Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Orang yang Diinginkannya
Tanganku masih memegang gerbang ketika Damar mengucapkan kalimat itu.
Rangga belum melihat kami. Ia sedang memarkir motor di seberang jalan, terhalang mobil yang baru lewat. Jaraknya mungkin hanya dua puluh meter, tetapi tubuh Damar di hadapanku membuatnya terasa seperti sisi kota yang berbeda.
"Aku tidak punya pertanyaan untuk Mas."
"Kamu punya banyak." Damar berdiri tanpa tergesa. "Tentang pertunangan. Tentang tirai. Tentang gelang itu."
Jantungku menghantam tulang rusuk.
Tirai.
Aku tidak pernah menyebut tirai kepadanya. Tidak di telepon keluarga, tidak kepada Mbak Laras, bahkan tidak kepada Ayah. Hanya ada dalam catatanku sendiri, yaitu bayangan kain yang sudah tertutup ketika aku terbangun pada malam hujan.
"Bagaimana Mas tahu tentang tirai?"
Tatapan Damar turun ke gelang di pergelangan tanganku. "Karena saya yang menutupnya."
Suara kendaraan, daun, dan burung sore seperti ditarik menjauh. Aku mendengar napasku sendiri pecah menjadi potongan pendek.
"Kenapa?"
"Kamu tahu kenapa."
"Aku mau mendengarnya dari mulut Mas."
Untuk pertama kalinya, ketenangannya berubah. Bukan menjadi malu atau takut, melainkan semacam kepuasan. Ia telah menunggu aku bertanya, seolah kebenaran adalah hadiah yang hanya boleh dibuka sesuai waktunya.
"Kamu terus menghindari saya sejak malam itu," katanya. "Padahal sebelumnya kamu selalu memandang saya seolah saya satu-satunya orang yang memahami posisi kamu di rumah itu."
"Aku memandang Mas sebagai calon suami Mbak Laras."
"Itu label keluarga."
"Itu kenyataan."
"Bukan lagi."
Aku menekan tombol rekam melalui sisi ponsel di dalam tas. Gerakanku kecil. Damar melirik tas itu, lalu tersenyum tipis.
"Rekam saja. Kamu tetap harus memutuskan siapa yang akan mempercayai potongan suara tanpa konteks."
"Konteks apa yang membuat Mas masuk kamarku malam-malam menjadi benar?"
"Saya memastikan kamu baik-baik saja."
"Dengan mengunci pintu?"
Rahangnya menegang.
Fragmen ingatan datang seperti kilat. Bunyi kait. Bau hujan pada kemeja. Rasa pahit yang tertinggal di lidah. Berat yang membuat tubuhku tidak mampu menaati kepalaku sendiri.
Aku menancapkan kuku ke telapak tangan agar tetap berada di halaman itu.
"Mas memberi sesuatu ke tehnya?"
"Kamu lelah."
"Jawab."
"Dosisnya seharusnya hanya membuatmu tidur lebih nyenyak."
Perutku berbalik. Lututku hampir kehilangan kekuatan, tetapi aku menahan gerbang.
"Jadi benar."
"Saya tidak berniat membuatmu sakit."
"Mas memasukkan sesuatu ke minumanku tanpa izin."
"Kamu selalu tegang di dekat saya. Saya membutuhkan kamu berhenti melawan rasa takut yang dibuat keluargamu sendiri."
"Bukan keluargaku yang membuatku takut kepada Mas."
"Kamu bahkan belum takut saat itu. Kamu hanya bingung karena untuk pertama kalinya ada orang yang memilihmu lebih dulu."
Aku merasa mual mendengar caranya mengubah perhatian menjadi alasan. "Memilih seseorang tidak berarti mengambil kesadarannya."
"Kamu terus keluar masuk kamar untuk melayani semua orang. Ibumu memanggil, Laras meminta barang, lalu kerabat lain menyuruhmu membersihkan meja. Tidak pernah ada waktu kamu benar-benar sendiri."
"Jadi Mas menciptakan waktu itu dengan obat?"
"Dengan membuatmu beristirahat."
"Jangan ganti namanya."
Ia menghela napas, seolah akulah yang melelahkan. "Baik. Saya menaruh sesuatu di tehmu. Jumlah kecil. Saya menunggu sampai rumah sepi, masuk ke kamarmu, lalu menutup tirai dan mengunci pintu. Itu yang ingin kamu dengar?"
Setiap kata masuk seperti serpihan es. Aku memaksa diri menghafal urutannya, bukan membayangkan bagian yang masih gelap.
"Sisa tehnya masih ada," kataku.
Damar terdiam.
