NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Angin kota pagi itu panas dan berdebu. Di depan gedung kaca setinggi tiga puluh lantai, Anindya berdiri sambil mencengkeram map berwarna cokelat erat di tangannya. Bukan cuaca yang membuat keringat dingin membasahi pelipisnya, melainkan rasa takut. Ini adalah perusahaan ke-12 yang ia datangi dalam dua bulan terakhir.

‎‎Ponsel di dalam tasnya bergetar kembali. Tujuh pesan belum dibaca, semuanya dikirim dari nomor rumah sakit.

‎‎"Ibu Anindya, mohon segera melunasi uang muka kamar rawat inap. Jika belum dapat dipenuhi, pasien akan dipindahkan ke bangsal perawatan umum."

‎‎Ia menengadah ke atas, menatap papan nama yang terpasang megah di lobi gedung itu. Huruf-huruf emasnya berkilau tertimpa cahaya matahari.

‎‎REYNAND GROUP

‎Direktur Utama: Reynand Ardian

‎‎Perusahaan konglomerat terbesar di Asia Tenggara. Besarnya pendapatan di sini bisa tiga kali lipat dibandingkan tempat lain. Namun untuk bisa diterima bekerja di sini? Rasanya seperti mencoba membelah samudra hanya dengan perahu kertas.

‎"Anindya Putri?"

‎‎Suara petugas keamanan membuatnya tersentak.

‎‎"Iya, Pak," jawabnya, suaranya sedikit bergetar karena gugup. Ia segera merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut.

‎‎"Lantai dua puluh lima, bagian Sumber Daya Manusia. Jangan terlambat satu menit pun. Bapak Reynand sangat tidak menyukai orang yang datang terlambat."

‎‎"Baik, Pak. Terima kasih."

‎‎Anindya melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis. Sepatu berhak lima sentimeter yang ujungnya sudah mulai mengelupas terdengar berdentang di atas lantai marmer yang mengkilap. Setiap langkah terasa menyakitkan karena kulit di bagian belakang tumitnya sudah melepuh. Namun ia tetap melangkah tegar. Demi ibunya.

‎Pintu lift terbuka di lantai dua puluh lima. Udara sejuk beraroma kopi langsung menyambutnya. Semua orang yang lewat tampak rapi, wangi, dan berjalan dengan penuh keyakinan. Anindya merasa seolah-olah dirinya adalah orang asing yang tersesat di sebuah istana mewah.

‎‎"Selamat pagi, saya Anindya Putri. Saya memiliki jadwal wawancara pukul sembilan," ucapnya sopan kepada petugas resepsionis.

‎"Silakan menunggu di ruang tunggu. Bu Lita akan memanggil nama Anda begitu giliran tiba," jawab resepsionis tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.

‎‎Di ruang tunggu terdapat tiga orang pelamar lain. Semuanya tampak cantik, mengenakan pakaian kerja yang rapi dan tampak mahal, serta merupakan lulusan universitas luar negeri. Berkas lamaran mereka tebal seperti buku. Sementara milik Anindya hanya dua lembar kertas, dengan satu baris pengalaman kerja yang terasa sangat sederhana: Kasir Toko Swalayan, satu tahun.

‎‎Keinginan untuk berbalik dan pergi sempat muncul. Namun bayangan wajah ibunya yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit membuatnya kembali menguatkan hati.

‎"Anindya Putri!"

‎‎Ia berdiri dan melangkah masuk ke ruangan wawancara. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun dindingnya tertutup sertifikat penghargaan dan piala yang menciptakan suasana resmi dan penuh tekanan. Lita, yang duduk di balik meja besar, menatapnya dengan senyum yang tetap terasa formal.

‎‎"Silakan duduk. Anda lulusan Universitas Pembangunan Nasional dengan indeks prestasi kumulatif tiga koma enam. Itu nilai yang baik. Mengapa Anda berminat melamar posisi Sekretaris Pribadi Bapak Reynand? Pekerjaan tersebut cukup berat. Sering kali harus bekerja lembur, bahkan mengantar dokumen hingga larut malam. Apakah Anda sanggup?"

‎‎"Sanggup, Bu. Saya bukan orang yang banyak menuntut. Saya siap diperintah apa saja, yang terpenting saya bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh."

‎‎Lita mencatat sesuatu di buku catatannya. "Apakah Anda mengetahui bagaimana sifat dan cara kerja Bapak Reynand?"

‎‎"Belum, Bu. Saya belum pernah bertemu beliau sebelumnya."

