Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi
Ruang pertemuan firma hukum netral itu dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan sejak detik pertama semua pihak memasuki ruangan. Di satu sisi meja panjang, Raka duduk didampingi Alya, tim hukum, dan perwakilan kepolisian dari unit kejahatan ekonomi. Bagas dan Aurora duduk agak terpisah, namun jelas berada di pihak yang sama.
Di sisi seberang, Om Wisnu Handoko akhirnya muncul untuk pertama kalinya secara langsung di hadapan mereka — seorang pria berusia awal enam puluhan, berpenampilan rapi dan berwibawa, namun matanya memancarkan kelicikan yang tidak bisa sepenuhnya dia sembunyikan di balik senyum tenangnya. Dia didampingi tim pengacara pribadinya yang terlihat gelisah, jelas menyadari posisi klien mereka yang semakin terpojok.
"Terima kasih sudah bersedia hadir, Pak Wisnu," kata perwakilan kepolisian membuka pertemuan, nadanya formal dan tegas. "Kami memiliki sejumlah bukti dan kesaksian yang mengarah pada keterlibatan Anda dalam berbagai tindakan yang merugikan keluarga Wirawan, serta pola serupa yang sudah terjadi pada beberapa perusahaan lain sebelumnya."
Om Wisnu tersenyum tipis, tenang meski jelas berada di bawah tekanan. "Saya tidak yakin tuduhan seperti apa yang dimaksud. Saya hanya pebisnis yang menjalankan investasi sesuai prosedur hukum yang berlaku."
Kepala tim hukum Wirawan mulai memaparkan bukti satu per satu — dimulai dari kesaksian tertulis Ibu Retno soal manipulasi dokumen keuangan, dilanjutkan dengan kasus PT Cahaya Abadi yang dipaparkan Diah secara detail, hingga jejak digital yang menghubungkan Om Wisnu dengan pendekatan terhadap Bagas dan serangan terhadap yayasan Alya.
Dengan setiap bukti yang dipaparkan, ekspresi tenang Om Wisnu mulai retak sedikit demi sedikit, meski dia berusaha keras mempertahankan sikap tenangnya di depan umum.
"Semua ini hanya spekulasi dan tuduhan tidak berdasar," bantahnya, meski suaranya mulai kehilangan kepercayaan diri sebelumnya. "Ibu Retno mungkin hanya mantan karyawan yang tidak puas, mencari cara balas dendam setelah pemecatannya."
"Beliau mengundurkan diri secara sukarela, Pak," potong Ibu Retno sendiri, yang hadir dalam pertemuan itu didampingi pengacara pelindungnya, suaranya bergetar namun penuh keberanian. "Setelah nurani saya tidak sanggup lagi menutupi kejahatan yang Bapak lakukan."
Om Wisnu menatap Ibu Retno dengan tatapan tajam penuh amarah tertahan, namun tidak bisa berbuat banyak di hadapan pihak berwajib yang menyaksikan langsung.
Alya, yang sejak tadi mengamati dengan seksama, akhirnya angkat bicara. "Pak Wisnu, kami juga memiliki rekaman telepon ancaman yang Anda lakukan kepada saya kemarin malam. Rekaman itu sudah kami serahkan sebagai bukti tambahan kepada pihak kepolisian."
Wajah Om Wisnu memucat mendengar itu — jelas dia tidak menyangka teleponnya kemarin malam sempat direkam. Salah satu pengacaranya mendekat, berbisik pelan padanya, namun raut wajah Om Wisnu tetap menunjukkan kepanikan yang semakin sulit disembunyikan.
Perwakilan kepolisian mengangguk mantap, mengonfirmasi kekuatan bukti yang sudah terkumpul. "Dengan bukti-bukti yang sudah dipaparkan, kami akan melanjutkan proses hukum lebih lanjut, Pak Wisnu. Kami sarankan Anda bekerja sama sepenuhnya untuk meringankan proses ini."
Om Wisnu terdiam lama, kepalanya menunduk, seolah baru menyadari sepenuhnya bahwa permainan yang sudah dia rencanakan bertahun-tahun akhirnya runtuh dalam satu pertemuan ini. Ayah Aurora, yang juga hadir dalam pertemuan itu sebagai perwakilan keluarga Handoko, menatap kerabatnya dengan campuran rasa kecewa dan malu yang mendalam.
"Wisnu," katanya pelan, suaranya penuh kekecewaan, "aku tidak pernah menyangka kau akan melakukan semua ini, hanya demi ambisi pribadimu sendiri, sampai merusak nama baik keluarga kita."
Om Wisnu akhirnya mendongak, matanya menatap sekeliling ruangan dengan tatapan campur aduk antara kemarahan dan keputusasaan. "Aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi hak keluarga kita," katanya pahit. "Wirawan Group tumbuh besar dengan memanfaatkan koneksi bisnis keluarga kami bertahun-tahun lalu, tapi mereka yang selalu mendapat keuntungan terbesar, sementara kami hanya jadi mitra kelas dua."
"Itu bukan alasan untuk menghancurkan kehidupan orang lain, Pak," kata Raka tegas, suaranya penuh ketegasan namun tidak dipenuhi kebencian. "Kerja sama bisnis dibangun atas kepercayaan dan keadilan, bukan manipulasi dan pengkhianatan."
Setelah pertemuan panjang dan menegangkan itu, pihak berwajib resmi menahan Om Wisnu untuk pemeriksaan lebih lanjut, dengan bukti yang sudah cukup kuat untuk menjeratnya dengan berbagai tuduhan — mulai dari pemalsuan dokumen, penyuapan, hingga percobaan intimidasi terhadap saksi.
Di luar ruang pertemuan, setelah semuanya berakhir, Alya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi dia tahan, merasakan beban besar yang akhirnya terangkat dari pundaknya. Raka merangkulnya erat, sementara Bagas dan Aurora berdiri di dekat mereka, sama-sama merasakan kelegaan yang mendalam.
"Akhirnya berakhir," gumam Alya pelan.
"Berkat kerja sama kita semua," jawab Raka, menatap Bagas dan Aurora dengan rasa terima kasih yang tulus. "Kalian berdua sudah menjadi bagian penting dari kemenangan ini, meski awalnya kalian dijadikan alat oleh Om Wisnu."
Bagas tersenyum lega. "Aku bersyukur akhirnya bisa membuktikan diriku sebagai bagian dari keluarga ini, bukan sebagai alat kejahatan orang lain."