NovelToon NovelToon
Lord Of The Gods

Lord Of The Gods

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:52.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.

Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.

Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Ujian Sang Bayangan

Di dalam Ruang Baca Utama Istana, Raja Chen membolak-balik kepingan giok ungu pekat itu di bawah cahaya lilin. Jenderal-jenderal kepercayaannya berdiri mengelilingi meja kayu jati tersebut dengan wajah tegang.

"Batu ini memancarkan cahaya dalam gelap, namun tidak memancarkan panas. Apakah ini sejenis sihir dari Utara?" tanya seorang jenderal, mengusap dagunya yang berjanggut tebal.

Raja Chen mendengus pelan, meletakkan giok itu kembali ke dalam kotak kayu hitamnya. "Kaisar Yan suka bermain teka-teki. Dia sengaja mengirimkan batu bercahaya ini untuk menakut-nakuti kita dengan legenda dari Jurang Kematian Utara. Simpan benda ini di Ruang Harta Pusaka. Aku tidak akan membiarkan sepotong batu merusak perayaan diplomatik besok."

Di sudut ruangan, Pangeran Ketiga Lin Chen sedang duduk di atas karpet berbulu, berpura-pura menyusun balok-balok kayu mainan. Namun, telinga dan Niat Jiwa-nya yang tertidur difokuskan sepenuhnya pada kepingan Giok Jiwa Tingkat Bumi tersebut.

Bagi Raja Chen, itu hanyalah batu langka. Namun bagi Lin Chen, batu itu berteriak. Ia bisa merasakan fluktuasi formasi pelacak dari Kuil Wajah Kosong berdenyut pelan di dalam giok itu, memancarkan sinyal lemah yang berusaha menembus tabir dimensi fana untuk mengirimkan koordinat ke Sektor Langit Primordial.

Mereka belum tahu di planet fana mana kiamat itu jatuh, batin Lin Chen, menyusun balok kayunya hingga runtuh. Namun jika giok ini terus dibiarkan berdenyut, Tetua Agung dari Kuil Wajah Kosong akan menemukan Kerajaan Chen dalam hitungan tahun. Aku harus membungkamnya.

Tengah malam tiba. Istana Kerajaan Chen tenggelam dalam kesunyian, hanya diselingi oleh suara jangkrik dan langkah sepatu bot para penjaga yang berpatroli.

Bayangan kecil melesat menembus koridor layaknya asap. Lin Chen yang mengenakan jubah tidur hitamnya melewati tiga lapis penjagaan Ruang Harta Pusaka tanpa memicu satu pun alarm fana. Kunci perunggu seberat lima puluh pon yang mengunci pintu ruang harta dipatahkan dari engsel dalamnya menggunakan seutas Qi Kondensasi yang diselipkan melalui lubang kunci.

Lin Chen melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi emas, perak, dan permata fana. Matanya sama sekali tidak melirik kekayaan kerajaan tersebut. Ia berjalan lurus ke arah sebuah kotak kayu hitam di sudut meja pualam.

Ia membuka kotak itu. Cahaya ungu pekat langsung menerangi wajah mungilnya.

Sinyal pelacak di dalam giok itu berdenyut semakin cepat, seolah merasakan kehadiran anomali yang selama ini dicari oleh Kuil Wajah Kosong.

"Kalian tidak akan menemukan apa pun selain kuburan kalian sendiri," bisik Lin Chen dingin.

Ia menempelkan telapak tangan kecilnya tepat di atas permukaan Giok Jiwa Tingkat Bumi tersebut. Hawa Kekacauan di dalam Dantian-nya, yang selama ini kelaparan akan energi spiritual sejati, meledak bangkit. Sebuah pusaran penelan tak kasat mata terbentuk di telapak tangannya.

ZRRRTTT!

Giok ungu itu bergetar hebat. Formasi pelacak tingkat tinggi di dalamnya mencoba melawan, memancarkan sengatan petir spiritual. Namun, di hadapan hukum Hawa Kekacauan yang merupakan sisa-sisa fisik Lin Chen, formasi pelacak fana itu hancur dalam hitungan detik.

