Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang orang penting
"Lo mau makan apa?" tanya Rami ketika dirinya dan Aurora Grey berhasil memesan meja di kantin yang ramainya kayak pasar tradisional.
"Ada apa aja?"
Rami menarik napasnya dalam-dalam sebelum bersuara, bersiap menyebutkan satu per satu menu di kantin sekolah mereka — SMA Garuda Indonesia. "Ada Nasi Uduk, Nasi Goreng, Nasi Rames, Batagor, Mie Ayam, Bakso, Ayam Geprek, Seblak, Soto Ayam, Pecel, Lontong Sayur, sama Bubur Kacang Ijo."
"Wah... banyak banget, jadi pengen pesen semua." Rora menyanggah dengan mata berbinar.
"Jadi lo mau pesen apa?" tanya Rami nggak pake lama.
"Mmm... Terserah aja deh!" jawab Rora yang sukses membuat Rami menghela napasnya kesal.
Tahan Sel! Dia baru 4 jam sekolah di sini, belum waktunya dicekik.
"Kita nggak pesen?"
"Nunggu Sheila dulu aja, dia bentar lagi balik. Biar dia yang pesen." Ah! Benar, sebelumnya Sheila izin ke ruang OSIS untuk mengurus sesuatu sebentar. Maklum anak sibuk, beda banget sama Rami yang nggak mau repot kalo di sekolahan. Dia ikut kegiatan tambahan aja ogah,apalagi ikut organisasi kaya gitu.
Aduh! Bisa kambuh penyakit asma dia.
"Kenapa?"
"Karena Sheila itu cakep, anak OSIS pula. Kalo dia yang ngantri, anak cowok bakal langsung minggir buat ngalah," jelas Rami lantas tersenyum licik.
Kurang beruntung apa lagi coba Rami punya temen kayak Sheila — pinter? Iya, cantik? Banget! Bawa hoki pula.
Mendengar itu, Rora membekap mulutnya dramatis. "Kasihan banget Sheila."
"Dih! Emang lo mau gue suruh antri?" balas Rami super sewot seraya menunjuk antrian kantin yang panjangnya kaya UUD 1945.
Rora meringis. "Nggak hehehe..."
Tiba-tiba saja Rami teringat sesuatu. "Kemarin lo jadi keliling sekolah?"
"Ahh... itu," Ini tentang rencana gila Rora. Katanya gadis itu ingin keliling sekolah — SMA Garuda Indonesia — dengan seragam barunya di hari Minggu, sebelum Rora benar-benar datang ke sekolah sebagai murid baru. Prepare jadi anak baru katanya, biar waktu masuk nggak grogi-grogi amat.
"Nggak jadi, satpamnya nggak ada. Ternyata sekolahan itu dikunci," lirih Rora berbohong. Gadis itu juga memaksakan senyumannya.
Jangan sampe Rami tau kejadian yang menimpanya kemarin. Bisa diketawain sampe adzan isya. Ketemu sama gengster yang urakan yang sangatlah menakutkan — kelompok The Revenants, dipimpin langsung Kay Morgan.
Apa lagi cowok itu! Lagian siapa juga yang mau nyebarin cerita kaya gitu? Aneh!
Rora langsung menggelengkan wajahnya. Enggan mengingat-ingat kejadian kemarin.
"Iya jelaslah kambing! Lo juga aneh banget," cerca Rami gemes sendiri sama kelakuan gadis di hadapannya itu.
Di pikir Pak Suripto — satpam sekolah mereka, SMA Garuda Indonesia — penjaga apotik kali. Buka 24 jam sehari, 7 hari sepekan.
"Ihh iya, kan gue nggak tau. Itu Sheila dateng."
Rami menoleh ke arah pintu masuk kantin. Terlihat Sheila tengah berjalan ke arah mereka.
"Sorry lama."
"Nggak masalah sih, toh yang antri pesen makanan lo," sanggah Rami nggak tau diri.
Sheila melirik ke arah Rora yang melambai ke arahnya. Keduanya tersenyum canggung. Maklum saja, keduanya baru bertemu 4 jam lalu dan baru ngobrol sekali. "Kalian pesen apa?"
"Gue mie ayam sama es jeruk. Ini anak satu terserah lo pesenin apa," kata Rami melirik ke arah Rora tanpa minat.
"Okay." Ketika Sheila berniat menarik langkah menjauh, suara Rami menghentikannya.
"Eh tunggu dulu! Rambut lo jangan diikat."
"Kenapa?" Sheila mengernyitkan alis ketika Rami menarik ikat rambutnya. Gadis itu juga merapikan rambut Sheila dengan tangannya.
"Biar kelihatan tambah cakep, anak cowok bakal langsung ngasih jalan."
