Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08
Di sebuah ruangan kantor yang terlihat sangat fancy dan berkelas. Jordan kini tengah duduk di kursi kekuasannya.
"Mengapa ada yang janggal dengannya" Pria itu kembali teringat akan sosok Aurora.
"Wanita itu, kemarin juga ada di pemakaman saat siang."
***
Kemarin siang, bersama dengan Alex, Jordan pulang dari makam Maudy bersama dengan pria itu. Jordan duduk di kursi belakang, sedangkan Alex, pria itu yang mengendarai mobil, bagaikan seorang supir untuk Jordan.
"Sudahlah, ikhlaskan saja, kau masih bisa mencari penggantinya." Ucapan Alex terdengar sangat simple. Padahal bagi Jordan, hal ini tidaklah mudah.
"Kau tahu, menemukan penggantinya itu mudah. Namun mencari orang yang jujur seperti Maudy, itu yang susah." Mendengar hal itu, Alex langsung terdiam.
"Bawa aku kembali ke pemakaman!" Perkataan Jordan itu, langsung membuat Alex mengerem mobil secara mendadak.
"Hai? Kau serius Jordan? Kita hampir sampai ke kantor. Sebentar lagi ada rapat? Kau mau lepas tanggung jawab lagi?" Tanya Alex, dan dengan gampangnya. Jordan malah menjawab.
"Tinggal suruh Roy yang memimpin rapat." Mendengar hal itu, Alex hanya bisa tersenyum lesu dan memberikan pesan dadakan kepada Roy.
Kini pria itu memutar mobil, kembali pada jalan yang sempat ia lalui beberapa menit yang lalu. Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke sana.
"Sudah sampai, kau bisa turun!" Titah Alex, namun Jordan malah terpaku menatap seseorang dari kejauhan.
Terlihat dari sana, seorang wanita menangisi makam Maudy, dengan terlihat sangat pilu dan rapuh. Menangis lebih dalam dari semua orang yang tadi sempat hadir di pemakaman itu.
Alex yang melihat hal itu pun juga sama herannya dengan Jordan. Keduanya terlihat bingung, bahkan dalam ingatan Alex, tak ada satupun teman atau sahabat yang benar-benar dekat dengan Maudy. Selain wanita itu gila kerja, ia juga jauh lebih dekat dengannya dan Roy.
"Alex, kita pergi ke kantor! Saya akan kembali ke sini sore nanti." Alex pun hanya mengangguk, Jordan kini menaikkan kaca mobil.
"Siapa wanita itu? Seingatku, dia tidak pernah punya teman sedekat itu." Ucap Jordan dalam hati.
***
Kini kembali pada saat sekarang, Jordan yang semula berpikir keras tentang Aurora. Kini di buyarkan oleh Roy yang tiba-tiba saja masuk, tanpa mengetuk pintu.
"Lihat, semua dokumen ini harus di cek, ini hasil laporan penjualan produk bulan ini. Kau bisa cek sendiri, aku masih ada urusan lain." Jordan hanya mengangguki ucapan Roy.
Roy yang melihat hal itu, hanya bisa tersenyum miris. "Sekarang aku percaya jika cinta itu datang terlambat. Maudy Maudy, Andai kau lihat keadaan dia sekarang. Kau juga pasti akan ikut kesal bukan." Ujar Roy, dalam hati.
Roy kini pergi, meninggalkan ruangan Jordan. Jordan dengan semua berkas itu, mengerjakannya hingga larut malam.
Seseorang kini kembali membuka pintu, Jordan dengan senyumannya langsung mendongak. "Maudy..."
Wajahnya kini kembali datar, saat ia tahu bahwa orang itu adalah Rumero.
"Ternyata itu kau, ada apa? Saya sedang sibuk. Lakukan saja pekerjaan kantormu. Jika kau memang tidak punya pekerjaan lain, maka carilah kegiatan."
Rumero tidak mau mendengarkan ucapan Jordan, pria itu memberikan secangkir kopi panas dan menaruhnya di samping laptop Jordan.
Tak lupa, ia juga memberikan steak kesukaan pria itu.
"Kau harus makan! Roy bilang padaku, kau tidak mau makan sejak tadi pagi."
"Saya sudah makan, jika tidak percaya, tanyakan saja pada Lucia."
Rumero kini menunjukkan bukti pesan percakapannya dengan Lucia, wanita itu kini juga sama halnya dengan semua orang. Tengah merasa cemas dengan keadaan Jordan yang sekarang.
"Kau mau ngeles apa lagi? Sepupumu yang bilang padaku, kau belum makan, bahkan saat Nando mengajakmu makan siang tadi. Kau terus menolak. Ayolah, kau bukan robot. Lupakan tentang Maudy, kau bisa cari penggantinya."
Jordan yang mendengar hal itu, kini benar-benar tampak murka. Ia langsung berdiri dari kursinya. Menatap tajam Rumero, dan menarik kerah bajunya.
"Hai, ayolah, aku ini sahabatmu. Kau tidak akan memukulku kan?"
Jordan yang mendengar itu semakin menjadi-jadi, ia mengangkat tangannya. Mengarahkannya pada wajah Rumero. Namun genggaman tangan itu hanya menggantung.
Ia lantas menurunkan genggaman tangan itu, "Maaf, saya tidak bermaksud."
Rumero menepuk pundak sahabatnya, ia lalu menyodorkan steak itu.
"Kau harus makan, jika dia masih ada. Dia pasti juga merasa sangat bersalah padamu."
Jordan kini menerima steak itu, ia mengambil kopi, dan mulai meneguknya.
"Rumero, boleh minta bantuan?"
