NovelToon NovelToon
ISTRI GILA SANG DUKE

ISTRI GILA SANG DUKE

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:109.7k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.

​Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!

​Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. SERANGAN

Dua minggu berlalu dengan ritme ganda yang melelahkan bagi Putri Virelia. Di siang hari, ia tetap menjalankan perannya sebagai sang Putri Gila di Kediaman Duke Dravenhart yang mana sesekali melempar vas bunga, berdebat dengan dinding, atau membuat Elaine kewalahan dengan khayalan galaksi batunya.

Namun, begitu malam merayap dan seluruh puri terlelap, ia akan mengenakan jubah hitam sebagai Raven, menyelinap keluar jendela untuk memimpin pergerakan bawah tanah kelompok revolusioner Black Dawn.

Malam ini, udara di pinggiran ibukota Valdoria terasa begitu dingin menusuk tulang. Langit tertutup awan tebal, menyisakan cahaya bulan purnama yang pucat pasi, menerangi gudang tua terbengkalai di dekat pelabuhan sungai bagian barat.

Di dalam gudang yang dipenuhi tumpukan peti kayu berdebu, Virelia berdiri menyilangkan tangan di dada. Di sampingnya berdiri Johan, si wakil ketua Black Dawn yang bertubuh kekar, serta dua orang anggota pengawal tepercaya. Di hadapan mereka, seorang pedagang paruh baya berambut kelabu bernama Master Vane tampak gemetar ketakutan, memegang sebuah tas kulit berisi dokumen rahasia dan gulungan peta militer istana.

"Pastikan perkamen ini sampai ke tangan faksi pemberontak di distrik utara sebelum fajar. Informasi mengenai jadwal pengiriman persenjataan pasukan kerajaan ini sangat krusial untuk rencana kita bulan depan," perintah Virelia dengan suara dingin berwibawa di balik topeng besinya.

Master Vane mengangguk cepat, menyeka keringat di dahinya. "B-Baik, Yang Mulia! Saya akan membawa dokumen ini lewat jalur sungai rahasia-"

BRAK!

Kalimat Master Vane terpotong seketika saat pintu kayu gudang besar itu hancur berkeping-keping akibat hantaman keras dari luar. Pecahan kayu berterbangan ke segala arah, menghantam lantai berdebu.

Seketika, insting pembunuh bayaran Virelia menjerit kencang.

"Tiarap!" teriak Virelia tajam.

Dari balik reruntuhan pintu, belasan sosok berpakaian serba hitam legam dengan topeng kain menutupi wajah menyerbu masuk seperti sekawanan serigala lapar. Di tangan mereka, bilah-bilah pedang pendek dan belati beracun berkilat memantulkan cahaya bulan. Mereka bergerak dengan presisi yang mematikan, jelas bukan pereman jalanan biasa, melainkan pasukan pembunuh bayaran elit.

"Penyergapan! Lindungi barang-barangnya!" geram Johan, langsung menghunus pedang panjangnya dan berdiri di depan Master Vane.

KLANG!

SCHWING!

Pertempuran pecah dalam hitungan detik. Dua orang pembunuh bayaran langsung menerjang ke arah Johan. Suara benturan logam berderik nyaring di dalam ruangan sempit itu, memicu percikan api kecil di udara yang gelap.

"Sialan! Dari mana mereka tahu tempat ini?!" maki Johan sambil menangkis tebakan bertubi-tubi, napasnya mulai memburu saat dua orang lagi bergabung mengeroyoknya.

Virelia tidak tinggal diam. Dengan gerakan akrobatik yang elegan, ia melompat di atas tumpukan peti kayu, mencabut dua bilah belati perak dari sabuknya, dan melemparkannya dengan akurasi mematikan tepat ke arah dua pembunuh yang hendak menikam anggota Black Dawn dari belakang.

BLESH! BLESH!

Kedua pembunuh itu tewas seketika, ambruk ke lantai dengan belati menancap di dada mereka.

Namun, jumlah musuh terus bertambah. Dari jendela atas dan atap gudang, puluhan pembunuh bayaran lainnya melompat turun, mengepung kelompok kecil Virelia dari segala penjuru. Target mereka sangat jelas: menghabisi semua orang dan merebut tas dokumen rahasia di tangan Master Vane.

"Ketua! Mereka terlalu banyak!" seru salah satu anggota Black Dawn terluka di bagian lengan, darah segar merembes membasahi bajunya.

Virelia melirik sekilas ke arah Master Vane yang sudah terduduk lemas ketakutan dan Johan yang mulai kewalahan menahan gempuran musuh. Jika mereka bertarung habis-habisan di sini, dokumen revolusi akan jatuh ke tangan musuh, dan seluruh jaringan Black Dawn di ibukota akan dibantai habis malam ini juga.

