Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
Maudy terdiam seribu bahasa, ia benar-benar sangat terkejut dan tidak bisa menerima fakta bahwa ini semua adalah kenyataan.
"Jadi, kau adalah aku? dan aku adalah kau?" Tanya Maudy, kepada pantulan dirinya di cermin.
Aurora hanya bisa tersenyum tipis, "Lantas, kau pikir ini siapa? Tenanglah Maudy, kau dan aku sekarang kita adalah satu orang."
Ucapan Aurora itu terdengar seperti bom waktu baginya, ia sudah nyaman menjadi Maudy. Selama bertahun-tahun, dan sekarang ia harus menerima fakta bahwa semua telah berubah.
"Tidak, ini salah. Kau, kau pasti iblis dan aku sedang bermimpi. Ya Tuhan, tolong aku, aku ingin mimpi ini segera selesai. Lalu kembalikan aku kembali ke masa depan. Aku tidak ingin menjadi orang ini, meskipun ku tahu. Aku tidak secantik dia, tapi aku benar-benar ingin kembali menjadi Maudy."
Melihat Maudy yang menaruh berjuta-juta harapan itu, kini membuat Aurora lantas terdiam. Wajahnya yang semula bisa tersenyum karena Maudy, kini kembali murung juga karenanya.
"Kau tahu Maudy, jika aku bisa tetap berada di tubuhku, aku tidak akan pernah mau menyusahkanmu. Kau memang punya masa depan, karir mu masih panjang. Dan aku, tidak akan bisa lebih lama menahan mu lagi. Namun satu hal yang harus kau tahu."
"Baik saat ini, atau saat kau kembali di masa depan, cerita ini akan tetap sama. Karena semua telah terjadi. Kau akan tetap kehilangan tubuhmu, karena Maudy sudah mati sepenuhnya di masa sekarang".
Mendengar hal itu, kini Maudy pun tertegun, semua ucapan Aurora benar. Ia tak bisa menyangkal, semua telah terjadi.
"Baiklah, aku akan membantumu." Maudy tersenyum, hanya ini cara ia, agar benar-benar dapat tenang. Ia juga masih punya beberapa hal yang harus ia urus sebelum benar-benar pergi sepenuhnya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
Aurora yang berada di dalam cermin itu pun tersenyum.
"Yang pertama dan harus benar-benar kau lakukan, adalah satu. Jangan sebut dirimu sebagai Maudy, kau yang sekarang adalah Aurora, kau adalah Aurora Darren Lilian. Pewaris utama Darren Grub. Kau harus ingat itu baik-baik." Mendengar ucapan itu, Maudy pun kini bertekat untuk meyakinkan dirinya.
"Baiklah, aku yang sekarang adalah Aurora." Melihat sorot mata dan tekat yang kuat itu. Membuat jiwa Aurora yang berada di dalam pantulan cermin itu mulai sedikit lega.
"Mendekatlah kemari Aurora! Mulai sekarang, anggap aku sebagai bayanganmu yang lain! Kau paham?!"
Wanita itu pun mengangguk, kini ia mendekat pada cermin itu. Sepanjang malam itu, Jiwa Aurora menjelaskan semuanya kepada Maudy. Tentang apa yang harus ia lakukan, dan tentang semuanya.
***
Kini, pagi telah tiba. Sorot mata yang kuat, dari wanita yang semula panik kebingungan. Kini mulai menemukan jati dirinya yang baru, dengan identitasnya yang baru.
"Semangat Maudy, eh, maksudku. Semangat Aurora."
Begitulah cara Jiwa Aurora meyakinkannya, dan sekarang. Aurora, telah di ambil kendali sepenuhnya oleh Maudy.
Wanita itu, kini berlari keluar kamar, menyambut semua penghuni rumah dengan riang gembira.
"Hai Bibi Salma, kau tampak lebih muda hari ini." Aurora mengedipkan satu matanya, membuat wanita setengah baya itu, kini tersipu malu dan Aurora. Berhasil membuatnya merasa senang, atas pujian itu.
"Nona muda, Anda bisa saja." Tak hanya Bibi Salma, wanita itu menyambut semuanya.
