NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Mana Mungkin Dia Membiarkannya Pergi?

Livia berlari memasuki bangunan utama Vila Pir seperti sedang dikejar maut.

Ia bersembunyi di balik pintu ruang tamu, menekan dada, lalu mengintip ke halaman dengan napas tersengal.

Setelah memastikan Keenan tidak mengejarnya masuk, barulah ia menarik napas panjang. Tubuhnya kehilangan tenaga dan melorot ke lantai seperti lumpur.

Lampu kristal raksasa di langit-langit memancarkan cahaya berkilauan, seolah bintang paling terang di langit malam ditangkap dan digantung di sana. Pantulan cahaya bergoyang di dekat jendela, berpadu dengan sinar bulan yang sesekali menembus awan.

Di tengah pemandangan indah itu berdiri sederet pelayan yang sama sekali tidak dikenalnya.

Saat Livia menoleh, mereka serempak membungkuk memberi salam.

"Selamat malam, Nona Livia!"

Suara mereka terlalu keras. Livia sampai tersentak lagi.

Ia menepuk-nepuk air dan butiran es yang menempel pada pakaiannya, kemudian berdiri sambil berpegangan pada kusen pintu.

"Kalian... siapa? Di mana Bi Marni?"

Pelayan perempuan yang berdiri paling depan tersenyum dan maju satu langkah.

"Nona Livia, nama saya Anya. Saya pengurus rumah yang baru di Vila Pir. Bi Marni dan seluruh pelayan lama diberhentikan oleh Pak Nathan sepuluh jam yang lalu."

"Diberhentikan? Kenapa?"

Livia mengerutkan kening. Ketika Anya tidak menjawab, ia segera memahami alasannya.

"Karena aku?"

Anya tidak menyangkal. Ia melambaikan tangan kepada para pelayan lain agar kembali bekerja, lalu berbicara dengan nada membujuk.

"Pak Nathan mengatakan Bi Marni dan yang lain tidak merawat Nona dengan baik. Karena itulah Nona pergi dari rumah. Mulai sekarang, kami yang akan melayani Nona. Saya harap Nona bisa memahami kesulitan kami dan tidak pergi lagi."

"Aku yang dianggap membuat masalah..."

Livia merasa sesak.

Bi Marni merupakan salah satu pekerja paling lama di Vila Pir. Ia sudah bekerja hampir delapan tahun dan, selain Nathan, merupakan orang yang paling dekat dengan Livia.

Namun Nathan tetap mengusirnya tanpa belas kasihan.

Pria itu ingin membuat Livia patuh karena rasa bersalah. Pemberhentian para pelayan juga merupakan peringatan terselubung: setiap kali Livia melawan, orang-orang di sekitarnya akan ikut menerima akibat.

Baru saat itu Livia menyadari bahwa mungkin ia tidak benar-benar mengenal Nathan.

Ia juga tak pernah membayangkan satu tindakan meninggalkan rumah bisa membuat pria itu begitu marah dan menyeret begitu banyak orang.

Melihat Livia terus berdiri tanpa bergerak, Anya menjulurkan leher dan bertanya pelan, "Nona tidak akan pergi lagi, kan?"

Angin malam yang dingin bertiup melalui pintu. Gerimis tipis terbawa masuk dan mengaburkan halaman di kejauhan.

Berbagai perasaan berkecamuk di dada Livia.

Semula, ia berniat pergi lagi begitu Keenan meninggalkan tempat ini. Namun melihat keadaan sekarang, jika ia berani melangkah melewati pintu, para pelayan baru ini pasti akan beramai-ramai menahannya.

Terlebih lagi, ia memang harus berbicara dengan Nathan.

"Aku tidak akan pergi malam ini." Livia mulai menaiki tangga. "Tolong hangatkan segelas susu dan bawakan ke kamarku."

"Baik, Nona."

***

Susunan kamar Livia masih sama persis seperti ketika ia pergi. Bahkan posisi benda-benda kecil pun tidak berubah.

Hanya ada satu tambahan: karpet kasmir putih bersih yang menutupi lantai. Permukaannya begitu lembut dan nyaman ketika diinjak dengan kaki telanjang.