Rumero pun mengangguk, "Chil kawan, kau mau minta bantuan apa?"
"Ada satu wali murid di Tk yang sama dengan Nando, namanya Aurora. Bisa tolong kau cari tahu soal dia!"
Raut wajah Rumero kini nampak seperti tengah mengejek Jordan. "O, jadi kau langsung move on. Apa dia janda? Apa dia cantik?"
Mendengar hal itu, raut wajah Jordan langsung terlihat datar.
"Ya baiklah, akan ku cari."
***
Di sisi lain, Aurora kini tengah berada di ruang makan. Ruangan yang besar itu, serta puluhan kursi yang tertata. Hanya ada 4 orang yang berada di meja makan. Semua kursi yang lain kosong.
Dengan semua pelayan yang sudah berbarik di samping dan belakang meja makan itu.
"Aurora, Luna tadi bilang kepada Papa, ada yang ingin menculiknya. Apakah itu benar?"
Aurora pun mengangguk, Luna kini kembali menambahkan ucapan.
"Papa tahu, tadi yang sempat tolongin Luna ganteng banget loh. Cocok banget sama kakak, iya kan kak. Mau deh punya abang ganteng. Kan kak Aurora cantik, terus Kakak itu juga ganteng. Jadi cocok."
Aurora yang mendengar ucapan adiknya pun langsung tersedak.
"Uhuk Uhuk Uhuk...."
Grace yang melihat putrinya sudah keterlaluan pun langsung menegurnya, sambil mengambilkan minuman untuk Aurora.
"Rora, ini minum dulu!"
"Luna, kamu ini benar-benar ya. Kakak kamu lagi makan loh, dia juga sudah punya pacar. Lain kali jangan sembarangan berbicara."
Melihat ibunya yang berkacak pinggang, sebari menunjukkan raut wajah yang tampak garang. Membuat anak kecil itu langsung menunduk.
"Aish, sudahlah Grace. Lagi pula, sampai kapan pun. Saya tidak akan pernah setuju Aurora bersama dengan Kris." Ujar Tuan Federic sambil mencicipi makanan pencuci mulut.
"Kris? Aku pacaran dengannya? What?" Aurora langsung beranjak dari duduknya. Ia benar-benar sangat syok, dan kini langsung membatu.
Melihat Aurora yang kini tampak bingung, Grace pun membawa suaminya pergi dari ruang makan.
Grace menarik Federic, hingga ke balkon lantai 2, dan menutup pintu balkon.
"Sayang, coba jelaskan padaku? Ada apa sebenarnya ini? Mengapa dia menjadi aneh sejak kita kembali?" Tanya Federic.
Pria itu benar-benar sangat cemas dengan putrinya. Tidak biasanya ia akan bersikap seperti ini. Seperti bukan Aurora yang biasa ia kenal.
Grace kini menyuruhnya untuk duduk, dan pria itu pun menurut. Grace menghembuskan napasnya pelan. Lalu mulai menjelaskan bagaimana detailnya.
Karena wajar bagi Federic, pria itu sangat jarang berada di rumah. Semua urusan perusahaan di serahkan kepadanya.
"Aku juga batu tahu hari ini, sejak kita kembali kemarin. Para pelayan bilang, Aurora sempat terjatuh dari tangga setelah menemani Luna bermain di tangga taman."
"Sejak itu dia pingsan seharian, dan saat dia terbangun. Aurora menjadi aneh, para pelayan bilang. Dia kehilangan ingatannya."
"Maaf Federic, aku sudah mencoba menjadi ibu yang baik, namun aku tetap gagal."
Grace merasa bersalah akan hal itu, ia tahu, tak seharusnya ia meninggalkan rumah begitu saja untuk pergi berlibur.
"Ini bukanlah salahmu Grace, kau sudah melakukan yang terbaik untuk mereka."
Grace pun kembali tersenyum, "Kau tahu Federic, Aurora dari tadi, dia benar-benar baik kepadaku. Kau tahu. Dia benar-benar telah menganggapku."
Federic yang melihat hal itu benar-benar sangat senang. Kini pria itu memeluk istrinya, setelah perjalanan yang panjang. Akhirnya putrinya mau mengakui Ibu sambungnya.
Dari kaca jendela itu terlihat Jiwa Aurora. Ia menangis, merasakan haru melihat orang yang ia sayang merasa sesenang itu.
"Hal yang kecil, namun baru bisa tercapai sekarang. Ya Tuhan, terima kasih telah memberiku kesempatan. Meskipun bukan aku yang melakukannya, melihat mereka yang bahagia. Benar-benar sudah cukup membuatmu merasa lebih baik." Bayangan di kaca itu perlahan mulai menghilang.
***
Aurora kini tampak sangat kesal dengan adiknya, begitupun Luna yang menunjukkan wajah cemberut kepada sang kakak.
"Kenapa kau benar-benar membuatku kesal bocah kecil?" Ucap Aurora, dengan wajahnya yang ketus.
"Apa salahnya, aku lebih suka kau dengan kakak tampan yang itu, bukan yang biasa kemari dan malah kau yang memberikan uang. Dengar ya Kakakku sayang, meskipun umurku masih 4 tahun. Tapi aku tahu mana yang baik dan jahat." Luna menjulurkan lidahnya, sebari berkacak pinggang. Lalu setelah itu langsung berlalang pergi.
Wajah Aurora seketika datar, "Baru kali ini, aku melihat keluarga sekacau ini. Benar-benar seperti di sinetron."
"Aurora, kau ini sebenarnya berpacaran dengan orang seperti apa sih? Sampai anak sekecil itupun tahu bahwa pacarmu itu jahat?"
Bersambung...