"Sialan!" Jangan tanya kenapa selama ini Sheila mau aja disuruh ngantri sama Rami. Ya karena si Sheila ini anaknya nggak enakan dan senang membantu sesama.
Selepas kepergian Sheila, Rora tiba-tiba berdiri.
"Mau kemana lo?"
"Nyamperin Sheila, kasihan kalo dia bawa makanan sendiri."
"Yaudah."
Beberapa menit kemudian,
Sheila dan Rora datang dengan nampan yang penuh makanan. Di tempatnya, Rami yang semula bermain ponsel menyambut kedatangan keduanya dengan senyum lebar. "Akhirnya dateng juga."
Ketiganya lantas mengambil pesanan masing-masing sebelum menyantapnya.
Brak!
Sheila yang berniat memasukkan saus ke dalam kuah baksonya terkejut setengah mati karena ulah Rami yang tiba-tiba menggebrak meja. "Lo apa-apaan sih!" teriak Sheila kesal.
"Gue lupa kasih tau lo tentang orang-orang penting di sekolah ini — SMA Garuda Indonesia."
Rora mengernyit. "Orang-orang penting?"
"Udah deh! Jangan mulai. Biarin Rora makan dulu," ujar Sheila tidak tega melihat wajah Rora yang sepertinya belum makan satu minggu lamanya.
Waktu mereka mengantri bakso tadi, gadis itu diam-diam mengendus aroma kuahnya. Ajaib banget kelakuannya.
"Nggak bisa! Ini penting banget, lo harus kenal sama kakak kelas kita yang ganteng kebangetan. Lo harus kenal sama yang namanya —"
"ANJIR! AKHIRNYA KAY DATENG!"
"Subhanallah Kak Digo cakep banget. Bibirnya makin pink."
"AKHHH! ADA KAK TRISTAN WOY! CAKEP BANGET CALON GUE!"
"Ikan hiu keselek penyu, Kak KAEL WILLIAM I love Youuu!"
"KAK MAHENDRA! Disuruh pulang mama, katanya mau dijadiin mantu."
"Kak DEVANDRA pengen punya pacar yang kayak gimana? GUE MAU MEMAKSAKAN DIRI!"
Rora mendadak bingung dengan teriakan dari gadis-gadis di sekitarnya. Sementara Sheila yang sudah biasa dengan situasi seperti ini, melanjutkan kegiatannya — makan dengan tenang.
"Yang diomongin panjang umur!" decak Rami pelan.
"Ini kenapa pada berisik deh?" tanya Rora terheran-heran.
"Tuh! Cogan-cogannya SMA Garuda Indonesia dateng." Tunjuk Rami dengan dagunya ke arah pintu masuk kantin. Refleks Rora menoleh, sesaat mengamati gerombolan anak laki-laki yang baru saja memasuki area kantin.
Rora mengernyit sesaat.
Hell!
"Anak-anak langganan BK, kecuali yang depan sendiri. Itu ketua OSIS. Namanya Kay Morgan, dipanggilnya Kay. Gantengnya nggak ngotak emang, tapi biasa aja liatnya," sindir Rami ke arah Rora yang sejak tadi tidak berkedip menatap ke arah Kay.
Langsung saja Rora menoleh dengan wajah super kaget. Bagaimana mungkin dirinya satu sekolah — SMA Garuda Indonesia — dengan gengster urakan yang dirinya temui kemarin. "Itu ketua OSIS?!" Terdapat nada tidak percaya yang mengudara.
Bagaimana mungkin?!
Rami mengangguk membenarkan. "Iya. Satu angkatan sama kita, tapi kumpulnya sama kakak kelas gitu. Aneh banget kan, orang yang paling dicari dan ditakuti kayak dia mau kumpul sama kakak kelas yang kelakuannya nggak kira-kira. Ngomong-ngomong, Kay itu musuhnya Sheila waktu pemilihan ketua OSIS."
Tiba-tiba saja Sheila kehilangan nafsu makannya. "Bisa diem nggak?" Bukan rahasia lagi kalau Sheila itu benci setengah mati sama Kay. Gadis itu merasa tidak terima jika pemilihan ketua OSIS tahun lalu dimenangkan oleh Kay.
Bukan apa-apa, hanya saja — Kay tidaklah lebih baik darinya. Pemuda itu hanyalah termasuk dalam segelintir murid yang sering mengabaikan aturan dan bersembunyi di balik tutur kata manis ketika berhadapan dengan guru. Bisa-bisanya dirinya kalah hanya karena Kay menggunakan ketampanannya untuk menggaet murid perempuan agar mencoblosnya.
Belum lagi karena Kay berteman baik dengan kakak kelas dan menjadi incaran adik kelas. Bukan hal baru jika pemuda itu menjadi kandidat nomor satu untuk menjadi ketua OSIS. Yups! Sheila kalah telak dengan perbandingan suara 614 : 228.
