"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang Menyakiti Mommy?
Tidak sedikit pun penyesalan terlihat di wajah Abian. Pengaruh Serly seolah telah menutup mata dan hatinya, membuat semua tindakan yang dilakukannya terasa benar di matanya sendiri.
“Kamu masih saja membela perempuan itu!” bentak Abian. “Dia yang membuat kakakmu sampai ingin mengakhiri hidupnya!”
“Aku tidak percaya!”
Sean berdiri tegak di hadapan ayahnya. Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi membara.
“Apa sebenarnya yang sudah dilakukan perempuan itu sampai Papa berubah sejauh ini?” Sean balik bertanya. “Papa bukan lagi orang yang Sean kenal.”
Abian terdiam.
“Dulu Papa selalu mengajarkan kami untuk melindungi perempuan. Tapi sekarang…” Sean melirik Diandra yang masih terduduk lemah di lantai. “Papa sendiri yang menyakiti perempuan yang bahkan tidak mampu melawan.”
Tatapan Abian perlahan beralih kepada Diandra.
Perempuan itu menundukkan wajah. Pipinya membengkak, sudut bibirnya terluka, sementara bekas tekanan di lehernya terlihat jelas. Mata Diandra sembap akibat terlalu banyak menangis.
Entah mengapa, pemandangan itu membuat sesuatu di dalam diri Abian bergetar.
Namun, sebelum rasa bersalah itu kembali menguasai dirinya, Abian segera mengalihkan pandangan.
“Lebih baik Papa pergi dan temui putri kesayangan Papa,” ujar Sean dingin.
Abian menatap putranya.
“Tapi ingat satu hal, Pa. Kalau Sean melihat Papa menyakiti Diandra lagi, jangan salahkan Sean kalau kali ini Sean tidak akan tinggal diam.”
Suasana mendadak hening.
Abian ingin membalas perkataan putranya, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang keluar. Ingatan tentang masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur justru bermunculan satu per satu.
Akhirnya, tanpa berkata apa-apa lagi, Abian memilih meninggalkan rooftop.
Begitu sosok ayahnya menghilang dari pandangan, Sean langsung menghampiri Diandra.
Ia berjongkok di hadapan perempuan itu.
“Aku nggak apa-apa,” bisik Diandra.
Sean menatapnya tidak percaya.
“Pipimu bengkak. Bibirmu berdarah. Lehermu penuh bekas luka. Dan kamu masih bilang nggak apa-apa?”
Sean mengepalkan tangan kuat-kuat. Amarahnya kembali membakar dada.
Melihat Diandra terluka seperti itu membuat hatinya seakan ikut diremas.
Diandra mencoba tersenyum.
“Luka seperti ini sebentar lagi juga sembuh. Jangan terlalu khawatir.”
“Diandra, kali ini kamu nggak perlu pura-pura kuat.”Sean melembutkan suaranya.
“Aku tahu kamu sakit. Kalau memang ingin menangis, menangislah. Jangan terus menyimpan semuanya sendirian.”
Diandra menggeleng.
“Aku sudah terlalu sering menangis.”
Ia berusaha tersenyum, tetapi pertahanannya runtuh seketika.
“Aku sebenarnya nggak mau menangis lagi…” suaranya bergetar. “Aku cuma ingin hidup tenang. Aku ingin bisa tersenyum tanpa harus takut. Aku ingin bahagia.”
Air matanya akhirnya jatuh.
Sean tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menarik tubuh Diandra ke dalam pelukannya.
“Kalau begitu, menangislah sekarang. Aku di sini.”
Diandra terisak di dada Sean.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa harus menyembunyikan kelemahannya. Di hadapan Sean, Diandra tidak perlu berpura-pura baik-baik saja.
Tangisnya pecah.
Semua rasa sakit, kecewa, takut, dan lelah yang selama ini ditahannya seolah tumpah dalam pelukan itu.
Sean hanya mengusap punggungnya perlahan.
“Aku capek…” bisik Diandra di sela tangisnya.
“Aku tahu.”
“Aku cuma ingin semuanya berhenti.”
“Suatu hari nanti semuanya akan berhenti. Tapi sekarang kamu nggak sendirian.”
Setelah beberapa waktu, tangisan Diandra mulai mereda.
Sean kemudian membantu Diandra berdiri.
“Kita ke dokter dulu.”
Diandra menggeleng lemah.
“Aku mau pulang. Aku benar-benar capek.”