Keputusan harus diambil dalam hitungan sepersekian detik.

"Johan! Bawa Master Vane dan tas perkamen itu sekarang juga! Lewat terowongan pelarian di bawah lantai! Jangan sampai dokumen itu jatuh ke tangan mereka!" perintah Virelia dengan suara menggelegar di tengah suara dentingan pedang.

"Tapi, Ketua! Bagaimana dengan Anda?!" teriak Johan panik sambil menebas leher seorang musuh.

"Jangan pedulikanku! Lari! Selamatkan dokumen itu, itu adalah masa depan Valdoria!" bentak Virelia mutlak.

Johan menggertakkan giginya kesal, namun ia tahu ia tidak boleh membantah perintah ketua. Dengan sisa tenaga, ia menarik Master Vane yang gemetar ketakutan, menendang pintu rahasia di lantai gudang, dan melompat turun ke dalam terowongan gelap bersama dua anggota lainnya.

Melihat target utama mereka yaitu dokumen rahasia dibawa kabur lewat bawah tanah, tiga orang pembunuh bayaran langsung berteriak marah dan berbalik arah hendak mengejar lubang tersebut.

"Hei, kalian mau ke mana?" suara dingin Virelia menghentikan langkah mereka.

Virelia melompat turun tepat di tengah jalan pelarian para pembunuh itu, menghunus belati panjangnya dengan sikap tubuh yang menantang. Tatapan matanya yang tajam di balik tudung jubah memancarkan aura haus darah yang luar biasa mengerikan.

"Lawan kalian adalah aku," tantang Virelia.

Pemimpin kelompok pembunuh bayaran itu mendengus sinis di balik topeng kainnya.

"Cih, berani sekali kau, Raven. Raja Lucien sudah lama menginginkan kepalamu. Bunuh dia! Habisi wanita sialan itu sekarang juga!" perintah pemimpin pembunuh bayaran itu.

Seketika, delapan orang pembunuh bayaran elit beralih fokus, meninggalkan lubang terowongan, dan menerjang Virelia secara bersamaan dengan tebasan pedang mematikan dari berbagai arah.

Virelia menyeringai tajam. Alih-alih mundur, ia justru melompat menyambut mereka.

KLANG!

SLASH!

Pertempuran satu lawan delapan di tengah gudang yang remang-remang itu berubah menjadi tarian kematian yang menegangkan.

Virelia meliuk-liuk menghindari tebasan pedang, memutar tubuhnya dengan anggun, dan memanfaatkan momentum lawan untuk melumpuhkan mereka satu per satu. Darah segar menciprat ke dinding-dinding kayu gudang, mewarnai malam dengan warna merah pekat.

Namun, strategi utamanya bukanlah membunuh mereka di sini, melainkan mengalihkan perhatian mereka sejauh mungkin dari jalur pelarian Johan.

Setelah melumpuhkan tiga orang pembunuh dengan tendangan telak ke arah rahang, Virelia sengaja membalikkan badan dan berlari kencang menerobos dinding sisi gudang yang lapuk, menjebolnya keluar menuju area hutan rawa di pinggiran sungai.

"Dia lari ke arah hutan! Jangan biarkan dia lolos! Kejar!" teriak pemimpin pembunuh bayaran itu murka.

Sekawanan pembunuh bayaran itu langsung berlari membabi buta, mengejar bayangan Virelia yang melesat cepat menembus kegelapan malam di bawah naungan pohon-pohon besar.

Aksi kejar-kejaran maut itu berlangsung menegangkan. Di atas tanah berlumpur dan akar-akar pohon yang mencuat, Virelia berlari dengan kecepatan angin. Sesekali ia berhenti di balik pohon besar, melempar jarum beracun untuk menjatuhkan musuh yang terlalu dekat, lalu kembali berlari memancing mereka semakin jauh dari pelabuhan sungai tempat Johan melarikan diri.

Sial, stamina mereka cukup kuat, batin Virelia sedikit terengah-engah saat ia melompati genangan air lumpur.

Gadis itu tahu betul, jika ia terus berlari di area terbuka, ia akan kehabisan tenaga. Ia harus membalikkan keadaan di tempat pertempuran yang menguntungkannya.

Virelia mendadak menghentikan langkahnya di sebuah dataran lapang dekat tebing sungai yang curam. Ia berbalik badan, berdiri tegak dengan napas memburu, menunggu kedatangan para pembunuh bayaran yang mulai mengepungnya dari segala sisi.

Kelima pembunuh bayaran yang tersisa keluar dari balik semak-semak, memegang pedang berdarah dengan seringai kemenangan di balik topeng mereka.

