NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pingsan

Bel istirahat baru saja berdentang ketika Haruna bersiap merapikan bukunya. Berniat langsung menuju perpustakaan seperti kebiasaannya setiap hari. Namun baru beberapa langkah menuju pintu kelas, seorang teman sekelas menghampirinya tergesa.

"Har, kamu dipanggil Pak Broto di ruang guru. Katanya penting," ucap temannya itu.

Haruna mengernyit heran. Namun segera mengangguk dan berjalan tertatih menuju ruang guru. Sesampainya di sana, Pak Broto, guru matematika yang sudah mengajarnya sejak kelas sepuluh menyambutnya dengan senyum lebar penuh semangat.

"Haruna, sini duduk dulu," ajak Pak Broto, menunjuk kursi di depan mejanya. "Begini, Bapak mau tawarkan sesuatu. Bulan depan ada olimpiade matematika tingkat provinsi. Bapak yakin banget kamu punya kesempatan besar buat menang, apalagi track record kamu selama ini luar biasa."

Mata Haruna berbinar mendengar tawaran itu. "Olimpiade tingkat provinsi, Pak?"

"Iya. Bapak sudah lama memperhatikan kamu, Haruna. Dari kelas sepuluh sampai sekarang, prestasimu selalu di atas rata-rata, bahkan sering jauh melampaui teman-teman lainnya. Sekolah kita belum pernah punya wakil yang benar-benar menonjol di ajang provinsi. Bapak percaya, kamu punya potensi itu," jelas Pak Broto penuh keyakinan.

"Haruna mau, Pak! Haruna siap ikut," jawab Haruna tanpa ragu sedikit pun, semangatnya langsung membuncah membayangkan kesempatan baru untuk membuktikan diri.

Pak Broto tersenyum puas mendengar kesediaan itu. "Bagus! Kalau begitu, mulai minggu depan, setiap pulang sekolah, Bapak akan kasih kamu pelajaran tambahan selama satu jam. Kita perlu persiapan matang, soalnya soal-soal olimpiade tingkat provinsi jauh lebih sulit dari materi sekolah biasa."

"Siap, Pak. Haruna akan belajar sungguh-sungguh," ucap Haruna mantap.

Sejak hari itu, rutinitas Haruna bertambah padat. Selepas jam pelajaran usai, ia tak langsung pulang seperti biasa, melainkan tinggal di sekolah untuk mengikuti bimbingan khusus bersama Pak Broto. Soal-soal rumit dengan tingkat kesulitan tinggi ia pelajari dengan tekun, mencatat setiap rumus dan trik penyelesaian dengan penuh perhatian. Meski harus pulang lebih larut dari biasanya dan mengorbankan waktu istirahatnya untuk terus berlatih hingga malam.

Berminggu-minggu berlalu dengan latihan yang tak kenal lelah. Malam-malam Haruna habiskan dengan menyelesaikan soal demi soal di bawah cahaya lampu minyak, sesekali Nek Lasmi terjaga hanya untuk memastikan cucunya tak lupa istirahat.

"Haruna, udah malam, Nak. Istirahat dulu," tegur Nek Lasmi lembut suatu malam, mendapati cucunya masih tekun mencoret-coret buku catatan.

"Bentar lagi, Nek. Tinggal dua soal lagi," jawab Haruna tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

Hari yang dinantikan pun akhirnya tiba. Pagi itu, Haruna sudah bersiap dengan tas berisi alat tulis dan seragam terbaiknya, wajahnya campuran antara gugup dan bersemangat.

"Nek, Haruna berangkat dulu, ya," pamit Haruna, mencium punggung tangan neneknya dengan penuh hormat. "Doain Haruna menang lagi kali ini, Nek."

Nek Lasmi tersenyum lembut, mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang. "Nenek selalu doain yang terbaik buat Haruna. Pergi yang hati-hati, ya, Nak. Nenek yakin, Haruna pasti bisa."

Dengan langkah mantap, Haruna melangkah keluar gubuk, di mana Pak Broto sudah menunggu dengan mobil sederhana untuk menjemputnya agar tidak terlambat menuju lokasi acara di kota.

Nek Lasmi berdiri di depan pintu, menatap kepergian cucunya hingga mobil itu menghilang di tikungan jalan. Angin pagi berembus pelan, membelai wajah keriputnya yang mulai tampak semakin pucat akhir-akhir ini.