“Periksa sebentar saja.”
“Aku nggak mau.”
Sean menghela napas. Melihat Diandra bahkan kesulitan berdiri dengan tegak, ia akhirnya tidak memaksanya berjalan.
Tanpa banyak bicara, Sean mengangkat tubuh Diandra ke dalam gendongannya.
Diandra sempat hendak menolak, tetapi rasa sakit di rahangnya membuatnya kesulitan berbicara.
Akhirnya ia hanya melingkarkan kedua tangannya di leher Sean dan menyandarkan kepala di dada pria itu.
Sean menatap wajah Diandra yang pucat.
Hatinya terasa sesak.
Ia ingin membawa perempuan itu pergi dari semua masalah yang sedang mengelilinginya. Bahkan kalau perlu, ia ingin menyembunyikan Diandra di tempat yang tidak mampu dijangkau siapa pun yang berniat menyakitinya.
“Diandra…”
Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang.
Sean menghentikan langkahnya.
Ia menoleh.
Seseorang berdiri tidak jauh dari mereka, membuat Sean dan Diandra sama-sama terdiam.
Sean segera menoleh begitu mendengar suara yang memanggilnya.
“Dokter Vincent?”
Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan berjalan mendekat. Jas putih yang dikenakannya membuat Sean langsung mengenali profesinya.
“Sean? Kapan kamu kembali? Kok nggak kasih kabar?” tanya Vincent sambil menepuk bahu Sean.
“Baru beberapa hari, Bang.”
Sean kemudian memperhatikan pria itu dengan heran.
“Bukannya selama ini Abang praktik di rumah sakit Surabaya? Kok sekarang ada di sini?”
Vincent tersenyum kecil.
“Sudah pindah. Mulai beberapa waktu lalu aku ditempatkan di rumah sakit ini.”
Sean mengangguk.
Hubungan Sean dan Vincent memang sudah cukup dekat sejak lama. Mereka mengenal satu sama lain dari komunitas motor yang dulu sering mereka ikuti bersama. Saat Sean masih SMA hingga sempat menjalani kuliah di Indonesia, keduanya beberapa kali melakukan perjalanan jauh bersama teman-teman komunitas.
Walaupun Vincent sekarang dikenal sebagai dokter, kecintaannya terhadap dunia otomotif tidak pernah benar-benar hilang.
“Sean…”
Suara lemah Diandra membuat Sean kembali mengingat bahwa perempuan itu masih berada dalam gendongannya.
“Iya, Sayang?”
Sean menatap Diandra.
“Sebentar. Aku lagi ngobrol sama teman.”
Diandra langsung mengerutkan kening.
“Jangan panggil aku begitu.”
Sean terkekeh.
“Kenapa?”
“Aku lebih tua dari kamu.”
“Terus?”
Sean sengaja memasang wajah santai.
“Umur itu cuma angka.”
Vincent yang melihat percakapan mereka hanya tersenyum geli.
Sean kemudian kembali serius.
“Bang, bisa bantu periksa Diandra? Wajahnya bengkak setelah dipukul.”
Tatapan Vincent langsung berubah serius.
“Ditaruh di sini dulu. Aku periksa.”
Sean membawa Diandra masuk ke ruang pemeriksaan.
Dengan sangat hati-hati, ia membantu Diandra duduk di kursi pemeriksaan. Bahkan ketika Diandra hendak mengubah posisi duduk, Sean langsung memastikan perempuan itu tidak terlalu banyak bergerak.
Vincent mulai memeriksa kondisi Diandra.
“Bagian rahang terasa sakit?”
Diandra mengangguk.
“Kalau membuka mulut?”
“Nyeri.”
Vincent kemudian melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan menyarankan pemeriksaan rontgen untuk memastikan tidak ada cedera serius pada tulang rahang.
Beberapa saat kemudian, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada tulang yang retak.
Vincent menghela napas lega.
“Untungnya tidak ada retakan pada rahang. Tapi benturannya cukup keras. Bengkak dan rasa nyerinya mungkin justru akan terasa lebih parah dalam beberapa hari ke depan.”
Vincent menuliskan resep.
“Ini obat untuk membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakannya. Minum sesuai aturan.”
Sean menerima resep tersebut.
Namun sebelum mereka pergi, Vincent kembali memandang luka di wajah Diandra.
“Sean, aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi luka seperti ini sudah masuk kategori kekerasan fisik. Sebaiknya jangan dianggap sepele.”
