'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Lisa - Celly
...~•Happy Reading•~...
Lisa yang sudah duduk di angkutan umum, segera memakai masker dan topi saat melihat Nelson berjalan ke arah angkot yang dia naiki. 'Gawat, kalau aku kelihatan sama Kak Nelson. Nanti dikira aku ngintil.' Bisik hati Lisa sambil merapikan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
Setelah yakin penampilannya telah disamarkan, dia mengangkat wajah untuk melihat ke arah dermaga fery tanpa melihat Nelson yang sudah memutar untuk naik angkot yang sama.
Lisa jadi ingat kejadian tadi pagi saat menyeberang dengan fery untuk mengikuti kegiatan di Kampus Airbunyi.
°°~
Dia berangkat lebih pagi, agar tidak buru-buru naik fery. Saat duduk di lantai atas fery, dia melihat seorang pria duduk tenang sambil membaca buku dan sesekali mengangkat wajah untuk mengangguk pada orang yang menyapanya.
Cara duduk, sikapnya yang tenang dan respon terhadap sekitarnya menggetarkan hati Lisa. Ketika mengangkat wajah untuk melihat orang yang menyapa, hati Lisa bukan saja bergetar, tapi tertambat pada pesona wajahnya. Oleh sebab itu, matanya tidak beranjak, dia memperhatikan sikap dan perubahan wajahnya saat berinteraksi.
"Hei, siapa yang kau perhatikan?" Tanya temannya yang merasa tidak diperhatikan. Padahal dia hampir terlambat fery dan harus berlari mengejar fery, agar tidak terlambat tiba di kampus.
Lisa tersentak dan tersenyum malu, seperti orang ketangkap basah melakukan sesuatu yang terlarang. "Cel, ngagetin aja. Sini duduk." Lisa mengangkat tasnya dari kursi yang sengaja dia letakan buat tempat duduk Celly. "Tenang dan atur nafasmu, dulu." Lisa mengusap punggung Celly yang duduk di sampingnya dengan nafas tersengal.
"Iya, Lis. Ini akibatnya kalau gerak lambat and lelet. Padahal kau sudah ingatkan untuk berangkat lebih awal." Celly mengakui kebiasaannya yang gerak lambat dalam melakukan sesuatu.
"Aku juga agak telat, karna angkot keseringan berhenti dan menunggu penumpang. Makanya kita duduk di sini, nyempil di sudut." Lisa menjelaskan posisi duduk mereka di sudut, tidak bisa duduk di tempat yang leluasa melihat pemandangan ke arah laut.
"Kau gak diantar?" Celly terkejut, karena Lisa selalu diantar orang tuanya atau sopir.
"Gak. Papa ada meeting mendadak, jadi aku gak mau tunggu. Naik angkot saja, dari pada terlambat."
"Kalau tau begitu, kita janjian naik angkot, bukan saja jam ketemu di fery." Protes Celly.
"Namanya juga mendadak, jadi, ya. Beginilah aku di sini." Ucap Lisa sambil tersenyum.
"Thanks." Celly memegang tangan Lisa untuk berhenti mengusap punggungnya. "Kau belum jawab pertanyaanku. Tadi lagi perhatiin siapa, sampai gak balas pesanku, dan gak lihat aku datang?"
"Oh, itu. Janji jangan ketawa, ya." Lisa mengangkat tangan, meminta Celly berjanji.
"Iya, aku janji." Celly jadi penasaran dengan sikap Lisa yang tidak biasanya.
"Itu, ada Awowo special, double special. Orangnya duduk di arah jam 2, depan kita." Lisa menjelaskan orang yang dia maksud, tanpa melihat.
"Awowo siapa yang bisa membuat wajahmu merah seperti ini?" Celly makin penasaran melihat wajah Lisa yang memerah.
"Aku sudah bilang, jangan ketawa." Lisa protes sambil memukul tangan Celly.
"Oh, Awowo yang pakai kemeja polos biru muda, tangannya di gulung dan lagi baca itu?" Celly bertanya setelah melihat pria yang dimaksudkan Lisa.
"Astaga, sekali pandang, kau bisa deskripsikan rinci sekali. Perciiis yang aku maksudkan." Lisa mengakui sambil menahan senyum.
"Itu, Kak Nelson. Bintangnya kampus Airbunyi." Celly langsung mengatakan yang dia tahu tentang Nelson.
"Kau mengenalnya?" Lisa terkejut, tapi sangat senang mengetahui Celly mengenal pria yang sudah membuatnya jatuh hati.
