NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Kodok yang Ternyata Naga

Langkah Bella terhenti.

Reno yang berjalan di belakangnya hampir menabrak punggungnya. "Kenapa?"

Bella tidak menjawab. Di meja utama, Arya sedang berbicara dengan Sutradara Wira. Anindya duduk di sampingnya, cukup dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Tak seorang pun di meja itu memperlakukan Arya sebagai orang luar.

"Kita ke sana," kata Reno.

Ia meletakkan tangan di punggung Bella dan mendorongnya maju. Kotak hadiah besar dibawa seorang staf di belakang mereka. Beberapa tamu mengenali Bella dan memberi salam, membuat kepercayaan diri Reno pulih.

Wira melihat mereka mendekat. Senyumnya memudar satu tingkat.

"Selamat ulang tahun, Pak Wira." Bella membungkuk sopan. "Terima kasih atas semua bimbingan Bapak selama film terakhir."

"Terima kasih sudah datang, Bella."

"Kami membawa sedikit hadiah."

Staf membuka kotak untuk memperlihatkan sebuah jam meja antik. Wira hanya melirik.

"Taruh di meja penerimaan. Saya tidak membuka hadiah malam ini."

Nada suaranya tidak kasar, tetapi terlalu datar untuk seorang aktris yang pernah ia pilih sebagai pemeran utama. Bella merasakan penolakan itu dan merapatkan jari di depan tubuh.

Reno maju satu langkah. "Pak Wira, mungkin Bapak belum mengenal saya. Reno Halim, Grup Sinema Halim."

Beberapa orang menoleh. Nama Halim tetap memiliki bobot. Jaringan bioskop mereka menentukan jumlah layar bagi banyak film lokal.

Wira mengulurkan tangan. "Saya kenal ayah Anda. Apa kabar Pak Hendra?"

"Sangat baik. Papa sering membicarakan peluang memperluas layar untuk film Bapak berikutnya."

"Bagus. Urusan jadwal bisa dibicarakan tim distribusi."

Reno menafsirkan jawaban netral itu sebagai pintu. Ia memanggil pelayan, mengambil dua gelas, lalu mengajak Bella ke tengah ruangan ketika musik berubah.

"Pak Wira," katanya, "izinkan kami memberi satu tarian untuk tuan rumah."

Wira tidak tertarik, tetapi banyak mata sudah memandang. Ia mengangguk singkat. "Silakan."

Bella menari bersama Reno. Gerakannya indah karena bertahun-tahun berlatih untuk kamera, tetapi matanya beberapa kali kembali ke meja Arya. Mantan suaminya bahkan tidak tampak cemburu. Ia mendengarkan Anindya menjelaskan jadwal tes kamera, lalu menambahkan sesuatu yang membuat Wira mengangguk.

Setelah musik berhenti, tepuk tangan sopan terdengar.

Reno merasa panggung telah kembali kepadanya.

Ia mengantar Bella ke tepi lantai, lalu mengambil gelas. Alih-alih kembali ke kursi, ia berdiri di dekat Anindya.

"Bu Anindya, kita belum sempat berkenalan dengan baik di Dukcapil."

"Kita sudah cukup berkenalan," jawab Anindya.

"Hubungan PE dan Grup Sinema Halim akan sering bersinggungan. Bagaimana kalau kita bertukar nomor pribadi? Lebih efisien daripada lewat staf."

Anindya mengangkat pandangan. "Urusan perusahaan saya melalui sekretariat."

"Saya hanya ingin berteman."

"Saya tidak."

Jawaban itu jatuh bersih di tengah meja. Seorang produser menunduk menyembunyikan senyum.

Reno membeku, lalu tertawa seolah penolakan tersebut lelucon. "Bu Anindya terlalu serius. Saya dengar pernikahan Anda hanya pengaturan saham. Tidak perlu menjaga perasaan seseorang yang..."

"Cukup," kata Arya.

Reno menoleh. "Gue enggak bicara sama lo."

Arya tetap duduk. "Kamu berdiri di depan istri saya, meminta nomor setelah ditolak, lalu membicarakan pernikahan kami. Sekarang kamu bicara dengan saya."

Beberapa tamu mulai mendekat. Ketegangan di meja utama lebih menarik daripada musik.

Reno tertawa lebih keras. "Istri? Lo baru seminggu numpang nama Adiwangsa, sudah berani main suami terhormat? Semua orang tahu lo siapa. Mantan benalu Bella yang sekarang pindah menggantung ke perempuan lebih kaya."

