NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:159
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Sang Jenderal

Hujan turun ketika mobil Sekar memasuki jalan berkelok menuju Puncak.

Dalam beberapa menit, kabut menutup lereng dan air mengalir deras di permukaan aspal. Ningsih memperlambat kendaraan. Mereka baru melewati satu tikungan tajam ketika suara benturan terdengar dari depan.

Sebuah mobil hitam tergelincir melintang. Bagian depannya menabrak pembatas, sedangkan roda belakang kiri menggantung di sisi lereng. Orang-orang berhenti, tetapi kebanyakan berdiri di bawah payung sambil mengangkat ponsel.

"Telepon layanan darurat dan ambulans," kata Sekar.

"Mbak mau ke mana?"

Sekar sudah membuka pintu. "Ada anak di dalam."

Ia berlari menembus hujan. Mobil yang rusak mengeluarkan bunyi logam berderit setiap kali orang di dalam bergerak.

Seorang anak perempuan menangis di kursi belakang. Darah mengalir dari lengannya. Di sampingnya duduk anak laki-laki yang lebih besar, diam kaku dengan sabuk pengaman masih terpasang. Seorang perempuan lanjut usia terjepit di kursi depan, sedangkan pengemudi membungkuk di atas kemudi.

"Jangan bergerak dulu!" seru Sekar. "Saya akan membantu."

Pintu belakang kanan penyok, tetapi masih bisa dibuka beberapa sentimeter. Dua pengendara motor akhirnya mendekat setelah Sekar meminta mereka menahan bodi mobil dari sisi jalan.

"Ningsih, minta orang menjauh dari belakang mobil. Jangan ada yang berdiri di sisi lereng."

Anak perempuan itu terisak. "Ayah..."

"Namamu siapa?"

"Nala."

"Nala, lihat Bunda..." Sekar berhenti. Ia bukan ibu anak itu. "Lihat saya. Namaku Sekar. Kita akan keluar pelan-pelan."

Nala mengangguk sambil menangis.

Sekar menyelipkan tubuh melalui celah pintu dan melepaskan sabuk pengaman. Ia memeriksa bahwa kaki anak itu tidak terjepit, lalu meminta seorang perempuan di luar menerima Nala. Luka pada lengan ditutup dengan kain bersih dari kotak P3K mobil Sekar dan ditekan perlahan.

"Sekarang kakakmu," kata Sekar.

Anak laki-laki itu tidak menjawab. Matanya terpaku pada jurang di balik kaca pecah. Kedua tangannya mencengkeram sabuk sampai putih.

"Namamu Bimo, ya?" Nala tadi memanggilnya sekali.

Tidak ada jawaban.

Sekar berjongkok sejajar dengan wajahnya. Hujan mengalir dari rambut ke pipinya.

"Bimo, dengarkan saya. Kamu tidak perlu melihat ke luar. Lihat tangan saya."

Ia mengangkat telapak tangan di antara wajah anak itu dan jendela.

"Tarik napas pelan. Satu kali saja."

Dada Bimo bergerak tersentak.

"Bagus. Sekarang satu lagi."

Setelah napas ketiga, jari anak itu mulai longgar. Sekar menunjukkan tombol sabuk pengaman.

"Saya akan membukanya. Setelah itu kamu pegang bahu saya. Jangan berdiri sendiri."

Bimo akhirnya menatapnya. "Eyang?"

"Kami juga akan menolong Eyang. Kamu harus keluar dulu supaya petugas punya ruang."

Anak itu menurut. Saat kakinya menyentuh aspal, mobil kembali berderit. Bimo membeku, lalu mencengkeram pakaian Sekar.

"Jalan ke arah Ningsih. Jangan lepaskan sampai dia memegangmu."

Sekar kembali ke sisi depan. Perempuan lanjut usia itu masih sadar.

"Anak-anak?" tanyanya lemah.

"Sudah aman, Eyang. Jangan gerakkan leher. Ambulans sedang datang."

"Sopir kami..."

Ningsih memeriksa dari pintu lain. "Dia bernapas. Ada luka di kepala."

Bunyi sirene terdengar jauh. Namun roda mobil bergeser lagi, mengikis batu di tepi lereng.

Petugas pertama yang tiba memasang tali penahan pada bagian belakang kendaraan. Setelah mobil stabil, mereka membuka pintu depan dengan alat dan memindahkan Eyang Darmi memakai penyangga leher. Pengemudi dikeluarkan berikutnya.

Sekar baru menyadari kedua lututnya gemetar ketika Nala memeluk pinggangnya.

"Jangan pergi," pinta anak itu.