Hingga akhirnya langkah itu terhenti, saat ia menatap wanita dengan pakaian modis, berdiri di ambang pintu. Dengan nada suara yang lembut, namun terdengar sedikit tegas. Kini memanggilnya.
"Aurora, kau telah bangun? Apa tidurmu nyenyak sayang?" Mendengar hal itu, Aurora langsung terdiam. Langkahnya terhenti.
Melihat Aurora yang menunduk melihatnya, membuatnya terdiam. Wajahnya berubah menjadi sayu.
"Tidak apa-apa Aurora. Kamu masih belajar untuk menerimaku. Perlahan, dan kita akan." Belum selesai Grace berbicara, tubuh wanita itu sudah lebih dahulu di peluk oleh putri sambungnya.
"Mama, bagaimana kamu hari ini, kamu sudah makan?" Grace yang mendengar itu, kini benar-benar di buat terdiam kikuk.
Ini adalah pertama kalinya, ia mendengar hal itu keluar dari mulut putri sambungnya.
Tetes air mata itu mulai menetes, melewati pipinya yang mulus, lalu jatuh.
"Mama jangan menangis!" Grace yang mendengar ucapan Aurora pun, dengan sigap langsung mengusap air matanya.
"Tidak, mama tidak menangis. Aurora, kamu makan ya sayang. Makan ya banyak, mau mama temani? Ayo!" Grace benar-benar sangat antusias akan hal itu.
Jiwa Aurora kini berada pada pantulan cermin kaca almari, wanita itu pun mengangguk. "Mama, maaf selama ini tidak pernah percaya kepadamu. Aku yang salah selama ini."
Jiwa Aurora hanya bisa menatap kepergian mereka, yang perlahan mulai menjauh dari sana. Tidak ada satu pun orang yang sadar akan pantulan bayangan itu. Hanya Maudy yang dapat melihatnya.
***
Di sebuah hotel mewah, yang tak jauh dari pusat kota. Seorang pria tengah bermain biliar, di ruangan vip.
"Kau tidak ikut Jordan? Sedari kemarin kau terus terdiam. Ayolah, lupakan sekretaris kecilmu itu. Kau bisa mendapatkan gantinya." Ucap Alex begitu saja kepada Jordan yang sedari tadi hanya duduk melamun di pojok ruangan.
"Sudahlah, jangan ganggu dia dulu." Ujar seorang pria, yang baru saja datang.
"Rumero, baru sampai kau?" Tanya Alex, yang melihat Rumero datang bersama Roy.
"Maaf aku terlambat, biasa. Kalian seperti tidak tahu saja."
Rumero kini mendekati Jordan, ia duduk di sampingnya, dan mencoba menghiburnya. "Ayolah, kau bisa dapat sekretaris baru Jordan. Kau mau seperti apa? Yang seksi, atau yang cantik dan imut. Biar aku yang carikan."
Mendengar hal itu, Jordan memberikan tatapannya yang tajam, Alex mencibirnya dan Roy, yang benar-benar sudah tak tahan dengan mulut lemes pria itu.
"Tak..." Kepala Rumero di jitak oleh Roy saking muaknya dia.
"Bicara saja sana pada tembok, jika memang tak bisa hibur orang maka diamlah." Setelah berbicara seperti itu. Roy pun kini langsung duduk di samping Rumero.
"Karena si gila kerja itu telah tiada, sekarang tugasku semakin menumpuk. Sial, ini benar-benar gila". Jordan yang mendengar hal itu pun kini langsung memberikan jempolan tangannya.
"Kau tahu Roy, mulai sekarang. Hanya kita..., Kita berdua akan di kantor seharian tanpa wanita robot itu. Tidak ada hari libur... Ini gila..."
Rumero kini bergabung dengan Alex, menatap para pria bertubuh gagah. Namun menangis lantaran kehilangan seorang wanita.
"Aku pikir dia benar-benar kehilangan sekretarisnya, ternyata kehilangan robotnya". Ucap Alex dengan raut wajahnya yang datar.
"Siapa bilang, aku yang menemaninya semalaman. Dia menangis di makam wanita itu sejak sore hingga malam". Ucap Rumero dan hal itu benar-benar membuat Alex yang sedang mengangkat minum langsung syok bukan main.