Bella menarik lengan Reno. "Sudah. Kita kembali ke meja."

"Kenapa? Takut mantan suami lo malu?"

"Reno."

Ia mengibaskan tangan Bella. Alkohol dan penolakan Anindya merusak lapisan sopannya.

"Lihat dia," kata Reno kepada orang-orang di sekitar. "Dulu hidup dari istri. Sekarang muncul pakai jas, duduk di meja utama, seolah jadi naga. Padahal tetap kodok buduk yang kebetulan melompat ke kursi orang kaya."

Tawa terdengar dari dua tamu yang tidak memahami situasi. Yang lain memilih diam.

Arya mengambil gelas air dan minum satu teguk. Tidak ada perubahan pada wajahnya.

Reno mengira diam itu ketakutan.

"Apa? Enggak berani jawab? Atau tunggu istri baru lo membela?"

Anindya hendak berdiri, tetapi Arya meletakkan dua jari di meja dekat tangannya, bukan menyentuh, hanya memberi isyarat agar ia menunggu.

"Kamu selesai?" tanya Arya.

"Belum. Gue..."

Brak!

Sutradara Wira menaruh gelas begitu keras hingga isinya tumpah ke taplak putih.

Seluruh ruangan senyap.

"Saya mengundang orang ke rumah ini untuk merayakan ulang tahun," katanya. "Bukan untuk mendengar tamu menghina tamu lain."

Reno segera menurunkan nada. "Pak Wira, ini urusan pribadi. Saya hanya..."

"Urusan pribadi tidak memberi Anda hak mengganggu Bu Anindya setelah ditolak."

"Mungkin Bapak tidak tahu hubungan dia dengan Bella."

"Saya tahu lebih banyak daripada yang Anda kira."

Wira berdiri. Usianya lebih dari enam puluh, tetapi wibawa puluhan tahun memimpin lokasi syuting membuat para staf bergerak bahkan sebelum diperintah.

"Silakan tinggalkan Graha Swarna."

Wajah Reno memucat. "Pak Wira, saya Reno Halim. Film Bapak masih membutuhkan layar Grup Sinema Halim."

"Jadwal layar dibahas tim profesional berdasarkan kontrak dan penonton. Bukan dibagikan oleh anak pemilik kepada siapa pun yang mau memberinya nomor telepon."

Beberapa orang menahan napas.

Reno mencoba tersenyum. "Saya yakin Papa bisa menjelaskan..."

"Kalender penayangan bukan milik Anda seorang," potong Wira. "Dan saya tidak membuat film selama empat puluh tahun untuk diancam di acara ulang tahun saya sendiri."

Ia menoleh kepada petugas keamanan. "Antar Mas Reno dan Mbak Bella keluar. Pastikan hadiah mereka dikembalikan."

Dua petugas mendekat. Tidak kasar, tetapi posisi mereka menutup semua pilihan selain pintu.

Tawa yang tadi diarahkan kepada Arya lenyap. Mata para tamu kini tertuju pada Reno. Putra pemilik jaringan bioskop itu berdiri dengan wajah merah, gelas masih di tangan, dan tak satu pun koneksi yang ia banggakan berani maju menolong.

Arya bahkan belum bangkit dari kursi.

Ia hanya memandang Reno dengan ketenangan yang jauh lebih menghina daripada makian.

"Silakan," kata petugas.

Bella menahan air mata. Ia memandang Wira. "Pak, apa kesalahan saya? Sejak tadi Bapak bersikap seolah tidak mengenal saya. Kalau ada hal yang saya lakukan, tolong katakan."

Wira menatapnya lama. Kemarahan di wajahnya mereda, digantikan kekecewaan.

"Pulang dan pikirkan sendiri, Bella. Ingat siapa yang datang ketika orang yang membesarkannya meninggal, dan siapa yang tidak."

Wajah Bella kehilangan warna.

Ia menoleh kepada Arya, tetapi Arya sudah mengalihkan pandangan. Kalimat Wira cukup. Ia tidak membutuhkan pengakuan atau permintaan maaf di depan penonton.

Reno meraih tangan Bella. "Ayo. Jangan memohon kepada mereka."

"Tapi Pak Wira..."

"Ayo!"

Mereka berjalan menuju pintu diapit petugas keamanan. Kotak hadiah besar dibawa tepat di belakang, menjadi iring-iringan malu yang dilihat seluruh ruangan.

