orang sepertimu. Aku sudah kehilangan istriku karena dunia yang sama. Satu-satunya hal yang tersisa dari hidupku yang masih murni, yang masih belum dirusak oleh kekejaman dunia ini, adalah anakku." Suara Luki turun menjadi bisikan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan sekalipun. "Kalau kamu menyentuhnya, kalau kamu bahkan berpikir untuk mendekatinya lagi, aku tidak hanya akan menghancurkan operasimu di pelabuhan tiga. Aku akan membakar setiap aset yang kamu miliki, setiap orang yang bekerja untukmu, setiap sudut dari kerajaan kecil yang kamu bangun dengan susah payah, sampai tidak ada yang tersisa selain abu dan nama yang akan dikenang orang sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani mencoba hal yang sama."
Antasena menatapnya lama, sesuatu yang menyerupai keraguan muncul di matanya — bukan ketakutan penuh, tapi cukup untuk membuatnya menyadari bahwa ia mungkin salah menghitung seberapa jauh Luki Subroto bersedia melangkah.
"Kamu berani mengancamku di wilayahku sendiri?" tanyanya, mencoba mempertahankan otoritas yang mulai goyah.
"Aku tidak mengancam," jawab Luki, dingin. "Aku memberitahumu fakta. Dan sekarang, aku akan pulang ke anakku, dan kamu akan menghabiskan sisa malam ini memikirkan apakah kamu benar-benar siap menghadapi konsekuensi dari keputusanmu."
Ia berbalik, melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh, tanpa ragu sedikit pun, meski ia tahu betul risiko yang ia ambil dengan membalikkan punggungnya pada musuh yang baru saja ia ancam secara terbuka.
Antasena tidak memerintahkan siapa pun untuk menembak. Bukan karena ia sudah menyerah, tapi karena ia tahu — seperti yang diketahui semua orang di dunia bawah tanah Jakarta — bahwa membunuh Luki Subroto di wilayahnya sendiri, setelah pertemuan yang seharusnya damai, akan memicu perang yang bahkan organisasinya sendiri tidak siap hadapi.
"Ini belum selesai, Luki," teriaknya, ketika Luki hampir mencapai pintu.
Luki berhenti sejenak, tanpa menoleh. "Aku tahu," jawabnya. "Tapi lain kali, jangan berharap aku datang untuk bernegosiasi."
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Luki akhirnya membiarkan tubuhnya rileks, tangan yang selama ini terkepal erat kini gemetar dengan adrenalin yang mulai surut. Bram, yang duduk di kursi depan, melirik ke belakang lewat kaca spion.
"Bagaimana, Tuan?"
"Dia belum menyerah," jawab Luki, menatap keluar jendela. "Tapi setidaknya sekarang dia tahu betul apa yang akan terjadi kalau dia mencoba lagi."
"Tuan," Bram ragu sejenak, "apa yang Tuan katakan tadi soal 'membakar semuanya' — apa itu benar-benar rencana Tuan, atau hanya gertakan?"
Luki menatap tangannya sendiri, masih sedikit gemetar, lalu menjawab dengan suara yang jauh lebih berat dari sebelumnya.
"Untuk Indra," katanya pelan, "itu bukan gertakan sama sekali."