Sean mengangguk pelan.
“Yang melakukan ayahku.”
Vincent terdiam sejenak.
Sean mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berkata dengan nada frustrasi,
“Kalau perlu aku laporkan saja. Masa aku harus membiarkan ayah sendiri menyakiti perempuan yang aku lindungi?”
Diandra langsung menatap Sean.
“Sean.”
Nada suaranya terdengar lelah.
“Aku nggak mau masalah ini jadi semakin panjang.”
“Tapi dia sudah menyakitimu.”
“Aku tahu.”
Diandra menundukkan wajah.
“Aku cuma capek. Aku nggak ingin harus berurusan dengan polisi, pengadilan, atau masalah baru setelah ini.”
Sean masih terlihat tidak puas.
“Tapi kalau kamu diam, dia bisa melakukannya lagi.”
Diandra tidak langsung menjawab.
Ia tahu Sean benar.
Namun, melawan Abian bukan perkara mudah. Dengan pengaruh dan kekuasaan yang dimiliki pria itu, Diandra takut masalah yang lebih besar justru akan menimpanya.
Vincent memperhatikan keduanya dalam diam.
Akhirnya Diandra menarik napas panjang.
“Sean, aku benar-benar ingin semuanya selesai.”
Sean menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.
Kemudian Vincent bertanya dengan hati-hati,
“Jadi hubungan kalian sebenarnya apa?”
Diandra segera menjawab sebelum Sean kembali mengatakan hal-hal yang membuatnya kesal.
“Dia bukan pacarku, Dok.”
Sean mengangkat alis.
Diandra melanjutkan dengan tenang,
“Sean cuma teman saya.”
Vincent melirik Sean, lalu kembali menatap Diandra.
Sementara itu, Sean hanya tersenyum tipis.
Entah kenapa, mendengar Diandra menyebutnya hanya sebagai teman justru membuat dadanya terasa sedikit tidak nyaman.
Vincent tertawa kecil setelah mendengar jawaban Diandra.
“Oh, jadi selama ini cuma mengaku-ngaku saja?”
Sean langsung menyeringai.
“Untuk sekarang memang masih teman. Tapi siapa yang tahu beberapa waktu lagi? Bisa saja statusnya berubah.”
Diandra hanya menggeleng sambil menahan rasa nyeri di rahangnya.
“Saya pamit dulu, Dok. Terima kasih sudah membantu.”
Diandra bangkit dari kursinya dan berjalan keluar. Sean segera menyusul.
Begitu sampai di lorong, Sean langsung menopang tubuh Diandra dengan satu tangan di bahunya. Ia khawatir perempuan itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
“Aku antar pulang.”
“Nggak perlu. Aku bisa naik taksi.”
Diandra menolak dengan halus.
“Kakakmu sedang sakit. Kamu seharusnya menemani dia.”
Sean mendengus.
“Serly?”
Diandra mengangguk.
“Aku nggak peduli. Mau dia sakit atau apa pun, itu bukan urusanku.”
Diandra meliriknya.
“Kalau aku punya adik seperti kamu, sudah aku pecat dari keluarga.”
Sean justru tertawa.
“Kalau kamu kakakku, ceritanya beda.”
Ia menatap Diandra dengan senyum jahil.
“Aku bakal jadi adik paling manis. Setiap hari aku peluk kakakku.”
Diandra akhirnya tersenyum kecil.
Namun senyum itu segera berubah menjadi seringai tipis ketika rasa sakit menjalar dari rahangnya.
“Jangan bikin aku ketawa. Sakit.”
“Oke, oke. Makanya jangan banyak bergerak.”
Setelah beberapa kali dibujuk, akhirnya Diandra menyerah dan membiarkan Sean mengantarnya pulang.
Sesampainya di area parkir, Sean membuka pintu mobil dan membantu Diandra masuk dengan hati-hati.
Setelah memastikan sabuk pengamannya terpasang, Sean berjalan ke sisi pengemudi.
Mobil pun meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, suasana begitu sunyi.
Diandra memilih menatap keluar jendela. Pikirannya terlalu penuh untuk sekadar berbicara.
Sean pun tidak memaksanya.
Sesekali pria itu melirik ke samping, memastikan Diandra tidak semakin kesakitan.
Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu yang membuat Sean tahu bahwa luka di wajahnya bukan satu-satunya hal yang sedang ia tanggung.
Sementara mobil terus melaju, pikiran Diandra kembali kepada rumah tangganya bersama Bastian.
