NovelToon NovelToon
Istri Lain Suamiku

Istri Lain Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Melia Andari

Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"

Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?

Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Akan Mengurungmu

"Mas, kamu hari ini datang ke apartemen kan?" tanya Cindy melalui sambungan telepon.

Angga terhenyak. Karena seharian ini ia panik dengan kaburnya Elena serta mengurus keperluannya, ia lupa jika ia telah berjanji pada Cindy untuk datang menemaninya.

"Mas??"

"Saya usahakan. Sekarang saya masih ada urusan dulu."

"Urusan apa mas? Katanya kamu mau melihat anak kamu, kemarin kamu lupa bawa foto USG nya kan?"

Angga memejamkan matanya. Entah mengapa, melihat apa yang Elena lakukan hari ini membuatnya tak memikirkan anak dalam kandungan Cindy.

Angga hanya memikirkan bagaimana caranya agar Elena tetap di sisinya. Bagaimana agar Elena baik-baik saja, dan bagaimana agar Elena tidak lagi bertemu dengan dokter Sp.KJ itu.

Semua hal itu membuat Angga melupakan Cindy, wanita yang juga telah menjadi istrinya dan kini tengah mengandung darah dagingnya.

"Urusan rumah. Nanti saya sempatkan datang."

"Elena lagi?" tanya Cindy terdengar tidak suka.

"Elena sakit. Saya tidak bisa meninggalkannya karena dia masih diperiksa oleh psikiater."

"Maksudmu dokter spesialis kejiwaan? Apa Elena gila?"

"Cindy, jaga ucapanmu!" sentak Angga, membuat Cindy tercekat.

"Elena tidak gila. Dia hanya butuh ketenangan. Apa kamu tidak bisa memahaminya?"

Cindy terdiam. Namun sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum seringai.

Bagus kalau Elena depresi sampai gila. Memang itu tujuanku memberikan foto kemarin.

Kalau dia gila, Mas Angga pasti tidak menginginkannya lagi, dan hanya akan menjadi milikku.

"Maaf mas, aku nggak bermaksud begitu. maksudku apa ada masalah dengannya? Apakah ada depresi atau semacamnya?"

"Dia masih diperiksa. Saya tidak bisa meninggalkan dokter itu begitu saja. Saya akan datang jika dokter itu selesai memeriksa Elena."

"Baiklah mas, aku akan menunggumu."

Angga mengangguk tipis lalu mematikan sambungan teleponnya. Bersamaan dengan itu, dokter Evan telah keluar dari kamar tamu dan berjalan menghampiri Angga.

"Tuan Angga...."

Angga tersentak lalu memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Evan.

"Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Angga dengan raut wajah yang tegas.

Evan menatap Angga beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.

"Dari hasil pemeriksaan awal, saya melihat Nyonya Elena mengalami trauma psikologis akibat pengkhianatan yang disertai gejala depresi. Namun saya masih perlu beberapa sesi lagi untuk memastikan diagnosisnya."

Angga terhenyak. Ia menoleh ke arah pintu kamar yang sedang ditempati Elena.

"Trauma itu membuat emosinya sulit terkendali setiap kali mengingat peristiwa yang melukainya," ucap Evan.

"Nafsu makannya menurun, tidurnya terganggu, dan tubuhnya mulai kehabisan tenaga."

"Kalau kondisi ini dibiarkan, bukan hanya kesehatan mentalnya yang terdampak. Lambat laun, kondisi fisiknya juga akan semakin menurun," lanjutnya.

"Apa kau masih harus memeriksanya kembali setelah ini?" tanya Angga.

"Terapi tidak bisa selesai dalam satu kali pertemuan. Hari ini saya hanya memberikan therapeutic alliance, yaitu membangun kepercayaan agar Nyonya Elena merasa aman berbicara dengan saya. Setelah ini, terapi akan dilakukan secara bertahap. Paling tidak sampai hatinya kembali tenang dan dia bisa makan dengan baik."

"Jika begitu, saya tidak akan mencegahnya. Tapi saya harus ada di sana juga saat anda memeriksa istri saya."

Mendengar itu, Evan pun tersenyum. "Untuk selanjutnya, anda bisa menemaninya, Tuan. Karena ini adalah tindakan lanjutan."

Angga hanya mengangguk.

"Ini saya berikan obat dan vitamin yang harus dikonsumsi setiap hari. Berikan padanya pagi dan malam," ucap Evan seraya menyerahkan resep kepada Angga.

"Saya harap setelah ini, anda tidak menguncinya di kamar dan tidak membatasi apa yang ingin dia lakukan agar emosinya bisa mulai terkendali."

Angga tercekat, ia menatap Evan dengan tajam.

"Apa saja yang istri saya ceritakan kepadamu, dokter?"

"Istri anda tidak suka dikurung. Dia tertekan karena masalah rumah tangganya sehingga dia ingin bisa menghirup udara di luar agar hatinya lebih tenang."

Mendengar itu, wajah Angga langsung berubah. Tatapan matanya pun menajam, namun Evan tetap tenang.

"Orang yang sedang mengalami trauma membutuhkan rasa aman, bukan dikendalikan."

"Kalau Anda benar-benar ingin melihat istri Anda pulih, berilah dia ruang untuk bernafas."

