NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Tiba-tiba Jadi Penjahat di Sekolah

Kepalaku terasa seperti dihantam batu berulang kali, nyut-nyutan hingga rasanya mau pecah. Saat perlahan membuka mata, yang kulihat bukanlah langit-langit kamar kostku yang kusam, penuh stiker band kesukaanku, dan selalu berbau sedikit apek karena jarang terkena matahari pagi. Yang kulihat justru langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran bunga mawar berwarna emas pucat, dihiasi lampu gantung kristal besar yang memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan, membuat segalanya tampak berkilau hangat. Dindingnya berwarna krem lembut, dan di setiap sudut ruangan berdiri vas porselen berisi mawar merah yang masih segar, kelopaknya tampak penuh dengan embun pagi. Seprai sutra di bawahku terasa sangat halus, sejuk, dan dingin di kulit—sangat berbeda dengan selimut tipisku yang sering kusut dan terasa kasar. Udara di ruangan itu berbau harum campuran bunga melati dan vanila yang manis, aroma yang menenangkan sekaligus membuatku semakin bingung berada di mana.

"Ini… di mana?" gumamku pelan, suaranya terdengar asing namun lembut, merdu, dan jelas—bukan suaraku yang biasa sedikit serak karena sering begadang membaca novel. Aku mencoba duduk perlahan, dan saat melakukannya, aku merasa tubuhku terasa jauh lebih ringan, lebih halus, dan lebih kuat dari biasanya. Tangan yang kuulurkan ke depan untuk menopang tubuhku bukanlah tanganku—kulitnya putih bersih merona, jari-jarinya ramping, panjang, dan lembut tanpa ada satu pun bekas luka kecil yang biasa ada di jariku karena sering memegang pulpen, buku tebal, dan kadang tergores kertas saat membaca. Kukunya rapi, bersih, dan berkilau alami tanpa cat apa pun.

Tepat saat aku masih terpaku menatap tanganku yang asing itu, pintu kamar terbuka lebar tanpa ketukan, dan seorang wanita paruh baya dengan pakaian seragam rumah tangga yang rapi dan bersih berlari masuk dengan wajah pucat pasi dan penuh kekhawatiran yang tulus. Matanya berkaca-kaca seolah hendak menangis melihatku terbangun. "Nona Lily! Syukurlah, Tuhan terima kasih banyak! Nona akhirnya sudah bangun! Apakah Nona merasa sakit di kepala? Atau di bagian tubuh lain yang terasa tidak enak? Haruskah aku segera memanggil dokter keluarga sekarang juga? Atau mungkin menyiapkan air hangat dan handuk basah?" Dia berhenti di tepi tempat tidur, tangannya gemetar hendak menyentuh dahiku namun berhenti seolah takut menyakitiku, takut menyentuhku tanpa izin.

Nona Lily? Nama itu terdengar asing di telingaku, tapi entah mengapa terasa juga sedikit akrab, seolah pernah kubaca di suatu tempat. Aku mengerjap bingung, lalu menoleh perlahan ke samping tempat tidur di mana berdiri cermin besar berbingkai emas yang diukir indah dengan motif bunga. Saat pandanganku jatuh ke permukaan cermin itu, aku ternganga, mataku membelalak lebar, dan tubuhku hampir jatuh dari tempat tidur karena kaget. Yang terpantul di sana bukanlah wajahku yang biasa—berwajah bulat biasa, berkacamata bingkai hitam tebal, dengan rambut pendek yang selalu kusut dan tak pernah tertata rapi. Yang kulihat sekarang adalah wajah gadis cantik luar biasa dan sangat imut: kulit putih bersih merona seputih susu, mata besar berwarna cokelat kemerahan yang berbinar lembut seperti permata, hidung kecil mancung manis, bibir merah muda alami yang sedikit menggembung, dan rambut hitam panjang bergelombang yang jatuh lembut di bahu hingga pinggang, berkilau di bawah cahaya lampu. Pipi yang sedikit tembem membuatnya terlihat semakin manis, polos, dan tak berdosa—sama sekali tidak terlihat seperti orang yang kejam. Usianya terlihat sekitar tujuh belas tahun, tepat seumuran denganku.

