Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.
Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.
Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.
Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Pemimpin Blood Viper Kabur Diam-Diam
Pintu pusat komando bergetar hebat.
Adrian masih berdiri beberapa meter di depannya.
“Sayangnya...”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Saya memang datang untuk masuk.”
BRAK!
Pintu baja itu jebol.
Pecahan logam beterbangan ke dalam ruangan.
Adrian melangkah melewati ambang pintu sambil membawa tas besarnya.
Namun, hal pertama yang dia lihat bukanlah sekelompok penjaga yang menunggunya.
Ruangan itu kosong.
Hanya beberapa monitor yang masih menyala.
Adrian berhenti.
“...Hah?”
Dia melihat ke kiri.
Kosong.
Ke kanan.
Juga kosong.
Sebuah kursi masih bergoyang perlahan di belakang meja.
Seolah-olah seseorang baru saja meninggalkan tempat itu beberapa detik lalu.
Adrian mengernyit.
“Jangan bilang mereka kabur?”
Dia berjalan menuju meja komando.
Beberapa layar menampilkan rekaman dari berbagai bagian markas.
Di salah satu layar, anggota Blood Viper terlihat berlarian meninggalkan posisi mereka.
Di layar lain, beberapa kendaraan mulai bergerak menuju bagian belakang kompleks.
Adrian menghela napas.
“Padahal saya sudah sampai sini.”
Dia melihat jam tangannya.
00:14:52
Wajahnya langsung berubah.
“Kalau semua orang kabur, pekerjaan saya bagaimana?”
Adrian bukan marah karena musuh melarikan diri.
Dia lebih kesal karena pekerjaannya berpotensi menjadi berantakan.
Dia mengambil salah satu alat komunikasi di atas meja.
“Perhatian.”
Tidak ada jawaban.
Adrian menekan tombol lagi.
“Yang masih ada di dalam markas, tolong jangan lari dulu.”
Hanya suara statis yang menjawab.
Adrian menggeleng.
“Tidak kooperatif.”
---
Di lantai bawah, kepanikan telah berubah menjadi pelarian.
Para anggota Blood Viper yang masih hidup tidak lagi memikirkan perlawanan.
Mereka mengambil apa pun yang bisa dibawa dan mencari jalan keluar.
Beberapa meninggalkan senjata.
Sebagian bahkan melempar rompi pelindung agar bisa berlari lebih cepat.
Namun di tengah kekacauan tersebut, seseorang justru bergerak menuju bagian paling tersembunyi dari bangunan.
Pemimpin Blood Viper.
Dia tidak membawa senjata.
Yang dibawanya hanya sebuah koper hitam.
Di belakangnya ada dua orang kepercayaan.
“Cepat!”
“Jangan tunggu siapa pun!”
Mereka melewati lorong sempit di belakang ruang penyimpanan.
Salah satu anak buahnya terengah-engah.
“Bos, bagaimana dengan pasukan di luar?”
“Lupakan mereka!”
Jawabannya terdengar kasar.
“Yang penting kita keluar hidup-hidup.”
Selama bertahun-tahun dia membangun Blood Viper.
Dia memiliki uang.
Senjata.
Jaringan perdagangan.
Tempat persembunyian.
Namun semua itu tidak berarti apa-apa jika dirinya mati malam ini.
Dia sudah menyiapkan jalan keluar jauh sebelum keadaan seperti ini terjadi.
Sebuah jalur evakuasi tersembunyi.
Tidak ada di denah resmi.
Tidak diketahui sebagian besar bawahannya.
Dan jalur itu mengarah langsung ke kendaraan yang telah disiapkan di luar kawasan markas.
“Setelah keluar dari sini, kita menuju tempat aman.”
Dia mencengkeram koper semakin kuat.
“Besok kita meninggalkan Darsen.”
Salah satu anak buahnya menelan ludah.
“Kalau orang itu mengejar?”
Pemimpin Blood Viper terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan terlihat jelas di wajahnya.
“Dia tidak akan menemukan kita.”
Setidaknya itulah yang ingin dia percayai.
---
Kembali di pusat komando.
Adrian memeriksa layar satu demi satu.
Tidak ada target.
Dia mengetuk meja.
“Orangnya benar-benar hilang.”
Kemudian matanya berhenti pada sebuah monitor.
Ada sesuatu yang aneh.
Salah satu kamera di bagian belakang bangunan baru saja mati.
Beberapa detik sebelumnya, kamera itu masih aktif.
Adrian mendekat.
Di layar terakhir yang terekam, terlihat seorang pria membawa koper memasuki lorong belakang.
Adrian menyipitkan mata.
“Ah.”
Dia mengambil tasnya.
“Jadi bukan hilang.”
“Cuma pindah tempat.”
Adrian keluar dari ruang komando.
---
Lorong belakang markas jauh lebih sunyi.
Tidak ada alarm.
Tidak ada penjaga.
Bahkan lampunya sebagian sudah dimatikan.
Adrian berjalan santai sambil mengikuti arah kamera yang tadi dilihatnya.
Sampai akhirnya dia menemukan sebuah pintu tanpa tanda.
Pintunya terkunci.
Adrian melihatnya beberapa saat.
Kemudian melihat jam.
00:11:37
“Tidak punya waktu buat cari kunci.”
Dia mundur dua langkah.
