NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 : Di balik senyum palsu.

‎"Cukup!" suaranya bergetar hebat, meledak pelan namun menyayat hati. "Cukup! Aku tidak mau! Aku tidak mau hidup dengan iblis seperti kalian!"

‎‎Dadanya naik turun tak beraturan, air mata yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh membasahi pipi. Di ujung koridor, dua suster yang kebetulan lewat langsung menunduk dalam dan mempercepat langkah, tak ada satu pun yang berani menoleh atau sekedar melirik. Semua orang di sini tahu siapa mereka, dan betapa berbahayanya menyentuh keluarga Salvatore.

‎‎Damian berdiri diam di tempatnya, wajahnya tetap datar dingin seakan teriakan penuh kepedihan itu hanyalah angin lewat yang tak berarti. Namun rahangnya mengeras perlahan, urat‑urat di lehernya menegang, dan manik matanya yang gelap kini semakin menghitam, menyembunyikan amarah yang tertahan di kedalaman sana.

‎‎Keheningan menyelimuti mereka, lima detik terasa berat dan panjang seperti lima jam yang tak berujung.

‎‎"Lampiaskan." ucap Damian pelan, suaranya rendah namun terdengar jelas di telinga Celine. "Sekarang."

‎‎Celine terisak, bahunya berguncang hebat. "Kalian pikir aku ini boneka?!" suaranya pecah meledak. "Disuruh menikah, aku menikah. Disuruh pakai cincin, aku pakai. Sekarang disuruh punya anak... aku harus punya anak begitu saja?!"

‎‎Ia menunjuk pintu ruangan Oma yang tertutup rapat itu dengan jari gemetar, matanya menyala marah sekaligus putus asa. "Dia! Dia bahkan belum pernah benar‑benar mengenal aku! Tapi dia merasa berhak mengatur hidupku? Mengatur rahimku?!"

‎‎Damian melangkah maju satu langkah. Celine refleks mundur dengan tubuh gemetar.

‎‎"Jangan sentuh aku!" bentaknya lantang, matanya memancarkan ketakutan sekaligus penolakan yang dalam. "Jangan pernah sentuh aku lagi!"

‎‎Damian berhenti seketika. Tak mendekat lebih jauh, namun tak juga mundur. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya hingga buku jarinya memutih. Ia menatap Celine dari atas hingga ke bawah dengan tatapan menilai, tenang, namun menekan begitu berat.

‎‎"Lalu?" tanyanya datar, tanpa nada kasihan. "Setelah meluapkan semuanya ini... kau mau apa?"

‎‎Celine tercekat. Mulutnya terbuka sedikit, namun tak sepatah kata pun keluar.

‎‎"Mau lari?" lanjut Damian pelan namun tajam, setiap katanya seperti tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Celine. "Mau berteriak ke seluruh rumah sakit ini kalau kau dipaksa menikah? Mau bilang ke ibumu yang sedang berjuang hidup di dalam sana... kalau menantunya adalah seorang iblis?"

‎‎Wajah Celine memucat. Kata‑kata itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan apa pun. Ia mundur lagi, punggungnya akhirnya membentur dinding dingin koridor, tak bisa lari lebih jauh lagi.

‎‎"Aku... aku tidak tahu..." gumamnya lemah, air matanya kembali jatuh deras.

‎‎Damian melangkah mendekat, menekan satu telapak tangannya ke dinding tepat di samping kepala Celine, mengurung wanita itu di sana. Jarak mereka kini hanya sejengkal, cukup dekat hingga napasnya yang hangat menyentuh wajah Celine.

‎‎"Nyonya Salvatore..." bisiknya rendah, dingin namun menekan tak terelakkan. "Kau boleh benci aku. Boleh benci Oma. Boleh hancur, menangis, dan hancur berkeping‑keping di sini."

‎‎Ia berhenti sejenak, membiarkan kata‑katanya meresap sepenuhnya.

‎‎"Tapi ingat satu hal." suaranya tetap tenang namun tak bisa dibantah. "Begitu kau membuka pintu dan masuk menemui ibumu... kau tetap istriku. Cincin ini tetap melingkar di jarimu. Dan nama Salvatore tetap menempel di punggungmu, tak akan bisa kau hapus begitu saja."

‎‎"Jadi hapus air matamu." matanya menatap lurus ke mata Celine yang berkaca‑kaca. "Karena orang Salvatore tidak menangis di depan umum."

‎‎Celine terisak pelan, matanya terpejam rapat. Ia merasa lelah, kalah, dan tak berdaya.

‎‎Damian perlahan mundur, memberi jarak di antara mereka. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar sapu tangan putih bersih lalu menekankannya perlahan ke pipi basah Celine. Gerakannya kasar, tanpa kelembutan berlebihan, namun tetap hati‑hati seakan tak benar‑benar ingin melukainya.

‎"Usap." perintahnya singkat.

‎‎Dengan tangan gemetar hebat, Celine menerima sapu tangan itu dan mengusap wajahnya sendiri dengan gerakan yang kaku. ‎Damian menatapnya sejenak, lalu berbalik memunggunginya.