Tidak hanya menghancurkan formasi, Lin Chen mulai menyedot esensi Qi Spiritual Tingkat Bumi murni yang terkandung di dalam giok tersebut!

Di dunia fana yang tandus ini, menyerap sebuah Giok Jiwa Tingkat Bumi sama dengan meminum satu danau Hawa Murni bagi seorang kultivator pemula. Dantian Lin Chen bergemuruh. Meridian kecil di tubuhnya membesar dan mengeras, dilapisi oleh sisa-sisa energi Naga Primordial yang ikut terbangun.

Tahap Kondensasi Qi Tingkat Empat... Tingkat Lima... Tingkat Enam!

Kultivasi Lin Chen melonjak tajam menembus tiga tingkat sekaligus dalam diam. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya. Saat esensi terakhir dari giok itu tertelan habis, kepingan batu pusaka itu hancur menjadi serbuk abu kelabu yang tertiup oleh napas Lin Chen.

Sinyal ke Sektor Langit Primordial resmi terputus secara permanen.

Lin Chen perlahan membuka matanya yang kini memancarkan kilatan ungu sesaat sebelum kembali menjadi emas murni. Ia mengepalkan tangannya, merasakan aliran Qi yang kini cukup tebal untuk mulai merapal teknik-teknik bayangan mematikan.

Namun, kepuasan sang Tiran Cilik itu tiba-tiba terganggu oleh sebuah fluktuasi Niat Membunuh yang sangat tajam, berasal dari arah Paviliun Kediaman Pangeran Pertama.

"Ada tikus yang mencari mati," gumam Lin Chen. Ujung bibirnya melengkung membentuk seringai es, namun ia tidak bergerak untuk mencegatnya. Ia ingin melihat hasil dari benih yang baru saja ia tanam di Bukit Barat.

Sementara itu, di atap Paviliun Timur, sesosok pria berpakaian hitam ketat merayap tanpa suara layaknya tokek. Ia adalah pembunuh bayangan terbaik yang dibawa oleh Jenderal bermata satu dari Kekaisaran Yan.

Insting sang Jenderal tua tidak bisa dibohongi; kelumpuhan mendadak Pangeran Yan Bo di alun-alun bukanlah kebetulan. Jenderal itu mengutus pembunuhnya malam ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk menculik Pangeran Pertama Lin Feng, bermaksud menyiksanya untuk mengorek rahasia tersembunyi Kerajaan Chen.

Algojo Yan itu berhenti di atas genteng kamar Lin Feng. Ia mencabut sebuah belati tipis yang dilumuri racun pelumpuh saraf. Dengan hati-hati, ia mengangkat satu keping genteng untuk menyusup ke bawah.

WUSSSHH.

Bulu kuduk algojo itu mendadak berdiri tegak. Sebuah embusan napas sedingin es menyapu tengkuknya.

Ia adalah pembunuh veteran yang telah mencabut ratusan nyawa; instingnya memaksanya untuk memutar tubuh dan menebaskan belatinya ke belakang secara membabi buta.

TRANG!

Belatinya membentur sebilah belati karatan.

Mata sang algojo membelalak ngeri. Di belakangnya, berdiri seorang bocah laki-laki kurus kering yang mengenakan pakaian hitam lusuh. Bocah itu tidak memancarkan hawa kehidupan sama sekali, seolah-olah ia adalah bayangan dari genteng itu sendiri.

Bocah itu adalah Mo Ying.

Hanya dalam satu minggu berlatih Teknik Pernapasan Hantu yang diberikan oleh Lin Chen, Mo Ying yang dulunya hanya pengemis jalanan, telah berhasil menyelaraskan detak jantung dan suhu tubuhnya dengan kegelapan malam. Meski ia belum memiliki Qi, teknik pernapasan itu telah mengubah struktur otot dan insting membunuhnya menjadi level monster.

"Siapa kau, keparat kecil?!" desis algojo itu tertahan, matanya memancarkan keganasan. Ia menerjang maju, menggunakan teknik langkah hantu kebanggaan militer Yan untuk memotong leher Mo Ying.