DUK!
Satu tendangan.
Pintu tidak bergerak.
Adrian menghela napas.
“Bagus.”
Dia mundur lagi.
Kali ini lebih jauh.
“Kalau begitu pakai cara cepat.”
BRAK!
Pintu terlepas dari engselnya dan jatuh ke lantai.
Di baliknya terdapat tangga menurun.
Adrian menatap kegelapan di bawah.
“Markas ini ternyata punya banyak jalan rahasia.”
Dia mulai turun.
---
Jauh di bawah bangunan utama, pemimpin Blood Viper sudah hampir mencapai pintu keluar.
Di depannya terdapat pintu besi besar.
Salah satu anak buahnya memasukkan kode.
Bip.
Gagal.
“Ulangi!”
Dia mencoba lagi.
Bip.
Masih gagal.
“Kenapa tidak bisa?!”
“Bos, mungkin sistemnya terkunci karena alarm!”
Pemimpin Blood Viper langsung merampas alat tersebut.
“Berikan!”
Tangannya gemetar.
Dia memasukkan kode secara manual.
Kali ini terdengar bunyi—
Klik.
Pintu mulai terbuka.
Udara malam masuk dari celah sempit.
Pemimpin Blood Viper hampir tertawa lega.
“Berhasil.”
Dia menarik napas panjang.
“Cepat!”
Ketiga orang itu hendak keluar.
Namun tiba-tiba—
DUUM!
Tanah di belakang mereka bergetar.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Ketiganya membeku.
Suara langkah terdengar dari lorong.
Tidak cepat.
Tidak pula terburu-buru.
Justru terdengar sangat santai.
Tok.
Tok.
Tok.
Pemimpin Blood Viper menoleh perlahan.
Sosok Adrian muncul dari balik tikungan.
Tas besar masih menggantung di bahunya.
Pakaian dipenuhi debu.
Namun ekspresinya tetap tenang.
Dia berhenti beberapa meter dari mereka.
“Ketemu.”
Wajah pemimpin Blood Viper langsung pucat.
“Bagaimana kau bisa—”
Adrian menunjuk ke arah lorong.
“Jejaknya jelas.”
Dia kemudian melirik pintu keluar.
“Dan kalian cuma punya satu jalan.”
Dua anak buah pemimpin Blood Viper langsung mengangkat senjata.
Adrian bahkan tidak mengangkat senjatanya.
“Jangan.”
Suaranya datar.
Namun keduanya tetap menarik pelatuk.
Adrian bergerak.
Dua suara tembakan terdengar hampir bersamaan.
Kemudian keduanya jatuh.
Koper yang mereka bawa terlepas.
Isinya tumpah di lantai.
Tumpukan uang dan beberapa batu permata berserakan.
Pemimpin Blood Viper menatap harta tersebut.
Kemudian menatap Adrian.
Otaknya bekerja cepat.
Dia tahu dirinya tidak bisa menang.
Maka dia melakukan satu-satunya hal yang masih bisa dilakukan.
Bernegosiasi.
“Uang!”
Dia mendorong koper ke depan.
“Ambil semuanya!”
Adrian menunduk melihat isinya.
“Banyak juga.”
“Semua milikmu!”
Pria itu semakin panik.
“Uang tunai, rekening, senjata... bahkan jaringan Blood Viper!”
Adrian mengangkat alis.
“Jaringan?”
“Ya!”
“Aku bisa memberikan semuanya!”
Adrian diam.
Pemimpin Blood Viper mulai melihat secercah harapan.
“Kalau kau mengambil alih Blood Viper, kau bisa mendapatkan jauh lebih banyak daripada bayaran apa pun!”
Adrian menggeleng.
“Tidak tertarik.”
“Kenapa?!”
Adrian menunjuk dirinya sendiri.
“Saya terlihat seperti orang yang mau mengurus ratusan orang?”
Pemimpin Blood Viper terdiam.
Adrian melirik jam.
00:08:19
“Waktu saya tinggal sedikit.”
Dia kemudian melihat pria di depannya.
“Dan saya masih punya pekerjaan.”
Pemimpin Blood Viper mundur selangkah.
“Berapa?”
Adrian mengernyit.
“Apa?”
“Berapa bayaran yang kau mau?!”
Adrian berpikir sejenak.
Kemudian tersenyum.
“Sayangnya bukan saya yang menentukan.”
Dia mengangkat senjata.
Pemimpin Blood Viper langsung berlutut.
“Tidak!”
Adrian tetap tenang.
“Saya cuma pekerja.”
“Dan pekerjaan saya malam ini sudah jelas.”
DOR!
Suara tembakan menggema di lorong bawah tanah.
Setelah itu, semuanya kembali sunyi.
Adrian menurunkan senjatanya.
Dia melihat jam sekali lagi.
00:08:02
“Masih ada waktu.”
Dia menoleh ke koper yang penuh uang.
Kemudian ke lorong menuju permukaan.
“Kalau begitu...”
Adrian mengangkat tasnya.
“Berarti tinggal menyelesaikan sisanya.”
Dia berjalan meninggalkan lorong bawah tanah.
Di belakangnya, pintu besi masih terbuka lebar.
Malam Darsen kembali sunyi.
Namun bagi Blood Viper, malam itu adalah akhir dari sebuah era....