Tubuh Livia mudah kedinginan. Pada puncak musim hujan, ia juga mudah sakit setiap selesai mandi. Karena itu, Nathan secara khusus memilih karpet tersebut untuknya dan selalu meminta pelayan memasangnya saat cuaca mulai dingin.

Livia melepas pakaian luarnya, lalu menjatuhkan tubuh ke karpet seperti ketika masih kecil. Ia berguling beberapa kali tanpa memikirkan apa pun.

Dari sudut mata, ia melihat pintu kamar yang setengah terbuka.

Dalam keadaan linglung, ia seolah melihat Nathan pada usia dua puluh dua tahun sedang bersandar di kusen dengan alis berkerut.

Cahaya matahari sore menembus udara sejuk setelah hujan pertama. Sinarnya jatuh pada rambut di dahi pria itu, menelusuri batang hidungnya yang tegas dan kedua matanya yang indah.

"Anak baik, bangunlah. Ganti pakaianmu dulu. Lihat dirimu, penuh lumpur dan kotor sekali..."

Livia baru hendak menjawab ketika suara rendah Nathan mendadak berubah menjadi suara perempuan yang cemas.

"Aduh, Nona Livia, bangun dan ganti pakaian dulu. Lihat, semuanya basah kuyup!"

Livia berkedip.

Ternyata Anya.

Wanita itu berdiri di depan pintu sambil membawa segelas susu hangat. Wajahnya menunjukkan keterkejutan bercampur keputusasaan saat menatap Livia di lantai.

Anya sudah pernah bekerja untuk banyak keluarga kaya. Anak-anak di rumah semacam itu biasanya memiliki pembawaan anggun atau menguasai berbagai keterampilan. Ini pertama kalinya ia melihat gadis delapan belas tahun yang masih berguling-guling di lantai tanpa aturan.

Ia meletakkan susu di meja rias, lalu membungkuk untuk mengambil jaket dan syal yang tercecer.

Livia sudah berdiri dengan patuh.

Anya menahan tawa sekaligus kesal.

"Nona, jaket ini sudah robek. Isi bulunya juga bukan bahan asli."

Tentu saja Livia tahu jaket itu barang murah. Ia mengangguk.

"Buang saja."

"Tapi syal ini sangat indah." Anya mengangkat dan memeriksanya dengan teliti. "Selera Nona bagus. Ini koleksi musim terbaru Dior yang paling populer. Hanya saja, memasangkannya dengan jaket seperti ini rasanya terlalu..."

Anya tidak menyelesaikan kalimat, tetapi maksudnya sangat jelas.

Wajah Livia langsung jatuh. Ia menenggak susu dalam beberapa tegukan, kemudian berbalik menuju kamar mandi.

"Buang syalnya juga! Buang ke luar!"

Anya terdiam sambil memegang barang mahal tersebut.

Setelah mandi, Livia mengenakan jubah tidur berwarna putih susu dan duduk di depan meja rias.

Gadis tanpa riasan di dalam cermin masih menyimpan kepolosan, tetapi kecantikannya sudah berkembang penuh. Alisnya halus, hidungnya tinggi, dan bibirnya lembut serta penuh. Terutama kedua matanya—jernih dan dalam seperti telaga yang diterangi bulan.

Livia mengerucutkan bibir.

Masih mati rasa dan sedikit kesemutan.

Padahal ia sudah menggosoknya berkali-kali saat mandi, tetapi seolah masih ada sisa kehangatan dan aroma Keenan di sana.

Bayangan pria itu saat menciumnya tanpa izin kembali muncul. Sikapnya begitu sewenang-wenang, sorot matanya puas seolah telah mengambil sesuatu yang memang menjadi miliknya.

Sial!

Ciuman pertama yang ia jaga selama delapan belas tahun dirampas begitu saja tanpa alasan.

Semakin dipikirkan, semakin marah Livia dibuatnya. Ia mengumpat pelan, lalu masuk ke tempat tidur dan membungkus seluruh tubuh dengan selimut.

Ketika masih kecil, ia selalu berharap cepat dewasa.

