“Kamu tega menghisap darah para petani miskin seperti kami! Dasar lintah!”
Tristan dilempari anggur busuk, oleh warga desanya sendiri. Truk pendingin miliknya sudah sampai di gerbang desa. Kerugian yang begitu besar akan didapatkan olehnya.
“Tapi kita sudah tanda tangan kontrak. Aku yang mengajari kalian untuk bertani anggur. Aku yang mengajari kalian bagaimana merubah lahan tandus menjadi gudang harta.”
“Persetan dengan kontrak!” Para warga desa merobek kontrak, merusak dan menjarah rumah Tristan.
Hanya karena provokasi dari tunangannya yang merupakan Putri kepala desa. Hanya karena provokasi dari bos anggur yang mengaku dari kota. Mereka tega mengkhianatinya.
Warga desa yang polos sudah tidak ada lagi. Mereka sudah serakah akan uang…
Wajahnya tersenyum, air matanya mengalir.”Gunung tandus milik warga desa sebelah. Akan aku rubah menjadi gunung harta. Saat itu jangan berlutut menyesal di hadapanku."
Warning! Nama tokoh, perusahaan maupun latar hanya fiktif, imajinasi penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jual
Pada akhirnya Ria tertawa, benar-benar tertawa hingga memegangi perutnya sendiri.”Jadi yang mereka tanam Pinot Noir, mungkin dapat tumbuh, tapi kualitas buahnya pasti jelek?”
“Bukannya pasti jelek, hanya saja siapa yang dapat mengatur suhu dan kelembaban, jika pun bisa itu memerlukan biaya yang cukup tinggi. Tidak sepadan dengan 40.000/kg. Selain itu, Apa ada yang bersedia membeli anggur varietas Pinot Noir dengan kualitas tidak stabil bahkan rendah?” Penjelasan yang diucapkan oleh Tristan membuat Ria semakin mengerti.
“Jadi kali ini mereka mampus…” suara tawanya terdengar.
“Uang bagianmu sudah aku transfer. Kali ini hasil panennya lumayan, kamu bisa memilih menjualnya kepada Hendra dengan harga jual rp50.000 per kg. Atau tetap seperti ini menjualnya padaku dengan harga rp35.000 per kg untuk anggur varietas red globe.” Kakak sepupunya bangkit setelah mentransfer uang padanya.
“Aku pilih duit yang pasti! Tidak mungkin kakak sepupuku mengambil banyak untung dari adiknya yang manis ini.” Kalimat yang diucapkan oleh Ria penuh senyuman.
“Aku kira kamu akan tertarik dengan harga rp50.000 per kg yang ditawarkan oleh Hendra.” Tristan mengangkat sebelah alisnya.
“Dia cuma asal bilang rp50.000 per kg. Tapi, Kakak dengan harga rp35.000 per kg saja sebenarnya untungnya kecil. Aku sama sekali tidak percaya dia bisa lebih ahli dalam menjual dari kakak.” Wanita yang segera kembali bekerja, memasukkan keranjang plastik yang kosong ke dalam gerobaknya.
Kotak-kotak styrofoam yang dipenuhi dengan anggur segar telah masuk ke dalam truk pendingin. Sebagian milik warga desa lumbung emas, ada juga yang merupakan hasil panen dari kebun milik Ria.
Tristan menghela nafas, Bagaimana sebenarnya cara babi gemuk itu bisa menjual dengan harga rp50.000 per kg? Itu adalah hal yang sulit…atau…
***
Sejak pagi-pagi sekali, warga desa Makmur sudah ada di depan rumah kepala desa. Mereka benar-benar menunggu kedatangan dari sang calon menantu kepala desa.
Pria yang baru saja terbangun dari tidurnya. Masih hanya menggunakan kaos kutang dan celana pendek, merenggangkan lemak-lemaknya ketika hari masih terasa begitu dingin dan menusuk.
“Kak Hendra sudah bangun rupanya…” Wicaksana yang merupakan salah satu warga desa tersenyum bagaikan menatapnya penuh harap.
“Nak Hendra, jadi kapan mobil pengangkut akan datang? Anggur anggur kualitas premium nanti cepat membusuk di ladang.” Sumiati mendekat, membayangkan cepat kaya dengan harga anggur red globe rp50.000 per kg.
“Sabar ya, aku akan mengatur dan menjual semuanya. Kebetulan hari ini adalah hari libur, kalian panen dulu, nanti aku carikan mobil untuk mengangkutnya.” Janji yang diucapkan oleh Hendra.