Tiba-tiba, rasa sakit tajam menyambar kepalaku seolah ada jarum besar yang menusuk dari dalam, dan ribuan informasi asing membanjiri pikiranku sekaligus—seperti seseorang menumpuk ribuan halaman buku tebal langsung ke dalam kepalaku dalam sekejap tanpa memberi waktu untuk bernapas. Nama, latar belakang, kebiasaan, hubungan, kekayaan, kekuasaan, dan takdir seseorang yang bernama Lily. Lily adalah anak tunggal dari keluarga konglomerat paling kaya dan berpengaruh di kota ini, keluarga yang memiliki perusahaan properti dan teknologi yang namanya dikenal di seluruh negeri, bahkan di luar negeri. Namun, Lily tumbuh menjadi gadis yang sangat manja, keras kepala, egois, dan sering menyakiti orang lain hanya karena merasa tidak dihargai atau tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Dia tergila-gila buta pada Ethan, siswa paling populer sekaligus paling dingin dan sulit didekati di sekolah, dan karena obsesinya yang berlebihan itu, dia selalu menyiksa, menjebak, dan mempermalukan Elena—tokoh utama wanita yang baik hati, lembut, dan selalu berpikir positif. Di akhir cerita, karena semua kejahatannya terbongkar satu per satu di depan umum, reputasinya hancur lebur, keluarganya jatuh miskin karena skandal yang memalukan dan ulah musuh yang memanfaatkan situasi, dan Lily sendiri berakhir sendirian, diusir dari rumah, hidup dalam kemiskinan dan kesepian hingga akhir hayatnya tanpa ada satu pun orang yang peduli padanya.

Aku gemetar hebat, keringat dingin mulai membasahi pelipisku dan punggung tanganku. Bukan karena takut—tapi karena aku menyadari kenyataan yang mustahil dan sulit dipercaya: Aku masuk ke dalam dunia novel yang baru saja kubaca semalam sampai larut malam, hingga mataku hampir tertutup kantuk! Dan bukan menjadi tokoh utama yang bahagia, melainkan menjadi penjahat sampingan yang berakhir paling tragis, paling menyedihkan, dan paling dibenci semua orang!

"Tidak… aku tidak mau berakhir seperti itu!" Aku memeluk kepalaku erat-erat, jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari dadaku. Napasku menjadi pendek dan cepat karena panik. "Aku tidak mau hancur, aku tidak mau jatuh miskin, aku tidak mau sendirian sampai mati! Aku belum melakukan apa pun dalam hidupku, aku belum merasakan hal-hal yang indah!"

"Nona? Nona Lily, apa yang Nona katakan?" Wanita itu—yang dari ingatan baru ini bernama Tante Lisa, asisten rumah tangga yang sudah merawat Lily sejak kecil dan sangat menyayanginya seperti anak sendiri—terlihat semakin cemas dan khawatir melihatku seperti itu. Dia duduk perlahan di tepi tempat tidur, menjaga jarak agar tidak menggangguku, lalu menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang yang tulus. "Apakah Nona bermimpi buruk yang sangat menakutkan? Tenang saja, Nona ada di rumah sendiri, di kamar Nona sendiri, aman dan baik-baik saja di sini. Tidak ada yang akan menyakiti Nona. Tidak ada yang berani menyakiti Nona di tempat ini."

Aku menatap Tante Lisa lekat-lekat. Dalam cerita aslinya, Tante Lisa adalah satu-satunya orang yang tulus menyayangi Lily tanpa pamrih. Bahkan saat keluarga Lily hancur, Lily jatuh miskin, dan semua orang meninggalkannya, Tante Lisa tetap menemani, merawat, dan memberinya makan sampai Lily meninggal dunia. Dan Lily asli… sering membentaknya tanpa alasan, menyuruhnya berlebihan hingga kelelahan, dan bahkan pernah melempar cangkir porselen ke arahnya hanya karena makanan yang disajikan tidak sesuai selera sesaat. Hatiku terasa perih dan sesak membayangkan itu semua, rasa bersalah yang mendalam muncul di dadaku seolah aku yang melakukannya.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dan menata pikiran yang masih berantakan. Mulai sekarang, aku bukan lagi pembaca buku yang biasa duduk diam dan menghakimi karakter dari balik halaman dengan santai. Aku adalah Lily. Aku hidup di dunia ini, dan aku harus bertanggung jawab atas hidupku sendiri, serta atas hidup semua orang yang menyayangiku. Aku tidak akan membiarkan akhir yang tragis itu terjadi.

"Tante Lisa," ucapku pelan namun lembut dan tulus, lalu aku tersenyum—senyum tulus pertama yang diberikan Lily di tubuh ini, senyum yang tidak pernah ada di wajah Lily asli. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku dengan tulus. Aku baik-baik saja sekarang. Mimpi buruk itu sudah pergi, dan aku berjanji tidak akan membiarkannya kembali menggangguku."

Tante Lisa terbelalak, matanya berkaca-kaca menatapku seolah tak percaya apa yang baru saja ia dengar dan lihat. Air mata bahagia mulai menetes di pipinya. "Nona… Nona tersenyum padaku? Dan… Nona berterima kasih padaku? Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya Nona tersenyum padaku seperti ini…"

Aku mengangguk pelan, lalu menunjuk meja kecil di sudut ruangan tempat nampan berisi kue dan teh masih tersedia, sepertinya disiapkan sebelum aku pingsan. "Eh, Tante… di sana ada kue, kan? Rasanya tiba-tiba aku sangat lapar. Boleh aku makan itu?"