Begitu pintu menutup, percakapan belum langsung kembali. Semua orang menunggu reaksi Arya.

Arya mengambil serbet dan menyerap air yang tumpah di dekat tempat duduk Wira.

"Om merusak taplak sendiri," katanya. "Jangan tagih saya."

Wira mendengus, lalu tertawa. Ketegangan pecah. Tamu-tamu kembali ke tempat masing-masing, tetapi cara mereka memandang Arya telah berubah.

Seorang pemilik jaringan bioskop kecil yang tadi ikut tertawa menghampiri meja. Wajahnya canggung.

"Pak Arya, saya minta maaf. Tadi saya tidak memahami situasinya."

Arya mengangkat mata. "Anda tertawa karena ucapan Reno lucu atau karena mengira saya tidak bisa membalas?"

Pria itu membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Tidak perlu menjawab," lanjut Arya. "Saya juga tidak perlu permintaan maaf yang lahir setelah petugas keamanan datang. Duduklah. Nikmati acaranya."

Pria itu membungkuk dan mundur. Penolakan tenang tersebut terdengar sampai meja terdekat. Kini orang-orang memahami bahwa Arya tidak hanya dilindungi Wira. Ia juga mengingat siapa yang ikut menendang ketika mengira dirinya berada di bawah.

Wisnu datang membawa gelas baru untuk Wira. "Kau terlalu keras pada anak Hendra."

"Kalau ayahnya tidak mengajarinya etika, pintu saya yang mengajar," balas Wira.

Wisnu memandang Arya. "Dan kau terlalu diam."

"Om Wira sedang berulang tahun. Saya tidak mau mengambil panggung."

"Kau yakin?"

"Kalau saya mengambilnya, malam ini berakhir lebih cepat."

Senyum Wisnu menipis. Hanya ia, Wira, dan Anindya yang berada cukup dekat untuk mendengar ancaman di balik suara santai itu.

"Anak sekarang," kata Wira sambil menerima gelas. "Selalu membuat orang tua bekerja."

Di meja lain, beberapa eksekutif mulai mengirim pesan kepada staf masing-masing, meminta profil lengkap Arya Bimasakti Adiwangsa sebelum pagi. Satu penghinaan telah berbalik menjadi iklan paling mahal: seluruh ruangan kini ingin tahu mengapa Wira dan Wisnu berdiri di sisi lelaki yang disebut kodok.

Anindya duduk perlahan. "Anda tahu Pak Wira akan membela?"

"Saya tahu Reno akan terus bicara sampai menemukan lubang untuk jatuh."

"Dan kalau Pak Wira diam?"

Arya menoleh kepadanya. "Saya tidak akan."

Jawaban itu singkat. Anindya tak perlu bertanya apa yang akan ia lakukan. Untuk pertama kalinya, rasa aman muncul bukan dari nama Adiwangsa atau jumlah petugas keamanan, melainkan dari ketenangan pria di sebelahnya.

Wira membuka agenda di ponselnya. "Tiga hari lagi, pukul sepuluh. Studio dua. Bawa kedua artis itu."

"Kami datang," jawab Anindya.

"Dan kau," Wira menunjuk Arya, "jangan berpakaian seperti tukang kebun."

"Tidak janji."

Di luar Graha Swarna, Reno menepis tangan petugas dari lengannya. Hujan tipis menyambut di halaman. Kotak hadiah diletakkan di bagasi mobil seperti barang yang ditolak toko.

Bella masuk ke kursi penumpang dengan mata merah. Selama beberapa menit, hanya suara mesin dan wiper yang terdengar.

"Pak Wira tahu soal Nenek Ratna," katanya akhirnya. "Dari siapa?"

"Dari Anindya," jawab Reno cepat. "Siapa lagi? Dia pasti menyelidiki lo dan menghasut Wira untuk mempermalukan kita."

"Arya juga ada di sana."

"Nah. Mereka bekerja sama. Arya dendam karena lo memilih gue, lalu memakai istri barunya untuk menutup pintu industri."

Bella menatap lampu jalan yang bergerak di kaca. Penjelasan itu terasa masuk akal hanya karena alternatifnya lebih menyakitkan: Wira mungkin benar-benar kecewa kepadanya.

Reno mencengkeram kemudi. Urat di tangannya menonjol.

"Mereka kira satu pesta membuat gue kalah?" desisnya. "Ini belum selesai."

Ia menekan pedal gas.

"Besok keluarga Halim mulai membalas."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!