NovelToon NovelToon
Penguasa Para Dewa

Penguasa Para Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:51.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.

Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.

Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Lautan Jenius

Dentangan Lonceng Akademi Bintang Tujuh masih bergema, menggetarkan udara di atas Arena Bintang Utama. Angin berhembus kencang, membawa aura niat bertarung yang sangat pekat.

Seleksi Murid Warisan kali ini sama sekali berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya. Jika di pelataran luar atau pelataran dalam hanya segelintir jenius yang mendominasi, maka hari ini panggung itu menyingkap kenyataan yang jauh lebih mengerikan. Di sana tidak hanya sedikit murid yang ikut; jumlahnya mencapai ribuan, dan tambah lebih banyak karakter jenius yang bermunculan dari pengasingan mereka! Seleksi ini telah memancing keluar para monster kultivasi yang selama bertahun-tahun mengurung diri di dalam gua pelatihan, berkultivasi dalam keheningan demi satu tujuan: memperebutkan gelar Murid Warisan.

Zhu Da yang berdiri di pinggir arena sambil mengunyah pil rasa ayam panggang sampai menelan ludah dengan susah payah. "Chen-ge... kenapa tiba-tiba ada begitu banyak monster di akademi ini? Aku bahkan tidak pernah melihat wajah-wajah mereka sebelumnya."

Lin Chen menyipitkan matanya, mengamati lautan manusia di depannya. "Akademi Bintang Tujuh menyembunyikan naganya di tempat yang dalam, Zhu Da. Hari ini, lautan itu mengering, dan semua naga itu akhirnya menampakkan diri."

Benar saja, kerumunan tiba-tiba terbelah kembali, bukan untuk Liu Meng atau Su Qingyue, melainkan untuk kedatangan jenius baru yang auranya membuat murid biasa kesulitan bernapas.

Dari ufuk timur arena, seorang pemuda berpakaian compang-camping melangkah masuk. Ia membawa sebilah pedang berkarat di punggungnya, namun setiap langkahnya seolah membelah udara di sekitarnya. "I-itu Jian Wushuang dari Puncak Pedang Surgawi!" bisik seorang murid dengan nada ngeri. "Kudengar dia telah duduk bermeditasi di bawah air terjun pedang selama lima tahun tanpa bergerak. Fluktuasi Qi-nya... dia sudah mencapai ranah Pondasi Abadi!"

Belum reda keterkejutan penonton, gelombang panas tiba-tiba menyapu arena. Sesosok wanita cantik dengan gaun merah menyala turun dari langit, memutar-mutar sebuah cambuk api di tangannya. Ia tertawa manja, namun tawa itu mengandung niat membunuh yang mematikan. "Yan Ruyu dari Lembah Api Neraka..." gumam Li Huo yang berada di bangku penonton, wajah alkemis pelit itu pucat. "Wanita gila yang bisa membakar lautan."

Menyusul kemudian, suara dentuman langkah kaki raksasa menggetarkan ubin giok putih. Seorang pemuda setinggi hampir tiga meter dengan otot sekokoh batu granit berjalan masuk, memanggul sebuah pilar baja raksasa seolah itu hanya ranting pohon. Itu adalah Kuang Tie dari Puncak Besi Hitam, jenius penyempurnaan fisik yang rumornya kebal terhadap serangan senjata spiritual tingkat menengah.

Kehadiran Jian Wushuang, Yan Ruyu, Kuang Tie, dan puluhan jenius tersembunyi lainnya membuat Liu Meng yang tadinya merasa di atas angin, kini harus mendengus kesal. Pesaingnya ternyata sangat banyak.

Di atas anjungan kehormatan, Tetua Wu berdiri. Suaranya yang dalam meredam seluruh keributan di pelataran.

"Jumlah peserta Seleksi Murid Warisan tahun ini memecahkan rekor terbanyak sepanjang sejarah," ucap Tetua Wu lantang. "Oleh karena itu, babak pertama akan dilakukan secara masal. Kalian akan dibagi ke dalam empat arena utama: Timur, Barat, Selatan, dan Utara. Di setiap arena akan ada lima ratus murid yang bertarung secara bersamaan. Hanya sepuluh orang terakhir yang masih berdiri di masing-masing arena yang berhak maju ke babak utama!"

Aturan yang kejam dan brutal. Bertarung melawan 499 orang sekaligus berarti kultivasi tinggi saja tidak cukup; seseorang membutuhkan stamina, taktik, dan ketahanan mental yang luar biasa.