"Ya Allah," bisik Nek Lasmi pelan, kedua tangannya menengadah ke langit, "izinkan Haruna meraih semua cita-citanya. Berikan dia kesempatan untuk hidup lebih baik... terutama nanti, setelah hamba tiada."

Belum sempat doa itu selesai terucap, tiba-tiba dada Nek Lasmi terasa sesak. Disusul batuk keras yang datang bertubi-tubi, membuat tubuh rentanya terguncang hebat. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan, mencoba menahan batuk yang tak kunjung reda.

Dengan langkah gontai, Nek Lasmi kembali masuk ke dalam gubuk. Duduk di tepi ranjang sambil terus terbatuk. Ketika akhirnya batuk itu mereda, ia menatap telapak tangannya sendiri... dan seketika wajahnya memucat pasi. Ada bercak merah darah yang menempel di sana.

"Astaghfirullah..." gumamnya lirih, suaranya bergetar antara kaget dan cemas.

Ia mencoba menenangkan diri, meraih segelas air putih yang biasa Haruna siapkan di atas meja kecil dekat ranjang setiap pagi sebelum berangkat.

Namun tangannya yang gemetar hebat membuat gelas itu terguncang, air di dalamnya tumpah membasahi lantai kayu.

"Ya Allah," desahnya lemah, menatap gelas kosong itu dengan pandangan nanar.

Dengan susah payah, Nek Lasmi memaksakan diri bangkit dari ranjang. Melangkah pelan menuju dapur untuk mengambil air minum sekaligus obat batuk yang biasa ia konsumsi. Namun baru beberapa langkah, batuk itu kembali menyerang jauh lebih parah dari sebelumnya, membuat tubuhnya terhuyung menabrak dinding bambu.

Seketika pandangannya mulai berkunang-kunang, napasnya memburu tak beraturan. Ia mencoba meraih apa saja untuk menopang tubuhnya yang semakin lemas. Namun kegelapan lebih dulu menyergap kesadarannya.

Tubuh renta itu ambruk perlahan ke lantai dapur yang dingin, tak sadarkan diri, sementara gubuk sederhana itu hanya dipenuhi keheningan yang mencekam.

Sementara itu, jauh di kota...

Suasana ruang aula tempat olimpiade berlangsung dipenuhi ketegangan luar biasa. Haruna dan timnya baru saja dinyatakan lolos ke babak final, disambut sorak sorai dan tepuk tangan meriah dari para pendukung sekolah masing-masing.

"Haruna, selamat! Kita lolos final!" seru salah satu rekan timnya, memeluknya erat penuh kegembiraan.

Namun di tengah euforia itu. Entah mengapa dada Haruna tiba-tiba terasa sesak, sebuah perasaan tak nyaman yang sulit ia jelaskan menyergap hatinya tanpa alasan yang jelas. Bayangan wajah Nek Lasmi tiba-tiba muncul begitu saja dalam benaknya, membuat jantungnya berdegup gelisah.

"Kenapa, Har? Kok mukanya pucat gitu?" tanya Pak Broto yang berdiri di sampingnya, memperhatikan perubahan raut wajah muridnya.

"Nggak tahu, Pak. Tiba-tiba Haruna kepikiran Nenek di rumah," jawab Haruna, tangannya meraih ponsel dari saku, berniat menghubungi salah satu tetangga untuk memastikan keadaan neneknya baik-baik saja.

Namun belum sempat ia menekan nomor telepon, suara panitia menggema lewat pengeras suara, memanggil seluruh peserta untuk segera memasuki ruangan final yang akan dimulai dalam hitungan menit.

"Haruna, ayo, udah waktunya masuk. Nanti telepon lagi aja pas istirahat," ajak Pak Broto, menepuk pelan bahunya, tanpa menyadari kegelisahan yang tengah menggerogoti hati muridnya itu.

Dengan berat hati, Haruna terpaksa memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, mengikuti langkah teman-temannya menuju ruang final.

Namun sepanjang perjalanan menuju kursi pesertanya, perasaan tak enak itu terus membayangi, seolah ada sesuatu yang buruk sedang terjadi jauh di sana. Di sebuah gubuk reyot yang kini hanya dipenuhi keheningan mencekam, tempat satu-satunya orang yang paling ia sayangi di dunia ini tergeletak tak berdaya seorang diri.

1
Muft Smoker
wooah semangat trus harunaa ,,
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
Dew666
💟
Ilfa Yarni
aduh hbs penasaran dongv thor Mana upnya cuma 1 sehari
Ilfa Yarni
haruna ank kandung km bagas yg km buang sesudah Lahir krn cacat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!