Perubahan itu kecil, tetapi nyata. Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, ia tidak memiliki jawaban yang sudah disiapkan.
"Kamu menyimpan minuman basi berbulan-bulan?"
"Aku menyimpan apa pun yang bisa membuktikan aku nggak gila."
"Benda tanpa rantai penyimpanan yang jelas tidak membuktikan siapa memasukkan apa."
Ia menjawab terlalu cepat dan terlalu tepat. Damar bukan sekadar yakin keluargaku akan melindunginya. Ia sudah memikirkan cara menyerang bukti yang bahkan baru kukatakan ada.
"Mas sudah tahu cara membantahnya," kataku. "Berarti Mas tahu persis itu kejahatan."
"Saya tahu bagaimana tuduhan bekerja."
"Dan aku tahu bagaimana pengakuan terdengar."
Matanya kembali melirik tas tempat ponselku merekam. "Rekaman yang dibuat tanpa memberi tahu pihak lain bisa dipersoalkan."
"Biarkan orang lain yang menilai."
"Orang lain akan bertanya kenapa kamu tetap diam begitu lama. Mereka akan bertanya kenapa kamu ikut ke Surabaya, kenapa menerima gelang, kenapa tidak pergi ke dokter malam itu. Mereka akan memeriksa setiap keputusanmu sampai kamu berharap tidak pernah membuka mulut."
Ancaman itu bekerja karena sebagian diriku sudah mengajukan pertanyaan yang sama setiap malam.
Namun Damar tidak sedang meramalkan kekejaman orang lain. Ia sedang menjanjikan bahwa kekejaman itu akan digunakannya.
"Aku diam karena takut," kataku. "Aku ikut ke Surabaya karena Ibu memaksaku. Gelang itu Mas pasang meski aku menolak. Aku tidak pergi ke dokter karena aku belum mengerti apa yang terjadi. Tidak satu pun mengubah apa yang Mas lakukan."
Damar menatapku tanpa berkedip.
"Kamu sudah belajar menyusun jawaban."
"Aku belajar berhenti menjadikan kebingunganku sebagai pembelaan untuk Mas."
Ia masih menyalahkan orang lain, bahkan saat mengakui pilihan tangannya.
"Lalu apa yang Mas lakukan saat aku tidak bisa melawan?"
Damar tidak langsung menjawab. Matanya menatap wajahku dengan perhatian yang terasa lebih kotor daripada sentuhan.
"Saya berada di kamarmu," katanya akhirnya.
"Itu bukan jawaban."
"Saya menyentuhmu."
Udara masuk terlalu tajam ke paru-paruku.
"Tanpa izinku."
"Kamu tidak mengatakan tidak."
"Aku tidak sadar penuh."
"Kamu memanggil nama saya."
"Karena aku ketakutan!"
Suaraku memantul di dinding halaman. Di lantai atas rumah seberang, sebuah jendela terbuka. Damar tidak menoleh.
"Kamu mau aku memakai kata apa?" tanyaku. "Pelanggaran? Kekerasan? Kejahatan?"
"Saya tidak menyakitimu seperti yang kamu bayangkan."
"Mas merampas kemampuanku memilih. Apa pun yang Mas lakukan setelah itu adalah kekerasan."
Untuk pertama kalinya, aku mengucapkannya tanpa mengecilkan suara. Ingatanku mungkin berlubang, tetapi persetujuan bukan sesuatu yang bisa tumbuh di dalam lubang itu. Ketidaksadaranku bukan izin. Kebekuanku bukan undangan.
Damar maju satu langkah.
Aku mundur sampai punggung menyentuh besi gerbang.
"Jangan mendekat."
Ia berhenti, bukan karena menghormati permintaanku, melainkan karena ingin menunjukkan bahwa ia mampu mengendalikan jarak.
"Saya menunggumu memahami bahwa kamu tidak perlu terus menjadi anak kedua di rumah itu," katanya. "Saya bisa memberikan hidup yang tidak akan membuatmu meminta sisa."
"Apa itu alasan Mas memberikan perhiasan kepada Ibu dan pekerjaan kepada kenalan Ayah?"
"Saya membantu keluarga yang akan menjadi keluarga saya."
"Keluarga Mbak Laras."
"Keluargamu."
"Mas membeli tempat di rumah kami."
"Saya membuat mereka merasa aman."
"Supaya kalau aku bicara, mereka takut kehilangan semua yang Mas berikan."
Damar tidak menyangkal. Kesunyian di wajahnya menjadi jawaban lain, sama jelasnya dengan pengakuan tentang teh.
Aku teringat kalung emas Ibu yang putus, kilau manik-manik di lantai, dan bagaimana ia lebih cepat menghitung kerugian daripada melihat luka di leherku. Damar telah membaca kelemahan keluarga kami jauh sebelum aku berani menyebutnya.
