NovelToon NovelToon
Gadis Absurd Penakluk Pewaris Dingin

Gadis Absurd Penakluk Pewaris Dingin

Status: tamat
Genre:CEO / Mafia / Komedi / Misteri / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:58.3k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.

Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.

Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.

Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.

Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?

Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Tiga ratus ribu rupiah tunai di dalam saku rok abu-abunya terasa seperti perisai gaib peninggalan kerajaan kuno.

Bagi Alea, tiga lembar merah itu bukan sekadar alat tukar, melainkan jaminan kebebasan finansial setidaknya dua minggu ke depan. Sepanjang koridor sekolah, langkah kakinya yang berbalut sepatu kanvas jebol terasa seringan kapas.

Ia berjalan tegap membusungkan dada layaknya seorang jenderal bintang lima yang sedang memimpin pasukan, padahal di belakangnya hanya mengekor satu murid baru dengan wajah sedatar tembok beton.

​"Oke, Bos Arka yang dompetnya tebal, perhatikan baik-baik," celoteh Alea sambil berjalan mundur agar bisa menatap klien VIP-nya.

Tangannya bergerak luwes menunjuk ruangan dengan pintu kayu yang catnya mengelupas.

"Di sebelah kanan ini adalah laboratorium biologi. Saran gue sih, lo jangan pernah sentuh mikroskop di dalam sana. Kaca pembesarnya buram bukan karena resolusi rendah, tapi karena belum dilap sejak zaman penjajahan Belanda. Kalau lo mau selamat dari infeksi jamur tak dikenal, jauhi ruangan ini!"

​Arka melangkah dengan tenang, kedua tangannya santai berada di dalam saku celana. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, memindai setiap sudut dengan insting seorang predator yang mengobservasi medan tempur baru, meski yang ia lihat hanyalah retakan dinding dan plafon yang berjamur.

​"Lalu di sebelah sana..." Alea berputar, menunjuk lorong gelap menuju toilet.

"Itu toilet cowok. Markas besar para perokok sembunyi-sembunyi sekaligus tempat transaksi contekan pas ujian. Tapi jangan heran jika bau pesingnya punya kekuatan magis yang bisa nempel di seragam selama seminggu."

​Alih-alih merasa jijik, Arka hanya memandangi gadis itu. Di dunianya yang gelap, orang-orang berbicara dengan intonasi terukur, penuh sandiwara, seolah menyembunyikan belati di balik senyuman.

Namun gadis ini? Dia mengkritik sekolahnya sendiri dengan kejujuran brutal yang diucapkan dengan sangat bangga.

​Tepat ketika Alea hendak melanjutkan turnya, bel istirahat pertama berbunyi nyaring.

Siswa-siswi berhamburan keluar bagai kawanan zombi yang mencium bau daging segar, berlarian menuju satu titik pusat peradaban yaitu kantin.

​Alea refleks merentangkan kedua tangannya di depan Arka, bergaya layaknya bodyguard saat melakukan pengawalan kepresidenan.

"Awas! Arus lalu lintas lagi padat merayap, Bos. Tapi jangan khawatir, sebagai pemandu VIP lo, gue berkewajiban melindungi lo dari desakan rakyat jelata yang kelaparan. Ayo, kita lewat jalan pintas yang lebih aman!"

​Arka nyaris mendengus geli. Jika ada satu orang di gedung ini yang bisa melumpuhkan sepuluh pria bersenjata dalam waktu kurang dari semenit, itu adalah dirinya.

Namun, ia membiarkan gadis itu menarik ujung seragamnya, menyeretnya melewati kerumunan.

​Saat mereka memasuki area kantin, kehadiran Arka langsung menyedot atensi bak medan magnet.

Hening seketika merambat ke beberapa meja. Siswi-siswi menghentikan suapan makanan mereka, menatap tak berkedip pada sosok jangkung berwajah pahatan bak dewa Yunani tersebut.

Seragam putihnya yang bersih tanpa cela dan aura dingin yang menguar dari tubuhnya seolah menciptakan kasta tak kasat mata di tengah kantin yang riuh.

​Radar bahaya sekolah ini, geng siswi elite pemegang takhta popularitas, langsung menyala terang. Vanessa, primadona sekolah merangkap anak anggota dewan setempat, meletakkan gelas es tehnya dengan kasar.

Rahangnya mengeras melihat tangan Alea yang masih santai bertengger di lengan kemeja pemuda tampan itu.