"Saya di sini sampai ayahmu datang."

Suara mesin beberapa kendaraan mendekat dari arah bawah. Dua mobil dinas berhenti di belakang ambulans. Seorang lelaki berseragam TNI turun sebelum pintunya terbuka penuh.

Tubuhnya tinggi, langkahnya cepat, dan wajahnya begitu tegang hingga orang-orang otomatis membuka jalan.

"Bimo! Nala!"

Nala melepaskan Sekar dan berlari. "Ayah!"

Lelaki itu berjongkok, memeluk kedua anak sekaligus, lalu memeriksa wajah dan tangan mereka dengan gerakan terlatih. Seorang perwira lain yang datang bersamanya langsung berbicara dengan petugas penyelamat.

"Ayah terlambat," isak Nala.

Wajah lelaki itu menegang, tetapi ia tidak membela diri. "Iya. Ayah terlambat. Maafkan Ayah."

Ia mencium puncak kepala Nala, lalu mengulurkan tangan kepada Bimo. Anak laki-laki itu tidak memeluknya, hanya menempelkan dahi ke bahu ayahnya selama beberapa detik. Arka tidak mendesak. Ia tetap berjongkok sampai Bimo sendiri mundur.

Sekar memperhatikan dari samping. Seorang lelaki yang mampu mengakui keterlambatan kepada anak kecil terasa asing setelah bertahun-tahun hidup bersama orang yang selalu mencari pihak lain untuk disalahkan.

"Komandan, Eyang Darmi sadar dan sudah masuk ambulans," lapor Letkol Yudha. "Sopir juga tertangani."

Lelaki itu mengangguk, kemudian menatap Sekar.

Gaun sederhana Sekar basah sampai lutut. Tangannya terkena darah Nala dan telapak kirinya lecet. Ia pasti terlihat kacau, tetapi tatapan lelaki itu tidak mengandung penilaian. Hanya perhatian penuh yang tajam.

"Anda yang mengeluarkan mereka?" tanyanya.

"Saya dibantu banyak orang. Nala luka di lengan, sudah ditekan dengan kain bersih. Bimo tidak tampak terluka, tapi sempat sangat syok. Jangan paksa dia banyak bicara."

"Nama Anda?"

"Sekar."

"Saya Arka."

Seorang perempuan berambut pendek datang membawa selimut darurat. Arka menerimanya dan menyampirkan ke bahu kedua anak. Perempuan itu lalu menyerahkan satu lagi kepada Sekar.

"Bening," katanya singkat. "Ibu juga harus diperiksa."

"Saya baik."

"Tangan Anda berdarah," ujar Arka.

Sekar baru melihat luka tipis di telapak. "Hanya tergores. Anak-anak yang penting."

"Bagi orang yang menyelamatkan anak saya, luka kecil tetap penting."

Nada Arka rendah, bukan basa-basi. Ia memanggil petugas medis dan memastikan tangan Sekar dibersihkan. Tidak ada perintah berlebihan, tidak ada kerumunan yang didorong kasar. Semua orang bergerak cepat karena ia berbicara tepat.

Ningsih mendekat. "Mbak, kita harus lanjut. Pak Djoyo menunggu."

Sekar mengangguk. "Saya harus pergi."

Arka tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi ambulans membunyikan sirene. Eyang Darmi perlu segera dibawa ke rumah sakit.

"Berikan nomor Anda kepada Yudha," katanya. "Saya ingin menyampaikan terima kasih dengan layak."

"Tidak perlu. Anak-anak selamat, itu cukup."

Sekar berbalik.

Ujung bajunya tertahan.

Bimo berdiri di belakangnya, menggenggam kain yang basah dengan dua jari. Anak yang sejak tadi hanya menjawab seperlunya itu menatap Sekar tanpa suara.

Sekar kembali berjongkok. "Kamu harus ikut Ayah ke rumah sakit."

"Mbak Sekar pergi?"

"Iya. Tapi kamu sudah aman."

Bimo melirik Arka, lalu perlahan melepaskan kainnya. "Terima kasih."

Sekar mengusap rambut basahnya sekali. "Jaga Nala."

Ia masuk ke mobil bersama Ningsih. Ketika kendaraan mereka bergerak melewati ambulans, Sekar melihat Arka masih berdiri di tengah hujan, satu tangan memegang bahu Bimo dan satu lagi menggandeng Nala.

Arka tidak tahu siapa perempuan itu atau ke mana ia pergi.

Namun ia mengingat namanya.

Sekar.

Nama seorang perempuan yang tetap tenang di tepi jurang, ketika begitu banyak orang hanya berdiri dan merekam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!