Namun sekarang, setelah akhirnya tumbuh besar, Livia baru menyadari sesuatu yang menyedihkan.

Menjadi dewasa justru membawa kurungan yang sebenarnya. Ia kehilangan hak untuk bertindak sesuka hati.

Kalau begini, masa kecil terasa jauh lebih baik.

***

"Pak Nathan, Nona Livia sudah tidur."

Nathan kembali setelah lewat tengah malam. Begitu ia memasuki rumah, Anya langsung menghampiri dan melaporkan keadaan dengan wajah cerah.

Nathan mengangguk, memberi isyarat agar Anya beristirahat, lalu terus berjalan menuju kamar Livia.

Klik.

Kunci mengeluarkan bunyi pelan. Nathan membuka pintu dengan hati-hati.

Livia tampak tertidur lelap. Tubuh kecilnya meringkuk di bawah selimut, sementara rambut selembut sutra tersebar di atas bantal.

Cahaya bulan menembus celah tirai dan menjatuhkan bayangan berbintik, membungkus gadis itu dalam lapisan perak yang lembut.

"Via?"

Nathan duduk di tepi ranjang dan memanggilnya pelan.

Tidak ada jawaban. Dalam tidur, Livia hanya mengecapkan bibir. Wajah putihnya tampak kemerahan seperti bunga yang baru mekar.

Lebam di dahinya seharusnya terlihat mencolok. Namun di bawah cahaya redup, luka itu justru membuatnya tampak semakin rapuh.

Tatapan Nathan jatuh pada wajah Livia. Mata yang biasanya tenang dan terkendali kini dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan.

Ia tidak memanggil lagi. Tangan kanannya terulur dan ujung jarinya menyentuh rona merah di pipi Livia.

Kulit itu hangat dan lembut.

Tanpa sadar, Nathan memperlambat napas, seolah takut membangunkannya dan merusak ketenangan di kamar.

Livia Prameswari adalah gadis yang dibesarkannya dengan tangannya sendiri.

Di mata Nathan, Livia berbeda dari semua perempuan yang pernah mendekatinya. Kecantikannya membuat orang sulit mengalihkan pandangan. Setiap aroma dan setiap detail dalam dirinya terasa sesuai dengan selera Nathan.

Namun tatapan pria itu bukan sekadar kekaguman.

Ada rasa memiliki yang gelap di dalamnya—seolah Livia adalah benda sempurna yang hanya boleh disimpan dan disentuh olehnya.

Livia miliknya. Mereka adalah keluarga.

Mana mungkin ia menikahi perempuan lain? Mana mungkin pula ia membiarkan Livia pergi?

"Tunggu sedikit lagi, Via..."

Suara Nathan terdengar serak.

"Tunggu sampai aku selesai memanfaatkan Jolene, menyingkirkan semua penghalang di Kota Kayan, dan menguasai wilayah ini. Setelah itu, apa pun yang kau inginkan akan kuberikan kepadamu."

Ia bergumam seorang diri.

Sikap elegan dan dinginnya telah lenyap. Yang tersisa di matanya hanyalah ambisi kejam yang tidak lagi ia sembunyikan.

Ujung jarinya terus membelai alis dan mata Livia dengan rakus, kemudian menyusuri batang hidung dan berhenti di bibir lembut gadis itu.

Bulu mata panjang Livia tiba-tiba bergetar dan menjatuhkan bayangan tipis pada kelopak, bagaikan sayap kupu-kupu yang mengepak pelan.

Setiap getaran kecil membuat perhatian Nathan semakin terpaku kepadanya.

Ia mengamatinya cukup lama sebelum akhirnya menahan dorongan dalam hatinya dan berdiri.

Nathan merapikan tepi selimut Livia dengan penuh perhatian, lalu mematikan lampu di samping tempat tidur.

Setibanya di ambang pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah sosok yang terbaring diam dalam kegelapan. Setelah itu, ia keluar dan menutup pintu tanpa menghasilkan suara sedikit pun.

Hampir pada saat yang sama ketika pintu tertutup rapat, mata Livia langsung terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!