Selama ini Bastian berkali-kali mengatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki perasaan terhadap Serly.
Namun kenyataan selalu berbeda.
Setiap kali Serly membutuhkan sesuatu, Bastian akan datang.
Setiap kali Serly berada dalam masalah, Bastian akan menjadi orang pertama yang membelanya.
Diandra sudah terlalu lama berusaha menyingkirkan perempuan itu dari kehidupannya.
Ia bertahan.
Ia mengalah.
Ia mencoba memperbaiki rumah tangganya.
Tetapi setiap kali berhasil menjauhkan satu masalah, selalu muncul masalah lain.
Serly seperti duri yang tidak pernah benar-benar bisa dicabut.
Dan yang paling menyakitkan, ketika duri itu melukai dirinya, Bastian bukan datang untuk menyembuhkan lukanya.
Justru tanpa sadar, pria itu membuat luka tersebut semakin dalam.
Diandra memejamkan mata sebentar.
Ia sudah lelah.
Sangat lelah.
“Sean.”
Suara Diandra tiba-tiba terdengar pelan.
Sean langsung menoleh.
“Iya?”
Diandra masih menatap keluar jendela.
“Aku boleh minta bantuan?”
Sean tidak ragu menjawab.
“Tentu. Apa pun yang kamu butuhkan, bilang saja.”
Diandra menarik napas panjang.
Seolah membutuhkan keberanian besar untuk mengucapkan kalimat berikutnya.
Akhirnya ia menoleh kepada Sean.
“Tolong bantu aku.”
Sean mengernyit.
“Bantu apa?”
Mata Diandra berkaca-kaca.
“Aku ingin bercerai dari Bastian.”
Tangan Sean yang berada di kemudi mendadak mengencang.
“Bercerai?”
Diandra mengangguk pelan.
“Kamu yakin?”
Diandra menatap lurus ke depan.
“Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa yakin.”
Sean terdiam.
Permintaan itu sederhana, tetapi ia tahu keputusan Diandra sama sekali tidak sederhana.
“Aku sudah terlalu lama bertahan, Sean,” lanjut Diandra lirih. “Sekarang aku cuma ingin keluar dari pernikahan ini tanpa harus terus terluka.”
Sean menarik napas panjang.
“Kalau itu benar-benar keputusanmu, aku akan membantumu.”
Diandra menatap Sean.
“Terima kasih.”
Sean kembali memusatkan pandangannya ke jalan.
Namun dalam hatinya, ia sudah mengambil satu keputusan.
Jika Diandra benar-benar ingin mengakhiri pernikahannya dengan Bastian, Sean akan berada di sisinya sampai semuanya selesai.
“Aku sudah yakin.”
Diandra menatap lurus ke depan sebelum melanjutkan dengan suara pelan.
“Tapi aku minta satu hal. Tolong lakukan semuanya diam-diam. Kalau Bastian tahu aku sedang mempersiapkan perceraian, dia pasti akan berusaha menghentikanku.”
Sean mengangguk tanpa ragu.
“Aku mengerti.”
Ia terdiam sebentar, lalu berkata, “Kalau begitu, kenapa kamu tidak pergi saja? Aku bisa membantumu mencari tempat yang aman untuk sementara.”
Diandra menggeleng.
“Aku nggak mau sekadar melarikan diri.”
Sean menatapnya.
“Aku ingin semua urusanku dengan Bastian benar-benar selesai. Aku ingin memutuskan semuanya secara resmi. Setelah itu, aku ingin hidup tanpa ada lagi ikatan yang membuatku terus kembali kepadanya.”
Suara Diandra terdengar getir.
“Aku cuma ingin hidup tenang.”
Sean memahami maksudnya.
“Baik. Aku akan membantumu.”
Ia kemudian sengaja tersenyum untuk mengurangi ketegangan.
“Lagipula, setelah kamu resmi bebas, hidupmu akan lebih mudah.”
Diandra menoleh.
“Maksudmu?”
“Ya… siapa tahu kamu mau menikah lagi.”
Diandra langsung menggeleng.
“Aku belum berpikir sejauh itu.”
Sean terkekeh.
“Kalau suatu hari kamu berubah pikiran, ingat satu hal.”
“Apa?”
“Aku sudah antre paling depan.”
Diandra memutar mata.
“Jangan percaya diri sekali.”
“Aku serius.”
Sean tersenyum lebar.
