NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Percakapan di Tengah Malam

Tengah malam, ketika napas teratur Saviera dan Elaina menandakan mereka sudah tertidur lelap di ranjang penginapan, Sasuke bangkit perlahan dari sofa kecil di sudut kamar, bergerak dengan kehati-hatian seorang shinobi yang sudah terlatih bertahun-tahun untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Ia berhenti sejenak di ambang pintu, menatap kembali dua sosok yang tertidur damai di ranjang—Elaina menggenggam ujung selimut Saviera erat-erat bahkan dalam tidurnya, wajah keduanya begitu tenang, tidak menyadari apa yang akan ia lakukan malam ini.

“Maaf,” pikirnya, meninggalkan secarik kertas kecil di meja dengan tulisan singkat—"Ada yang perlu kuperiksa. Aku akan kembali sebelum fajar. Jangan khawatir.”—sebelum akhirnya menghilang keluar jendela tanpa suara sedikit pun.

---

Jalanan kota yang sudah sunyi di siang hari kini terasa jauh lebih senyap di bawah cahaya dua bulan Astral yang tergantung tinggi di langit. Sasuke bergerak cepat melintasi distrik-distrik kosong, bayangannya nyaris tidak terlihat berkat kegelapan yang menyelimuti kota tak berpenghuni ini.

Ia melewati kembali rumah-rumah bangsawan yang mereka lalui siang tadi, kini tampak jauh lebih menyeramkan diterangi cahaya bulan—tirai yang berkibar dari jendela pecah kini menciptakan bayangan-bayangan bergerak di dinding, dan meja makan yang masih tertata lengkap dengan makanan membusuk memancarkan bau yang lebih menyengat dalam kelembapan malam. Sasuke tidak berhenti untuk memperhatikannya lebih lama dari yang diperlukan, pikirannya sepenuhnya terfokus pada tujuannya.

Sesekali, ia melewati kuil kecil tempat mereka bertemu pendeta tua siang tadi—cahaya lilin masih menyala samar dari dalam, tanda bahwa pendeta itu masih terjaga, mungkin masih bermeditasi seperti yang selalu ia lakukan. Sasuke mempertimbangkan sejenak untuk singgah, namun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya tanpa gangguan—apa yang akan ia lakukan malam ini sudah cukup rumit tanpa perlu melibatkan orang lain lagi.

Ia tiba di gerbang istana dalam waktu jauh lebih singkat dibanding perjalanan siang tadi, tanpa perlu bersembunyi di balik reruntuhan atau memutar jalan. Kali ini, ia melangkah lurus melewati gerbang besar yang masih terbuka lebar, menembus halaman istana yang dipenuhi zirah-zirah kosong yang berkilau redup di bawah cahaya bulan.

Ratusan zirah kosong itu, yang di siang hari tampak seperti kulit-kulit yang ditinggalkan, kini di bawah cahaya bulan tampak seperti pasukan hantu yang membeku dalam waktu, bayangan panjang mereka jatuh melintasi halaman batu seperti jari-jari raksasa yang menunjuk ke arah aula utama. Sasuke berjalan di antaranya tanpa gentar, meski ia tidak bisa menampik kesan mencekam dari pemandangan itu.

Setiap langkahnya terdengar jelas di keheningan total itu, namun ia sengaja tidak menyembunyikannya. Jika sosok itu memang seperti yang ia duga—entitas yang jauh melampaui level kekuatan biasa—menyembunyikan kehadirannya hanya akan sia-sia, atau bahkan bisa disalahartikan sebagai niat buruk.

Ia tiba di ambang aula utama, mendapati sosok berjubah hitam itu masih berdiri persis di tempat yang sama seperti siang tadi, seolah tidak bergerak sedikit pun selama berjam-jam yang telah berlalu.

Sasuke berhenti beberapa meter darinya, tidak mendekat lebih jauh.

"Aku tahu kau menyadari kehadiranku siang tadi," Sasuke berkata, suaranya memecah keheningan aula yang megah namun kosong itu. "Aku ingin bicara, bukan bertarung."

Untuk beberapa detik, tidak ada respons sama sekali. Kemudian, perlahan, kepala berkerudung itu menoleh—kali ini gerakannya normal, tidak lagi lambat dan tidak wajar seperti siang tadi.