Mo Ying tidak mundur. Mata abu-abunya yang dingin tidak berkedip. Ia mengingat satu pesan dari tuan bayangannya: Musuhmu akan selalu meremehkan ukuran tubuhmu. Jadikan kelemahan itu sebagai bilah tertajammu.

Saat belati beracun itu nyaris menyentuh lehernya, Mo Ying menjatuhkan tubuhnya sepenuhnya ke depan, meluncur di atas genteng dengan kelenturan seekor ular piton. Ia masuk ke dalam titik buta di bawah lengan sang algojo.

Tanpa keraguan sedikit pun, Mo Ying menusukkan belati karatannya dengan ayunan terbalik ke arah ketiak sang pembunuh titik di mana zirah malam musuh tidak menutupi pembuluh darah arteri.

CRAASSSHH!

Darah hitam menyembur deras. Algojo Yan itu melebarkan matanya, tercekik oleh darahnya sendiri saat arteri utamanya terpotong bersih. Ia bahkan tidak sempat mengeluarkan suara jeritan sebelum tubuhnya ambruk dan ditangkap tanpa suara oleh Mo Ying agar tidak menimbulkan bunyi benturan di atas atap.

Mo Ying berdiri diam di atas genangan darah. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak dipukuli. Ia adalah yang memukul. Ia adalah pencabut nyawa.

Ia menoleh ke arah kegelapan taman di bawah, seolah tahu bahwa tuannya sedang mengawasinya. Mo Ying berlutut dengan satu kaki di atas atap berdarah itu, menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah bayang-bayang.

Keesokan paginya, matahari terbit membawa teror bagi Kekaisaran Yan.

Di dalam kamar tamu VVIP, Jenderal bermata satu itu terbangun oleh bau anyir yang luar biasa menyengat. Ia membuka matanya dan seketika terlempar dari ranjangnya karena terkejut.

Tepat di atas meja teh di samping ranjangnya, tergeletak kepala algojo bayangan terbaiknya yang telah terpenggal dengan rapi. Di bawah kepala tersebut, terdapat sebuah perkamen kecil yang ditekan dengan cawan teh.

Jenderal tua itu gemetar hebat. Ia adalah ahli bela diri fana tingkat puncak, namun seseorang bisa menyusup ke kamarnya, memenggal algojonya, dan meletakkan kepala itu di samping ranjangnya tanpa ia sadari sedikit pun?! Jika penyusup itu mau, kepala sang Jenderal pasti sudah berpisah dari lehernya malam tadi.

Dengan tangan berkeringat, sang Jenderal mengambil perkamen tersebut. Hanya ada satu baris kalimat yang ditulis dengan arang, mengandung Hawa Dingin yang membuat jiwanya membeku:

Anjing yang menggonggong melewati batas halamannya, tidak akan pernah bisa pulang dengan empat kaki yang utuh.

Di saat yang sama, di ruang makan istana, Lin Chen sedang duduk manis di kursi tingginya. Ia tertawa riang saat Lin Xue menyuapinya dengan sepotong daging asap manis, terlihat seperti pangeran fana paling lugu.

1
Indah Hidayat
kaisar naga beladirinya kok tiba2 dihapus ?
Raden
luar biasa mantap thor
Raden
mantap💪 lanjut kan 💪
Raden
mantap ratu💪
Raden
hajar bro, mulut kok ga dijaga💪
Raden
seru lagi, mantap💪
Rhaka Kelana
Dan akhirnya, yang diinginkan oleh seorang pria adalah rumah yang penuh dengan kehangatan....😍
Budi Wahyono
kaisar naga nya kok gak ada thor ?
Sang_Imajinasi: ada mas bud, ngulang lgi, karena hilang semua bab
total 1 replies
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
keren
Puragabaya
KOPLAK
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
DIFAN2: Novel 'SULUNG' hadir dengan keseruan kisah petualangannya, yuk kak merapat.
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Edy Amran. MM
Lanjut.. ceritanya bagus
Rinaldi Sigar
lanjut
EKO BUDI PRASETYO: lha bukannya qingyue di alam abadi SM Lincen, kok BS di alam fana
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Boo Ceng Li
🔥🔥🔥💪💪💪👌👌👌
Tosari Agung
sangat keren imajinasi thor🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!