Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Malam itu, rumah kecil keluarga Serina dipenuhi suasana hangat. Sebuah balon bertuliskan “Happy Birthday, Farel!” tergantung di ruang tengah. Di atas meja, Serina sibuk menata beberapa makanan sederhana yang telah ia siapkan untuk ulang tahun putra semata wayangnya.
Hari itu, Farel genap berusia empat tahun.
Sejak pagi, bocah kecil itu terus membicarakan satu hal.
Kue ulang tahun dari toko kue ternama di pusat kota.
Toko itu terkenal sebagai salah satu toko kue dengan cita rasa terbaik di kota. Bagi Farel, kue berbentuk Doraemon dari toko tersebut adalah kue impiannya.
Sayangnya, selama ini Riki belum mampu membelikannya.
Baru tiga bulan terakhir Riki mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan otomotif terkemuka. Penghasilannya mulai membaik, dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia bisa memenuhi keinginan putranya.
Usai bekerja, Riki sengaja mampir ke toko kue tersebut.
Kini, sebuah kotak kue berukuran cukup besar berada di tangannya.
Di dalamnya terdapat kue yang dihiasi karakter Doraemon lengkap dengan tulisan nama putranya.
Riki tersenyum membayangkannya.
"Farel, akhirnya Ayah bisa membelikan kue ulang tahun impianmu Nak. Lihat, di atasnya ada Doraemon dan namamu juga terukir di sana."
Senyumnya semakin lebar.
Ia bahkan sudah membayangkan wajah bahagia Farel ketika melihat kue tersebut.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik.
Riki baru saja keluar dari toko untuk mengambil kendaraannya yang terparkir di sana karena area parkir motor di toko kue sudah penuh.
Ia melihat ke arah seberang jalan. untuk memastikan ia bisa menyeberang dengan aman
"aku sudah tidak sabar memberikan kue ini untukmu Farel, tunggu ayah, Nak."
Riki menggenggam erat kotak kue tersebut. Ia memastikan keadaan jalan cukup aman sebelum melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tanpa ia sadari, dari kejauhan sebuah mobil sport mewah berwarna merah melaju dengan kecepatan tinggi.
Di balik kemudinya, seorang pria bernama Jovan Narendra berusaha keras mempertahankan kesadarannya.
Kepalanya terasa berdenyut hebat.Tangannya mencengkeram kemudi.
"Brengsek... obat apa yang masuk ke dalam tubuhku?"
Jovan memijat pelipisnya dengan satu tangan.
Pandangannya berkunang-kunang. Ia menginjak pedal rem.
Namun...
Tidak terjadi apa-apa.
"Apa?!"
Jovan kembali menginjak rem sekuat tenaga.
Pedal itu terasa blong. Mobil terus melaju.
"Astaga!"
Jovan berusaha membanting setir, tetapi pengaruh obat membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Mobil sport itu justru menerobos ke jalur berlawanan.
Di saat bersamaan, Riki masih berada di tengah jalan.
Matanya membelalak ketika mendengar suara mesin mobil yang semakin mendekat.
VROOOOM!
Riki menoleh.
Sebuah mobil merah melaju lurus ke arahnya.
"Ah....!"
Jovan berusaha menghindar. Namun semuanya terlambat.
BRAAAK!
Tubuh Riki terhempas keras ke udara.
Kotak kue yang sejak tadi digenggamnya terlepas. Terbuka di tengah jalan.
Kue Doraemon yang seharusnya menjadi hadiah ulang tahun Farel hancur berantakan.
Tubuh Riki terpental beberapa meter sebelum akhirnya jatuh menghantam aspal.
Darah mulai mengalir dari kepalanya.
Matanya perlahan kehilangan fokus.
Di tengah kesadarannya yang semakin menghilang, satu-satunya hal yang terlintas dalam pikirannya hanyalah wajah putranya.
"Farel..."
Bibirnya bergetar.
"Maafkan Ayah..."
Bruk!
Riki tak sadarkan diri.
Sementara itu, mobil sport merah tersebut kehilangan kendali dan menghantam trotoar dengan keras.
BRAAAK!
Bagian depan mobil ringsek parah.
Tubuh Jovan terhempas ke depan hingga kepalanya membentur bagian dalam mobil. Darah mengalir dari pelipisnya.
Ia mencoba membuka mata.
Namun pandangannya semakin kabur.
"Ugh..."