"Sudah kehabisan tenaga, Raven? Tidak ada lagi tempat bagimu untuk lari. Menyerahlah, dan kami akan memberikan kematian yang cepat," ejek sang pemimpin pembunuh, melangkah maju perlahan.

Virelia perlahan mengangkat dagunya. Meskipun dadanya naik turun karena kelelahan, postur tubuhnya tetap memancarkan kebanggaan seorang pemimpin. Suaranya terdengar tenang, dingin, dan mengejek.

"Kalian pikir kalian berhasil memangsaku?" bisik Virelia pelan, lalu tiba-tiba ia melepaskan menurunkan tudung jubahnya, membiarkan rambut pirangnya terurai diterpa angin malam di bawah sinar bulan purnama.

Kelima pembunuh bayaran itu tertegun sejenak, terpesona oleh kecantikan wajah sang ketua pembunuh yang selama ini misterius.

Namun, sebelum mereka sempat menikmati pemandangan itu ...

BUM! BUM!

Dua suar cahaya berwarna merah terang mendadak meluncur ke udara dari arah hutan di belakang Virelia, meledak terang dan memecah kesunyian malam ibu kota. Itu adalah sinyal darurat Black Dawn yang menandakan bahwa Johan dan Master Vane telah berhasil tiba di zona aman tanpa hambatan.

Mata Virelia membelalak puas. Misi utamanya telah sukses besar. Ia tersenyum miring, menatap kelima pembunuh bayaran itu dengan tatapan predator yang siap menerkam mangsa terakhirnya.

"Sekarang giliran kita yang bermain," ujar Virelia tajam, mencabut belati panjangnya kembali.

1
Nurlaila Hidayah
Julian pusing punya atasan yg sama2 gila🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
uuhhh kael aku padamu/Kiss//Kiss//Kiss/
Nurlaila Hidayah
wiiiih mntap ketika kael sudah ngeluarin kta2 sumpah
Nurlaila Hidayah
🤣🤣🤣🤣 bekas lipstik ga tuh,kocak euy Bru nemu novel kek gini🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
🤣🤣🤣bukannya mengikuti virelia buat keamanan Mlah dikejar banci🤣🤣🤣 gimna kalo sampe kael tau habis Klian ber 2🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
🤣🤣🤣dang putri bingung sendiri menghadapi pelayan yg benar2 sabar dan mengikuti aksi pura2 gila smpe bingung mau ngapain🤣🤣🤣 semangat thor
Nurlaila Hidayah
siapakah mata2 yg b smpe bisa tau apa yg direncanain oleh virelia? moga Duke bisa menyelamatkan'a dgan segera
Nurlaila Hidayah
kocak euy pas pengawal dtg ikut2n berdrama🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
🤣🤣🤣🤣 ternyata pengganti pelayan dan penjaga)pengawal sama2 gila dan duke pun ikutan berimajinasi gila🤣🤣🤣 pusing kan kau sekarang putri gmna cara'a lepas dri kael🤣🤣🤣
Nurlaila Hidayah
waaaah ada apa dengan istana? mntap thor ga bsa diprediksi crta'a bkal sperti apa
Nurlaila Hidayah
tuh kan cuma pura2 aja, psti ada alasan dri semua yg dilakukan valeria ini. apa ya motif yg sungguh'a smpai hrus berpura2 sperti ini
Nurlaila Hidayah
kya'a sang putri emg bner2 ingin kluar dri istana dengan cara berpura2 gila trs kaisar Mlah menjodohkan dgan duke, dan skrg sdg mncari celah buat si usir/diasingkan oleh Duk sendiri, tpi duke sndri bkan org yg mudah tuk mmbuat keputusan yg merugikan diri sndri/kdiaman suke🤔
Nurlaila Hidayah
pusing kan kael lebih pusing drpda harus buat strategi perang drpd menghadapi orgil🤣🤣🤣 lma2 struk nanti kau kael
Nurlaila Hidayah
waaaah jael kya'a mlai sedikit tahu bhwa sang putri tdak bnar2 gila/hanya berpura2 gila
Nurlaila Hidayah
mampir thor, mdah2n ceritanya seru, menarik dan ada yg bisa diambil pelajaran sperti cerita sebelum2'a
Weni Kasandra
cerita yang bagus☺️
zee_
terima kasih thor. karyamu selalu keren/Good//Good//Good/
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
Ayu Oktaviani
Hay Thor aq mampir di karya barumu. sepertinya ceritanya menantang untuk di baca🤭
Archiemorarty: Hahaha... happy reading kakak 🤣🥰
total 1 replies
Burhanuddin S Pd
napa raja uga tak dikasih racun biar tau rasa gimana tersiksa ibunya virilia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!