“Kalau nanti kamu mencari calon suami, aku yang pertama mendaftar. Dan aku nggak menerima penolakan.”
Diandra hanya tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah sakit, wajahnya terlihat sedikit lebih tenang.
Namun setelah itu ia kembali menatap ke luar jendela, membiarkan pikirannya berkelana pada kehidupan yang ingin ia bangun setelah semua masalah ini berakhir.
“Kalau begitu, Pak, ayo cepat pulang. Azzam sudah kangen sekali sama Mommy.”
“Iya, Den.”
Setelah kedua anak itu duduk dengan nyaman di kursi belakang, Pak Jono segera menjalankan mobil.
Azzam terus membicarakan Diandra, sementara Azzura sesekali ikut menimpali. Keduanya sama-sama penasaran dengan keadaan Mommy mereka.
Belum terlalu jauh dari sekolah, ponsel Azzura tiba-tiba berdering.
Azzura melihat layar.
“Oma Aretha.”
Azzam menoleh.
“Angkat saja.”
Azzura menerima panggilan tersebut dan menyalakan pengeras suara.
“Halo, Azzura.”
“Halo, Oma.”
“Kalian sudah selesai sekolah?”
“Sudah, Oma. Sekarang Azzura sama Azzam sedang perjalanan pulang. Pak Jono yang jemput.”
Aretha terdengar menarik napas sebelum berkata,
“Jangan pulang dulu. Kalian pergi ke rumah sakit, ya.”
Azzura langsung mengernyit.
“Kenapa, Oma?”
“Serly sedang sakit. Sekarang dia dirawat di rumah sakit dan ingin sekali bertemu kalian.”
Wajah Azzura berubah khawatir.
“Mama Serly sakit apa?”
Kemudian ia teringat sesuatu.
“Tapi Mommy juga sedang sakit. Kata Pak Jono, Mommy tadi jatuh di rumah.”
“Keadaan Serly lebih serius,” jawab Aretha. “Dia sampai harus dirawat. Sejak tadi dia terus memanggil nama Azzam dan Azzura.”
Azzura terdiam sejenak.
“Oma ingin kalian datang sekarang?”
“Iya, Sayang. Oma sudah menunggu di rumah sakit.”
Azzura mengangguk meskipun tahu sang nenek tidak dapat melihatnya.
“Iya, Oma. Kami ke sana.”
Panggilan berakhir.
Namun baru saja Azzura menurunkan ponselnya, Azzam langsung bersuara.
“Aku nggak mau.”
Azzura menatap kakaknya.
“Kenapa?”
“Aku mau pulang dan lihat Mommy.”
Azzura terdiam.
Dari kursi depan, Pak Jono juga bisa mendengar percakapan kedua anak itu.
“Serly itu Mama kita, Zam,” ujar Azzura pelan. “Masa kamu nggak khawatir?”
“Aku lebih khawatir sama Mommy.”
Nada suara Azzam terdengar tegas.
Aretha memang sudah tidak berada di dalam sambungan telepon, tetapi perkataannya tadi masih terngiang di kepala Azzura.
“Jangan begitu, Zam.”
Azzam menatap adiknya.
“Kenapa?”
“Karena Mama Serly yang melahirkan kita. Kita harus tetap menyayanginya.”
Azzam menghela napas.
“Kalau begitu kamu saja yang lebih sayang Mama. Aku tetap mau lihat Mommy.”
Azzura mulai kesal.
“Kamu keras kepala.”
“Daripada kamu.”
“Aku nggak keras kepala!”
Pak Jono segera menyela sebelum pertengkaran mereka semakin panjang.
“Sudah, jangan bertengkar di dalam mobil.”
Kedua anak itu langsung diam.
Azzura kemudian mengambil keputusan.
“Pak Jono.”
“Iya, Non?”
“Tolong putar balik.”
Pak Jono menatap melalui kaca spion.
“Ke rumah sakit?”
Azzura mengangguk.
“Iya. Oma sudah menunggu di sana. Kita lihat Mama Serly dulu.”
Azzam tidak mengatakan apa-apa lagi.
Namun wajahnya tetap menunjukkan kekhawatiran terhadap Diandra.
Pak Jono akhirnya membelokkan mobil menuju rumah sakit.
Di dalam mobil, Azzam menggenggam erat tali tasnya.
Di satu sisi ada Mama Serly yang sedang sakit dan memanggilnya.
Di sisi lain ada Mommy Diandra yang juga sedang terluka.