​Bersama dua dayangnya, Siska dan Nindy, Vanessa melenggang membelah kerumunan, mencegat langkah Alea dan Arka.

​"Coba liat gays! Apa yang dilakukan sama cewek udik ini?" Suara nyaring Vanessa memecah ketegangan, menyilangkan tangan di depan dada dengan tatapan merendahkan.

"Gue kira lo cuma joki tugas murahan, jir. Terus sekarang merangkap jadi asisten buat ngurusin murid baru juga, yah?"

​Alea melepaskan pegangannya dari lengan Arka, membalas dengan helaan napas lelah yang dramatis. Kenapa selalu ada adegan sinetron macam ini di saat perutnya sedang keroncongan?

​"Minggir, Vanes. Gue lagi kerja cari nafkah. Waktu adalah uang, dan argo gue lagi jalan," balas Alea malas.

​Mengabaikan Alea sepenuhnya, senyum sinis Vanessa seketika luntur, digantikan senyuman paling manis saat menatap Arka.

"Hai, tampan lo murid baru ya?" sapanya dengan nada manja, menjulurkan tangan berniat menyentuh lengan Arka.

"Kenalin gue Vanessa, lo bisa panggil gue Vanes aja biar makin akrab, kalau ingin keliling sekolah ini, gue dengan senang hati bisa nemanin lo—"

​Sebelum jari lentik Vanessa berhasil menyentuh kain seragam Arka, Alea dengan sigap menepis tangan gadis itu dengan ekspresi panik seorang pedagang yang barang dagangannya hendak dicuri paksa.

​"Heh! Enak aja main pegang-pegang!" omel Alea galak, merentangkan tangannya melindungi Arka bak induk ayam.

"Kontak fisik nggak termasuk dalam paket tur reguler! Dia ini klien VIP gue hari ini. Dia udah bayar lunas tiga ratus ribu tunai! Kalau lo mau ngomong, apalagi sampai nyentuh, lo harus bayar biaya administrasi ke gue! Paham?!"

​Vanessa melongo. "Hah, lo bilang apa?! Tiga ratus ribu?! Lo gila ya, mau meressin anak baru!"

​"Siapa yang merassin, sih! Ini namanya monopoli pasar kompetitif!" Alea berkacak pinggang tak terima.

"Sekali tatap mata, sepuluh ribu! Salaman, lima puluh ribu! Minta nomor WA-nya, tarifnya seratus ribu! Minat langsung TF ke akun Dana gue ya!"

​Di belakang punggung Alea, Arka mendadak harus menahan napas. Urat halus di lehernya sedikit menonjol, pertanda betapa keras ia berjuang menekan sudut bibirnya agar tidak berkedut membentuk senyuman.

Insting membunuhnya yang sempat terpancing akibat kelancangan orang asing, kini lenyap seketika, menguap digantikan oleh rasa takjub yang luar biasa konyol. Gadis mungil di depannya ini mengomersialkan keberadaannya tepat di depan hidungnya, dan anehnya, Arka sama sekali tidak merasa marah.

​Merasa di atas angin karena Arka diam saja, Vanessa kembali memanjangkan tangannya, nekat mencoba menerobos pertahanan Alea.

"Mending lo gabung sama kita-kita aja. Nggak usah pedulikan gadis aneh ini."

​Namun, kali ini Arka tidak diam.

​Begitu jarak jari Vanessa hanya tersisa beberapa milimeter dari kulitnya, sorot mata Arka berubah drastis. Kekosongan di matanya berganti menjadi kilat tajam yang sangat gelap, pekat, dan mematikan.

Hawa dingin tiba-tiba merambat turun membekukan udara di koridor kantin. Arka hanya menatap Vanessa dalam diam, sebuah tatapan sarat ancaman tanpa suara yang biasanya sanggup membuat musuh klannya bertekuk lutut memohon ampun.

​Vanessa membeku di tempat. Tubuhnya mendadak gemetar hebat seolah suhu di sekitarnya anjlok drastis. Insting bertahannya menjeritkan peringatan untuk segera mundur. Sang primadona itu mundur dua langkah dengan wajah pucat pasi.

​Menyadari keheningan aneh itu, Alea menoleh ke belakang. Alea yang tingkat sensitivitasnya tumpul sama sekali tidak merasakan aura mematikan tersebut.

​"Tuh, kan! Klien gue aja males lihat lo karena lo nggak berani bayar charge premium!" cerocos Alea dengan logikanya yang sering error.

