NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 LEMBAH AWAN GELAP DAN BADAI YANG MENGGUNCANG BUMI

Lin Mo melangkah terus menembus hutan belantara selatan yang semakin lama semakin suram dan mencekam. Pohon-pohon raksasa yang dulu rimbun dan hijau kini tampak layu dan berwarna kelabu kusam. Tanah di bawah kakinya terasa dingin dan lembap, berlumut tebal namun tak memiliki kehidupan yang seharusnya ada di hutan yang lebat. Semakin jauh ia melangkah ke arah selatan, semakin pekat kabut berwarna abu-abu gelap yang melayang rendah menyelimuti permukaan tanah. Udara terasa berat dan menyesakkan dada. Bau tanah yang busuk dan hawa yang tak wajar menusuk hidung seketika. Cahaya ungu keemasan yang samar namun murni terus bersinar dari tubuh Lin Mo, menerangi jalan di hadapannya dan mengusir kabut gelap yang berani mendekat.

Tiba-tiba langit di atas kepalanya berubah seketika. Awan hitam pekat berputar kencang menutupi seluruh sinar matahari. Angin kencang bertiup menderu-deru membawa debu dan daun kering berputar liar di udara. Suara gemuruh rendah terdengar dari kejauhan, semakin lama semakin keras dan menggelegar seakan langit itu sendiri hendak runtuh menimpa bumi. Lin Mo berhenti melangkah dan mendongak menatap langit yang gelap gulita itu. Cahaya ungu keemasan di matanya berkilauan tajam. Ia merasakan hawa yang begitu dahsyat dan penuh amarah meloncat mendekat dengan kecepatan yang luar biasa.

Belum sempat ia bersiap sepenuhnya, tiba-tiba dari balik tebing batu yang menjulang tinggi melesat seberkas cahaya merah tua yang pekat dan mematikan meluncur cepat menuju ke arahnya. Lin Mo melangkah mundur secepat kilat sambil melambaikan tangan kanannya menebas ke depan. DUARRRR!!! Cahaya ungu keemasan melesat keluar menyambut serangan itu di udara tepat di atas kepalanya. BOOOOMMMMM!!! Dua kekuatan besar bertabrakan dengan ledakan dahsyat yang mengguncang tanah di kakinya. Percikan cahaya merah dan ungu berhamburan ke segala arah bagaikan bintang jatuh yang menyala terang. Hutan di sekitar tempat benturan itu seketika terbakar hebat namun Lin Mo dengan satu ayunan tangan meredam api itu dan memadamkannya sebelum menyebar lebih jauh.

Dari balik kabut tebal perlahan muncul sesosok makhluk raksasa yang menyerupai naga namun bersisik berwarna abu-abu gelap dan kusam. Matanya menyala merah menyala penuh amarah yang tak terhingga. Dari mulutnya keluar asap hitam yang berbau menyengat. Makhluk itu mengaum keras hingga membuat tanah bergetar hebat dan batu-batu kecil di tanah melompat-lompat berderai. Suara aumannya bergema membelah hutan yang gelap itu seakan ingin menelan seluruh dunia.

Lin Mo berdiri tegak tak mundur selangkah pun. Ia menatap mata makhluk raksasa itu dengan pandangan yang tenang namun teguh. Cahaya ungu keemasan perlahan menyala semakin terang benderang menyelimuti sekujur tubuhnya bagaikan matahari terbit di tengah malam yang gelap gulita.

"Aku tidak datang untuk melukaimu... Aku datang karena melihat penderitaan yang kau sebarkan tanpa sebab... Katakanlah... siapa yang melukaimu hingga hatimu begitu penuh amarah dan kesedihan..."

Makhluk raksasa itu mengaum kembali dan mengayunkan ekornya yang sebesar batang pohon besar melesat menuju ke arah Lin Mo. DUARRRR!!! Lin Mo melompat tinggi ke udara menghindari hantaman itu. BOOOOMMMMM!!! Ekor makhluk itu menghantam tanah tepat di tempat Lin Mo berdiri tadi. Tanah pecah berantakan dan lubang besar terbentuk seketika dengan debu yang melayang tinggi menutupi pandangan. Lin Mo mendarat dengan lembut di atas dahan pohon yang masih tegak dan menatap makhluk itu dengan pandangan yang tetap lembut namun penuh ketegasan.