Untuk pertama kalinya, Azzam merasa berada di tengah dua pilihan yang sama-sama membuat hatinya tidak tenang.
"Pak."
“Iya, Non.”
Pak Jono baru saja hendak membelokkan mobil ketika Azzam langsung menyela.
“Jangan putar balik, Pak!”
Pak Jono menatapnya melalui kaca spion.
“Kita pulang saja. Azzam mau cepat-cepat melihat Mommy.”
Azzura langsung membantah.
“Tapi Azzura mau bertemu Mama Serly.”
“Aku nggak mau tahu. Pokoknya kita pulang!”
Azzam tetap bersikeras.
Pak Jono semakin bingung. Ia tidak ingin membuat salah satu dari mereka kecewa, tetapi ia juga tidak mungkin membawa kedua anak itu ke tempat berbeda dalam waktu bersamaan.
Akhirnya ia menepi dan menghentikan mobil.
“Sudah, jangan bertengkar dulu. Kita pikirkan baik-baik.”
Namun Azzura justru mulai menangis.
“Azzura mau ketemu Mama…”
Tangisnya semakin keras.
“Hiks… Azzura mau ke rumah sakit sekarang.”
Pak Jono langsung panik.
“Non Azzura, jangan menangis. Iya, iya. Kita pergi ke rumah sakit.”
Azzam menghela napas kesal.
“Kalau begitu Azzam turun saja. Azzam bisa pulang sendiri.”
Pak Jono langsung menggeleng.
“Jangan, Den. Bapak tidak mungkin membiarkan Den Azzam pulang sendirian.”
“Azzam bisa naik taksi.”
“Tidak.”
“Terus bagaimana?”
Pak Jono berpikir cepat.
“Begini saja. Bapak antar Den Azzam pulang dulu, setelah itu Bapak membawa Non Azzura ke rumah sakit.”
Azzura langsung menggeleng sambil menghapus air matanya.
“Nggak mau!”
Ia kembali terisak.
“Azzura mau ketemu Mama sekarang.”
Azzam ikut bersikeras.
“Azzam juga mau pulang sekarang.”
Pak Jono memijat pelipisnya.
Dua anak ini benar-benar membuatnya berada dalam posisi sulit.
Azzura tiba-tiba membuka pintu mobil.
“Kalau Pak Jono mau antar Azzam pulang, Azzura bisa jalan sendiri ke rumah sakit.”
“Jangan, Non!”
Pak Jono segera turun dan menutup pintu mobil agar Azzura tidak ikut keluar.
“Tidak ada yang pergi sendirian. Kalian masih terlalu kecil.”
Namun belum sempat Pak Jono kembali ke kursi pengemudi, Azzam justru turun dari mobil.
“Den Azzam!”
Pak Jono langsung mengejarnya.
“Masuk lagi, Den. Kita bicarakan baik-baik.”
Azzam menggeleng.
“Pak Jono antar Azzura ke rumah sakit. Azzam naik taksi saja.”
“Tidak bisa begitu.”
“Kenapa?”
“Karena Bapak bertanggung jawab atas kalian.”
Azzam terdiam.
Pak Jono kemudian mengambil ponselnya.
“Bapak punya teman yang bisa dipercaya. Dia bekerja sebagai pengemudi ojek online. Kalau Den Azzam memang ingin pulang, Bapak akan minta dia yang mengantar.”
Azzam akhirnya mengangguk.
“Yang penting cepat.”
“Iya, Den. Tunggu sebentar.”
Pak Jono segera menelepon temannya dan menjelaskan keadaan.
Tak lama kemudian, Azzura ikut turun dari mobil.
“Pak Jono…”
Ia berdiri di samping Pak Jono dengan mata masih basah.
“Ayo cepat, Pak. Azzura mau ke rumah sakit. Azzura mau ketemu Mama.”
Pak Jono mengangguk.
“Iya, Non. Kita berangkat sekarang.”
Ia kemudian memastikan Azzam tetap berada di dekatnya sampai orang yang dipercaya datang menjemput.
Dalam hati, Pak Jono hanya bisa berharap kedua anak itu segera sampai di tujuan masing-masing dengan selamat.
Sementara itu, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa di rumah sakit nanti, keadaan Serly akan membawa masalah baru yang jauh lebih besar.
“Iya, Non. Tunggu sebentar.”
Setelah mengakhiri panggilan, Pak Jono kembali menghampiri kedua anak itu.
