Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Hati Yang Terlambat
Bunyi monitor detak jantung yang berdetak teratur menjadi satu-satunya suara yang mengisi kamar VIP.
Marcus berdiri di dekat jendela, memandang ke luar dengan pikiran berkecamuk.
Di atas ranjang, Ethan Voss bergerak gelisah. Kesadarannya perlahan kembali, namun hal pertama yang menyambutnya bukanlah rasa sakit di tubuh, melainkan rasa sesak yang menghantam dada.
Ethan membuka mata dengan terengah-engah, secara refleks mencoba melepaskan selang oksigen di hidungnya.
“Jangan bertindak bodoh lagi, Ethan!” Marcus bergegas mendekat dan menahan tangan Ethan yang kini kembali terpasang jarum infus. Suaranya terdengar tegas namun sarat akan kekhawatiran.
“Dokter baru saja menstabilkan kondisimu. Kamu hampir mengalami syok.”
“Mia...” suara Ethan terdengar serak dan sangat lemah. Tatapannya liar menyapu sekeliling ruangan sebelum tertuju pada Marcus.
“Di mana Mia? Kamu sudah menghubunginya, kan? Dia ada di mana sekarang?”
Marcus menunduk, menghela napas panjang sebelum menggelengkan kepala lambat.
“Ponselnya mati. Aku sudah mencoba menelponnya puluhan kali sejak tadi malam, tapi nomornya tidak aktif.”
Tangan Ethan yang bebas terkepal erat, meremas selimut rumah sakit. Air mata membakar sudut matanya. “Dia salah paham, Marcus... Dia pikir aku menerima tawaran Jane. Dia pikir aku memilih Jane...”
“Aku tahu,” sela Marcus pelan. “Tapi kondisimu saat ini—”
“Aku tidak peduli!” potong Ethan dengan nada tinggi yang memicu batuk hebat dari dadanya yang terasa sesak.
Setelah batuknya reda, ia menatap manajernya dengan pandangan memohon.
“Tolong aku, Marcus. Cari dia. Bawa dia ke sini atau antar aku ke tempatnya. Aku harus menjelaskan semuanya. Dia harus tahu aku tidak akan menikahi Jane jika dia mau memberiku kesempatan.”
Marcus memegang kedua bahu Ethan, memaksanya untuk tetap tenang.
“Dengar, Ethan. Saat ini media sedang berkumpul di bawah. Aksi nekatmu lari ke lobi tadi malam sudah jadi berita utama di mana-mana. Spekulasi bermunculan. Kalau kamu keluar dari rumah sakit ini dengan kondisi seperti ini, wartawan akan makin membabi buta, dan itu hanya akan memperkeruh keadaan Mia.”
Kata-kata Marcus membungkam Ethan, meski dadanya bergemuruh hebat oleh kepanikan.
Sementara itu, sinar matahari pagi menyusup dari sela-sela tirai kontrakan kecil Mia.
Wanita itu terbangun di atas lantai dingin di balik pintu, tempat ia tertidur karena kelelahan menangis semalaman. Matanya sembap dan terasa perih saat terbuka. Seluruh tubuhnya terasa kaku.
Ia bangkit perlahan, melangkah menuju meja kecil dan mengambil ponselnya yang mati. Setelah menekan tombol daya, puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan masuk membanjiri layar. Sebagian besar dari Marcus, beberapa dari teman kerjanya, dan sisanya berita terkini yang otomatis muncul dari portal media.
Notifikasi berita utama:
"Aktor Ethan Voss Pingsan di Lobi Rumah Sakit Saat Mengejar Seseorang! Apakah ada hubungannya dengan Jane?"
Mia hanya menatap layar ponsel itu dengan tatapan datar. Ia tidak membuka artikelnya, tidak pula membalas satu pun pesan dari Marcus. Hatinya sudah terlalu tebal oleh rasa kecewa.
Ia kemudian mengemas pakaian dan barang-barang pentingnya ke dalam sebuah koper sedang. Tempat ini sudah tidak aman lagi, dan ia tidak ingin siapapun dari kehidupan Ethan menemukannya.
Mia melangkah keluar dari kontrakan dengan koper di tangan, meninggalkan masa lalunya tanpa menoleh lagi.
Di rumah sakit, pintu VIP terbuka. Seorang pengawal masuk dan berbisik ke telinga Marcus. Wajah Marcus seketika berubah tegang.
