NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GORESAN DI UJUNG SENJA

Beberapa minggu telah berlalu sejak sore berurai air mata di bangku taman sekolah itu—hari di mana Yuki pertama kali mengetahui bahwa Akira akan pergi jauh ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Pengakuan yang mendadak itu sempat menyisakan luka dan benteng canggung yang cukup tebal di antara mereka. Selama berhari-hari, mereka melangkah bagai dua orang asing yang terjebak dalam rasa bersalah dan kesedihan masing-masing.

Namun, waktu tidak pernah berhenti menunggu siapa pun. Ujian sekolah yang menyita seluruh energi dan pikiran akhirnya resmi usai. Semester pun udah usai, menandakan masa-masa akhir mereka di bangku SMA bakal selesai. Setelah melewati minggu-minggu yang melelahkan dengan jadwal belajar yang begitu padat, para siswa kini bisa sedikit bernapas lega. Pengumuman dimulainya kembali kegiatan ekstrakurikuler disambut riuh oleh murid-murid yang sudah mendambakan ruang untuk melepas penat.

Di sudut lantai dua bangunan sekolah, ruang ekskul Seni dan Fotografi yang sempat sepi berdebu kini kembali menampakkan keramaian tipis. Suara gesekan kuas di atas kanvas, denting alat-alat lukis yang bersentuhan dengan meja kayu, serta suara tawa beberapa anggota ekskul lain memecah keheningan sore yang hangat.

Di sudut ruangan dekat jendela terbuka, Yuki berdiri tegap di depan kanvas besarnya. Jemarinya yang ramping memegang palet kayu yang sudah dipenuhi oleh lingkaran warna cat minyak. Ia memegang kuas dengan grip yang erat, mengayunkannya ke kanvas dengan fokus yang luar biasa emosional.

Setiap usapan warna biru gelap, jingga pekat, dan merah keemasan seolah menjadi pelampiasan atas segumpal perasaan yang membendung di dadanya. Rasa cemas, ketakutan akan kehilangan sosok yang paling berarti, hingga kerinduan mendalam yang belum sempat terucap—semuanya ia tumpahkan ke atas kain kanvas tersebut. Aroma tiner yang menyengat bercampur harum khas cat minyak sama sekali tak mengganggu konsentrasinya. Bagi Yuki saat ini, melukis adalah satu-satunya cara agar kepalanya tidak meledak memikirkan perpisahan yang kian dekat.

Tak jauh dari sana, berdiri di dekat lemari penyimpanan peralatan, Akira mematung memperhatikan Yuki. Di lehernya terpaut kamera SLR milik ekskul, namun matanya sama sekali tidak tertuju pada lensa. Sejak setengah jam yang lalu, fokusnya hanya tercurah pada gerak-gerik gadis di depannya. Pemandangan langit senja yang sedang dilukis Yuki terlihat begitu menawan, tetapi ekspresi wajah Yuki yang begitu tegang membuat dada Akira terasa sesak.

Akira menggenggam dua botol minuman dingin di tangannya. Ia menghela napas panjang, berusaha membuang rasa ragu dan membulatkan keberanian untuk menghampiri Yuki. Ada jeda kecanggungan yang berat di setiap langkah kakinya, mengingat bagaimana dinginnya hubungan mereka dalam beberapa minggu terakhir pasca pertengkaran di bangku taman sekolah.

Perlahan tapi pasti, Akira melangkah mendekat. Tanpa mengucap sepatah kata pun agar tidak mengejutkan Yuki, ia menyodorkan salah satu botol minuman dingin itu dan menempelkannya pelan ke pipi mulus Yuki.

Yuki tersentak kaget. Sensasi dingin yang tiba-tiba menyentuh kulit pipinya membuat gerakan kuasnya terhenti seketika. Ia menoleh dengan mata melebar, mendapati Akira yang sedang menatapnya sambil melempar senyuman tipis yang agak canggung.

"Istirahat dulu, Yuki. Dari tadi kamu tidak berhenti menggerakkan kuas," ucap Akira pelan.

Yuki mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menghela napas pasrah. Ia menerima botol dingin itu dari tangan Akira, membukanya, lalu meminumnya beberapa teguk untuk menenangkan kerongkongannya yang mendadak terasa kering.

"Aku cuma mau menyelesaikan bagian langitnya sebelum warnanya mengering," sahut Yuki pelan, menyapu keringat tipis di pelipisnya menggunakan lengan bajunya.

Akira kini mengalihkan pandangannya penuh pada lukisan di depan mereka. Lukisan senja itu sungguh luar biasa mendalam. Di sana tergambar langit sore yang dramatis, lengkap dengan detail burung-burung kecil yang terbang melintasi rona keemasan. Nampak jelas betapa besarnya emosi yang dituangkan Yuki di sana.

Dengan gerakan yang hati-hati, Akira mengambil sebuah kuas kecil yang bersih dari meja. Ia mencelupkan ujungnya ke cat minyak warna pekat, lalu menyeberangkan tangannya menembus ruang antara tubuh mereka untuk menambahkan sedikit bayangan samar pada bagian bawah lukisan Yuki.

Sentuhan kecil itu seketika memecah dinding kekakuan yang membeku di antara mereka. Suasana canggung yang pekat perlahan meleleh, berganti menjadi kedamaian yang tenang. Lukisan indah di depan mereka seolah menjadi tempat berkumpulnya dua jiwa yang sempat menjauh.

Saat Yuki kembali memegang kuasnya untuk menyempurnakan garis lukisan, percakapan mendalam yang selama ini mereka hindari akhirnya mengalir dengan sendirinya.