"Kenal baik, sih, gak. Cuma tahu, karna sering ikut kegiatan di kampus Airbunyi. Kak Nelson dan circle pertemanannya sering menjadi contoh, juga prestasinya yang gilang-gemilang..." Celly menjelaskan tentang Nelson.
"Kau tahu sendiri, banyak mahasiswa bilangnya kuliah, tapi kuliahnya di lab cicipi narkoboy, teler di jam kuliah. Banyak yang error, kuliah gak lulus lulus."
"Tapi kalau Kak Nelson dan teman-temannya, sedikit dan langkah ditemui sekarang ini. Mereka saling support, jadi mereka sering diminta sebagai pembicara di kampus Airbunyi...." Celly menjelaskan aktivitas dan kegiatan Nelson juga teman-temannya.
"Ya, mau ciwi ciwi atau awowo, harus menjaga pertemanan yang sehat, supaya tubuh, jiwa dan roh juga sehat. Aku nyesal tidak sering ikut kegiatan di kampus Airbunyi denganmu..." Lisa tidak malu menyatakan penyesalannya, karena terlambat mengenal Nelson. Dia makin mengagumi Nelson setelah mendengar penjelasan Celly.
"Sorry, ya. Aku gak bisa kenalkan ke Kak Nelson. Selain aku belum pernah bertatap muka, gak sembarang orang bisa mendekatinya. Jadi kalau kau mulai lopelope, harus berjuang ekstra..." Celly menjelaskan juga tentang Angga, teman Nelson yang mudah didekati.
"Ah, kau. Siapa yang lopelope?" Lisa menyenggol bahu dengan wajah memerah, malu.
"Gak usah sangkal. Aku temanmu berapa lama? Aku baru pernah lihat kau tertarik pada pria seperti ini." Celly balik menyenggol bahu Lisa.
"Oh, iya, sorry, juga. Hari ini aku gak bisa ikut acara sampe selesai. Aku masih ada kuliah lagi. Berbeda denganmu yang sekali sapuan mata, bisa hafal rumus dan kerjakan soal-soalnya." Celly tidak segan memuji Lisa yang cerdas.
"Kau bisa aja, Cel. Apa bedanya aku denganmu? Makasih sudah info dan mendaftarku untuk ikuti kegiatan ini. Nanti aku pulang sendiri saja." Lisa sangat berterima kasih kepada Celly, karena dengan mengikuti kegiatan di kampus Airbunyi, dia bisa mengenal pria yang telah menggetarkan hatinya.
Dari pembicaraan mereka yang singkat di atas fery, Lisa bertanya tentang Nelson dan lingkungan kampus sepanjang jalan dari dermaga fery hingga ke aula kampus. Sehingga dia jadi tahu, pria yang telah menarik hatinya adalah mahasiswa semester akhir fakultas teknik.
Ketika selesai acara dan hendak pulang, dia melihat Nelson dan Angga sedang bercanda di halaman kampus. Interaksi mereka yang lepas, penuh canda membuat dia tersenyum sendiri.
Sebelum ke dermaga fery, dia ingin mencicipi makanan di pusat kuliner. Agar jika angkutan umum terlambat, perutnya tidak bernyanyi keroncong di jalan. Ketika selesai makan, dia melihat Nelson cs masuk di tempat makan yang lain.
'Sekarang atau tidak sama sekali.' Entah dari mana ide dan sumber keberaniannya, dia membeli segelas juice melon hanya untuk berkenalan dengan Nelson. Pria yang telah membuatnya jatuh hati.
Namun tindakan Nelson menolak juice yang diberikan, menyadarkan dirinya bahwa pendekatannya terlalu berani dan nekad sebagai seorang wanita baik-baik. 'Semoga masih ada kesempatan kedua bagiku.' Bisik hati Lisa berharap.
Lisa makin kagum dan respect saat Nelson meminta dia duduk untuk menghabiskan juice. Nelson tidak mempermalukan dia dengan berkata kasar atau mengusirnya pergi dari hadapan mereka.
Sehingga dia menunggu Nelson pulang di ruang tunggu dermaga untuk berterima kasih. Namun sebelum dia lakukan niatnya, dia mendapat ide untuk mengambil gambar Nelson yang sedang berdiri memandang teluk sebagai kenang-kenangan.
Ketika dia selesai mengambil gambar, dia tidak menyangka ada wanita yang mendekati Nelson dengan cara yang lebih ekstrim. Pakai pasukan kuku untuk mengancam dan menyingkirkan dia.
...~•••~...
...~•○♡○•~...