“Sekarang masuk dulu. Kita tunggu teman Pak Jono datang.”
Azzam menurut dan kembali duduk di kursi belakang. Ia segera mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada Diandra.
Sementara itu, Azzura tidak berhenti mendesak Pak Jono.
“Pak, kapan berangkatnya? Azzura mau cepat sampai rumah sakit.”
“Iya, Non. Sebentar lagi.”
Pak Jono berusaha tetap tenang meskipun pikirannya cukup kacau.
Tidak lama kemudian, sebuah sepeda motor berhenti di dekat mobil.
Seorang pria turun dari motor.
“Pak Jono!”
“Pak Budi, akhirnya datang juga.”
Pak Jono segera menghampiri temannya.
“Bisa tolong antar Azzam pulang?”
“Tentu.”
Pak Jono kemudian berjongkok di hadapan Azzam dan memasangkan helm dengan hati-hati.
“Den Azzam yakin pulang naik motor?”
Azzam mengangguk santai.
“Yakin, Pak. Azzam sering naik motor. Lagipula lebih cepat sampai rumah.”
Pak Jono masih terlihat ragu.
Ia sebenarnya merasa tidak tega memisahkan kedua anak itu. Namun keadaan memaksanya mengambil keputusan.
“Kalau begitu, kamu harus hati-hati.”
“Iya, Pak.”
Pak Jono memastikan tali helm Azzam terpasang dengan benar sebelum membantu anak itu naik ke jok belakang.
“Pegang yang kuat, Den.”
Azzam mengangguk.
Pak Budi kemudian menoleh kepada Pak Jono.
“Tenang saja. Saya antar sampai depan rumah.”
“Terima kasih, Bud.”
Pak Jono menepuk bahu sahabatnya.
“Jaga Azzam baik-baik.”
“Siap.”
Pak Jono telah bekerja untuk keluarga itu sejak Azzam dan Azzura masih bayi. Selama bertahun-tahun, kedua anak tersebut bukan lagi sekadar anak majikannya baginya.
Ia sudah menyayangi mereka seperti keluarganya sendiri.
“Den Azzam, pegang jaket Bapak yang kuat, ya.”
Azzam segera meraih bagian belakang jaket Pak Budi.
“Sudah.”
“Kalau begitu kita berangkat.”
Motor perlahan meninggalkan tempat itu.
Pak Jono terus memperhatikan sampai motor tersebut semakin jauh.
Setelah yakin Azzam bersama orang yang dapat dipercaya, ia segera kembali ke mobil.
Azzura sudah menunggunya dengan tidak sabar.
“Pak, sekarang kita ke rumah sakit, ya?”
Pak Jono mengangguk.
“Iya, Non.”
Ia masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin, lalu menjalankan mobil menuju rumah sakit.
Di dua kendaraan yang berbeda, Azzam dan Azzura sama-sama membawa satu kekhawatiran yang sama.
Mereka ingin memastikan orang yang mereka sayangi baik-baik saja.
Namun tanpa mereka ketahui, perjalanan kecil itu perlahan akan membawa mereka menuju masalah yang lebih besar.
“Terima kasih, Pak.”
Azzam turun dari motor setelah mereka berhenti di depan rumah.
“Sama-sama, Den Azzam.”
Pak Budi tersenyum ramah.
Azzam kemudian membuka tas kecil yang dibawanya. Ia mengambil selembar uang dan mengulurkannya kepada Pak Budi.
“Ini buat Pak Budi.”
Pak Budi langsung menggeleng.
“Tidak usah, Den. Simpan saja untuk jajan.”
Azzam menggeleng.
“Mommy selalu bilang kita nggak boleh menolak rezeki.”
Ia kembali menyodorkan uang tersebut.
“Ini rezeki Pak Budi karena sudah mengantar Azzam sampai rumah dengan selamat.”
Pak Budi terdiam sejenak, kemudian tersenyum haru.
“Baiklah. Terima kasih, Den.”
“Sama-sama, Pak.”
Setelah berpamitan, Pak Budi kembali menaiki motornya dan meninggalkan halaman rumah.
Azzam langsung berlari masuk.
“MOMMY!”
Suara bocah itu menggema di dalam rumah.
“MOMMY!”
Beberapa pekerja rumah tangga segera menghampirinya.
“Den Azzam, Nyonya Diandra ada di kamar.”
Azzam tidak menunggu lebih lama. Ia langsung berlari menuju kamar ibunya.