Sesuai undian, Su Qingyue ditempatkan di Arena Utara, Liu Meng di Arena Selatan, sementara Lin Chen mendapati dirinya berada di Arena Timur. Menariknya, si raksasa Kuang Tie juga berada di arena yang sama dengan Lin Chen.

Begitu wasit menjatuhkan bendera tanda dimulainya babak penyisihan, Arena Timur seketika meledak dalam kekacauan. Ratusan teknik spiritual, mantra, dan senjata berbenturan, menciptakan lautan darah dan jeritan dalam hitungan detik.

Lin Chen berdiri dengan tenang di sudut arena. Karena ia sengaja menyembunyikan sebagian besar auranya, banyak murid elit yang menganggapnya sebagai mangsa empuk.

"Singkirkan dulu bocah sombong ini!" teriak sekelompok murid yang berafiliasi dengan Fraksi Harimau Ungu , berniat mencuri kesempatan untuk melumpuhkan Lin Chen demi mengambil hati Liu Meng.

Belasan senjata spiritual melesat ke arah Lin Chen secara bersamaan.

Namun, alih-alih panik, Lin Chen hanya tersenyum tipis. Ia mengambil satu langkah ringan ke depan.

WUSSH!

Dengan kelincahan yang memanfaatkan distorsi gravitasi, tubuh Lin Chen berubah menjadi bayangan buram. Senjata-senjata itu hanya menghantam udara kosong.

Detik berikutnya, Lin Chen sudah berada di tengah-tengah kelompok penyerang tersebut. Tanpa menggunakan energi Qi yang mencolok, ia hanya mengandalkan kekuatan fisik murni yang telah ditempa oleh Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba.

BAM! BAM! BAM!

Lin Chen melepaskan pukulan dan tendangan dengan gerakan yang sangat sederhana namun mematikan. Setiap serangannya meremukkan tulang rusuk dan menerbangkan lawan-lawannya hingga keluar dari batas arena. Hanya dalam sepuluh tarikan napas, dua puluh murid telah terkapar tak berdaya di luar ring.

Kekacauan di sudut itu menarik perhatian Kuang Tie. Sang raksasa dari Puncak Besi Hitam yang baru saja menyapu puluhan orang dengan pilar bajanya, menatap Lin Chen dengan mata berbinar penuh minat.

"Hahaha! Fisik yang luar biasa untuk ukuran orang sekurus dirimu!" raung Kuang Tie. "Terima pukulanku, Bocah!"

Kuang Tie melompat, membuang pilar bajanya, dan meninju lurus ke arah Lin Chen. Tinjunya membelah udara dengan kekuatan yang bisa meremukkan bukit kecil.

Banyak penonton yang menahan napas, yakin Lin Chen akan hancur jika berani menangkisnya. Namun, darah penantang di tubuh Lin Chen justru mendidih. Ia tidak menghindar, melainkan menarik tangan kanannya dan membalas pukulan itu secara langsung.

DHUUMMM!!!

Dua tinju fisik murni berbenturan. Gelombang kejut raksasa menyapu arena, membuat puluhan murid di sekitar mereka terpelanting.

Batu giok di bawah kaki Lin Chen sedikit retak, namun ia sama sekali tidak mundur. Sebaliknya, raksasa Kuang Tie justru terhuyung mundur tiga langkah, tangan kanannya bergetar hebat dan mati rasa.

Kuang Tie membelalakkan matanya, lalu tertawa terbahak-bahak. "Gila! Ototmu terbuat dari meteor jatuh?! Baiklah, aku mengakui kekuatan fisikmu. Kita selesaikan urusan kita di babak utama nanti!" Kuang Tie berbalik dan mencari lawan lain.

Lin Chen perlahan menurunkan kepalan tangannya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru Arena Timur. Murid-murid lain yang melihat bagaimana Lin Chen membuat mundur raksasa Kuang Tie kini tidak ada satu pun yang berani mendekat dalam radius sepuluh meter darinya.

Satu jam kemudian, lonceng tanda babak penyisihan berakhir berbunyi. Pertumpahan darah di empat arena telah menyaring para serangga dari naga sejati. Di Arena Utara, Su Qingyue berdiri tanpa noda darah sedikit pun di tengah patung-patung es. Di Arena Selatan, Liu Meng menjilati darah di pedangnya dengan kejam.

1
Budi Wahyono
sumpah saya awal bacanya kuil wajan gosong...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
KING Escanor
lanjut
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri ranting ⭐️ dan vote 🎟 serta gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
KING Escanor
lanjut thor
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!