‎‎"Itu justru hal yang baik, sehingga Anda tidak memiliki prasangka atau harapan yang berlebihan. Beliau adalah sosok yang sangat cerdas namun bersikap sangat tertutup dan tegas. Beliau sangat tidak menyukai tiga hal: orang yang terlambat, orang yang tidak jujur, dan orang yang mudah terbawa perasaan. Jika Anda memiliki mental yang kuat, Anda akan mampu bertahan."

‎‎Belum sempat Anindya menjawab, pintu ruangan diketuk dua kali.

‎‎Tok. Tok.

‎‎Suara langkah kaki terdengar berat dan teratur mendekat. Semua orang di ruangan itu seketika menegakkan tubuh. Bahkan Lita yang tadi terlihat santai segera berdiri dan merapikan pakaiannya.

‎‎Pintu terbuka.

Di ambang pintu berdiri seorang pria. Jas hitam bermereknya tersampir asal di lengan kirinya. Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku, dahinya sedikit berkeringat seolah baru saja selesai mengikuti rapat yang panjang. Rambut hitamnya tersisir rapi. Namun yang paling membuat Anindya tertegun hingga hampir lupa bernapas adalah tatapan matanya — tajam, dingin, dan seolah segala sesuatu di hadapannya tidak ada nilainya.

‎‎"Maaf mengganggu waktunya," ucapnya dengan suara rendah namun tegas dan terdengar berat. "Rapat akan dimulai dalam lima menit."

‎‎"Baik, Pak Reynand," jawab Lita sambil sedikit membungkuk hormat. "Izinkan saya memperkenalkan pelamar terakhir untuk posisi Sekretaris Pribadi Bapak. Namanya Anindya Putri."

‎‎Reynand hanya melirik sekilas ke arahnya, namun dalam sekejap itu Anindya merasa seolah seluruh isi pikiran dan kekhawatirannya terbaca dengan jelas. Ia segera menundukkan pandangan.

‎‎"Pengalaman?" tanyanya singkat, sambil berdiri membelakangi mereka menatap ke luar jendela kaca besar yang memandang ke seluruh kota.

‎‎"Belum ada pengalaman resmi di posisi serupa, Pak," jawab Anindya dengan jujur, suaranya pelan namun tetap dapat didengar. "Tetapi saya cepat belajar. Saya... saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak."

‎‎Ruangan itu hening selama tiga detik yang terasa berlangsung sangat lama.

‎‎Kemudian Reynand berbalik perlahan, berjalan mendekati meja Lita, mengambil berkas lamaran Anindya, membacanya sekilas tanpa mengubah ekspresi wajah sedikit pun.

‎‎"Alamat rumah sakit?" tanyanya tiba-tiba tanpa menatap Anindya.

‎Anindya terkejut sesaat. "Rumah Sakit Harapan Kita, Pak. Ibu saya dirawat di sana."

‎‎Reynand menutup map itu dengan rapi.

‎‎"Datanglah bekerja besok. Jam tujuh tepat. Jika terlambat satu detik saja, out. Upah sesuai standar daerah ditambah tunjangan kinerja. Terdapat pula fasilitas jaminan kesehatan untuk satu orang tua kandung."

‎‎Anindya membuka mata lebar-lebar, belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apakah... saya diterima, Pak?"

‎‎"Buktikan jika kamu pantas ada di sini," jawabnya datar, lalu melangkah keluar ruangan tanpa menoleh ke belakang. Pintu tertutup kembali dengan suara pelan.

‎‎Lita menghela napas panjang sambil tersenyum tulus kali ini. "Selamat untuk kamu, Anindya. Kamu adalah orang pertama yang langsung diterima tanpa melalui tahap wawancara kedua. Jarang sekali Pak Reynand terlibat langsung dalam proses seleksi seperti ini."

‎‎Wajah Anindya terasa panas karena rasa senang dan gugup yang bercampur menjadi satu. "Terima kasih banyak, Bu. Saya berjanji akan berusaha memberikan yang terbaik."

‎‎"Sama-sama. Istirahatlah hari ini agar besok pagi datang dengan kondisi segar. Ingat, jangan terlambat," pesan Lita sambil melambaikan tangan.

‎‎"Baik, Bu. Sampai jumpa besok." Anindya sedikit membungkuk sopan, lalu melangkah mundur sebelum akhirnya berbalik menuju pintu keluar ruangan.

‎‎Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat ia masuk tadi. Pintu lift terbuka, ia masuk sendirian dan menekan tombol lobi. Di pantulan cermin dinding lift, ia melihat wajahnya sendiri — masih terlihat lelah, namun matanya kini memancarkan cahaya harapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

‎Pintu lift terbuka di lobi utama. Saat melewati satpam yang jaga di dalam dekat pintu utama, ia menyempatkan diri tersenyum dan mengangguk sebagai tanda terima kasih. Satpam itu membalas dengan anggukan hormat.