"Mengapa kau terus melawan... Aku datang untuk menolongmu... Bukan untuk melukaimu..."

Makhluk itu seakan tak mendengar kata-katanya. Ia mendongak ke langit dan mengaum panjang. Seketika itu pula petir menyambar dari awan hitam yang berputar di atas. KRAK!!! KRAK!!! Kilat berwarna merah tua menyambar bertubi-tubi menuju ke arah Lin Mo. Lin Mo melambaikan kedua tangannya membentangkan pelindung cahaya ungu keemasan di hadapannya. DUAARR!!! DUAARR!!! Petir-petir itu menghantam pelindung cahayanya satu demi satu dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Cahaya merah dan ungu bertabrakan berulang kali memancarkan sinar yang menyilaukan mata hingga membuat seluruh hutan seketika menjadi terang benderang bagaikan siang hari. Namun pelindung cahaya Lin Mo tak bergeser sedikit pun walau disambar petir berkali-kali dengan kekuatan yang begitu dahsyat.

Makhluk itu tampak semakin marah melihat serangan petirnya tak mempan. Ia melesat meluncur cepat menubruk Lin Mo dengan seluruh kekuatannya. Cahaya merah tua yang pekat menyelimuti tubuhnya seakan menjadi bola api raksasa yang meluncur menghancurkan apa pun yang dilaluinya. Lin Mo tak menghindar kali ini. Ia berdiri tegak dan mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. Cahaya ungu keemasan berkumpul menjadi satu bola cahaya raksasa yang berputar kencang di atas telapak tangannya. Saat makhluk itu meluncur tepat di hadapannya, Lin Mo mendorong bola cahayanya ke depan sekuat tenaga. BOOOOMMMMM!!! SUARANYA MENGGUNCANG SELURUH LEMBAH SEHINGGA GUNUNG-GUNUNG BATU DI SEKITAR TERASA HENDAK RUNTUH. Dua kekuatan besar bertemu di tengah udara menciptakan gelombang ledakan yang menyapu ke segala arah meratakan pepohonan di radius yang sangat luas. Angin kencang menderu-deru meniup debu dan batu beterbangan ke mana-mana.

Setelah ledakan itu mereda perlahan, terlihat Lin Mo masih berdiri tegak di tempatnya. Namun tubuh makhluk raksasa itu terpental mundur cukup jauh hingga menabrak tebing batu yang keras. DUARR!!! Tebing batu itu retak dan hancur berantakan menimpa tubuh makhluk itu yang tampak terluka dan lemah. Asap hitam keluar dari tubuhnya yang perlahan mengecil dan berubah wujud menjadi sosok yang menyerupai manusia namun bersayap dan berambut panjang yang berwarna kelabu. Sosok itu terbaring lemah di antara tumpukan batu yang runtuh. Napasnya terdengar berat dan tersengal-sengal. Matanya yang tadi menyala merah kini perlahan meredup dan menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh kebingungan namun juga penuh rasa bersalah.

Lin Mo melangkah perlahan mendekati sosok itu. Ia tidak memegang gagang pedangnya. Ia justru merentangkan kedua tangannya ke samping menandakan bahwa ia tak membawa senjata apa pun. Cahaya ungu keemasan dari tubuhnya kini berubah menjadi lembut dan hangat menyentuh tubuh sosok itu. Luka-luka yang ada di tubuh sosok itu perlahan sembuh dan rasa sakit yang dideritanya perlahan berkurang seketika.

"Aku tidak menyakitimu... Lihatlah... Kekuatanku tak pernah ditujukan untuk melukai makhluk hidup... Kekuatanku diciptakan untuk melindungi... dan menenangkan..."

Sosok itu perlahan bangkit berdiri. Sayapnya yang tadi tampak kusam dan rusak kini kembali utuh dan kuat. Rambutnya yang berwarna kelabu perlahan berubah menjadi hitam berkilauan indah. Wajahnya yang tampak gagah namun penuh luka kini kembali bersih dan tampak sangat muda dan tampan. Ia menatap Lin Mo dengan mata yang jernih dan penuh air mata.

"Selama ribuan tahun... Kau adalah orang pertama yang tidak mencoba membunuhku... Selama ini... semua orang yang datang ke lembah ini... hanya ingin membunuhku atau mengurungku kembali... Mereka menyebutku iblis... menyebutku makhluk terkutuk..."

