Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
Minggu-minggu berikutnya di St. Jude’s College berlalu seperti angin kencang. Udara musim gugur makin menggigit, menebarkan daun-daun maple merah dan keemasan di sepanjang jalanan batu.
Atmosfer kampus berubah menjadi sangat tegang menjelang Ujian Tengah Semester (UTS). Perpustakaan Coldwell kini penuh sesak oleh mahasiswa yang panik membolak-balik buku teks dan jurnal ilmiah hingga larut malam.
Di meja panjang lantai dua perpustakaan, Rory duduk berhadapan dengan Adrian Cole seorang mahasiswa tingkat dua jurusan Kimia Murni yang juga menjadi rekan satu proyek penelitian kelompoknya.
"Jadi, kalau kita pakai katalis platina di reaksi pemisahan ini, energinya bisa ditekan sampai lima puluh persen," kata Adrian sambil menggeser lembar catatannya ke arah Rory. Adrian adalah pemuda yang ramah, berpenampilan rapi, dan terang-terangan menunjukkan rasa ketarikannya pada Rory sejak awal semester.
Rory meneliti persamaan kimia tersebut dengan saksama. "Penjelasannya masuk akal, Adrian. Tapi biaya untuk katalis platina terlalu mahal kalau diterapkan di skala industri."
Adrian tertawa pelan, menatap Rory dengan binar mengagumi. "Kamu ini selalu memikirkan aspek kepraktisan ya, Rory? Tapi jujur, aku kagum banget sama cara berfikirmu. Mau bahas bab berikutnya sambil minum kopi di kantin nanti malam?"
Rory menyunggingkan senyum tipis yang sopan. "Terima kasih, Adrian. Tapi malam ini aku harus"
"Miss Vance."
Suara berat, dalam, dan terkesan sangat dingin tiba-tiba memotong percakapan mereka dari arah belakang.
Rory dan Adrian serentak menoleh.
Julian Radcliffe berdiri di sana. Ia mengenakan kemeja hitam yang digulung rapi hingga ke siku dan celana kain berpotongan tajam, membawa setumpuk berkas ujian. Tatapan mata hazel-nya melirik Adrian dengan kilat tajam yang tak bersahabat, sebelum akhirnya berpindah menatap Rory.
"Senior Radcliffe," sapa Adrian spontan, sedikit membetulkan posisi duduknya karena terintimidasi oleh aura dominan Julian.
"Kalian membuat suara yang cukup mengganggu untuk area perpustakaan ini," kata Julian datar, walau matanya tertuju lurus pada jarak duduk Adrian yang agak terlalu dekat dengan Rory.
"Maaf, Senior. Kami hanya sedang mendiskusikan materi proyek kimia," jawab Adrian canggung.
Julian melangkah mendekati meja mereka, meletakkan sebuah map tebal berwarna biru tepat di samping buku Rory.
"Rory, Profesor Evans memintamu memeriksa draf analisis data laboratorium minggu lalu," kata Julian. Penggunaan nama depan 'Rory' bukan 'Miss Vance' di depan Adrian terucap dengan begitu mulus dan alami dari bibir Julian, membuat Adrian menaikkan alisnya kaget.
Rory mendongak, menangkap ketegangan terselubung di raut wajah Julian. Ia tahu betul pria ini sedang pura-pura berargumen atas nama Profesor Evans.
"Baik, Julian. Aku akan periksa sekarang," balas Rory tenang, ikut menyebut nama depan Julian untuk menjaga dinamika mereka.
Adrian membelalakkan mata tipis, bergantian menatap Rory dan Julian dengan raut tidak percaya. Hubungan yang tampak begitu akrab di antara seorang mahasiswa beasiswa baru dan Asisten Dosen paling aristokrat di kampus itu adalah hal yang sangat tak terduga.
Julian menatap Adrian dingin. "Ada hal lain yang perlu kalian bahas, Cole? Jika tidak, sesi praktikum mandiri tingkat dua akan dimulai sepuluh menit lagi di lab utara."
Adrian yang mengerti sinyal pengusiran secara halus itu langsung membereskan buku-bukunya dengan terburu-buru. "Ah, iya! Aku hampir lupa. Rory, aku duluan ya. Nanti kita sambung lagi lewat pesan."
"Terima kasih atas diskusinya, Adrian," jawab Rory ramah.
Setelah Adrian menghilang di balik rak buku, Julian langsung mengambil kursi yang tadinya diduduki Adrian, lalu duduk di hadapan Rory.
Rory menyilangkan tangan di dada, menahan senyum tipisnya. "Katalis platina tadi sebenarnya bahasan yang cukup tenang, Julian. Kamu tidak perlu menyela seperti tadi."
Julian melipat tangannya di atas meja, menatap Rory dengan mata hazel-nya yang dalam. Ada kejujuran yang sangat impulsif di matanya.
"Pria itu duduk terlalu dekat denganku maksudku, dengamu," kata Julian datar, berusaha memperbaiki kalimatnya, walau tatapannya tidak bisa berbohong.
Rory tak sanggup menahan tawa kecilnya. Suara tawa renyah itu terdengar sangat manis di antara kesunyian perpustakaan. "Julian Radcliffe kamu baru saja cemburu?"
Julian tertegun sejenak. Pria yang biasanya selalu tenang, penuh kendali, dan tak tersentuh itu kini mendadak salah tingkah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela, mengusap tengkuknya pelan.
"Aku hanya memastikan konsentrasimu tidak terganggu menjelang UTS," kilat Julian, walau semburat merah tipis tampak jelas di ujung telinganya.
Rory menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Julian dengan binar jenaka. "Begitu ya? Terima kasih atas 'perhatian akademisnya', Senior."
Julian kembali menatap Rory. Melihat senyuman dan kehangatan di wajah gadis itu, Julian akhirnya tak bisa menahan senyum tipisnya sendiri. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendekat ke arah Rory.
"Adrian Cole tidak cocok untukmu, Rory," bisik Julian pelan, suaranya mengandung nada memiliki yang sangat halus. "Dia tidak bisa mengimbangi caramu berpikir."
"Lalu siapa yang bisa?" tanya Rory memancing, jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat.
Julian menatap mata cokelat jernih Rory dalam-dalam.
"Seseorang yang tahu betapa berharganya setiap pemikiranmu," jawab Julian tulus.
Udara di antara mereka mendadak terasa begitu hangat. Garis-garis ketegangan akibat pelajaran dan ancaman dari luar seolah menguap. Di tengah kepungan buku-buku tebal perpustakaan tua itu, Aurora Vance dan Julian Radcliffe makin menyadari bahwa perasaan di antara mereka bukan lagi sekadar kekaguman biasa.