“Ada apa?” tanya Ethan yang menyadari perubahan raut wajah manajernya.
Marcus menatap Ethan dengan pandangan serba salah. “Orang-orangku baru saja mengecek rumah kontrakan Mia...”
Ethan memajukan tubuhnya. “Lalu? Dia ada di sana?”
Marcus menggeleng pelan. “Rumahnya kosong, Ethan. Tetangganya bilang... Mia baru saja pergi membawa koper beberapa menit lalu.”
****
Mia menarik napas panjang begitu kakinya melangkah keluar dari gerbang kontrakan. Udara pagi yang dingin menyapu wajahnya yang pucat, namun rasa dingin itu kalah jauh dibanding kehampaan yang menggerogoti dadanya.
Roda kopernya berderit pelan di atas jalanan beraspal yang masih basah oleh embun.
Baru beberapa meter ia melangkah, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di sampingnya.
Pintu kemudi terbuka, dan sesosok pria berpenampilan rapi turun dengan raut wajah cemas.
“Mia?”
Mia menghentikan langkahnya. Ia mendongak dan mendapati Liam berdiri di hadapannya.
Pria itu menatap Mia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Melihat matanya yang sembap, koper di tangannya, dan ekspresi lelah yang tidak bisa disembunyikan.
“Liam...” suara Mia terdengar hampir serak.
“Kamu mau ke mana?” Liam mendekat, matanya tertuju pada koper sedang yang dipegang Mia.
“Aku meneleponmu berkali-kali sejak semalam tapi ponselmu tidak aktif. Aku khawatir sekali setelah melihat berita tentang Ethan pagi ini.”
Mendengar nama Ethan disebut, Mia memalingkan wajahnya ke samping, mengepalkan jemarinya di gagang koper.
“Aku tidak ingin membahas soal itu, Liam. Ethan Voss tidak ada hubungannya denganku.”
Liam menatap Mia selama beberapa saat. Kekecewaan dan kepedihan yang terpancar dari mata wanita itu sudah cukup menjelaskan betapa hancurnya perasaan Mia saat ini. Tanpa mengungkit nama itu lagi, Liam melangkah maju. Dengan lembut namun tegas, ia mengambil alih gagang koper dari genggaman Mia.
“Baiklah, kita tidak perlu membahas apapun,” ujar Liam pelan. Ia membuka pintu penumpang depan mobilnya.
“Masuklah dulu,” pinta Liam.
Mia sempat ragu sejenak, menatap koper miliknya yang kini sudah masuk ke dalam bagasi mobil Liam. Rasa lelah yang teramat sangat akhirnya mengalahkan segala kepatuhan pada privasinya sendiri. Ia mengangguk pelan lalu duduk di kursi penumpang.
Liam menutup pintu, melangkah ke kursi pengemudi, dan melajukan mobilnya membelah jalanan pagi yang mulai ramai.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan berat di antara mereka. Liam sengaja membiarkan suasana tetap hening demi memberi Mia ruang untuk menata napas dan pikirannya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di sebuah kompleks hunian berarsitektur modern. Liam membawa Mia menuju sebuah unit apartemen di lantai atas yang sudah cukup lama tidak ia tempati, namun tetap terawat dan bersih karena rutin dibersihkan oleh pengelola gedung.
Liam menekan kode akses dan membuka pintu.
“Masuklah,” katanya seraya meletakkan koper Mia di dekat sofa.
Mia melangkah masuk, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang terasa sepi dan tenang.
“Ini salah satu apartemenku. Sudah lama tidak kuisi, tapi semua fasilitasnya berfungsi dengan baik. Media atau orang-orang Ethan tidak akan pernah melacak tempat ini,” jelas Liam sembari berjalan menuju dapur untuk mengambilkan segelas air hangat.
Ia menyerahkan gelas itu pada Mia. “Kamu bisa tinggal di sini selagi menenangkan diri dan memikirkan langkahmu selanjutnya. Tidak ada yang akan mengganggumu di sini, Mia.”
Mia menerima gelas tersebut, meresapi kehangatan yang merambat ke telapak tangannya. Matanya kembali berkaca-kaca, bukan karena ingatan tentang Ethan, melainkan karena rasa terima kasih atas kebaikan pria di hadapannya.
“Terima kasih, Liam.”
Liam tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Mia pelan. “Istirahatlah dulu. Itu yang kamu butuhkan sekarang.”
–tbc–