‎‎"Aku masih ada urusan lain." ucapnya, kepalanya menoleh sedikit ke samping tanpa menatapnya langsung. "Kau bisa menemui ibumu sekarang. Orang‑orang sudah disiapkan, mereka akan mengantarmu ke ruangan tempat ibumu dirawat."

‎‎Dua orang pengawal berjalan mendekat ke arah Celine, lalu menunduk hormat.

‎‎"Mari, Nyonya," ucap salah satu dengan suara rendah dan sopan namun tak memberi ruang untuk menolak. "Izinkan kami mengantar Anda ke ruangan tempat Ibu Anda dirawat."

‎‎Celine menatap punggung Damian sebentar, lalu mengangguk pelan dan melangkah mengikuti mereka menjauh dari ruangan Oma Rosalina. Damian menatap kepergiannya, lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.

-

-

‎Pintu ruangan rawat terbuka perlahan. Di atas ranjang yang empuk, terbaring seorang wanita paruh baya. Bagian kepala dan dahinya masih dibalut perban putih lebar, wajahnya terlihat pucat dan lemah, gerakannya sangat terbatas karena belum boleh banyak bergerak atau memaksakan diri. Matanya yang sayu melebar perlahan saat melihat putrinya melangkah masuk sendirian.

‎‎"Ibu..." panggil Celine lirih, kaki kecilnya seakan berlari mendekat meski ia berusaha menahan diri agar tidak terlalu cepat. Ia duduk pelan di tepi ranjang, segera meraih tangan ibunya yang terasa hangat namun kurus.

‎‎Elena tersenyum lemah namun matanya berbinar bahagia. "Celine... Nak... Ibu kira Ibu hanya bermimpi..." suaranya pelan, serak dan lemah, kepalanya hanya sedikit bergerak miring sebisanya. "Kau datang..."

‎‎"Iya Bu, aku datang," Celine menunduk, air mata yang tadi sempat kering nyaris jatuh lagi melihat kondisi ibunya yang rapuh. Ia mengecup lembut punggung tangan ibunya. "Maaf ya Bu, baru bisa datang sekarang..."

‎‎"Jangan minta maaf, Nak..." Elena mengerjap pelan, menatap wajah putrinya lekat‑lekat, lalu perlahan pandangannya beralih sejenak ke cincin berkilau di jari Celine. "Celine, dari mana kau dapat uang sebanyak ini? Operasi ini pasti mahal sekali..."

‎‎Celine menelan ludah, jantungnya berdebar kencang.

‎‎"Apakah dari Jason?" tanya Elena pelan, matanya penuh harap sekaligus cemas. "Apakah dia yang membantumu? Dia pria yang baik. Apa dia melamarmu?"

‎‎Dunia Celine serasa berhenti sesaat. Lidahnya terasa kaku. Tidak mungkin dia bicara jujur bahwa Jason sudah berselingkuh. Dan uang untuk operasi Ibunya adalah hasil dari pernikahan yang seperti penjara yang baru saja ia jalani. Jika ibunya tahu kebenaran ini, kondisinya pasti akan memburuk lagi. Ibunya belum kuat menahan kejutan.

‎‎Celine memaksakan senyum paling lembut yang bisa ia buat, mengusap lembut punggung tangan ibunya.

‎‎"Bu..." suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tenang. "Jangan dipikirkan dulu ya... yang penting sekarang Ibu sudah di operasi dan sebentar lagi pasti akan sembuh. Urusan uang itu sudah selesai."

‎‎Elena masih terlihat ingin tahu, dahinya sedikit berkerut meski perban membatasinya. "Tapi Nak, Ibu harus tahu—"

‎‎"Sudah ya Bu..." potong Celine lembut namun tegas, segera mengambil mangkuk berisi bubur hangat yang sudah tersedia di meja samping ranjang. Ia mengangkatnya perlahan, mengalihkan perhatian ibunya. "Sekarang waktunya makan dulu ya. Tubuh Ibu butuh kekuatan supaya cepat pulih. Biar aku yang menyuapi, ya?"

‎‎Elena menatap putrinya lama sekali, menyadari bahwa Celine sengaja tidak ingin membahas hal itu lebih jauh. Namun melihat senyum putrinya, Elena akhirnya mengangguk pelan.

‎‎"Baik, Nak..." bisiknya lembut. "Terima kasih..."

‎‎Celine mengangguk pelan, menyendok bubur itu perlahan ke mulut ibunya, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa sakit yang sebenarnya sedang merobek hatinya. Di hadapan ibunya, ia harus kuat.

-

-

-

‎BRAK!!!

‎‎Pintu ruangan Direktur Utama itu di buka kasar, memecah kesunyian yang mencekam.

‎‎Pria yang sedang duduk tenang di kursi besarnya langsung mengangkat wajahnya cepat. Pulpen di tangannya berhenti, matanya menyipit.

‎"AMORE!"

--

--

--

Bersambung...

1
Mei Mei
semoga hp nya valentine di sadap biar Damian bisa tau Matteo dimn ,
Lembang Azam
udah sana ikuti suamimu yg penghianat itu,, biar kamu bisa melihat kbenaran klw mmg Matteo itu ingin menggantikan posisi damian😤
🔥Violetta🔥: Perlu dikasih faham dulu si Valen kak 🤭😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
sulit Cel... mana dia bos nya
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!