Mata Tante Lisa berbinar cerah, seolah bintang jatuh tepat di ruangan itu. "Tentu saja, Nona! Tentu saja! Itu kue stroberi kesukaan Nona yang baru saja dibuat koki pagi ini, masih hangat dan sangat segar! Biar aku bawa ke sini dan siapkan piringnya!" Dia bergegas mengambil nampan itu, langkahnya terlihat lebih ringan, lebih bahagia, dan lebih bersemangat dari sebelumnya.

Sambil menunggu kue itu, aku berpikir keras menyusun rencana untuk bertahan hidup. Rencana pertamaku sangat sederhana namun harus kulakukan dengan ketat: Jangan pernah mengganggu Elena! Jangan mendekati Ethan! Jangan ikut campur urusan siapa pun! Hidup tenang, belajar dengan baik, dan menjaga keluarga tetap aman sampai akhir cerita! Jika aku bisa melakukan itu semua dan tidak mengubah alur cerita terlalu jauh, aku pasti bisa selamat dari akhir yang mengerikan itu!

Tapi takdir sepertinya punya rencana lain yang sama sekali berbeda dari yang kubayangkan. Karena tepat saat Tante Lisa meletakkan piring berisi kue stroberi yang cantik dan berbau sangat manis itu di hadapanku, pintu kamar terbuka kembali tanpa diketuk. Seseorang berdiri di ambang pintu, tubuhnya tinggi dan tegap, mengenakan seragam sekolah yang rapi dan bersih, rambut hitamnya tertata rapi tanpa sehelai pun yang berantakan. Wajahnya begitu tampan hingga rasanya seluruh ruangan menjadi lebih terang, namun matanya—mata itu sedingin es di puncak gunung tertinggi, menatapku tajam seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwaku.

Itu… itu Ethan! Pria yang paling ditakuti, paling disegani, dan paling diidolakan di seluruh sekolah! Pria yang menjadi alasan semua kejahatan Lily asli terjadi!

"Kau sudah bangun?" suaranya rendah, datar, dan dingin, seolah kata-katanya saja bisa membekukan udara di ruangan itu. "Kau pingsan di koridor sekolah tadi siang setelah berteriak mengejarku dan membuat keributan. Sekarang… kau makan dengan lahap sekali?"

Aku tersedak kue yang baru saja masuk ke mulutku. Batuk-batuk hebat hingga wajahku memerah, mataku berkaca-kaca. Tante Lisa buru-buru menuangkan air ke gelas dan memberikannya padaku dengan cemas. Setelah minum beberapa teguk air dingin yang menenangkan tenggorokan, aku menatapnya dengan mata yang masih sedikit berkaca-kaca karena tersedak, lalu berkata dengan polos dan jujur, "Ehm… kue ini terlalu enak, Mas. Jadi… aku lupa semuanya saat memakannya. Maaf ya tadi bikin keributan di sekolah."

Ethan terdiam. Dia tidak bergerak sedikit pun, hanya berdiri di sana menatapku lekat-lekat, seolah sedang melihat orang yang sama sekali berbeda dari yang ia kenal selama ini. Dia menatap mataku, lalu ke bibirku yang masih sedikit berlumuran krim kue, dan kembali ke mataku. Tatapannya berubah dari dingin dan curiga menjadi bingung dan… sedikit tertarik?

"Kau… tadi tersenyum dan meminta maaf?" gumamnya pelan, begitu pelan hingga aku hampir tidak mendengarnya sendiri.

Aku mengangguk polos, lalu menunjuk kue di piringku dengan senyum tulus. "Tentu saja tersenyum. Makan kue yang enak bikin hati senang, kan? Dan meminta maaf kalau salah itu hal yang wajar. Kalau Mas mau, boleh juga ambil satu, ini stroberi, manis dan segar lho, tidak terlalu manis sampai bikin enek."

Ethan terdiam lebih lama lagi. Udara di ruangan itu terasa berhenti bergerak. Lalu tiba-tiba, tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dan pergi. Pintu tertutup pelan di belakangnya, tapi sebelum benar-benar tertutup, telingaku yang tajam mendengar gumamannya yang samar namun jelas:

"Kau berbeda dari biasanya… Lily."

Aku menatap pintu yang sudah tertutup itu, lalu menatap kueku yang masih tersisa setengah. Hah? Apa yang baru saja terjadi? Bukankah dia seharusnya membentakku, membenciku, atau pergi dengan jijik seperti yang selalu ia lakukan pada Lily asli? Kenapa dia malah bilang aku berbeda? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Apakah dengan mulai berubah, aku juga mulai mengubah takdirku sendiri?

Aku menggeleng pelan, mencoba menepis kebingungannya. Tidak apa-apa, yang penting aku sudah mulai berubah. Mulai sekarang, tidak ada lagi Lily yang manja dan jahat. Yang ada hanyalah Lily yang baru—yang suka kue, suka tersenyum, dan bertekad hidup dengan tenang dan bahagia sampai akhir!

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!