Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : Membawa Beban Ingatan Masa Lalu
Hari-hari awal Clara Pratama sebagai seorang sarjana muda di era modern berjalan di atas ritme yang cepat, teratur, namun kerap kali diwarnai oleh pergulatan batin yang tak seorang pun di dunia ini ketahui. Di balik senyum ramahnya saat membantu ibunya merapikan meja makan atau ketekunannya menyusun berkas-berkas lamaran pekerjaan di meja kamar, Clara menyimpan sebuah beban psikologis yang sangat berat: dua tumpukan memori kehidupan masa lalu yang terus mendesak dan menghantui kesadarannya setiap kali ia terlelap dalam tidur malam.
Sebagai manusia biasa yang hidup di Jakarta modern—di tengah hingar-bingar suara klakson kendaraan, deru kereta rel listrik, dan kilau lampu LED papan reklame raksasa—Clara sering merasa dirinya hidup di antara dua dunia yang bertolak belakang. Di satu sisi, ia adalah gadis milenial berijazah sarjana administrasi yang akrab dengan gawai pintar, media sosial, dan secangkir kopi susu literan. Namun, di sisi lain, kepalanya dihuni oleh memori tentang kemegahan pilar-pilar marmer putih Kekaisaran Roma, suara derap sandal serdadu di jalanan berbatu kuno, aroma anyir darah di ruang bawah tanah istana, serta kelembapan udara pelabuhan Batavia tahun 1928 yang dipenuhi bau mesiu dan hempasan air hujan badai.
Beban dua ingatan itu tidak hanya sekadar bayangan samar atau mimpi bunga tidur biasa. Setiap kali Clara memejamkan mata terlalu lama, potongan adegan masa lalu itu berputar dengan sangat jernih, seolah ia sedang menonton film dokumenter tentang kehidupannya sendiri yang terkoyak oleh waktu. Ia masih dapat merasakan dengan sangat nyata rasa dinginnya lantai batu ruang bawah tanah tempat ia menghembuskan napas terakhir di hadapan Pangeran Marcus ribuan tahun silam. Ia juga masih bisa merasakan sengatan rasa panas dari peluru penembus jantung yang merenggut nyawanya di pelukan Julian van Houten di bawah guyuran hujan badai dermaga Sunda Kelapa.
Trauma emosional yang berlapis-lapis itu membuat Clara tumbuh menjadi pribadi yang sangat berhati-hati, cenderung menutup diri dari hubungan romantis, dan memiliki mekanisme pertahanan diri yang sangat kuat. Ia tahu persis bagaimana rasa sakit kehilangan orang yang dicintai akibat benturan kasta, intrik politik istana, serta permusuhan darah antar-keluarga gangster kolonial. Oleh karena itu, ketika teman-teman kuliahnya sering kali membicarakan masalah percintaan, kencan kilat di kafe trendi, atau berandai-andai tentang sosok pangeran tampan impian, Clara hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Bagi dirinya, kisah percintaan adalah sebuah ladang ranjau mematikan yang hanya akan mendatangkan air mata dan kehancuran jiwa.
"Clara, Nak. Kamu melamun lagi," suara lembut Ibu Rini membuyarkan lamunan panjang Clara yang sedang duduk di beranda rumah sambil menatap langit senja Jakarta yang berwarna jingga kemerahan. Ibu melangkah mendekat dengan membawa semangkuk kecil kolak pisang hangat, lalu duduk di kursi plastik sebelah putrinya. "Sudah beberapa hari ini Ibu perhatikan, sepulang dari mengantar berkas lamaran atau mengurus dokumen, pikiranmu selalu melayang jauh entah ke mana. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Sayang? Ceritalah pada Ibu kalau ada beban."
Clara mengerjap perlahan, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, lalu menyambut mangkuk dari tangan ibunya dengan senyuman manis yang dipaksakan agar tidak terlihat mengkhawatirkan. "Tidak apa-apa, Bu. Clara hanya sedang memikirkan hasil wawancara kerja kemarin. Rasanya sedikit gugup saja membayangkan apakah aku akan diterima di perusahaan sebesar itu atau tidak."
Ibu Rini tersenyum penuh pengertian, mengelus pundak putrinya dengan kehangatan yang selalu berhasil mencairkan ketegangan di dada Clara. "Jangan terlalu membebankan pikiranmu pada hal yang belum pasti, Nak. Kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik. Apapun hasilnya nanti, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Yang penting kamu tetap menjaga kesehatan dan tidak terlalu memforsir diri dengan beban pikiran yang aneh-aneh. Wajahmu akhir-akhir ini tampak lebih pucat dari biasanya, seperti orang yang memikul beban satu dunia di pundakmu."
Mendengar ucapan ibunya, Clara tersenyum pahit dalam hati. Ya, Ibu... aku memang sedang memikul beban dua dunia di pundakku, batin Clara lirih. Beban sejarah dari dua peradaban yang berbeda, yang terkunci rapat di dalam benaknya tanpa seorang pun di era modern ini yang dapat ia ajak berbagi cerita tanpa dianggap sebagai orang gila.
Meski demikian, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, di balik benteng pertahanan emosional dan sumpah untuk menutup hati selamanya, ada sebuah bisikan kecil yang tak pernah benar-benar mati. Bisikan tentang kerinduan yang melintasi abad, sebuah pertanyaan sunyi yang terus bergelayut: Apakah jiwa itu benar-benar terlahir kembali sendirian di era ini? Ataukah sosok pria berambut gelap dengan manik mata hazel yang selalu menggenggam tangannya di detik-detik terakhir kehidupan masa lalu juga turut bangkit kembali di bawah langit Jakarta yang sama?
Clara segera menggelengkan kepalanya keras-keras, membuang jauh-jauh pemikiran sentimental tersebut. Ia mengingatkan dirinya sendiri pada sumpah yang telah ia ikrarkan di kamar tidurnya: Tidak. Cukup sudah kisah tragis di Roma dan Batavia. Di kehidupan ketiga ini, aku adalah Clara Pratama yang mandiri dan rasional. Aku tidak butuh pangeran, aku tidak butuh bangsawan kolonial, dan aku pasti tidak butuh seorang CEO dingin.
Sore itu, di tengah transisi cahaya matahari senja menuju malam kota metropolitan, Clara bertekad untuk melangkah maju, merangkul masa kini, dan mengubur dalam-dalam bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui. Namun, ia tidak menyadari bahwa amplop lamaran pekerjaan bernomor referensi korporasi multinasional elit yang ia kirimkan siang tadi telah mendarat tepat di atas meja kerja seorang pria yang memiliki mata hazel tajam—pria yang juga membawa luka dan ingatan yang sama persis tentang ribuan tahun perjalanan waktu.