NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Goresan dua jiwa

Sejak malam minggu lalu, saat pintu kayu tebal di ujung lorong belakang terkuak dan memamerkan puluhan kanvas tersembunyi milik Alfa, suasana di antara mereka mengalami pergeseran yang sangat halus.

Canggung kaku yang biasanya menyelimuti setiap sudut rumah kini melunak, berganti menjadi sebuah keheningan yang nyaman dan penuh dengan pemahaman tanpa kata.

Malam itu, jarum jam dinding baru saja melewati angka sembilan. Senja sedang duduk di sudut ruang keluarga, memangku laptop kerjanya sembari meninjau beberapa dokumen laporan keuangan bulanan Anjasmara Group. Suara ketikan jemarinya yang teratur tiba-tiba terhenti saat bayangan tubuh Alfa berdiri di ambang pintu.

Pria itu tidak mengenakan kemeja formal seperti biasa. Alfa memakai kaos katun santai berwarna hitam dengan lengan yang digulung sebatas siku. Di tangan kanannya, ia memegang dua buah palet kayu kosong dan beberapa tabung cat minyak yang baru.

"Belum terlalu larut untuk mengotori tangan dengan cat, kan?" Tanya Alfa dengan ulasan senyum tipis di bibirnya.

Senja mendongak, matanya yang jernih mengerjap pelan menatap benda-benda yang dipegang suaminya.

"Mas Alfa mau melukis lagi?"

"Bukan aku" Sahut Alfa sembari mengayunkan sedikit tabung cat di tangannya.

"Kita!" Jawab Alfa tegas.

"Aku sudah menyiapkan kanvas baru berukuran satu setengah meter di dalam. Mau bergabung daripada mengurung diri dengan angka-angka itu?"

Senja menatap layar laptopnya sejenak, lalu beralih menatap Alfa. Rasa lelah akibat tumpukan berkas kantor yang tadinya menumpuk di pundaknya seolah menguap digantikan oleh rasa penasaran yang hangat.

Senja menutup laptopnya.

"Boleh. Lagipula laporan ini bisa kulanjutkan besok pagi."

Ruangan belakang berinisial 'A' itu terasa berbeda malam ini. Lampu sorot bernuansa warm white menyala terang, memancarkan pendar kuning keemasan yang menimpa rak-rak kayu dan kanvas-kanvas tertata rapi.

Di tengah ruangan, sebuah kanvas putih polos berukuran besar sudah terpasang kokoh di atas easel kayu ganda. Dua kursi berkaki tinggi diletakkan bersisian di hadapan kanvas tersebut.

"Kita melukis apa malam ini, Mas?" Tanya Senja seraya mengikat rambut panjangnya menjadi sanggul acak yang praktis, memperlihatkan leher jenjangnya yang halus.

Alfa menyerahkan salah satu palet kayu beserta pisau palet dan kuas berbagai ukuran kepada Senja.

"Tidak ada konsep" Jawab Alfa santai. Pria itu menduduki salah satu kursi tinggi.

"Tanpa sketsa, tanpa konsep bisnis, dan tanpa aturan. Kita bagi kanvas ini menjadi dua, sisi kiri milikmu, sisi kanan milikku. Kita melukis apa pun yang mengalir di dalam kepala kita malam ini, lalu lihat bagaimana dua visual itu bertemu di tengah."

Senja menatap kanvas kosong di hadapannya. Bagi seorang wanita yang tumbuh dalam diktat aturan yang ketat, instruksi tanpa aturan justru terasa asing sekaligus membebaskan.

"Bagaimana kalau hasilnya tidak menyatu dan malah merusak estetika kanvasnya?" Gumam Senja ragu.

Alfa terkekeh pelan. Ia menyendok sedikit cat minyak berwarna cobalt blue dengan pisau paletnya, lalu tanpa ragu menggoreskannya tebal-tebal di area kanan kanvas.

"Itu keindahan seni, Senja" Tutur Alfa sembari membentuk garis abstrak yang tegas.

"Tidak ada kata merusak. Semua goresan punya ruang untuk berdampingan, sejauh kita tidak saling memaksakan warna kita pada warna orang lain."

Senja tertegun sejenak mendengarkan kalimat itu. Penjelasan Alfa terdengar amat sederhana, namun memiliki kedalaman filosofi yang entah mengapa terasa pas menggambarkan posisi mereka saat ini.

Mengikuti jejak Alfa, Senja mengambil warna burnt sienna, cokelat kemerahan yang hangat namun tenang. Dengan gerakan tangan yang sangat gemulai dan presisi, ia mulai membentuk sapuan-sapuan halus di sisi kiri kanvas, melukiskan bentuk-bentuk lengkung seperti riak air di malam hari.