Sejatinya bukan janji busuk, pemuda itu memang sudah menyewa mobil pick up untuk mengangkut anggur-anggur kualitas premium.
“Benar rp50.000 per kg kan?” Joko meyakinkan janji dari Hendra.
“Rp50.000 per kg, tapi tidak langsung dibayar. Aku harus membawanya ke kota, kemudian menjualnya pada toko-toko besar. Setelah menjualnya ke toko-toko besar, barulah uang akan dibagikan dari buah yang laku, setelah dipotong ongkos transportasi.” Penjelasan yang diucapkan oleh Hendra.
Hal yang membuat warga desa saling pandang.
“Jadi kalau anggurnya tidak laku, kami tidak dapat uang?” Joko mempertanyakan.
“Anggur milik kalian ini kualitas super, tidak mungkin tidak laku di pasaran. Apa yang kalian cemaskan, tengkulak curang seperti Tristan saja bisa menjual. Apa lagi aku yang orang kota asli.” Hendra mengangkat sebelah alisnya penuh arogansi.
“Tapi biaya transportasinya juga dari kami? Kalau dulu Tristan yang mengambil buah, dia langsung beli tanpa pilih ukuran tanpa juga berpikir akan laku atau tidak. Ongkos transportasi juga tidak dipotong dari kami.” Sumiati bertanya tidak mengerti.
“Bandingkan saja harganya, rp50.000 per kg dengan rp35.000 per kg. Itu selisihnya 15.000 rupiah, kalau kalian punya anggur 1 ton saja. Coba hitung selisih harganya! Masih untung menjual padaku daripada menjual pada Tristan. Jujur saja aku berbisnis seperti ini juga sebenarnya malas, aku bersedia menjual anggur kepada kalian hanya untuk menolong warga desa tempat kekasihku tinggal. Aku hanya ingin warga desa Makmur ini maju.” Lagi lagi Hendra memperdayai orang-orang di tempat ini dengan kata-kata manisnya.
Mereka kembali saling melirik, dalam hati mereka merasa ini agak tidak beres. Tapi jika dipikirkan lagi apa yang dikatakan oleh Hendra adalah kebenaran. Selisih harga rp15.000, jika terjual 1 ton saja, itu sudah 15 juta. Hanya tinggal membayar ongkos transportasi yang tidak seberapa.
“Sudahlah Hendra adalah penyelamat kita! Apa yang kita ragukan darinya, dia menyelamatkan kita dari lintah darat seperti Tristan.” Joko penuh semangat.
“Benar Bos Hendra yang berani membeli anggur dengan harga mahal. Dia juga peduli pada desa kita, tidak seperti Tristan yang memanfaatkan seperti lintah darat. Sudah miliaran rupiah uang kita yang diambil oleh Tristan.” Ucap Sumiati melangkah maju.
“Baiklah! Kalian panen anggur dulu, letakkan buahnya di dalam kantong plastik. Langsung saja timbang per kg, gunakan plastik biasa saja, supaya kesegaran buahnya terjaga. Nanti saat mobil datang angkut ke dalam mobil.” Hendra menguap beberapa kali, kemudian kembali melangkah masuk ke dalam rumah kepala desa.
Para petani anggur berjalan keluar dengan penuh semangat. Anggur red globe milik mereka biasanya dibeli oleh Tristan dengan harga rp35.000 per kg. Tapi diambil langsung di tempat, tidak pilih-pilih, dan dibayar cash.
Namun Hendra memberikan harga yang lebih tinggi rp50.000 per kg. Beda harganya terlalu jauh 15.000. Lagi pula mereka tinggal membayar biaya transportasi saja.
Mungkin satu hal yang tidak disadari oleh warga desa. Kendaraan yang akan mengangkut anggur-anggur mereka, apakah mobil pendingin sesuai standar? Atau hanya mobil pick up biasa…
pedagangpun menolak
dah busuuuuuk 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
setelah diliat ternyata 😒😒
hadeeeeh
eh..salah Deng sekarang mah udh google berjalan yaa🫣🤣🤣
😁😁😁
semamgat berkarya, sukses selalu🤲
Sudah lebih baik kehidupan di Desa Makmur setelah Tristan datang, brati warga desa punya hp dong, ada jaringan internet masuk Desa Makmur kan? Kenapa warga Desa Makmur tetep dalam kebodohan? Tanpa mencari berita online soal penanaman anggur red globe dll😜