Dalam hitungan detik, Jovan akhirnya kehilangan kesadarannya.
Malam yang seharusnya menjadi malam paling bahagia bagi seorang anak berusia empat tahun berubah menjadi malam yang merenggut seorang ayah dan mempertemukan dua kehidupan dalam tragedi yang tak pernah mereka bayangkan.
Di rumah, Farel masih menunggu dengan wajah penuh senyum.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya tidak akan pernah pulang membawa kue ulang tahun impiannya.
*
*
Rumah kecil itu masih dipenuhi suasana ulang tahun.
Beberapa balon warna-warni menghiasi ruang tengah. Di atas meja telah tersaji makanan sederhana yang dibuat Serina sejak sore. Namun, hingga malam semakin larut, sosok Riki belum juga muncul.
Farel yang mengenakan pakaian ulang tahun kesayangannya terus berdiri di dekat pintu.
"Ayah kok belum pulang, Bunda?"
Serina tersenyum, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
"Sebentar lagi Ayah pulang. Bukankah Ayah sudah janji mau membawakan kue Doraemon kesukaan Farel?"
"Mau kue Doraemon!" seru Farel dengan mata berbinar.
"Iya. Jadi, tunggu Ayah, ya."
Serina mengusap kepala putranya.
Namun, jauh dari rumah mereka, Riki justru tengah terbaring tak sadarkan diri di ruang IGD setelah mengalami kecelakaan. Kondisinya kritis. Di rumah sakit yang sama, Jovan juga baru saja mendapatkan penanganan medis akibat kecelakaan tersebut.
Waktu terus berjalan.
Hingga tiba-tiba...
Trrr... trrr...
Ponsel Serina berdering. Ia segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Permisi, apakah ini dengan keluarga Bapak Riki Sanjaya?"
"Iya, Pak. Saya istrinya. Memangnya kenapa? Di mana suami saya?" tanya Serina mulai cemas.
Di seberang telepon, seorang anggota polisi terdiam beberapa saat.
Suara rengekan Farel yang berada di dekat Serina terdengar jelas.
"Pak?"
Serina semakin gelisah.
"Tolong jelaskan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan suami saya?"
Polisi itu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata,
"Maaf, Bu. Suami Ibu mengalami kecelakaan."
Seketika wajah Serina memucat.
"Kecelakaan?"
"Iya, Bu. Beliau ditabrak sebuah mobil saat sedang menyeberang di sekitar Toko Kue Kelud."
Jantung Serina seolah berhenti berdetak.
"Bagaimana kondisi suami saya?"
"Beliau sudah dibawa ke rumah sakit. Saat ini kondisinya kritis."
Ponsel di tangan Serina terlepas.
Bruk!
Tubuhnya gemetar hebat. Air mata langsung mengalir membasahi pipinya.
"Bunda?"
Farel menatap ibunya dengan wajah bingung.
"Bunda kenapa?"
Serina berjongkok dan memeluk tubuh kecil putranya dengan erat. Tangisnya pecah.
"Farel... ikut Bunda, ya."
"Kita mau ke mana, Bunda?"
"Kita temui Ayah."
"Ayah sudah pulang?"
Serina menggeleng sambil menahan tangis.
"Belum, Sayang. Ayah ada di rumah sakit."
"Kenapa Ayah di rumah sakit?"
Serina tidak sanggup menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan putranya dan segera bergegas menuju rumah sakit menggunakan sepeda motor listrik.
Di sisi lain, Jovan akhirnya membuka matanya.
Kepalanya terasa sangat berat.
Ia mengerang pelan.
"Ugh..."
Seorang dokter telah membalut kepalanya. Tubuhnya masih terasa lemas, sementara pandangannya belum sepenuhnya jelas.
"Jo!"
Suara seseorang membuat Jovan menoleh.
Leo, asistennya, berdiri di samping tempat tidur pasien dengan wajah panik.
"Ya ampun, Jo! Kenapa bisa begini? Gue pikir elo sudah sampai apartemen. Ternyata malah ada di rumah sakit!"
Jovan mengusap pelipisnya.
"Sudahlah, Leo."
Ia menatap asistennya dengan serius.
"Tutup mulut elo soal masalah ini."
Leo mengernyit.
"Maksud lo?"
"Jangan sampai Daddy dan Mommy gue tahu. Apalagi Kak Daren."
Jovan menelan ludah.