"Mas tahu mereka akan memilih Mas," kataku.
"Saya tahu apa yang mereka butuhkan."
"Lalu Mas pikir aku juga bisa dibeli?"
"Semua orang membutuhkan sesuatu. Kamu membutuhkan seseorang yang tidak akan menaruhmu di urutan kedua."
"Aku membutuhkan pilihan. Mas terus mengambilnya."
"Dengan menghancurkan hidup Mbak Laras?"
"Laras menyukai gagasan tentang pernikahan kami. Bukan saya."
"Mas melamarnya."
"Karena itu cara paling wajar untuk masuk ke keluarga kalian."
Kata-kata itu membuatku lebih dingin daripada pengakuan sebelumnya.
"Sejak kapan?"
"Sejak saya melihatmu di acara kelulusan Laras. Kamu berdiri di belakang semua orang, memegang tas Ibumu, dan tidak muncul di satu pun foto sampai saya meminta fotografer bergeser."
Aku mengingat hari itu. Damar baru menjadi rekan kerja Mbak Laras. Ia memberiku sebotol air dan bertanya kenapa aku tidak ikut berfoto. Perhatian kecil itu kusimpan berbulan-bulan karena jarang ada orang yang menyadari aku hilang dari bingkai.
Sekarang kenangan itu terasa seperti tanda yang ditempelkan pada pintu.
"Mas mendekati Mbak Laras untuk mendekatiku?"
"Awalnya saya pikir pertunangan akan memberi waktu. Kamu akan terbiasa dengan kehadiran saya."
"Mbak Laras mencintai Mas."
"Perasaan bisa berubah."
"Tidak semua orang memperlakukan perasaan seperti kontrak yang bisa dibatalkan."
Ia mengabaikan itu. "Di Surabaya, saya sudah memberi kesempatan kamu melihat apa yang bisa saya tawarkan."
"Kamar hotel yang Mas atur bersebelahan? Mobil yang dikunci? Pesanan agar aku datang sendiri?"
"Saya memastikan kita punya waktu tanpa gangguan."
"Itu bukan kesempatan. Itu jebakan."
Damar menatapku lama. "Namun kamu selalu selamat bersama saya."
Aku hampir tertawa. Kata selamat di mulutnya terdengar seperti pisau yang mengaku sebagai perban.
"Aku selamat dari Mas," kataku. "Bukan bersama Mas."
Wajahnya akhirnya kehilangan kelembutan palsu. "Rangga membuatmu berani bicara seperti ini?"
"Aku yang membuat diriku berani."
"Dia anak penjual rawon yang sedang bermain dengan proyek kecil. Dia tidak bisa melindungimu dari keluarga, dari gosip, atau dari saya."
"Setidaknya dia tahu arti kata tidak."
Mata Damar menggelap.
"Jangan bandingkan saya dengannya."
"Benar. Rangga nggak pantas dibandingkan dengan orang yang membius dan menyentuh perempuan tanpa izin."
Tangannya mencengkeram batang gerbang di samping kepalaku. Besi bergetar. Ia masih tidak menyentuhku, tetapi bayangannya menutup cahaya sore.
"Hati-hati memilih kata, Sekar."
"Mas takut direkam?"
"Saya takut kamu menghancurkan satu-satunya jalan yang masih bisa berakhir baik untukmu."
"Tidak ada akhir baik yang melibatkan Mas."
"Kamu belum tahu itu."
Aku menatap langsung ke matanya. Ketakutan tetap ada, mengalir dingin di punggung, tetapi di bawahnya tumbuh sesuatu yang lebih keras. Damar telah menggunakan lubang dalam ingatanku sebagai ruang untuk bersembunyi. Hari ini, kesombongannya sendiri menyalakan lampu di sana.
"Kenapa membatalkan pertunangan sekarang?" tanyaku.
"Karena saya lelah berpura-pura."
"Berpura-pura mencintai Mbak Laras?"
"Berpura-pura bahwa saya datang untuk dia."
Suara motor Rangga mendekat. Ia akhirnya melihat posisiku di balik gerbang. Helmnya dilepas saat ia menyeberang, langkahnya cepat.
Damar tidak bergeser. Ia justru merendahkan suara, memaksaku mendengar kalimat yang sejak tadi dibangunnya dari setiap pengakuan.
"Yang saya inginkan sejak awal bukan Laras."
Aku sudah tahu kelanjutannya, tetapi tubuhku tetap membeku.
Damar menatap gelang giok di pergelangan tanganku, lalu kembali ke wajahku.
"Kamu, Sekar."