Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Pertemuan Dua Pohon Legendaris
Suara lembut namun sarat akan kesepian terdengar bergema dari batang pohon kuno itu, seakan datang dari kedalaman masa yang tak terhitung lamanya.
"Selama hidup yang begitu panjang, dari enam sosok yang lahir bersama dunia ini, kini hanya aku yang tersisa sendirian. Dan hari ini... aroma salah satu sahabatku kembali hadir di sini. Anak muda, katakanlah dengan jujur — apakah kau sungguh membawa pesan dari sahabatku itu?"
Riu Han tersenyum tulus, tidak sedikit pun terganggu oleh keraguan dalam suara itu. "Yang terhormat Tuan, saat pertama kali kami bertemu, sahabat Anda itu berada dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Namun ia belum binasa. Sebagai Pohon Sumber, kehidupan itu tidak mudah musnah, bukan? Aku menyelamatkan benihnya, merawatnya, dan membawanya bersamaku sejak saat itu. Ia masih hidup, tumbuh, dan perlahan bangkit kembali."
Pohon itu bergetar pelan, seakan menahan napas. "Kata-katamu... dapatkah aku mempercayainya?"
Daripada menjelaskan panjang lebar, Riu Han hanya mengulurkan tangan. Ia menyalurkan energi murni dari Pohon Sumber yang kini tinggal di dalam dirinya — kehangatan yang menenangkan, cahaya yang lembut namun hidup, aroma kehidupan yang tak mungkin disalahartikan oleh siapa pun, apalagi oleh sahabat lamanya sendiri. Saat energi itu menyentuh batang kayu tua itu, seolah ada guntur halus yang berdentang di keheningan. Seluruh tubuh Pohon Pencerahan bergetar hebat, daun-daunnya berkilauan, dan cahaya tujuh warna pelangi menyebar ke sekelilingnya.
"Ini... energi itu..." suara itu bergetar, kini bercampur takjub dan kerinduan yang mendalam. Ia menatap Riu Han dengan pandangan yang berubah. "Anak muda... apa sebenarnya yang kau cari dariku?"
Ia tahu tujuan kedatangan pemuda ini — tidak ada yang datang sejauh ini tanpa maksud. Namun di balik pertanyaan itu, tersimpan harapan yang tak ia sembunyikan.
Riu Han menundukkan kepala, memberi penghormatan yang tulus. "Tuan, izinkan aku mengajak Anda pergi dari sini. Tempat ini sunyi, sepi, dan pasti lama-kelamaan membosankan. Di tempat tinggalku — di dalam Cincin Ruang — terdapat sebuah taman yang subur. Di sanalah Pohon Sumber berada. Ia masih muda, masih memulihkan diri, dan ingatannya belum sepenuhnya kembali. Kehadiran Anda di sisinya mungkin akan mempercepat proses itu, membantunya tumbuh dan mengingat kembali siapa dirinya seutuhnya."
Pohon Pencerahan terdiam sejenak, lalu bertanya dengan tenang, "Jika aku ikut... apa yang harus kuberikan, dan apa yang akan kauperoleh?"
Riu Han tersenyum terbuka. "Aku akan jujur kepada Anda. Tentu, buah yang Anda hasilkan adalah anugerah yang tak ternilai — dan aku mengakuinya. Namun aku tidak akan memeras Anda, tidak akan mengambil paksa apa yang bukan hakku. Pertama-tama, kehadiran Pohon Sumber sendiri sudah membawa manfaat bagi Anda. Kedua, di sana juga terdapat Sumber Air Bumi dan Cairan Inti Bumi — dua hal yang penuh energi murni, tempat yang layak bagi Anda untuk tumbuh dan berkembang. Kita saling menguntungkan, Tuan."
Pohon itu mendengarkan dengan saksama. Sebenarnya, sejak pertama kali merasakan kehadiran pemuda ini, ia sudah mulai percaya. Pohon Sumber bukanlah makhluk yang mudah tunduk pada kekuatan atau terpikat oleh kata-kata manis. Ia memilih seseorang bukan karena kekuatannya, melainkan karena hatinya — sifat yang tulus, bertanggung jawab, dan penuh kasih sayang. Dan dari cara Riu Han berbicara, cara ia memperlakukan segala sesuatu di sekitarnya, Pohon Pencerahan dapat melihat dengan jelas: pemuda ini adalah orang yang baik.
"Baiklah," suara itu terdengar mantap dan tenang. "Aku percaya padamu."
Riu Han yang baru saja hendak menjelaskan lebih lanjut tertegun, mulutnya terbuka sedikit, lalu ia tertawa lepas. "Hahahaha! Baiklah, Tuan! Mari kita pergi. Jangan menahan diri dengan kekuatan sendiri — biarkan aku yang membawamu."
Dengan lembut, Riu Han mengarahkan energi penyerapan ke arah Pohon Pencerahan. Pohon itu tidak menolak, tidak pula melawan. Perlahan cahayanya memancar terang, wujudnya mengecil, dan masuk ke dalam Cincin Ruang dengan tenang, seakan pulang ke rumah yang telah lama ia rindukan.
Sesampainya di dalam, Riu Han membawanya langsung ke taman tempat Pohon Sumber tumbuh. Saat Pohon Pencerahan diletakkan di atas tanah yang subur, udara di sekitar mereka berubah seketika. Pohon Sumber yang dulu tampak tenang kini bergetar hebat, ranting-rantingnya menjulur ke arah sahabat lamanya, memeluk batang Pohon Pencerahan dengan lembut namun penuh rindu. Daun-daun keduanya berdesir riang, seakan saling menyapa, saling memeluk, saling menceritakan ribuan tahun perpisahan yang akhirnya berakhir.
Melihat pemandangan itu, mata Riu Han berkaca-kaca. Ia mundur perlahan, memberi ruang bagi mereka berdua. Setelah keheningan yang penuh kebahagiaan itu berlalu, Pohon Pencerahan menanam akarnya ke dalam tanah yang subur, menghirup udara yang bersih dan segar, merasakan energi yang mengalir di mana-mana. Ia merasa damai — jauh lebih damai daripada di tempat yang sunyi dan sepi selama ini.
Kedua pohon itu berdiri berjarak sepuluh meter satu sama lain, seakan saling menghormati namun tetap dekat. Tinggi Pohon Pencerahan kini sama dengan Pohon Sumber — lima belas meter, wujud yang pas untuk masa pertumbuhan mereka. Kulit kayunya bersinar keemasan, buah-buahan kecil yang berwarna pelangi mulai terlihat menggantung di dahan-dahannya, memancarkan cahaya lembut yang menenangkan seluruh taman.