Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Bayangan Dendam
Malam berangkut pekat menyelimuti gang sempit di kawasan pemukiman padat di pinggiran Jakarta, tempat Siska kini mengontrak sebuah kamar sederhana. Gerimis tipis yang turun sejak petang meninggalkan genangan air yang memantulkan remang cahaya lampu jalanan yang berkedip-kedip.
Udara malam terasa begitu lembap dan dingin, namun ketenangan di lingkungan itu menyimpan bahaya tersembunyi yang siap meledak sewaktu-waktu.
Di sudut jalan yang paling gelap, terparkir sebuah mobil sedan tua ber-kaca film amat pekat. Kendaraan itu mati total, menyatu sempurna dengan bayang-bayang pohon tua di seberangnya.
Di dalam kabin mobil yang pengap, duduk Danang dengan raut wajah yang tak lagi menyerupai manusia normal. Penampilannya sangat memprihatinkan; matanya merah berbintik darah akibat kurang tidur berturut-turut, rambutnya acak-acakan, dan pipinya yang kempot ditumbuhi brewok tipis yang kusam.
Pengacara keluarganya memang berhasil mengupayakan jaminan bebas sementara dengan jaminan uang dalam jumlah besar—sebuah celah hukum terakhir yang menguras sisa-sisa kekayaan terakhir keluarga Winarto.Namun, kebebasan ini bukanlah awal baru baginya, melainkan tiket untuk menyelesaikan urusan berdarah.
Jari-jemari Danang yang kotor dan gemetar meremas kuat lingkar kemudi. Matanya yang liar tak pernah lepas mengawasi pintu gerbang kontrakan Siska dari kejauhan. Setiap kali ia melihat sosok Siska melangkah keluar dengan pakaian sederhana dan wajah yang letih setelah pulang bekerja dari Menara Adhitama, dadanya membumbung oleh murka yang tak tertahankan.
Bagi Danang, Siska adalah penyebab utama dari segala kejatuhannya. Jika saja wanita itu tidak menumpahkan gelas beracun di acara malam itu, jika saja Siska tidak melemparkan cincin pertunangan dan membongkar borok keuangannya, ia tidak akan pernah merasakan dinginnya lantai tahanan dan hinaan dari seluruh lapisan masyarakat.
Rasa malu, keputusasaan, dan kebangkrutan total telah merusak seluruh akal sehatnya, menyisakan satu dorongan kegilaan yang murni: dendam.
"Kamu pikir kamu bisa hidup tenang setelah menghancurkan hidupku, Siska?" bisik Danang dengan suara parau yang amat mengerikan, seperti bisikan iblis dari dalam kegelapan.
"Kamu dan Rendy... kalian berdua harus membayar semua ini dengan harga yang paling mahal."
Danang memajukan tubuhnya, menatap lembaran paspor palsu dan tiket pesawat satu arah menuju luar negeri yang tergeletak di kursi penumpang di sampingnya. Jadwal penerbangannya disetting besok tengah malam.
Pihak kepolisian pasti akan segera menerbitkan status buron (DPO) begitu menyadari ia melanggar syarat jaminan. Namun sebelum ia melarikan diri meninggalkan negara ini selamanya dan menjadi buronan abadi, ia harus memastikan sebuah pembalasan terakhir yang tuntas terukir.
Ia tidak akan membiarkan Siska hidup membayangkan masa depan bersama Rendy, dan ia tidak akan membiarkan Rendy menikmati kemenangannya atas kekalahan dirinya.
Dengan tangan kiri yang gemetar oleh pacuan adrenalin yang membakar darahnya, Danang meraih sebuah benda yang terbungkus kain hitam tebal dari bawah jok mobil. Ia membuka lipatan kain itu perlahan.
Di balik kain tersebut, memantulkan kilatan cahaya temaram dari luar, terbaring sebuah pistol berjenis revolver hitam legam dengan enam lubang peluru yang sudah terisi penuh. Benda besi dingin itu terasa begitu berat dan mematikan di genggamannya. Di samping senjata api itu, tergeletak selembar foto Siska yang diambil secara diam-diam saat wanita itu baru keluar dari kontrakan pagi tadi.
Danang mengelus foto Siska dengan ujung laras pistol revolver yang dingin, lalu menyunggingkan senyum miring yang gila. Matanya memancarkan tekad maut yang sudah tidak bisa diubah oleh apa pun lagi. Malam besok akan menjadi panggung terakhirnya, tempat di mana darah dan keputusasaan akan menutup kisah mereka bertiga secara permanen.