Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Serina masih berdiri di sisi ranjang pasien menggenggam tangan Riki yang dingin. Air matanya terus mengalir tanpa henti, sementara Farel berada di sampingnya sambil sesekali terisak.
"Ayah... bangun, Yah..." rengek Farel. "Farel sudah menunggu Ayah dari tadi."
Serina langsung berlutut di hadapan putranya dan memeluk tubuh kecil itu.
"Farel, jangan menangis, Sayang."
"Tapi Ayah kenapa, Bunda?"
Serina terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada putranya yang baru berusia empat tahun.
"Ayah sedang sakit," jawabnya dengan suara bergetar. "Dokter sedang mengobati Ayah."
"Kalau begitu Ayah pasti sembuh, kan?"
Serina menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis.
"Iya... Bunda yakin Ayah akan sembuh."
Namun, jauh di dalam hatinya, Serina diliputi ketakutan.
Tak lama kemudian, pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius.
"Apakah ada keluarga pasien atas nama Riki Sanjaya?"
Serina langsung berdiri.
"Saya istrinya, Dok."
Dokter menatap Serina dengan hati-hati.
"Suami Ibu mengalami cedera kepala yang cukup berat. Kami masih melakukan observasi dan penanganan. Kondisinya saat ini kritis."
"Kritis?" Suara Serina tercekat.
Dokter mengangguk.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Namun, Ibu harus bersiap dengan segala kemungkinan."
Serina langsung menutup mulutnya.
"Tidak, Dok..."
Air matanya kembali jatuh.
"Tolong selamatkan suami saya. Anak saya masih membutuhkan ayahnya."
Farel yang mendengar perkataan ibunya kembali menangis.
"Ayah jangan pergi..."
Dokter hanya mengangguk pelan sebelum kembali masuk ke ruang tindakan.
Serina kemudian memeluk putranya erat.
"Farel..."
"Iya, Bunda?"
"Ayah pasti berusaha untuk pulang."
Serina sendiri tidak yakin dengan kalimat yang baru saja diucapkannya.
Di sisi lain, Jovan masih terbaring di atas ranjang pasien. Ia tidak lagi memperdulikan rasa sakit di kepalanya.
Pandangannya terus tertuju pada gorden pembatas yang memisahkan dirinya dengan keluarga korban.
Suara tangisan Farel masih terdengar.
"Ayah..."
Setiap kali mendengar panggilan itu, dadanya Jovan terasa semakin sesak.
Leo yang berdiri di sampingnya memperhatikan perubahan ekspresi sahabatnya
"Jo..."
"Hmm?"
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri."
Jovan menoleh.
"Lo dengar sendiri anak itu."
Leo terdiam.
"Dia baru empat tahun." Jovan menatap langit-langit. "Dan malam ini, mungkin dia harus kehilangan ayahnya gara-gara gue."
"Jo, lo nggak sengaja."
"Tetap saja gue yang berada di balik kemudi."
Suara Jovan terdengar lirih.
"Apa pun penyebabnya, orang itu terluka karena gue."
Leo tidak mampu menjawab. Beberapa saat kemudian, Jovan kembali bertanya.
"Siapa nama pria itu?"
"Riki Sanjaya."
Jovan mengulang nama tersebut dalam hati.
"Riki Sanjaya..."
Ia menutup matanya. Bayangan tubuh Riki yang terpental akibat benturan kembali terlintas di kepalanya.
Jovan mengepalkan tangannya.
"Leo."
"Iya?"
"Cari tahu keluarganya."
Leo terkejut.
"Buat apa?"
"Gue mau bertanggung jawab."
"Jo, kondisi lo sendiri belum stabil."
"Gue nggak peduli."
Jovan membuka matanya dan menatap Leo dengan serius.
"Kalau pria itu sampai tidak selamat, gue harus memastikan keluarganya nggak terlantar."
Leo menghela napas panjang.
"Baiklah."
Waktu terus berjalan.
Serina masih duduk di bangku lorong rumah sakit dengan Farel yang tertidur di pangkuannya. Sesekali wanita itu mengusap rambut putranya sambil menatap pintu ruang tindakan.