Lin Mo tersenyum lembut dan mendekat berdiri tepat di hadapan sosok itu. Ia menatap mata sosok itu dalam-dalam dan berkata dengan suara yang tulus dan menenangkan.

"Itu karena mereka tak mengenalmu... Mereka hanya melihat amarahmu... namun tak pernah melihat kesedihan yang ada di hatimu... Katakanlah... siapa yang melukaimu ribuan tahun silam hingga hatimu terluka begitu dalam..."

Sosok itu menundukkan kepalanya perlahan. Air mata bening jatuh membasahi pipinya yang pucat. Suaranya terdengar bergetar penuh kesedihan yang mendalam.

"Aku adalah penjaga lembah ini... ribuan tahun silam... aku diperintah oleh leluhurmu untuk menjaga sumber kekuatan kehidupan yang tersembunyi di dasar lembah ini... Namun suatu hari... seorang pengikut leluhurmu sendiri yang berhati busuk datang dan mencuri sebagian sumber kekuatan itu... Ia melukaimu dan meninggalkanku sekarat... lalu menyebarkan berita bahwa akulah yang mencuri dan mengacaukan segalanya... Sejak hari itu... aku dikurung dan disegel di dalam lembah ini... tanpa pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan kebenaran... Luka di tubuhku perlahan sembuh... namun luka di hatiku semakin parah seiring berjalannya waktu... Dendam dan kesedihan perlahan mengubahku menjadi makhluk yang penuh amarah seperti yang kau lihat tadi..."

Lin Mo mendengarkan cerita itu dengan hati yang terasa perih dan sedih. Cahaya ungu keemasan yang hangat meluncur perlahan dari telapak tangannya menyentuh dada sosok itu. Energi qi yang murni dan lembut mengalir masuk ke dalam tubuhnya menyembuhkan luka hati yang telah terbusuk selama ribuan tahun itu.

"Maafkanlah... Atas kesalahan yang diperbuat oleh keluargaku... Maafkanlah penderitaan yang kau tanggung sendirian selama ribuan tahun ini... Aku berjanji... hari ini... kebenaran akan terungkap... dan namamu akan dibersihkan dari segala tuduhan yang keliru... Bangkitlah... dan kembalilah menjadi dirimu yang sebenarnya..."

Seketika itu juga cahaya ungu keemasan menyala terang benderang menyelimuti seluruh tubuh sosok itu. Kabut kelabu yang menyelimuti lembah selama ribuan tahun itu perlahan terangkat dan menghilang. Langit yang gelap kembali cerah dan matahari bersinar terang benderang menyinari lembah yang kembali hijau dan subur. Sosok itu mengangkat wajahnya ke langit dan menghela napas panjang yang terasa sangat lega. Ia menatap Lin Mo dengan mata yang jernih dan penuh rasa syukur yang tak terhingga.

"Terima kasih... Yang Mulia... Kau telah menyelamatkan jiwaku dari kegelapan yang abadi... Sejak hari ini... nyawaku adalah milikmu... Aku bersedia menjadi pelayanmu... dan menjagamu hingga napas terakhirku..."

Lin Mo tersenyum lembut dan meletakkan tangan di bahu sosok itu dengan penuh rasa hormat.

"Kau bukan pelayanku... Kau adalah saudaraku... dan penjaga lembah yang mulia... Tetaplah di sini... menjaga sumber kehidupan ini sebagaimana yang kau lakukan sejak dulu... Dan jika suatu hari aku membutuhkan bantuanmu... aku pasti akan datang menjemputmu..."

Sosok itu mengangguk dengan penuh rasa hormat dan kesetiaan yang tak terhingga. Ia melipat kedua tangannya di dada dan membungkuk hormat kepada Lin Mo. Cahaya pelangi perlahan muncul melengkung indah di atas lembah yang kini kembali damai dan penuh kehidupan.

Lin Mo pun berpamitan dan melangkah meninggalkan lembah itu dengan hati yang tenang dan gembira. Ia tahu bahwa badai yang bangkit dari selatan telah reda. Dan kedamaian kembali menyelimuti tanah leluhurnya. Namun di dalam hatinya, ia juga menyadari bahwa kejahatan yang mencuri kekuatan ribuan tahun silam itu masih ada di suatu tempat. Dan suatu hari nanti... ia pasti akan berhadapan dengannya untuk menuntut pertanggungjawaban atas segala dosa yang telah diperbuatnya.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!