NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Pria di seberang telepon itu terdiam cukup lama. Keheningan yang tercipta di saluran telepon membuat Sarah menyunggingkan senyuman culas, tahu betul bahwa nama yang baru saja ia sebutkan berhasil menyentil luka lama yang terendam.

Pria itu adalah Rian, pengusaha ambisius yang dulu pernah mengejar Nadya dengan segala kekayaannya.

Namun, Nadya menolaknya mentah-mentah tanpa keraguan sedikit pun, sebuah penolakan yang menghancurkan harga diri Rian dan meninggalkannya dengan dendam kesumat yang tak pernah padam.

"Nadya?" suara Rian kembali terdengar, kali ini dengan nada dingin dan penuh penekanan.

"Kenapa kamu membawa-bawa nama wanita itu?"

Sarah terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang seraya memainkan ujung rambutnya.

"Karena aku tahu kamu masih menyimpan dendam padanya, Rian. Dan sekarang, waktu yang sangat tepat untuk kita bekerja sama."

"Jangan berbelit-belit, Sarah. Langsung ke intinya," potong Rian tidak sabar.

"Nadya baru saja mengangkat mantan suamiku—Armand, pria gembel yang dulu pernah kubuang—menjadi kepala produksi di perusahaannya," jelas Sarah dengan nada penuh racun.

"Mereka sedang menggarap proyek seragam baru dan mencoba membangun citra sempurna. Armand merasa dirinya sudah menjadi pangeran hanya karena berada di samping Nadya."

Rian tertawa meremehkan dari balik telepon. "Lalu? Apa urusannya denganku kalau Nadya memilih pria tak berguna seperti mantan suamimu?"

"Urusannya adalah, kita bisa menghancurkan mereka berdua sekaligus!" desis Sarah tajam.

"Aku tahu celah Armand, dan kamu punya kekuasaan serta modal untuk merusak proyek besar perusahaan Nadya. Kalau proyek ini gagal total dan diterpa skandal, reputasi Nadya akan hancur lebur, dan Armand akan kembali jadi sampah yang tak berharga."

Di tempatnya, Rian mengepalkan tangannya di atas meja kerja.

Bayangan wajah Nadya yang menolaknya dengan dingin beberapa tahun lalu kembali berkelebat di ingatannya, membakar kembali rasa sakit hati yang terpendam.

"Kapan kita bertemu?" tanya Rian singkat, mengindikasikan bahwa umpan yang dilemparkan Sarah telah dimakan sepenuhnya.

"Besok malam. Aku akan kirimkan lokasi restorannya. Bersiaplah, Rian, kita akan buat Nadya dan Armand berlutut memohon pada kita."

***

Sinar matahari pagi membias lembut menerobos tirai tipis kamar utama, menyinari sprei putih yang masih rapi di satu sisinya.

Nadya perlahan membuka matanya, mengerjap pelan menyesuaikan pandangannya dengan cahaya pagi.

Sensasi hangat dan kedamaian menyapa jiwanya begitu ia terbangun.

Saat menoleh ke samping, ia mendapati tempat tidur di sebelahnya sudah kosong, meninggalkan bekas kehangatan yang menandakan suaminya telah bangun lebih awal.

Dengan senyum tipis di bibirnya, Nadya menyibak selimut satin dan melangkah pelan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke area taman belakang rumah mereka.

Ia menyibak tirai lebih lebar, dan pemandangan indah di bawah sana seketika memanjakan matanya.

Di tepi kolam batu alam yang asri, Armand tampak sudah rapi dengan kaos santai dan celana kain.

Pria itu berjongkok di atas jembatan kayu kecil, menggenggam sebuah wadah berisi pakan ikan.

Jemarinya yang terampil menaburkan butiran pakan ke dalam air dengan gerakan lembut, memancing puluhan ikan koi berwarna-warni saling berebut berenang ke permukaan, menciptakan kecipak air yang jernih dan menenangkan.

Wajah Armand terlihat begitu tenang dan bahagia.

Tidak ada lagi raut cemas atau bayangan trauma masa lalu yang dulu sempat menghantuinya.