"Bener, kan? Lo pasti alergi disentuh sama anak-anak free trial yang nggak mau modal kayak mereka."

​Hawa dingin yang mengintimidasi itu lenyap menguap di udara. Arka menurunkan pandangannya menatap wajah Alea, memasukkan kembali sebelah tangannya ke saku celananya, lalu mengangguk pelan.

​"Hemm!" singkat Arka. Suara baritonnya mengudara dengan tenang, memecah ketegangan yang mencekik area kantin.

"Lo sebagai assiten gue, singkirkan hama-hama ini dari pandangan gue. Ingat argo Lo masih jalan!"

​Mendengar kata 'argo', mata Alea langsung berbinar-binar. Ia bertepuk tangan sekali, mengusir Vanessa dan teman-temannya layaknya mengusir lalat.

​"Denger sendiri, kan? Hus, hus! Minggir! Orang kaya mau lewat!" usir Alea tanpa dosa.

"Ayo, Bos Arka, gerobak batagor Mang Ujang sudah menanti kita di depan! Gue jamin bumbu kacangnya nggak kalah sama restoran bintang lima, yah walaupun piringnya kadang dicuci kilat pakai air bekas bilas!"

Bersambung...

1
Priskha
ayo thor jgn lama2 buka identitas Alea yg sebenarnya aq pingin lihat muka org2 yg sombong itu...
Priskha
si Lucian emosian banget ya sdh ditolongin gak ada rasa terimakasih blas yg ada malah pingin perang aja
Priskha
gila kak bahasanya ampun dech bikin ngakak smp perut kram 🤣🤣🤣
𝓛𝓾𝓷𝓮𝓻𝓲𝓪𝓷𝓮
𝚢𝚊𝚑𝚑 𝚊𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚎𝚝𝚊𝚠𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚞𝚜 𝚍𝚛𝚒 𝚝𝚍𝚒 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚎 𝚍𝚒 𝚖𝚊𝚛𝚊𝚑𝚒𝚗 𝚐𝚊𝚛𝚊 𝚐𝚊𝚛𝚊 𝚔𝚎𝚝𝚊𝚠𝚊² 𝚙𝚊𝚜 𝚖𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚖𝚊𝚕𝚊𝚖 🤣
Munas Tuti
keknyaaa bajalan seruu niii 👍
Munas Tuti
akhirnya happy end yaa
Rani Saraswaty
bukan 1 th ya? kls 3 aj
riniasyifa: hah! bagaimana kak? nih ceritanya Alea dari kelas satu dia disitu dan sekarang udah lulus berarti ia dah tga tahun dong dai SMA harapan warga🤭🤣
total 1 replies
Rima R P
mau nanya arka ini umur nya berapa thor😄
Rima R P
baru nemu novel ini sumpah lucu banget wajib baca sih ini yg baru nemu juga kaya gue🤭😄
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
seru:)🙂
neny
akhirnya happy ending,, terimakasih kak othor sdah menyuguhkan cerita yg menarik antara arka dan Alea,, sukses selalu kak othor,dan tetap semangat 💪❤️
Umi Zein
kak othor pokoke bonchap yoo🤗🤭🤭
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺: di tunggu bonchapnya 😄
total 1 replies
Umi Zein
yaah kak. kok tamat?! kan blm perang dunia 🤣🤣🤣
akhirnya manajer nikah sma bos nya
ratu diskon ketemu bos mafia 😍😍🥰
Umi Zein
sekali terbongkar kedok busuk lo. kelar hidup loe sma selingkuhan dan anak haram loe hartasengketa 😠😠
Munas Tuti
habiss nasa jayamu Adiwangsa teehormat 🤣🤣
Dewi kunti
yaaaaahhh nggak ada keseruan pas pindahan ke LN
Arw
happy ending 😍😍... akhirnya gadis pemuja diskon menikah dng boss nya. Xixixi
Munas Tuti
kapoook Hartawan...kamu gak tau kan siapa Alea hi..hi..pingin cpt liat reaksinya klo tau ternyata Alea....
neny
kuapok km hartawan,,gk ada apa2 nya km dibanding kan sm Duke,,kira2 itu siapa ya,,lucian, cassian atau Duke ya?,,jd penasaran gmn raut muka nya si hartawan klau Alea adalah anaknya mafia erofa yg paling ditakuti dan di hormati,,😄
Dewi kunti
tunggu runtuhnya kejayaanmu adiwangsa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!