Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Evaluasi Sore, Hujan Deras, dan Pelindung di Bawah Selasar
Langit di atas kampus Universitas Nusa Bangsa (UNB) perlahan berganti warna menjadi jingga keabu-abuan. Angin sore berembus makin kencang, membawa aroma tanah basah dan gemuruh guntur yang mulai bersahut-sahutan dari kejauhan. Waktu menunjukkan pukul lima sore, menandakan sesi paling mendebarkan dan ditakuti oleh seluruh mahasiswa baru resmi dimulai: Sesi Evaluasi Sore.
Ratusan mahasiswa baru Ilmu Komunikasi duduk bersila rapi di lantai semen koridor utama gedung FISIP. Di hadapan mereka, barisan panitia senior berkemeja PDL hitam berdiri tegap dengan raut wajah serba serius. Ketegangan berhamburan di udara; beberapa mahasiswi di barisan depan bahkan tampak menunduk dalam-dalam sambil meremas tali ID Card mereka, takut kena semprot panitia.
Namun, di barisan tengah, Aleena yang akrab disapa Alee duduk bersila dengan posisi yang amat rileks. Gaya petantang-petenteng khas dirinya sama sekali tak luntur oleh gertakan panitia. Punggungnya tegap, matanya menatap lurus ke depan, dan cengiran tipisnya sesekali terbit saat mendengarkan teguran-teguran klise dari para senior.
Dania yang duduk di sebelah Alee meremas pelan paha kawan barunya itu. "Lee, seriusan deh, muka lu santai banget! Itu Kak Arlan dari tadi jalan mondar-mandir merhatiin barisan kita mulu, tau!" bisik Dania dengan suara bergetar panik.
Alee mengalihkan pandangannya pelan. Benar saja, Arlan Bachtiar sedang berjalan lambat menyusuri lorong di antara barisan mahasiswa. Ketua BEM Fakultas itu memegang papan klipboard, kemeja PDL hitamnya digulung hingga ke siku, memancarkan aura dominan yang amat tegas. Tatapan matanya yang tajam menembus barisan, lalu terkunci tepat pada sosok Aleena.
Arlan menghentikan langkahnya persis di samping barisan Alee. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menunduk menatap gadis ber-nametag Aleena Putri tersebut.
"Aleena," panggil Arlan dengan nada suara baritone-nya yang berat dan dalam, menghentikan keriuhan teguran panitia lain di sekitar mereka.
"Iya, Kak Arlan?" sahut Alee santai. Tanpa rasa takut sedikit pun, Alee mendongak, menatap balik iris mata Arlan yang dingin dan berwibawa.
"Gua perhatiin dari pagi, lu kayaknya enggak ada beban banget ikutan orientasi ini," ujar Arlan, nada suaranya datar namun sarat akan tekanan psikologis. "Temen-temen lu di sebelah pada cemas mikirin evaluasi tugas, tapi lu malah asyik senyam-senyum. Lu menganggap orientasi ini cuma becandaan?"
Suasana koridor seketika hening mencekam. Ratusan pasang mata mahasiswa baru dan panitia mendadak tertuju pada Alee. Dania bahkan sudah menahan napas, ketakutan setengah mati jika Alee bakal kena hukuman berat.
Namun Alee justru menyunggingkan senyum renyahnya yang paling jujur. Dengan bahasa tubuh yang tenang dan nada bicara yang penuh percaya diri, Alee menjawab tegas:
"Bukan menganggap becandaan, Kak. Tapi menurut saya, tegang dan panik itu enggak bakal nyeselesain tugas. Tadi pagi tugas kelompok saya selesai tepat waktu dan rapi, kan? Jadi kenapa saya harus cemas kalau saya udah berusaha maksimal?"
Beberapa panitia senior di belakang Arlan sempat saling pandang, terkejut mendengar jawaban yang begitu mantap, kritis, dan berani dari seorang mahasiswa baru.
Arlan menatap Alee lama sekali. Tidak ada kemarahan di matanya. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyuman samar yang penuh apresiasi atas ketangguhan mental gadis di hadapannya.
"Jawaban yang bagus," tutur Arlan pelan namun tegas. "Tapi ingat, di kampus ini lu enggak cuma butuh otak cerdas dan mental baja, tapi juga konsistensi."
Bledag!
Tepat saat Arlan menyelesaikan kalimatnya, suara petir menggelegar dahsyat di atas langit, disusul oleh curahan hujan deras yang seketika mengguyur pelataran kampus. Tirai air hujan yang lebat mengisolasi gedung FISIP dari dunia luar. Suara gemuruh air memantul di atap gedung, membuat suasana makin riuh. Panitia akhirnya memotong sesi evaluasi dan membubarkan barisan, mengizinkan mahasiswa baru berteduh dan bersiap untuk pulang.
Satu jam berlalu, namun hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Sebagian besar mahasiswa baru sudah dijemput atau menerobos hujan menggunakan jas hujan. Dania sendiri sudah pulang lebih dulu dijemput oleh kakaknya, meninggalkan Alee yang berdiri sendirian di bawah selasar luar gedung FISIP.
Alee menyenderkan punggungnya di tiang semen yang dingin, memangku tangan di dada sambil menatap rintik hujan yang jatuh deras di pelataran. Suasana koridor yang tadinya bising kini mulai melengang dan sepi. Hawa dingin sore menyapu kulit lengannya yang hanya terbalut kemeja putih tipis, membuat Alee refleks menggosok kedua telapak tangannya untuk mencari kehangatan.
Srett.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan tebal hinggap di atas kedua bahu Alee.
Alee tersentak kaget dan refleks menoleh. Sebuah jaket parkat tebal berwarna hitam pekatyang masih menyimpan wangi maskulin khas aroma kayu dan cedarwood telah terpasang rapi menutupi tubuhnya dari belakang.
Di sampingnya, Arlan Bachtiar berdiri santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya. Pria itu kini hanya mengenakan kaos polos hitam, karena jaket utamanya telah berpindah ke bahu Alee.
"Kak Arlan...?" gumam Alee bingung, matanya membelalak menatap seniornya itu.
"Pakai," potong Arlan singkat dengan nada suaranya yang bernuansa berat. Ia menatap lurus ke arah tirai hujan tanpa menoleh ke Alee. "Kemeja lu tipis. Nanti lu masuk angin, besok malah bolos orientasi hari kedua. Gua enggak mau kekurangan mahasiswa baru yang bisa diajak adu argumen."
Alee terpaku sejenak. Namun, sifat dasar Alee yang jahil, ramah, dan petantang-petenteng seketika bangkit kembali. Alee menarik rapat ujung jaket parkat milik Arlan, lalu terkekeh renyah.
"Duh, ternyata Ketua BEM yang galak ini perhatian juga ya sama maba," goda Alee sambil melirik Arlan dari samping.
Arlan menoleh pelan, menatap Alee dengan alis yang terangkat sebelah. Namun kali ini, ada binar hangat yang amat jernih di mata tegasnya.
"Gua cuma perhatian sama orang yang layak diperhatikan, Aleena," balas Arlan datar, namun penekanan pada kata 'Aleena' terdengar begitu dalam dan membakar di telinga Alee.
Alee terdiam seketika. Desiran halus yang sudah lama tak ia rasakan mendadak berdesir pelan di relung dadanya. Bukan lagi bayangan kacamata bening atau petikan gitar masa SMA bersama Rama, melainkan sebuah getaran baru yang dibawa oleh sosok pria tegap di sampingnya di bawah naungan hujan selasar UNB.