Pria itu tampak begitu menikmati momen sederhana di pagi hari tersebut.

Nadya menyandarkan bahunya di kusen jendela, menatap sosok suaminya dari balik kaca dengan tatapan penuh rasa cinta dan syukur yang membuncah.

Hatinya bersumpah, ia akan mempertaruhkan apa pun untuk menjaga kebahagiaan dan senyuman di wajah pria itu dari ancaman siapa pun—termasuk Sarah dan siapa pun yang mencoba mengusik hidup mereka.

"Sayang!" panggil Armand penuh kehangatan begitu pandangannya tidak sengaja menangkap sosok Nadya di balik kaca jendela lantai atas.

Armand tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan ceria ke arah istrinya.

Nadya yang berdiri di dekat jendela membalas lambaian tangan suaminya dengan senyuman paling manis yang ia miliki.

Armand segera menaruh wadah makanan ikan koi ke atas meja taman di dekatnya, lalu melangkah santai masuk ke dalam rumah melalui pintu kaca belakang.

Ia berjalan menaiki tangga menuju kamar utama untuk menemui wanita yang sangat dicintainya itu.

Ceklek.

Pintu kamar terbuka. Armand melangkah mendekati Nadya yang masih berdiri anggun di dekat jendela.

Tanpa ragu, ia merengkuh tubuh Nadya ke dalam pelukan hangatnya.

"Selamat pagi, Sayang," bisik Armand lembut seraya mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening istrinya.

Nadya menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang Armand, menikmati aroma tubuh suaminya yang selalu menenangkan.

"Selamat pagi, Mas. Maaf ya, aku baru bangun. Harusnya aku yang menyiapkan keperluan Mas pagi ini."

Armand terkekeh pelan, mengusap punggung Nadya dengan penuh kasih sayang.

"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu pasti capek setelah seharian bekerja keras kemarin. Mas justru senang melihat kamu bisa istirahat dengan nyenyak."

"Tapi Mas sudah bangun dari tadi," balas Nadya menatap suaminya dengan raut wajah sedikit bersalah namun penuh kehangatan.

"Mas cuma bangun kepagian dan ingin memberi makan ikan sebentar. Sekarang, bagaimana kalau kita mandi dan siap-siap untuk sarapan?" tawar Armand sambil menyunggingkan senyum jahil yang membuat rona merah kembali muncul di pipi Nadya.

Nadya tersenyum malu-malu mendengar godaan suaminya, lalu bergegas mengambil handuk dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan diri.

Sementara itu, Armand berjalan menuju ruang ganti, menyiapkan pakaian kerja mereka hari ini dengan rapi.

Di lantai bawah, aroma harum masakan sudah menyeruak dari arah dapur.

Bibi terlihat gesit menata beberapa piring di atas meja makan.

Untuk sarapan pagi ini, Bibi menyiapkan nasi goreng mentega hangat dengan telur mata sapi, pelengkap potongan mentimun segar, serta dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap halus.

Tak berapa lama, Nadya turun dari lantai atas bersama Armand.

Nadya tampak anggun dengan setelan blazer krem yang elegan, sementara Armand terlihat makin berwibawa dalam balutan kemeja formal yang sangat pas di tubuhnya.

"Selamat pagi, Bibi. Wah, aromanya wangi sekali," puji Nadya sambil menarik kursi di meja makan.

"Selamat pagi, Non Nadya, Tuan Armand. Ini sarapannya sudah Bibi siapkan, mumpung masih hangat," jawab Bibi dengan senyum ramahnya yang hangat.

"Terima kasih banyak ya, Bi," balas Armand tulus seraya duduk di sebelah istrinya.

Pasangan suami istri itu pun menikmati sarapan pagi mereka dengan penuh kehangatan. Setiap suapan terasa nikmat, dipadu dengan obrolan-obrolan kecil dan tatapan penuh rasa cinta di antara keduanya.

Namun, di balik keharmonisan pagi itu, ponsel Nadya di atas meja mendadak bergetar pelan.

Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari Siska—membawa kabar terbaru terkait pergerakan Sarah dan sosok pria misterius yang ia temui semalam.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!