"Sudah lama," suara itu akhirnya keluar, dalam dan bergema aneh, seolah datang dari banyak arah sekaligus meski sumbernya jelas berasal dari sosok di hadapannya, "sejak terakhir kali ada yang cukup berani, atau cukup bodoh, untuk datang bicara alih-alih lari."

"Yang mana menurutmu aku?" Sasuke bertanya, tetap waspada meski nadanya tenang.

"Belum kuputuskan," sosok itu menjawab, dan ada sesuatu dalam nadanya yang hampir menyerupai hiburan, jika bukan karena keanehan suaranya yang tidak sepenuhnya manusiawi. "Kau punya mata yang menarik, Pengembara. Aku belum pernah melihat kombinasi seperti itu sebelumnya, di dunia ini atau di tempat lain."

Sasuke tidak menjawab, membiarkan sosok itu melanjutkan.

"Kau ingin tahu apa yang terjadi di sini," sosok itu berkata, bukan pertanyaan. "Semua orang yang berani datang selalu ingin tahu itu. Tim petualang berlambang emas yang datang minggu lalu juga ingin tahu—meski cara mereka bertanya jauh lebih agresif darimu."

"Apa yang terjadi pada mereka?"

"Mereka tidur," sosok itu menjawab sederhana. "Sama seperti semua orang lain di istana ini malam itu. Tidak mati, jika itu yang kau khawatirkan—hanya tertidur, di suatu tempat yang tidak akan mereka temukan jalan keluarnya sendiri untuk waktu yang sangat lama."

Sasuke mencerna informasi itu dengan hati-hati. "Kau tidak membunuh mereka."

"Aku tidak punya kebutuhan untuk membunuh," sosok itu menjawab, nadanya datar namun tidak dingin—lebih seperti pernyataan fakta sederhana. "Aku hanya mencari sesuatu. Ratusan orang di sini bukan targetku, hanya... gangguan yang perlu disingkirkan sementara agar aku bisa mencari dengan tenang."

"Kau bisa saja mengusir mereka dengan cara lain," Sasuke menunjukkan, mencoba memahami logika di balik tindakannya. "Kenapa memilih cara yang membuat seluruh dunia mengira kau telah membantai ratusan orang?"

Sosok itu terdiam sejenak, seolah pertanyaan itu tidak pernah benar-benar ia pikirkan sebelumnya. "Aku tidak begitu peduli dengan bagaimana dunia memandangku, Pengembara. Reputasi, ketakutan, legenda yang akan tumbuh dari kejadian ini—semua itu tidak berarti apa pun bagiku. Yang penting hanyalah aku menyelesaikan apa yang perlu kuselesaikan, secepat dan seefisien mungkin."

"Itu terdengar kesepian," Sasuke berkata, kata-kata itu keluar sebelum ia sempat mempertimbangkannya lebih jauh.

Untuk pertama kalinya, sosok itu bergeming—benar-benar diam, seolah kata-kata sederhana itu entah bagaimana menyentuh sesuatu yang sudah lama terkubur dalam dirinya.

"Mungkin," ia akhirnya menjawab, suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya. "Tapi kesepian adalah harga yang harus kubayar untuk apa yang kucari. Aku sudah lama berhenti mempertanyakan apakah harga itu sepadan."

"Mencari apa?"

Untuk pertama kalinya, sosok itu terdiam cukup lama, seolah mempertimbangkan apakah akan menjawab pertanyaan itu sama sekali.

"Sesuatu yang hilang dariku, sudah sangat lama," ia akhirnya berkata, suaranya sedikit berubah—ada nada yang hampir menyerupai kelelahan di baliknya. "Kau tidak akan mengerti  Pengembara, dan juga aku tidak berniat untuk menjelaskannya pada orang asing yang baru saja kutemui."

"Coba aku," Sasuke menawarkan, tidak sepenuhnya berharap sosok itu akan menjawab, namun merasa perlu untuk tetap mencoba. "Aku sendiri bukan orang yang asing dengan kehilangan."

Sosok itu menoleh sedikit, seolah menilai kesungguhan di balik kata-kata itu. "Kehilangan apa, Pengembara?"

Sasuke terdiam sejenak, mempertimbangkan seberapa jauh ia ingin membuka dirinya sendiri pada entitas yang bahkan identitasnya belum ia ketahui. "Kehidupan," ia akhirnya berkata, memilih kata yang cukup jujur namun tidak sepenuhnya membongkar seluruh ceritanya. "Kehidupan yang lama, sebelum aku berada di dunia ini."

