NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : PURA-PURA TIDAK MENGENAL

...BAB 4...

...PURA-PURA TIDAK MENGENAL...

Siang itu rumah makan sederhana tempat Melda bekerja terlihat lebih ramai dari biasanya.

Suara piring beradu terdengar hampir tanpa henti. Pelayan mondar-mandir membawa pesanan. Aroma makanan memenuhi ruangan.

Melda berdiri di bagian belakang, tangannya sibuk mencuci tumpukan piring yang seolah tidak pernah habis.

Sejak pagi ia sudah bekerja. Mengangkat piring kotor. Membersihkan meja. Mencuci gelas. Kemudian kembali mencuci piring.

Pekerjaan itu melelahkan. Tangannya mulai memerah karena terlalu lama terkena air dan sabun.

Namun Melda tidak mengeluh. Setiap kali merasa lelah, tangannya refleks menyentuh perutnya.

Masih rata. Belum ada tanda-tanda kehamilan yang terlihat.

Tetapi Melda tahu ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di sana.

"Ayo, Melda!" Suara pemilik rumah makan memanggil.

"Iya, Bu!" Melda segera mengeringkan tangannya.

"Ada meja nomor tujuh belum dibereskan."

"Baik." Ia mengambil nampan. Berjalan menuju meja pelanggan.

Namun baru beberapa langkah, rasa mual tiba-tiba datang.

Melda berhenti. Tangannya menutup mulut. Ia menarik napas perlahan.

"Jangan sekarang..." Ia menunggu sampai rasa mual itu sedikit mereda.

Kemudian kembali bekerja. Tidak boleh lemah. Ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.

Di sisi lain kota, Berry sedang mengendarai mobil bersama Vina.

"Sayang, aku lapar." Vina menyandarkan kepala di bahu Berry.

"Kita makan di mana? Di tempat biasa?" tanya Berry.

"Bosaaaan." Vina mengerucutkan bibir. "Aku mau tempat baru."

Berry tertawa. "Oke." Ia memutar setir.

Tanpa sengaja matanya melihat sebuah rumah makan sederhana di pinggir jalan.

"Di sana?"

Vina melihat keluar jendela. "Serius?"

"Kenapa?"

"Tempatnya sederhana banget."

Berry mengangkat bahu. "Yang penting makanannya."

Mereka turun. Vina berjalan sambil menggandeng lengan Berry.

Berry tidak mempermasalahkannya. Ia memang senang menunjukkan kepada orang-orang bahwa dirinya memiliki pasangan.

Mereka masuk ke dalam rumah makan.

"Silakan, Mas." Seorang pelayan menyambut.

Berry memilih meja di dekat jendela. Vina duduk di depannya.

"Aku mau ayam bakar."

"Minumnya?"

"Jus alpukat."

Berry mengangguk.

"Kamu?"

"Aku sama."

Pelayan mencatat pesanan. "Baik, Mas." Pelayan itu pergi.

Berry bersandar. Ia melihat sekeliling. Tempat itu memang sederhana.

Tidak seperti restoran mewah yang biasa ia datangi. Namun cukup nyaman.

"Kenapa kamu ngajak aku ke sini?" tanya Vina.

"Katanya mau tempat baru."

Vina tersenyum. "Aku kira kamu akan membawaku ke restoran mahal."

"Sesekali makan sederhana."

Vina terkekeh.

Sementara itu, di belakang rumah makan...

Melda baru saja selesai mencuci satu bak penuh piring. Ia mengangkat wajah.

"Bu, piringnya sudah..."

Kalimatnya terhenti. Pemilik rumah makan berdiri di dekat pintu.

"Meja tujuh belum diantar minumnya."

"Baik, Bu." Melda mengambil dua gelas minuman.

Kemudian berjalan keluar. Kepalanya sedikit menunduk. Ia tidak memperhatikan siapa yang duduk di meja nomor tujuh.

Sampai langkahnya semakin dekat. Seseorang yang sangat ia kenal sedang duduk di sana.

Berry.

Melda berhenti. Dunia seolah mendadak diam.

Tangannya gemetar. Gelas di atas nampan hampir terjatuh. Dan yang lebih menyakitkan...

Berry tidak sendirian. Di depannya duduk seorang perempuan cantik.

Perempuan itu bahkan sedang menggenggam tangan Berry.

Melda menelan ludah. Dadanya terasa sesak.

Seharusnya ia sudah tahu.

Berry memang tidak pernah berjanji akan menunggunya. Berry juga tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya perempuan.

Tetapi melihatnya bersama perempuan lain tetap terasa seperti luka yang ditusukkan kembali.

Melda menarik napas dalam-dalam. Jangan menangis. Bukan di sini. Ia menundukkan wajah. Kemudian berjalan mendekati meja mereka.

"Pesanannya, Mas."

Berry yang sedang berbicara langsung menoleh. Matanya bertemu dengan mata Melda. Seketika wajah Berry berubah.

"Melda?"

Melda diam. Tidak ada reaksi. Berry mengerutkan kening.

"Melda?"

Perempuan itu justru meletakkan minuman di atas meja.

"Jus alpukatnya dua."

Vina melihat Melda. Kemudian melihat Berry.

"Kamu kenal?"

Berry masih menatap Melda. "Dia..."

Melda memotong. "Silakan dinikmati." Ia berbalik.

"Melda." Berry memanggil lagi.

Langkah Melda berhenti. Namun ia tidak menoleh. "Maaf, Mas." Suara Melda terdengar datar. "Apakah ada yang bisa saya bantu?"

Berry terdiam.

Mas?

Perempuan itu memanggilnya Mas? Padahal beberapa bulan lalu mereka masih sangat dekat. Bahkan terlalu dekat.