That's shit!
"Udah dong, Sheila, lo jangan dendam gitu," sela Rami menenangkan Sheila sesaat. Gadis berambut pendek itu kembali menatap Rora.
"Nah! Kalo yang suka lagi merayu itu namanya Kak Digo. Mukanya emang kelihatan muda banget, kelihatan polos. Tapi jangan salah, dia itu suka berganti pasangan! Ceweknya di mana-mana, si Sheila aja pernah jadi incarannya."
"Iya kan, Sheila?" Sekali lagi Sheila menghela napasnya menahan kesal. Gadis itu tidak berniat membalas ucapan Rami.
Baginya hanya buang-buang tenaga.
"Untung aja si Sheila juteknya kaya Sapinya Raju. Ya ganti target si Digo." Semoga aja kesabaran Sheila nggak habis.
"Sheila, udah deh! Nggak penting tau bahas mereka."
"Apa sih Sheila, orang Rora aja juga penasaran." Detik selanjutnya, Rora mengangguk membenarkan.
Tentu saja gadis itu penasaran dengan identitas orang-orang yang kemarin membuatnya berada dalam masalah. Sekalian cuci mata.
"Oke lanjut! Yang mukanya datar banget tapi gantengnya suka kelewatan itu Tristan. Dipanggilnya Tristan, irit ngomong orangnya. Pokoknya kalau dia ngomong, temen-temennya pada bersyukur. Soalnya kayak denger limbad bersin. Langka banget."
"Gue aja 1 tahun lebih sekolah di sini, belum pernah dengar suara dia. Gue kira dia bisu," jelas Rami setengah emosi.
"Oke lanjut — eh bentar! Gue minum dulu, haus."
Rora mengangguk lalu memperhatikan Rami meminum minumannya, lalu mengambil satu suapan mie ayam.
Menunggu Rami mengunyah dan menelan makanannya, Rora melirik kembali gerombolannya Kay. Gadis itu diam-diam meringis meratapi nasib — pikirnya, dirinya tidak akan bertemu lagi dengan sosok urakan yang kemarin mengancam dirinya. Dan ketua OSIS?! What the fish!
"Kita lanjut! Yang duduk di sebelah Tristan itu Mahendra. Dipanggilnya Mahendra, mukanya judes banget! Untung cakep."
"Gue nggak terlalu tau soal dia, soalnya Kak Mahendra orangnya pendiem kayak Kak Tristan. Tapi katanya, dia kalo ngomong nggak pernah disaring, pedes banget omongannya kayak cabai rawit. Guru-guru aja pada males kalo disuruh ngadepin Kak Mahendra."
"Yang duduk di depannya itu Kak Devandra, nama lengkapnya Devandra. Keren banget kan namanya, mukanya juga manis banget, tapi dia orangnya suka ngomong sendiri dan bawa gosip. Semua berita dan gosip di SMA Garuda Indonesia, itu bermula dari dia."
"Yang terakhir ada Kael William. Kak Kael William ini yang paling wajar setelah Kay. Kapten tim basket, definisi kakak kelas yang populer, pengikutnya aja udah ribuan. Sayang banget udah punya pacar sama adik kelas." Rami mengakhiri ceritanya dengan senyuman.
Sementara Sheila yang sudah menghabiskan makanannya menghela napas pelan. "Nggak diceritain sekalian yang mereka suka ketahuan merokok di kamar mandi, bolos kelas, berkelahi, sama—"
"Astaga Sheila, lo nggak boleh ngejelekin orang ganteng," potong Rami memperingati.
"Mabuk maksudnya?" Rora menaikkan sebelah alisnya terkejut.
"Iya, gue nggak bakal kaget kalo mereka suka main ke tempat hiburan juga," kata Sheila yang membuat Rami melongo nggak terima.
"Ih Sheila, mulutnya nggak ada rem banget." Rami mendengus.
"Emang bener kok!" sanggah Sheila santai saja.
Rami berdecak sebelum bersuara, "Tapi tenang aja Rora, yang namanya Kay itu 100% beda. Kalo yang lainnya sih emang begitu."
Mendengar itu Sheila memutar bola matanya, jengah. "Kay nggak se-sempurna itu kali."
Rami tersenyum jahil. "Jangan didengerin, Sheila masih sakit hati gara-gara kalah pemilihan ketua OSIS kemarin. Emang mulut Rami ini minta disumpal aja."
"Sialan lo!"
Sheila menatap Rora yang sejak tadi hanya diam mendengarkan keributan mereka. "Lo mending makan aja deh Rora! Udah mau kenyang, daripada dengerin cerita nggak penting."
Mendengar suara Sheila yang mulai meninggi, Rora dan Rami langsung memakan makanan mereka dalam diam.