‎Ia melangkah keluar melewati pintu kaca otomatis yang terbuka perlahan dan berjalan menuju trotoar, berdiri di tepi, menarik napas panjang sekuat tenaga, lalu mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia mencari nomor rumah sakit dan menekan tombol panggil dengan jantung yang berdebar kencang.

‎‎"Selamat siang, terima kasih telah menghubungi Rumah Sakit Harapan Kita. Ada yang dapat kami bantu?" suara petugas resepsionis terdengar dari seberang telepon.

‎"Selamat siang... Saya Anindya Putri. Saya ingin mengonfirmasi pembayaran uang muka kamar rawat inap atas nama Bu Ratna, Ratna Amala."

‎‎"Baik Bu Anindya, atas nama Ibu Ratna sudah kami catat. Untuk pelunasan bisa ditransfer paling lambat besok pagi ya."

‎‎"Iya Kak. Besok pagi saya pastikan sudah ditransfer lunas. Terima kasih banyak."

‎Telepon terputus. Anindya menurunkan ponselnya perlahan. Pandangannya mulai kabur oleh air mata yang tumpah satu per satu membasahi pipinya hingga jatuh ke permukaan trotoar yang panas. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis lega yang mendalam bercampur dengan kekhawatiran yang samar. Namun untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa memiliki harapan.

‎‎-

‎-

‎‎-

‎Puluhan lantai di atas, di ruang kerja pribadi yang menempati lantai paling atas gedung tersebut, Reynand berdiri sendirian di depan jendela kaca setinggi langit-langit. Pemandangan kota yang terhampar di bawahnya berkilauan seperti lautan lampu emas yang tak berujung — indah dipandang, namun terasa dingin dan jauh.

‎Di atas meja marmer di belakangnya terbuka sebuah map berwarna merah tebal. Tertulis dengan rapi di sampulnya:

‎‎SURAT GUGATAN CERAI

‎Reynand Ardian dan Gisella Wijaya

‎‎"Belum ditandatangani juga?" tanyanya dengan suara yang terdengar serak dan lelah.

‎‎"Belum, Tuan," jawab Hansen, asisten pribadinya yang berdiri beberapa langkah di belakang dengan kepala tertunduk hormat. "Nyonya Gisella menyampaikan bahwa beliau tidak akan menandatangani surat cerai tersebut. Kecuali jika Tuan bersedia menyerahkan lima puluh persen saham milik Tuan di Reynand Group atas nama beliau."

‎‎Reynand mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Gelas kristal berisi minuman anggur di tangannya berderit pelan, lalu retak perlahan, cairan merah itu menetes mengalir di sela-sela jari hingga jatuh ke lantai seperti tetesan darah.

‎‎"Apakah dia mengira aku akan menyerah begitu saja?" bisiknya dengan nada dingin yang penuh penekanan. "Tiga tahun aku menikah dengannya atas dasar perjodohan kepentingan bisnis keluarga. Tiga tahun kami tidur di kamar terpisah, hidup di satu atap namun bagaikan orang asing. Cukup. Semuanya sudah cukup."

Sebulan terakhir ia memilih pindah ke apartemen di pusat kota. Jauh dari rumah besar itu. Jauh dari perempuan yang sudah tiga tahun menjadi istrinya di atas kertas saja.

‎‎Hansen berdiri diam, tidak berani menyampaikan pendapat apa pun. Ia sangat memahami betapa berat beban yang dipikul tuannya selama ini.

‎‎Reynand memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan amarah yang meluap-luap di dadanya. Tanpa ia duga, bayangan wajah Anindya saat wawancara tadi pagi tiba-tiba terlintas di pikirannya — mata yang terlihat lelah namun tegas, suara yang gemetar namun tetap jujur, serta kebutuhan yang begitu nyata dan tulus, sangat berbeda dengan segala kepura-puraan yang setiap hari ia temui di lingkungan pergaulannya yang penuh kemewahan.

‎‎"Besok pagi," ucapnya pelan namun tegas sambil tetap memejamkan mata. "Suruh sekretaris baru itu mengantar berkas gugatan cerai ini ke mansion. Biar dia tahu bahwa keputusanku sudah bulat dan tidak akan diubah."

‎‎"Baik, Tuan."

‎‎Hansen melangkah mundur perlahan, lalu keluar ruangan dan menutup pintu dengan rapat. Meninggalkan Reynand sendirian di ruangan yang luas dan mewah itu — sendirian bersama amarahnya, kesepiannya, dan sebuah keputusan yang mungkin akan mengubah segalanya.

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!