"Mas Riki..." Suara Serina bergetar. "Mas, kamu janji mau pulang malam ini. Ia menundukkan kepalanya.
"Kamu juga janji mau melihat wajahnya Farel saat menerima kue ulang tahunnya."
Air matanya jatuh ke tangan sendiri.
"Jangan ingkar janji, Mas."
Di saat yang sama, seorang perawat keluar dari ruang tindakan membawa sebuah benda yang diletakkan dalam kantong plastik transparan.
Sebuah kotak kue yang sudah rusak.
Serina menatap benda itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bu..."
Perawat menyerahkannya kepada Serina.
"Ini barang yang ditemukan bersama suami Ibu."
Tangan Serina gemetar saat menerima kotak tersebut. Ia membukanya perlahan.
Kue Doraemon yang seharusnya menjadi kejutan untuk Farel sudah hancur.
Namun, tulisan nama FAREL masih terlihat samar di atas sisa krim yang berantakan.
Serina langsung menangis.
Farel yang baru terbangun menatap kotak itu.
"Itu kue Farel?"
Serina tidak mampu menjawab. Farel menyentuh kotak tersebut.
"Ayah beli buat Farel?"
Serina mengangguk sambil menangis.
"Iya, Sayang."
Farel tersenyum kecil meskipun matanya masih basah.
"Ayah hebat..."
Senyum polos itu justru membuat hati Serina semakin hancur. Ia memeluk putranya erat.
Sementara dari balik gorden pembatas, Jovan melihat semuanya.
Ia mendengar suara Farel yang begitu polos.
"Terima kasih, Ayah..."
Jovan menundukkan kepalanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sebuah kesalahan tidak akan pernah bisa ditebus hanya dengan kata maaf.
Namun, di dalam hati, sebuah keputusan mulai terbentuk.
Jika Riki tidak selamat malam ini, Jovan akan melakukan apa pun untuk memastikan Serina dan Farel tidak kehilangan masa depan mereka. Ia belum tahu bagaimana caranya.
Ia juga belum tahu bahwa keputusan itu kelak akan mengubah seluruh hidupnya.
Termasuk hidup Serina.
Waktu seolah berhenti di dalam ruang IGD.
Serina masih berdiri di sisi ranjang Riki, menggenggam erat tangan suaminya. Farel berada di sampingnya, sesekali memanggil ayahnya dengan suara lirih.
"Yah... bangun, Yah..."
Namun, tiba-tiba suara mesin monitor jantung berubah.
Tit... tit... tit...
Detaknya yang semula terdengar stabil perlahan melemah.
Serina mengangkat wajahnya dengan panik.
"Dokter..."
Angka pada monitor terus menurun.
Tit... tit... tiit...
"Dok!"
Beberapa perawat langsung bergerak cepat.
"Tekanan darah pasien menurun!"
"Siapkan alat resusitasi!"
Serina membeku.
"Mas Riki?"
Tangannya semakin erat menggenggam tangan suaminya.
"Mas... jangan, Mas."
Farel mulai menangis.
"Bunda... Ayah kenapa?"
Dokter segera melakukan pemeriksaan.
"Bu, mohon mundur dulu!"
"Tapi suami saya..."
"Bu, kami akan berusaha menyelamatkan pasien!"
Serina terpaksa mundur beberapa langkah sambil memeluk Farel. Tubuhnya gemetar hebat.
Di atas ranjang, Riki yang berada di ambang kesadarannya perlahan membuka mata.
Pandangannya kabur. Namun, ia masih bisa melihat sosok Serina dan Farel.
Air mata perlahan merembes dari sudut matanya.
"Farel... putraku..."
Napasnya semakin berat.
"Serina... istriku..."
Riki berusaha menggerakkan tangannya, tetapi tubuhnya sudah tidak mampu mengikuti keinginannya.
"Maafkan Ayah karena harus menyerah dengan takdir ini."
Air matanya kembali mengalir dari sudut matanya.
"Maafkan Ayah karena belum bisa membahagiakan kalian berdua."
Dalam pikirannya, wajah Farel kecil kembali terbayang.
"Ayah sayang Farel..."