Selama satu jam pertama, ruangan itu didominasi oleh keheningan yang magis. Hanya ada suara gesekan kuas pada permukaan kain kanvas, denting lembut pisau palet yang mengaduk cat, serta deru napas teratur dari mereka berdua. Tidak ada kecanggungan. Keheningan itu begitu bernyawa dan menenangkan.

Alfa sesekali mencuri pandang ke arah Senja. Di bawah pendar cahaya lampu hangat, profil wajah Senja terlihat amat memesona. Wanita itu melukis dengan fokus yang luar biasa, bibirnya sedikit merapat, dan matanya memancarkan kedamaian yang tak pernah Alfa lihat saat mereka berada di kantor atau di hadapan orang tua mereka.

Tiba-tiba, Senja tertawa kecil, sebuah suara renyah yang amat jarang keluar dari bibirnya.

Alfa menoleh, alisnya terangkat heran.

"Kenapa?"

"Mas Alfa terlalu banyak memakai cat hitam di sudut sana" Tunjuk Senja dengan ujung kuasnya, matanya berbinar jenaka.

"Sudut kananmu terlihat seperti malam tanpa bintang di tengah hutan belantara. Terlalu pekat."

Alfa mendengus geli, meneliti sudut kanvasnya sendiri.

"Aku hanya sedang mencoba menyeimbangkan kontras warna birumu, Senja. Lagipula, siapa yang bilang tidak ada bintang?"

Alfa menyendok sedikit cat warna kuning titanium, lalu dengan gerakan tangan yang sangat spontan, ia memercikkan ujung kuasnya ke atas area hitam tersebut. Bintik-bintik kuning keemasan tersebar acak namun indah di atas warna pekat itu.

Senja terpana melihat hasilnya. Percikan spontan Alfa justru memberikan nyawa yang luar biasa pada kekakuan warna di sana.

"Bagaimana?" Tanya Alfa menatap Senja dengan senyum bangga yang kekanak-kanakan.

"Bagus, kan?"

"Sangat bagus" Aku Senja tulus. Senyum lebar terukir di wajah cantiknya.

"Ternyata improvisasimu boleh juga."

"Tentu saja" Balas Alfa menyombongkan diri secara bercanda.

"Sekarang giliranku mengkritik. Kenapa garis-garis riak airmu di tengah ini berhenti? Seolah kamu takut menyeberang ke sisiku."

Senja menatap batas antara sisi kiri dan kanan kanvas yang masih menyisakan ruang putih tipis.

"Aku hanya tidak ingin merusak area milikmu, Mas" Ujar Senja jujur. Ada keraguan tak kasat mata di dalam matanya, sebuah cerminan dari sikapnya sehari-hari yang selalu menjaga jarak dan takut melangkahi batas.

Alfa menatap mata Senja dengan lembut. Ia mengambil kuas dari tangan Senja, menyendok warna raw umber hangat, lalu membimbing tangan lentik Senja untuk memegang kuas itu bersama-sama dengannya.

Sentuhan kulit tangan Alfa yang hangat dan sedikit kasar menyelimuti jemari Senja. Jantung Senja mendadak berdesir halus, bukan karena gairah asmara yang membara, melainkan karena rasa aman yang tiba-tiba menyusup ke dadanya.

"Di kanvas ini, kita satu tim, Senja" Bisik Alfa rendah di dekat telinganya.

"Goreskan saja. Biarkan warna kita bercampur di tengah."

Dengan bimbingan lembut jemari Alfa, Senja menggerakkan kuasnya menyeberangi garis batas pertengahan. Warna cokelat hangat milik Senja menyatu indah dengan gradasi biru malam dan percikan emas milik Alfa, menciptakan sebuah pusaran abstrak yang luar biasa megah di tengah-tengah kanvas.

Mereka menarik tangan mereka kembali, mundur beberapa langkah untuk menyaksikan hasil karya bersama itu.

Lukisan di hadapan mereka adalah sebuah mahakarya kolaborasi yang kontras namun harmonis. Sisi kiri Senja yang penuh dengan riak-riak tenang dan emosi mendalam menyatu sempurna dengan sisi kanan Alfa yang tegas, berani, dan kaya akan pencahayaan. Tidak ada warna yang mendominasi, tidak ada yang saling menenggelamkan.

"Luar biasa..." Gumam Senja penuh takjub, matanya berbinar menatap kanvas besar itu.

"Aku tidak pernah menyangka dua gaya yang sangat berbeda bisa terlihat semenarik ini saat disatukan."

Alfa berpaling, menatap wajah Senja yang diterpa pendar lampu. Ada sedikit noda cat minyak berwarna biru muda di pipi kiri wanita itu, mungkin akibat secara tak sadar Senja mengusap wajahnya tadi.

"Iya... sangat indah" Balas Alfa. Namun pandangan mata pria itu sama sekali tidak tertuju pada kanvas, melainkan lurus pada paras anggun Senja.