Sosok itu tampak menganggukkan kepalanya perlahan, seolah jawaban itu entah bagaimana masuk akal baginya. "Kalau begitu, kita berdua sama-sama mencari sesuatu yang mustahil untuk benar-benar kembali sepenuhnya, bukan?"

Kata-kata itu menggantung di udara, lebih berat dari yang seharusnya untuk percakapan singkat antara dua orang asing di tengah reruntuhan istana yang sunyi.

"Adil," Sasuke menjawab, tidak memaksa lebih jauh. "Tapi biar kutanya satu hal lagi—apakah kau berniat menyakiti kota ini, atau orang-orang yang tersisa di dalamnya?"

Sosok itu menoleh penuh sekarang, dan meski wajahnya masih tersembunyi sepenuhnya dalam bayangan kerudung, Sasuke bisa merasakan dua titik merah itu menatapnya lurus-lurus, menilai.

"Tidak," jawabnya akhirnya. "Aku sudah mendapatkan apa yang perlu kuperiksa dari istana ini. Aku akan pergi begitu aku selesai memastikan sesuatu, mungkin dalam beberapa hari. Kota ini bisa kembali hidup setelah itu, jika penduduknya berani kembali."

Sasuke merasa sedikit dari ketegangan di bahunya mengendur, meski ia tetap waspada.

"Satu hal lagi," sosok itu berkata, sebelum Sasuke sempat berbalik pergi. "Mata itu, Pengembara. Kombinasi kekuatan yang kau miliki—aku merasakan sesuatu yang asing di baliknya, sesuatu yang tidak sepenuhnya berasal dari dunia ini juga, sama sepertiku. Kau bukan penduduk asli Astral, bukan?"

Sasuke membeku sejenak, tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini.

"Aku tidak akan bertanya lebih jauh," sosok itu melanjutkan, seolah bisa merasakan keraguan Sasuke. "Dunia ini penuh dengan jiwa-jiwa yang tersesat dari tempat lain, mencari sesuatu yang tidak selalu bisa mereka jelaskan. Aku hanya... penasaran, menemukan satu lagi sepertiku."

"Kau juga bukan dari sini?" Sasuke bertanya, mencoba menahan rasa ingin tahunya sendiri agar tidak terlalu kentara.

"Sudah cukup untuk malam ini," sosok itu menjawab, memotong dengan halus, kembali menunduk seperti sebelumnya, tanda bahwa percakapan sudah berakhir. "Pergilah, Pengembara. Kembali pada mereka yang menunggumu—aku bisa merasakan kekhawatiran mereka bahkan dari sini, meski mereka masih tertidur."

Sasuke menatapnya lama, mempertimbangkan apakah akan memaksa lebih jauh, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengalah, membungkuk singkat—entah kenapa terasa seperti gestur yang pantas diberikan.

"Terima kasih sudah bicara denganku," ia berkata, sebelum berbalik dan melangkah keluar dari aula itu.

Di belakangnya, sosok berjubah hitam itu kembali diam sepenuhnya, seolah percakapan itu tidak pernah terjadi.

---

Sasuke kembali ke penginapan tepat sebelum langit mulai berubah warna keunguan menandakan fajar akan segera tiba, menyelinap masuk lewat jendela yang sama seperti ia keluar. Saviera masih tertidur, namun matanya sedikit bergerak—setengah sadar, setengah masih dalam alam mimpi.

"...Sasuke?" gumamnya mengantuk, mengucek matanya pelan.

"Aku di sini," Sasuke menjawab lembut, duduk di tepi ranjang sejenak. "Tidurlah lagi. Semuanya baik-baik saja."

Saviera menatapnya sejenak, seolah ingin bertanya lebih jauh, namun kelelahan mengalahkan rasa penasarannya, dan ia kembali terlelap dalam hitungan detik.

Sasuke duduk di sana beberapa saat lebih lama, memikirkan setiap kata yang baru saja ia dengar—"sesuatu yang hilang dariku, sudah sangat lama”—dan pertanyaan yang lebih mengganggu pikirannya: siapa lagi di dunia ini yang, seperti dirinya, bukan benar-benar berasal dari sini.

---

*Bersambung ke Bab 18: Keputusan untuk Pergi*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!