"Sisa waktu kita sebelum kamu berangkat... benar-benar tinggal sedikit lagi, kan?" tanya Yuki lirih. Matanya tetap menatap kanvas, namun jemarinya tampak sedikit bergetar saat mencampur warna cat.

Mereka mulai membicarakan realitas yang sebentar lagi harus dihadapi. Tentang apa yang akan terjadi ketika jarak beribu-ribu kilometer membentang di antara mereka berdua.

"Selisih waktunya memang cuma beberapa jam, Akira. Tapi perbedaan jadwal kita yang bikin aku takut," bisik Yuki dengan suara yang mendadak amat lembut dan rapuh. "Kamu bakal disibukkan dengan kuliah mu yang padat di sana. Sementara aku... jadwal pemotretan modeling dan persiapan masuk universitas di sini makin tidak menentu. Bagaimana kalau komunikasi kita berantakan? Bagaimana kalau kita jadi makin asing dalam hitungan tahun?"

Rentang waktu bertahun-tahun yang harus mereka lalui tanpa bisa bertatap muka secara langsung menjadi ketakutan terbesar yang menghantui pikiran Yuki selama beberapa minggu terakhir ini.

Akira mendengarkan setiap keluh kesah Yuki dalam hening. Ia meletakkan kuasnya kembali ke meja, lalu melangkah lebih dekat hingga berdiri tepat di samping gadis itu. Akira menatap mata Yuki dengan penuh kesungguhan dan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Jaraknya memang jauh, Yuki. Beribu kilometer dan butuh jam penerbangan yang lama," suara Akira terdengar amat mantap. "Tapi perasaanku tidak akan berubah sedikit pun. Aku berjanji akan selalu menyempatkan memberi kabar, sekecil apa pun itu. Saat liburan semester nanti, aku pasti akan langsung pulang untuk menemuimu. Kita akan melewati ini bersama-sama."

Yuki menatap mata Akira yang kini berbinar yakin. Tak ada lagi keraguan di sana. Pelan-pelan, Yuki menurunkan kuas dan paletnya ke atas meja. Lukisannya akhirnya selesai. Ia berdiri lalu melangkah pelan menuju jendela besar ruang ekskul, menatap ke luar pada langit nyata yang kian memerah dihiasi rona senja keemasan.

Akira berjalan menyusul, berdiri tepat di samping Yuki lalu meraih jemari gadis itu dan menggenggamnya erat-erat. Kehangatan telapak tangan Akira menyalurkan rasa aman yang sempat hilang selama beberapa minggu terakhir. Bahu Yuki yang tadinya tegang kini perlahan merileks sepenuhnya.

"Sisa waktu kita memang tidak banyak lagi di sekolah ini," usik Yuki pelan, menatap langit sore yang warnanya begitu mirip dengan lukisannya.

Akira mempererat genggamannya, tak mau menyia-nyiakan satu detik pun. "Iya. Tapi alih-alih meratapi sisa hari yang makin menipis, aku mau kita menikmati setiap detiknya. Tanpa ada lagi yang harus disembunyikan, tanpa ada rasa canggung."

Yuki menoleh, mendapati sepasang mata Akira yang menatapnya lurus. Rasa sesak yang membendung di dadanya seketika menguap digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tawa kecil yang sangat dirindukan Akira akhirnya lolos dari bibir manis gadis itu.

Ia memiringkan kepalanya, menatap bayangan burung-burung di lukisannya yang kini terlihat makin hidup berkat sentuhan kuas Akira tadi.

"Kamu benar-benar payah soal melukis, Akira," goda Yuki dengan nada bercanda. "Tapi bayangan yang kamu tambahkan tadi... ternyata tidak buruk juga. Bikin lukisannya terasa lengkap."

"Itu bukti kalau lukisanmu memang butuh sentuhanku," balas Akira terkekeh canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sama seperti kita. Sendiri-sendiri mungkin terasa sepi, tapi kalau digabungkan, hasilnya bisa jadi indah."

Yuki tersenyum tulus—sebuah senyuman penuh keikhlasan yang membuat beban di pundak Akira terangkat seketika. Yuki tahu, jalan di depan tak akan mudah. LDR, perbedaan waktu, serta kesibukan masing-masing pasti akan menjadi ujian yang berat. Namun, melihat komitmen Akira hari ini, ketakutan itu mendadak mengkerut menjadi kecil.

Ia menyandarkan kepalanya perlahan di bahu kokoh Akira, meresapi aroma familiar dari jaket cowok itu dan hangatnya hembusan napas di samping telinganya.

"Janjilah padaku satu hal, Akira," bisik Yuki lirih di tengah deru angin sore.

"Apa pun itu."

"Jangan pernah menahan diri untuk bercerita kalau kamu merasa kesulitan di sana nanti. Kalau kamu capek, kesepian, atau tertekan... bagi itu semua denganku. Jangan menanggungnya sendiri lagi seperti soal beasiswa kemarin."

Akira tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia menunduk dan mencium puncak kepala Yuki dengan penuh kelembutan, membiarkan keheningan senja membungkus janji manis di antara mereka.

"Aku janji, Yuki. Aku tidak akan memendamnya sendiri lagi."

Di balik jendela ruang ekskul yang mulai meredup, mereka berdua merapikan cat dan peralatan lukis bersama-sama. Ketika mereka melangkah keluar menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi, jemari mereka tetap bertaut erat. Di bawah naungan langit sore yang kian memerah, mereka berdua siap menghadapi sisa hari yang tersisa—menyambut perpisahan dengan keberanian yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!