NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan Pertama 10.

Aroma hangat nasi yang baru matang seharusnya memicu rasa lapar, tetapi bagi Ulfa, bau itu justru memicu kepanikan minor.

Ia berdiri kaku di depan konter dapur yang didominasi warna putih bersih dan abu-abu maskulin.

Tangan kanannya memegang spatula kayu seolah-olah itu adalah senjata yang siap meledak, sementara tangan kirinya menggenggam ponsel yang menampilkan video tutorial berjudul,

Cara Membuat Telur Dadar Gulung Lembut ala Kafe—Pasti Berhasil!

Nyatanya, video itu berbohong. Di atas wajan antilengket mahal milik keluarga Langit, gumpalan kuning telur itu sama sekali tidak berbentuk silinder estetik.

Bentuknya compang-camping, sebagian mengering menjadi pinggiran cokelat yang keras, dan bagian tengahnya masih cair berlendir.

Ulfa menggigit bibir bawahnya. Jarinya yang gemetar mencoba membalik paksa robekan telur itu, tetapi gerakannya terlalu kasar.

Hasilnya? Telur itu hancur total menjadi orak-arik tak beraturan.

Sebagai seorang juara kelas yang selalu menyusun jadwal harian hingga hitungan menit dan memastikan kerapian catatan sekolahnya menggunakan pulpen lima warna berbeda, kegagalan ini adalah tamparan telak bagi ego perfeksionisnya.

Di sekolah, Ulfa mengendalikan segalanya. Di dapur ini, sebuah telur ayam ukuran sedang berhasil membuatnya tampak bodoh.

"Lo lagi nyoba bikin sarapan atau lagi ngajak wajannya berantem?"

Suara serak khas orang baru bangun tidur itu membuat Ulfa tersentak. Ia menoleh cepat dan menemukan Langit sudah bersandar di kosen pintu dapur.

Cowok itu masih mengenakan kaus oblong hitam longgar dan celana jins rumahan. Rambut tebalnya berantakan ke segala arah, tipikal Langit yang baru lepas dari kasur.

Matanya yang tajam menyipit, memandang bergantian antara wajan yang berasap tipis dan wajah Ulfa yang perlahan memerah karena malu.

"Gue cuma... ini teknik baru," kilah Ulfa cepat. Suaranya diusahakan tetap tenang dan berwibawa, nada suara yang biasa ia gunakan saat memimpin rapat OSIS. Ia buru-buru mematikan kompor.

Langit berjalan mendekat. Langkah kakinya seringan kucing, hampir tanpa suara di atas lantai granit. Ia berdiri tepat di samping Ulfa, menunduk untuk melihat lebih dekat isi wajan.

Langit mendengus, sebuah tawa sarkastik lolos dari hidungnya. "Teknik baru mbahmu. Ini mah telur hancur. Lo nggak bisa masak, ya?"

Pertanyaan langsung itu menghantam tepat di ulu hati Ulfa. Pertahanan dirinya runtuh. Ia meletakkan spatula kayu dengan ketukan yang agak terlalu keras di atas tatakan.

"Gue bisa," bantah Ulfa, matanya menatap Langit dengan defensif. "Gue cuma nggak terbiasa sama kompor induksi kayak gini. Panasnya beda sama kompor gas biasa di rumah gue."

"Oh, ya?" Langit mengangkat sebelah alisnya. Ia mengambil garpu bersih dari rak, lalu mencolek sedikit bagian telur yang gosong di pinggir wajan. Ia memasukkannya ke mulut, mengunyah sebentar, lalu langsung meraih tempat sampah di bawah wastafel untuk melepehkannya.

"Anjir, asin banget! Lo masukin garem berapa sendok, Ulfa? Ini mah takaran buat ngusir ular, bukan buat dimakan!" omel Langit. Wajahnya berkerut masygul. "Gue tahu kita terpaksa tinggal bareng karena urusan perjodohan konyol orang tua kita, tapi bukan berarti lo boleh ngeracunin gue di hari pertama, kan?"

Ulfa meremas ujung celemeknya. Rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu adonan yang menyesakkan dadanya. Menikah muda di usia SMA karena wasiat dan bisnis keluarga sudah cukup memberikan tekanan mental.

"Gue panik, oke?!" sahut Ulfa akhirnya, volume suaranya meninggi satu oktav. Matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena cengeng, tapi karena frustrasi yang teramat sangat pada dirinya sendiri. "Gue nggak pernah megang pisau atau wajan seumur hidup gue. Di rumah, semua udah disiapin. Gue cuma tahu cara belajar dan dapet nilai A. Gue nggak tahu kalau balik telur sekadar ini aja susah banget!"

Langit tertegun. Omelannya tertahan di tenggorokan. Ia melihat dada Ulfa yang naik turun karena napas yang memburu, dan kilatan air mata yang ditahan sekuat tenaga di sudut mata cewek itu.

Ego Ulfa yang tinggi sedang terluka hebat, dan Langit bisa melihat rapuhnya cewek yang biasanya selalu tampak sempurna di koridor sekolah itu.

Suasana dapur mendadak hening.

Hanya ada bunyi dengung halus dari kulkas dua pintu di sudut ruangan.

Langit menghela napas panjang. Ia mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan, lalu meraba saku celananya untuk mengeluarkan ponsel.