"Lo nggak kenal gue?"

Melda mengepalkan tangan. Air matanya hampir jatuh. Namun ia menahannya. Kemudian menoleh dengan senyum tipis.

"Maaf, kita pernah bertemu?"

Pertanyaan itu membuat Berry terpaku. Melda segera pergi.

Langkahnya terlihat tenang. Namun begitu sampai di balik pintu dapur, ia langsung menutup mulut. Air matanya jatuh. Ia menyandarkan tubuh ke dinding.

"Jangan menangis Melda..." Bisiknya. Bahunya bergetar. "Please, jangan di sini."

Tangannya kembali menyentuh perutnya. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu membuatmu sedih lagi..." Ia mengusap perutnya perlahan. "Tapi Ibumu nggak apa-apa."

Padahal dadanya terasa begitu sakit.

Di meja makan, Berry masih menatap ke arah pintu dapur.

Vina mengernyit. "Siapa dia?"

Berry tidak langsung menjawab. "Teman lama."

"Teman?"

"Iya."

"Kenapa dia pura-pura nggak kenal kamu?"

Berry mengangkat bahu. "Aku juga nggak tahu."

Namun sebenarnya Berry tahu. Melda pasti sengaja. Ia mengenalnya cukup baik untuk memahami itu.

"Dia itu mahasiswa, kan?" tanya Berry tiba-tiba.

Vina mengangguk bingung. "Kamu tahu?"

Berry terdiam. Ia memang tahu Melda masih kuliah. Beberapa bulan lalu, perempuan itu masih sibuk dengan tugas-tugas kampus.

Bahkan pernah bercerita tentang keinginannya menyelesaikan kuliah.

Tapi sekarang...

Ia bekerja sebagai pelayan di rumah makan sederhana. Mencuci piring. Mengantar makanan. Bekerja dari pagi sampai malam.

Berry menatap pintu dapur lagi. "Kenapa dia bisa kerja di sini?"

Vina mengangkat bahu. "Mungkin dia lagi butuh uang."

Berry tidak menjawab. Ada rasa iba kecil yang muncul. Tidak besar. Tidak cukup untuk membuatnya merasa bersalah.

Namun cukup untuk membuatnya bertanya-tanya. Apalagi ia teringat pesan Melda tiga hari lalu.

Aku sedang hamil.

Berry menelan ludah. Apa mungkin karena itu? Apa Melda benar-benar berhenti kuliah?

Apa dia benar-benar kesulitan?

Berry segera menggeleng. Itu bukan urusanku. Kalau memang Melda punya masalah, seharusnya dia bisa menyelesaikannya sendiri. Aku tidak mau terlibat.

"Sayang?" Suara Vina membuat Berry kembali sadar.

"Hm?"

"Kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa."

Vina tersenyum. Kemudian kembali menggenggam tangannya. "Ayo makan."

Berry mengangguk. Ia berusaha fokus pada Vina. Namun sesekali matanya tetap melirik ke arah dapur.

Setelah pelanggan mulai berkurang, Melda kembali mencuci piring. Air mata yang tadi jatuh sudah ia hapus. Ia tidak boleh menangis. Ia tidak boleh menunjukkan bahwa dirinya terluka.

Terlebih lagi karena Berry melihatnya sebagai orang asing. Mungkin memang itu yang terbaik.

Melda tersenyum pahit. Dulu Berry pernah mengatakan dirinya begitu istimewa. Sekarang bahkan keberadaannya tidak ingin diakui.

Ia menarik napas. Kemudian kembali menggosok piring.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tangannya bergerak semakin cepat.

Sampai tiba-tiba suara seseorang terdengar dari belakang.

"Melda."

Tangannya berhenti. Ia mengenali suara itu.

Berry.

Melda tidak menoleh. "Ada apa, Mas?"

Berry berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Kenapa lo kerja di sini?"

Melda terus mencuci piring.

"Memangnya kenapa?"

"Lo masih kuliah, kan?"

"Sudah tidak."

Berry mengerutkan kening. "Kenapa?"

Melda akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. "Karena saya butuh uang."

Jawaban itu sederhana. Berry tidak langsung membalas. Ia memperhatikan wajah Melda.

Perempuan itu terlihat lebih kurus. Matanya sedikit cekung. Tangannya memerah. Ada bekas luka kecil di jarinya.

Untuk pertama kalinya, Berry merasa tidak nyaman melihatnya. "Lo, baik-baik saja kan?"

Melda tersenyum tipis. "Saya baik."

"Kalau butuh bantuan..." Berry berhenti. Ia hampir menawarkan uang.

Namun mengingat Vina sedang menunggunya di depan, ia mengurungkan niat.

Melda memperhatikannya. Tidak ada yang perlu dikatakan. Akhirnya Berry hanya berkata,

"Ya sudah." Ia berbalik.

Melda kembali menunduk. Air mata kembali menggenang. Namun kali ini ia menahannya.

Karena ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri.

Ia tidak akan mengejar Berry. Tidak akan memohon. Tidak akan meminta lelaki itu mencintainya.

Kalau Berry tidak mau mengakui anaknya...

Melda akan tetap melahirkan anak itu. Dan membesarkannya dengan kedua tangannya sendiri.

Sementara Berry berjalan kembali menuju meja Vina. Ia tidak tahu bahwa beberapa langkah di belakangnya, seorang perempuan sedang menahan tangis demi mempertahankan harga dirinya.

Dan untuk pertama kalinya, rasa iba kecil mulai tumbuh di hati Berry.

Meski ia masih terlalu keras kepala untuk menyebutnya sebagai rasa bersalah.

Bersambung...

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!