Setelah mengatakan itu, Dokter Evan pun pamit undur diri dari hadapan Angga.

Sementara Angga hanya diam seraya menggenggam erat resep di tangannya. Dadanya terasa sakit mendengar penjelasan Dokter Evan.

Ia pun berjalan mendekati kamar Elena, lalu membuka pintunya.

"Elena..."

Elena menoleh, lalu beranjak dari duduknya.

"Aku nggak mau di sini mas. Aku nggak suka kamu mengurung aku begini!"

Angga menatap Elena dengan lekat seraya berjalan mendekatinya.

"Maafkan saya, Elena. Saya takut kamu pergi dari saya. Saya tidak bermaksud membuatmu  merasa terkurung," ujar nya seraya membelai rambut Elena.

"Jangan sentuh aku Mas!" sentak Elena hendak menepis tangan Angga darinya, namun pria itu menahan tangan Elena.

"Elena..." Angga pun mencium punggung tangan Elena dengan lembut.

"Jangan membantah saya. Kamu tahu dari awal kalau saya tidak suka dibantah kan Elena?"

"Kamu nggak ada hak mas! Kamu telah berkhianat! Kamu nggak ada hak mengaturku!"

"Saya suami kamu."

"Aku mau cerai!"

"Jangan terus membahas perceraian, Elena. Karena saya tidak akan pernah menceraikan kamu!" tegas Angga seraya menatap Elena dengan tajam.

Beberapa detik berikutnya, Angga mencium kening Elena dengan rahang yang mengeras, serta tatapan yang dingin.

"Saya tidak akan mengurungmu lagi. Tapi meskipun begitu, bukan berarti kamu boleh pergi hari ini."

"Apa?? Mas aku—"

"Elena....jangan berdebat dengan saya. Kondisimu masih belum stabil. Tidak cukupkah saya membebaskan kamu di rumah ini? Atau kamu lebih memilih saya menguncimu di kamar seperti tadi pagi?"

Elena terdiam. Ia hanya menatap Angga dengan tatapan marah, namun tidak bisa meluapkannya.

Melihat Elena diam, Angga pun tidak melanjutkan kemarahannya. Ia membalikkan tubuhnya untuk keluar dari kamar. Namun, sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti. Matanya mengarah pada pengawal dan Iroh yang berdiri tidak jauh dari kamar.

"Jaga istri saya. Ikuti kemanapun dia pergi dan pastikan dia makan dan minum obat di jam yang tepat," perintah Angga kepada pengawal dan juga Iroh.

"Kalau sampai dia hilang atau tidak makan, maka kalian yang akan menanggung akibatnya!" tegas Angga seraya menoleh sejenak ke arah Elena, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Elena yang mendengar itu pun mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya.

"Kamu benar-benar egois Mas! Aku benci kamu!" teriaknya dengan hati yang sesak.

Angga mendengarnya, namun ia tetap berjalan menjauh dari kamar itu menuju ruang kerjanya.

Setibanya di ruang kerja, Angga membuka laci mejanya dan mengeluarkan ponsel Elena yang ada di sana. Ia pun mulai membuka ponsel itu dan menemukan sebuah pesan dari Cindy yang dikirim kemarin malam.

"Foto ini...." Angga mengerutkan dahinya.

"Jadi Cindy mengirim foto ini kepada Elena kemarin?"

1
Bella syaf
egois banget wak kesel amat
falea sezi
cerai bodoh😒
Anna Wamey
alena,,, siap siap CLBK nih 🤭
Dokkan Battle
BUCIN TOLOL ANJING ...
Lisa Maisa
ayo Elena yg tegas, skalian hempaskan si cindy ini
cinta semu 2
berharap Elena pintar,cerdas ..aja
cinta semu 2
adik u aja masih waras kasih u ...saran untuk melihat dunia luar ...u ny saja yg masih mau tenggelam dlm derita ..Angga itu licik,dia g mau rugi ,,selalu memanfaatkan keadaan...sarjana kok g bisa berpikir waras...buka mata & pikiran u ,Elena.. berpikir lah cerdas
anju hernawati
wah ternyata evan jurangan sawit ..........
Lisa Maisa
jgn bercerai Elena, tambah seneng si pelakor, cari dgn cara yg elegan yg buat wanita itu mati kutu
sunaryati jarum
Tinggalkan saja sudah ada wanita lama itu suami yang sudah tidak beres
sunaryati jarum
Mending tinggalin saja, bilang cinta kok diam- diam punya istri lagi
Lisa Maisa
angga laki" egois, semua harus keinginannya
cinta semu 2
seharusnya u masih waras berpikir elena ,,coba u mandiri ...pelan2 ngomong SM kedua orang tua u ...
Ratih Tupperware Denpasar
aku berharap anak yg dikandung cindy bukan anaknya angga dan si angga thi sebenernya mandul...biar nyesel berdarah2 si angga pekok
Lisa Maisa
ntah kapan kebusukan si pelakor terbongkar
anju hernawati
angga .....angga ........
Lisa Maisa
awas aja ya angga, jgn sampai wanita itu tinggal dirumahmu
Lisa Maisa
kapan angga tau, klu pelakor itu menjebaknya
Anonim
Lemah banget jadi perempuan ah g seru
Bella syaf
ga sanggup kehilangan tapi menduakan, gimana sih Angga ini😐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!