"Ya udah, nggak usah nangis. Lebay lo," gumam Langit, nadanya melunak meski sisa-sisa ketus masih ada. Jarinya bergerak cepat di atas layar ponsel. "Gue pesen bubur ayam cianjur di depan kompleks. Lo mau pake sate usus nggak?"

Ulfa mengerjapkan matanya, menghalau genangan air yang hampir jatuh. Perubahan sikap Langit yang tiba-tiba membuatnya agak linglung. "Hah? N-nggak usah. Bubur biasa aja. Nggak pake tongcay."

"Hm." Langit menyelesaikan transaksinya di aplikasi makanan online. "Setengah jam lagi nyampe. Sana lo duduk, jangan deket-deket kompor lagi sebelum lo belajar teori masak dari buku teks lo yang tebel-tebel itu."

Meskipun kata-katanya masih menyebalkan, Ulfa merasakan sebersit rasa lega. Ia melepas celemeknya dengan canggung dan duduk di salah satu kursi bar yang tinggi menghadap meja pulau dapur. Langit mengambil segelas air putih dingin dari kulkas, lalu menggesernya ke depan Ulfa tanpa berkata apa-apa.

"Makasih," cicit Ulfa pelan.

Langit tidak menjawab. Ia duduk di kursi seberang Ulfa, meletakkan kedua lengannya di atas meja. Tatapannya kini berubah menjadi serius, kehilangan sorot meledek yang tadi sempat bertengger di sana.

"Karena kita bakal hidup bareng entah sampai kapan, dan karena terbukti hari pertama aja udah chaos," Langit mengetukkan jarinya ke meja, "kita butuh aturan rumah. Gue nggak mau hidup dalam ketidakpastian, apalagi sama orang yang perfeksionis kayak lo. Pasti banyak maunya, kan?"

Ulfa menegakkan punggungnya. Jiwa organisatorisnya langsung bangkit mendengar kata 'aturan'. Ini adalah teritorinya. "Setuju. Kita harus bikin batasan yang jelas supaya nggak saling ganggu privasi."

"Oke, poin pertama dari gue," kata Langit langsung. "Jangan pernah sentuh area kerja gue di kamar sebelah. Mau seberantakan apa pun kabel gitar atau kertas coretan gue, jangan dirapihin. Gue tahu lo punya penyakit gatel kalau liat barang nggak rapi."

Ulfa mendengus pelan, namun mengangguk. "Fine. Poin pertama dari gue: pembagian tugas domestik. Karena gue nggak bisa masak, gue yang bakal ambil alih semua urusan kebersihan. Nyapu, ngepel, cuci baju, dan setrika. Lo yang masak atau urus makanan. Adil?"

Langit menimbang sejenak, lalu mengangguk. "Deal. Tapi kalau gue lagi males masak, kita beli luar. Dan lo nggak boleh protes kalau menunya junk food sesekali."

"Asal jangan tiap hari," sahut Ulfa ketat. "Poin kedua dari gue: di sekolah, kita tetap asing. Nggak ada yang boleh tahu soal... pernikahan ini. Di sekolah lo adalah Langit si anak band yang jarang masuk kelas, dan gue adalah Ulfa. Kita nggak saling kenal."

Langit menatap Ulfa agak lama. Ada kilatan aneh di matanya yang tidak bisa dibaca Ulfa, sebelum akhirnya cowok itu mengedikkan bahu acuh tak acuh. "Memang itu mau gue dari awal. Gue nggak mau dikira manfaatin nama bokap lo yang donatur yayasan itu."

Kalimat itu agak menyengat hati Ulfa, namun ia memilih mengabaikannya.

"Satu lagi," tambah Langit, suaranya merendah, membuat intensitas di antara mereka mendadak merayap naik. "Kamar kita pisah. Jangan pernah masuk kamar gue tanpa ketuk pintu, dan gue bakal lakuin hal yang sama. Kamar tidur adalah batas suci."

Ulfa menatap langsung ke dalam mata cokelat gelap Langit. Di balik sikap menyebalkan dan kasarnya, ia melihat ada ketegasan yang menghargai ruang privat masing-masing. Ini membuat Ulfa merasa sedikit lebih aman. Setidaknya, Langit tidak berniat memanfaatkan situasi rumit ini untuk hal-hal yang tidak-tidak.

"Sepakat," jawab Ulfa mantap.

Tepat saat itu, bel apartemen berbunyi, memecah ketegangan yang sempat terbangun.

"Buburnya nyampe," kata Langit sambil berdiri dari kursinya.

Ulfa memperhatikan punggung lebar Langit yang berjalan menuju pintu depan. Pagi ini tidak dimulai dengan sempurna seperti yang ada di kepala Ulfa. Ada telur yang gosong, ego yang terluka, dan omelan yang mengesalkan. Namun, saat melihat dua mangkuk bubur hangat diletakkan di atas meja beberapa saat kemudian, Ulfa sadar bahwa hidup bersama Langit mungkin tidak akan berjalan sesuai jadwal dan rencananya, tetapi setidaknya, mereka punya cara sendiri untuk tidak saling menghancurkan.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
banyak bacot ini tua bangka🤣 cucu lu selingkuh woy goblok
falea sezi
uda jatuh talak. lo. ini
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!