Kemudian wajah Serina memenuhi pikirannya.
"Dan Ayah juga sangat mencintai Serina, istriku."
Bibir Riki bergerak perlahan, tetapi tak ada suara yang keluar.
Monitor jantung kembali berbunyi semakin panjang.
Tit...
Dokter langsung melakukan kompresi dada.
"Kembali! Ayo, Pak Riki!"
"Jangan menyerah!"
Namun detak jantung itu semakin melemah.
Tit...
Serina menangis histeris.
"Mas Riki!"
Farel ikut berteriak.
"Ayah!"
Namun....
Tiiiiiiiiit....
Garis panjang muncul di monitor. Semua orang terdiam.
Dokter kembali memeriksa denyut nadinya Riki, lalu mencoba memberikan satu kali tindakan terakhir. Tidak ada respons.
Dokter akhirnya menundukkan kepala.
"Sudah..."
Ia menatap jam tangannya.
"Waktu kematian pasien pukul 21.47."
Serina membeku.
"Dok..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Suami saya..."
Dokter menghela napas.
"Maaf, Bu. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa."
Serina langsung berlari ke sisi ranjang.
"Mas Riki!" Tangisnya pecah.
"Bangun, Mas! Jangan tinggalin aku!"
Ia mengguncang tubuh suaminya yang sudah tidak bergerak.
"Mas, kamu janji mau pulang!" Air matanya mengalir deras.
"Kamu janji mau memberikan kue itu untuk Farel!"
Farel yang melihat tubuh ayahnya tidak bergerak langsung menangis histeris.
"Ayah!"
Ia berusaha mendekati ranjang.
"Ayah bangun!"
"Bunda, bangunin Ayah!" Serina langsung memeluk putranya.
"Farel..."
"Ayah tidur, Bunda!"
"Iya..." Serina menangis semakin keras. "Ayah sedang tidur..."
Namun, Serina tahu bahwa Riki tidak akan pernah membuka matanya lagi.
Di ruangan sebelah, Jovan mendengar suara tangisan yang begitu memilukan.
Ia menatap gorden pembatas yang hanya memisahkan dirinya dengan keluarga korban.
Lalu terdengar suara Farel.
"Ayah!"
Jovan terdiam. Dadanya terasa sesak.
Ia akhirnya mengetahui bahwa pria yang ditabraknya telah pergi untuk selamanya.
"Jo..."
Leo menatapnya dengan cemas.
Jovan perlahan menyingkirkan selimut dari tubuhnya.
"Gue mau ke sana."
"Elo mau ke mana, Jo?"
Jovan berusaha menurunkan kakinya dari atas ranjang.
"Gue mau nemuin mereka."
Leo segera berdiri di depannya.
"Jangan."
Jovan menatapnya.
"Gue ingin meminta maaf."
"Elo jangan gila, Jo!"
Leo berusaha menahan bahunya.
"Keluarga korban pasti akan murka sama elo!"
Jovan menatap tajam.
"Gue nggak peduli."
"Jo, kondisi lo juga belum stabil!"
"Gue bilang awas!"
Jovan berusaha berdiri meskipun kepalanya masih terasa berputar.
Leo kembali menghalangi.
"Jangan sekarang!"
Jovan mendorong tubuh Leo.
"Awas, jangan halangi gue!"
Leo hampir kehilangan keseimbangan.
"Jo!"
Namun Jovan tetap melangkah.Setiap langkah terasa berat.Kepalanya berdenyut.
Tubuhnya masih lemah. Tetapi suara tangisan seorang anak kecil membuatnya terus berjalan.
"Ayah..."
Jovan berhenti sejenak.Matanya memerah.
Ia mengepalkan tangan.
"Maafin gue..." Bisiknya lirih.
"Gue nggak pernah bermaksud membunuh ayah mu"
Kemudian Jovan kembali melangkah menuju keluarga Riki.
Ia tahu, mungkin tidak ada kata maaf yang mampu mengembalikan Riki.
Namun setidaknya, malam itu ia ingin menatap mata Serina dan mengatakan satu hal yang paling berat dalam hidupnya.
"Maafkan saya."
Bersambung...
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