"Bisa mampus gue kalau Kak Daren sampai tahu."
Leo menghela napas.
"Tapi gue tetap nggak ngerti. Kenapa elo bisa sampai nabrak orang?"
Jovan terdiam.
"gue juga nggak tahu."
Tak lama kemudian, seorang dokter datang membawa hasil pemeriksaan.
"Pasien atas nama Jovan Narendra?"
"Iya, Dok," jawab Leo.
Dokter menatap keduanya dengan serius.
"Dari hasil pemeriksaan, ditemukan adanya kandungan zat psikoaktif dalam tubuh pasien."
Jovan mengernyit.
"Zat apa?"
"Termasuk golongan psikotr0pika. Kandungan tersebut dapat memengaruhi kesadaran, berhalusinasi, dan mengacaukan koordinasi tubuh."
Jovan dan Leo saling berpandangan.
"Apa?" Leo terkejut.
Jovan menggeleng kuat.
"Nggak mungkin, Dok."
Dokter menatapnya.
"Apakah Anda mengonsumsi obat atau zat tertentu sebelum berkendara?"
"Tidak pernah."
Jovan mengepalkan tangan.
"Seumur hidup gue, gue bahkan nggak pernah menyentuh barang seperti itu."
Leo langsung memahami sesuatu.
"Sialan..."
Ia menatap Jovan dengan wajah geram.
"Sepertinya ada yang sengaja menjebak elo, Jo."
Jovan terdiam.
Ingatan tentang kejadian sebelum kecelakaan kembali terlintas di kepalanya.
"Rem mobil gue juga blong."
"Apa?"
"Sudah gue injak berkali-kali, tapi mobilnya nggak berhenti. Pandangan gue juga kabur. Gue benar-benar nggak bisa mengendalikan mobil."
Leo mengusap wajahnya.
"Berarti ini bukan kecelakaan biasa."
Jovan menatap langit-langit rumah sakit.
"Seseorang memang ingin mencelakai gue."
Percakapan mereka terhenti ketika seorang polisi masuk.
"Iptu Darma."
Leo menoleh.
Sementara Jovan langsung mengenalinya.
Iptu Darma menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat kondisi Jovan.
"Hadeuh... adiknya AKBP Daren malah berurusan dengan kecelakaan seperti ini."
Ia menghela napas.
"Entah apa yang akan terjadi kalau Kakakmu sampai tahu."
Jovan mengusap wajahnya.
"Makanya, Pak. Tolong jangan beri tahu keluarga saya dulu."
Belum sempat Iptu Darma menjawab...
Terdengar suara tangisan dari balik lorong.
"Mas Riki!"
Langkah kaki tergesa-gesa mendekat.
Serina muncul sambil menggandeng Farel.
Begitu melihat seorang pria terbaring penuh luka di atas ranjang pasien, tubuh Serina langsung lemas.
"Mas Riki..."
Air matanya tumpah. Ia mendekati suaminya yang masih tidak sadarkan diri.
"Mas... bangun, Mas."
Farel yang melihat ayahnya langsung menangis.
"Ayah!"
Suara kecil itu menggema di ruangan.
"Ayah... bangun!"
Jovan yang berada di ranjang pasien sebelah seketika terdiam.
Entah mengapa, suara itu terasa menghantam dadanya.
Perlahan, ia menggeser sedikit gorden pembatas.
Pandangan Jovan tertuju pada seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang menangis sambil memanggil ayahnya.
Di sampingnya, seorang wanita berdiri dengan wajah penuh air mata. Jovan menatap mereka lama. Dada pria itu terasa sesak.
Baru sekarang ia menyadari bahwa pria yang ditabraknya bukan sekadar seorang korban.
Ia adalah suami seseorang. Ia adalah ayah dari seorang anak kecil.
Jovan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dasar brengsek..."
Matanya memerah.
"Seharusnya kejadian ini nggak pernah terjadi."
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, rasa bersalah benar-benar menghantamnya.
Dan tanpa Jovan sadari, malam itu telah menjadi awal dari sebuah takdir yang akan mengikat hidupnya dengan Serina dan Farel untuk selamanya.
Bersambung...
untuk marcella kenapa kau melihat serina seperti melihat seseorang yg hina apa dia karna miskin dan janda🤔🤔🤔🤔🤔🤔
atau kau mempunyai rahasia besar hingga banyak yg menutupi dengan mencari kesalahan orang lain🤔🤔🤔
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