Alfa merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar sapu tangan bersih. Tanpa mengucapkan kata, ia mengusap noda cat di pipi Senja dengan gerakan yang amat perlahan dan hati-hati.

Senja membeku di tempatnya. Ia tidak menghindar. Matanya terkunci pada manik mata Alfa yang berada begitu dekat dengannya. Di dalam binar mata pria itu, Senja tidak lagi melihat bayangan keputusasaan atau keterpaksaan.

Yang ada hanyalah rasa hormat yang tulus, apresiasi, dan kehangatan dari seorang pria yang mulai memandangnya sebagai seorang rekan hidup yang utuh.

"Ada sedikit cat di pipimu" Ujar Alfa pelan, menyunggingkan senyum hangat setelah membersihkan noda itu.

Senja menghela napas pendek yang sempat tertahan, lalu mengulas senyum tipis yang amat tulus.

"Terima kasih, Mas."

Malam itu, di dalam ruangan tersembunyi yang kini bukan lagi milik Alfa seorang, mereka berdua berhasil menemukan sebuah dunia kecil di luar cengkeraman Prasetya, di luar penderitaan Dila, dan di luar ekspektasi semua orang. Sebuah ruang aman di mana dua jiwa yang sama-sama terluka dan terkekang, bisa saling berbagi warna tanpa harus takut kehilangan jati diri mereka masing-masing.

1
Nar Sih
sperti nya kmu mulai jatuh cinta dgn alfa senja
Nar Sih
dari perhatiaan alfa ke senja seperti psng suami istri yang saling mencintai pdhl ...mungkin hnya sbts tangung jwb alfa
Ari Atik
pengen nya alfa merasa kehilangan senja..
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
juwita
kasihan senja jatuh cinta sm suami sendiri tp di hatinya ada cwek lain😭😭😭
mery harwati
Ada kopi online bwt author agar membuka rahasia, apakah orang tua Senja tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila meski Alfa sudah menikah sah dengan Senja
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
Agnezz: makanya Senja dan Alfa harus tahan2 diri aja dulu Suatu saat mereka jadi pimpinan dan pemilik perusahaan. Ayah2 mereka sudah tertalu tua dan sakit2an, suatu saat akan menyerahkan perusahaan pada mereka
total 3 replies
mery harwati
Sebentar² aq jadi berpikir tentang pernikahan antara Senja & Alfa memang sudah disetujui oleh kedua orang tua mereka, tapi soal Alfa yang masih merawat Dila & "menelantarkan" Senja sebagai istri sah, diketahui tidak oleh orang tua Senja? Sebab selama episode ini hanya ayah Alfa yang keras menentang hubungan Alfa & Dila, andaikan orang tua Senja bahwa Alfa punya kekasih Dila & tetep menjodohkan Senja dengan Alfa, brati memang Senja benar² sendiri hidupnya ditengah kemewahan, tapi seandainya orang tua Senja tak tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila dan Alfa menyakiti Senja, waahh harusnya orang tua Senja menyembunyikan Senja dari Alfa & keluarganya 🤔💪
Agnezz: mungkin karena Senja mulai jatuh cinta pada Alfa dan dalam pandangan Senja, hati.Alfa sudah terkunci pada Dila. Tujuan awal.Senja mau menikah adalah pernikahannya menjadi jembatan menuju kebebasannya. Senja audah bosan terlalu dituntut dan disetir ayahnya. yah memang Senja KESEPIAN. orang tuanya hanya menjadikan Senja sebagai alat.
total 3 replies
Agnezz
Alfa emang cowok yg penuh kasih sayang dan perhatian. Dia tidak bisa berdiam diri kalo orang lain sakit. Pantas sangat mengkhawatirkan Dila karena dia sepeduli itu.Hati2 Senja jangan sampai jatuh cinta.
Agnezz
Untung yg jadi istri Senja, coba kalo wanita lain yg gak terima Alfa masih berhubungan dan memikirkan Dila. bisa dibejek-bejek kamu Alfa.
Agnezz
"Jangan merasa sendirian lagi Senja" berati Alfa paham kalo Senja kesepian.
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.
Hanima
lanjuttt
Cahaya
senja😍
Cahaya
lanjutttt
Hanima
Lari lah jauh2 senja
Inara Khimar
saran ku lari senja lari yang jauh
Ikaaa1605
😍
Cahaya
masihh spi ini blm pada hadir
Sastri Dalila
🤗
Nar Sih
semoga badai nya cpt pergi dan kalian sgra kmbli sampai daratan lgi
Umfaiq
baru kali ni ada CEO bodoh ga ketulungan
Ass Yfa
dan Senjapun tak ada dlm masadepan Alfa..sesakit itu yg Senja...tak ada deorangpun yg tulus menyanyangimu..bahkan suami sendiri😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!