"Seorang Jordan Wiliam?" Tanya Alex dan di jawab anggukan oleh Rumero.
"Wah, ini gila."
***
Tengah hari, tepat saat semua orang di kantor, tengah istirahat, para murid sekolah juga tengah pulang, dan ada juga yang telah pulang. Membuat suasana kota saat ini, benar-benar ramai.
Aurora kini tengah berada di jalan, dengan sebuah mobil bersama supirnya.
"Nona, sebenarnya kita akan kemana?" Tanya Pak Tono, supir keluarga Darren.
"Antar saya pergi menjemput Nona Luna, saya sudah izin dengan mama."
Pak Tono hanya mengangguk, hal itu sudah biasa. Karena Aurora, memang sangat dekat dengan adik sambungnya.
Mungkin dulu ia cukup jauh dengan ibu sambungnya, namun dengan Luna. Anak kecil itu benar-benar sudah seperti adik kandungnya sendiri. Meskipun berbeda ibu.
Aurora kini teringat akan ucapan jiwa itu semalam.
"Jadi? Apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya dan di jawab anggukan oleh jiwa itu.
"Besok, kau yang harus menjemput Luna. Harus!"
Hal itu membuat Maudy yang sekarang telah menjadi Aurora, benar-benar merasa kebingungan.
"Rora, kau ini berbicara apa? Luna juga siapa? Kalau Maudy sih, itu jelas aku. Kalau Luna?"
Jiwa Aurora yang melihat Maudy tengah bercanda, kini benar-benar menatapnya datar dan cemberut.
"Sudah ku bilang, kau sekarang Aurora, bukan lagi Maudy!" Tegas Jiwa itu, karena jika ini di teruskan. Maka ia pasti akan terus menyebut nama Maudy, dan membuat semua orang kebingungan dan curiga.
"Ya baiklah, aku Aurora". Ujarnya sebari merotasikan matanya malas.
"Sudahlah, cepat! To the point saja! Siapa itu Luna!?"
Jiwa Aurora pun, kini tampak murung. "Dia adikku, di masa depan. Dia telah mati terbunuh."
"Apa?" Hal itu membuat Maudy syok. Ia benar-benar mengira bahwa pemilik tubuh yang ia singgahi sudah sangat tragis. Namun rupanya, ada yang jauh lebih tragis lagi dari ini.
"Bagaimana bisa, dia? Meninggal?"
Jiwa itu pun mengangguk, "Dia meninggal, di tangan suamiku sendiri."
Maudy yang mendengar hal itu pun kini syok. "Bagaimana dia bisa setega ini, aku kira hanya kau. Ternyata juga?"
Jiwa itu pun kini mengangguk. "Itulah mengapa aku perlu bantuanmu Aurora."
"Ayolah, panggilan itu jujur masih aneh di telingaku."
"Kau akan terbiasa Aurora, kau akan terbiasa. Anggaplah aku jiwamu! Ok?"
"Ya, ya, baiklah, sudahlah. Kau ingin aku melakukan apa?"
Jiwa itu kini menghembuskan napasnya kasar. Ia lalu menatap Maudy serius kali ini.
"Aku ingin kau pergi menjemput adikku besok! Di taman kanak-kanak. Kau harus tepat waktu. Karena aku benar-benar sangat-sangat ingat tanggal besok".
"Tanggal besok adalah tanggal di mana Luna akan di culik. Lalu Kris datang menyelamatnya. Dia hanya ingin menarik simpati mama, dan hal itulah yang membuat pernikahan kami. Semakin di percepat. Kau harus hentikan ini Aurora! Karena aku sudah tahu, sejak setelah aku menikah dengannya. Bahwa itu semua telah ia rencanakan, untuk menjebakku".
***
Kembali pada waktu saat ini, Aurora kini telah sampai pada tempat yang ia tuju.
"Pelita harapan kasih". Ujarnya, lalu masuk ke dalam sekolah.
"Kris, aku tidak akan membiarkanmu kembali memakai trik itu. Aurora, kau tenang saja, aku pasti akan membawa adikmu, pulang dengan selamat." Ujar Aurora dalam hati.
Bersambung