Diandra yang sebelumnya tertidur karena kelelahan, terbangun mendengar suara putranya.
Kepalanya terasa berat dan berdenyut. Bahkan untuk membuka mata saja terasa melelahkan.
“Mommy…”
Azzam berdiri di sisi tempat tidur.
“Hai, Sayang.”
Suara Diandra sangat pelan.
Azzam langsung memperhatikan wajah ibunya.
Matanya membesar melihat pipi Diandra yang membengkak dan memar.
“Mommy kenapa?”
Diandra berusaha tersenyum.
“Mommy nggak apa-apa.”
Ia tidak ingin putranya melihat betapa sakitnya dirinya.
Namun Azzam tidak mudah percaya.
“Tadi Mommy kenapa?”
Diandra terdiam sebentar, lalu mengusap rambut putranya.
“Mommy tadi ada di taman.”
Ia mencoba terdengar santai.
“Waktu sedang merawat bunga, Mommy terpeleset. Pipi Mommy tidak sengaja terbentur pot.”
Azzam mengamati luka itu dengan wajah curiga.
“Tapi ini seperti habis dipukul.”
Jantung Diandra berdegup lebih cepat.
“Siapa yang pukul Mommy?”
Azzam semakin mendekat.
“Daddy?”
Diandra segera menggeleng.
“Bukan, Sayang.”
“Bener?”
“Iya.”
Diandra mengusap kepala Azzam lembut.
“Daddy nggak melakukan apa-apa. Mommy benar-benar jatuh di taman.”
Azzam masih terlihat ragu.
“Jangan bohong sama Azzam, Mommy.”
Diandra menahan napas.
Kemudian ia kembali tersenyum meskipun rahangnya terasa berdenyut.
“Percaya sama Mommy. Mommy baik-baik saja.”
Azzam akhirnya memeluk tubuh ibunya dengan hati-hati.
Diandra memejamkan mata.
Dalam pelukan itu, ia kembali menyadari satu hal.
Luka di tubuhnya mungkin bisa sembuh.
Tetapi kebohongan yang terpaksa ia ucapkan kepada anaknya terasa jauh lebih menyakitkan.
Azzam masih belum sepenuhnya percaya dengan cerita ibunya.
Ia tahu luka di wajah Diandra bukan sekadar akibat terjatuh. Ada sesuatu yang disembunyikan Mommy darinya, tetapi Azzam belum cukup tahu bagaimana cara menemukan jawabannya.
“Mommy…”
“Iya, Sayang?”
Azzam perlahan meraih tangan Diandra. Jemari kecilnya menggenggam tangan sang ibu seolah takut melepaskannya.
“Maafin Azzam, ya.”
Diandra mengerutkan kening.
“Maafin kamu? Kenapa?”
“Azzam merasa bersalah.”
Diandra mengusap punggung tangan putranya.
“Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”
Azzam menundukkan kepala. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Azzam pernah janji sama Mommy…”
Suara kecilnya bergetar.
“Azzam bilang Azzam akan selalu menjaga Mommy.”
Diandra terdiam.
“Tapi Azzam nggak ada waktu Mommy disakiti.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Azzam.
“Kalau Azzam ada di sana, mungkin orang itu nggak akan berani menyakiti Mommy.”
Hati Diandra langsung terasa sesak.
Ia segera menarik putranya ke dalam pelukan.
“Jangan berpikir begitu.”
“Tapi Azzam nggak bisa melindungi Mommy…”
“Dengar Mommy.”
Diandra mengusap rambut Azzam dengan lembut.
“Kamu tidak perlu menjadi pelindung Mommy. Kamu adalah anak Mommy.”
“Tapi…”
“Yang seharusnya menjaga kamu dan Azzura adalah orang dewasa. Bukan sebaliknya.”
Azzam terisak kecil.
“Jadi Mommy nggak marah sama Azzam?”
“Nggak, sayang.”
Diandra mencium kening putranya.
“Mommy justru sangat bangga punya anak seperti kamu.”
Azzam kembali memeluknya dengan hati-hati.
“Kalau begitu Azzam akan tetap menjaga Mommy.”
Diandra tersenyum sedih.
“Jaga Mommy dengan menjadi anak yang baik, belajar dengan rajin, dan sayangi Azzura. Itu sudah lebih dari cukup.”
Azzam mengangguk dalam pelukan ibunya.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tetap menyimpan satu pertanyaan yang belum terjawab.
Siapa yang telah membuat Mommy terluka?