Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22 Lily dan Grace
Kamar Eldrick.
Eldrick membuka pintu. Kamarnya terlihat gelap.
"Sayang, kamu belum kembali?"
Tidak ada jawaban.
Eldrick menyalakan lampu.
Dia melangkahkan kakinya mencari sekeliling.
Ruangan itu tidak menunjukkan adanya seseorang.
"Sayang, apa kamu belum kembali?"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang di rasakan oleh Eldrick.
Eldrick melangkah keluar dari kamarnya. Pria itu kembali menuruni tangga.
Baru saja tiba di tangga terakhir. Langkah Eldrick terhenti.
Sang istri sedang berdiri di hadapannya sambil membawa secangkir teh di tangannya.
"Kamu di sini sayang?"
Lily tersenyum kecil.
"Kamu mencari ku?"
"Khmm."
Eldrick menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Di mana Alex?"
Lily mengedarkan pandangannya mencari sekeliling ruang tamu.
Eldrick tidak mengatakan sepatah kata pun.
Secara teknis dia adalah penyebab Alex pergi.
Eldrick memilih diam saja.
Dia pura-pura tidak tahu.
"Mungkin dia pergi." Lirih Eldrick.
"Sayang sekali."
Lily tampak tidak bersemangat.
"Biar aku minum sayang. "Eldrick meraih cangkir di tangan istrinya.
"Ya sudah."
Lily melangkah masuk ke dalam kamarnya. Eldrick yang melihat istrinya pergi segera menyusul sang istri.
"Ada apa sayang? Kamu baik-baik saja bukan?"
Lily menoleh kepada suaminya.
Lily hanya menghembuskan nafas kasar mendengar pertanyaan suaminya.
"Maaf sayang. Aku salah."
Lily menghentikan langkahnya mendengar kata maaf suaminya.
Wanita itu menoleh dan tersenyum kecil.
"Kamu tidak salah sayang. Aku yang salah dalam hal ini."
Lily menatap suaminya.
"Maafkan aku sayang. Kamu harus melalui semua ini karena aku."
Lily memeluk suaminya cukup erat. Hal itu tidak berlangsung lama. Lily melepaskan pelukannya dan melangkah masuk ke dalam kamar.
"Kamu harus meminta maaf dengan sungguh-sungguh sayang."Ujar Eldrick tersenyum penuh arti.
Lily menghentikan langkahnya kembali. Dia menoleh kepada suaminya.
Hanya melihat tatapan suaminya. Lily sudah tahu apa yang di inginkan oleh suaminya.
"Lakukan dengan lembut sayang."
"Aku mengerti sayang. Kapan aku tidak melakukannya dengan lembut."
Lily tidak menanggapi ucapan suaminya lagi. Dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Ke esokan paginya...
Lily membuka matanya. Dia merasakan seluruh tubuhnya sakit akibat ulah suaminya.
"Kamu baik-baik saja sayang?"Eldrick bertanya ketika melihat sang istri kesakitan.
Lily menoleh.
Tatapannya begitu tajam.
"Semua ini salah mu sayang. Aku sudah mengatakannya agar kamu melakukannya dengan lembut."
Lily sedikit kesal.
Eldrick hanya tersenyum kecil.
"Maaf sayang."
"Aku mau mandi sayang."
Lily beranjak dari tempat tidur dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Langkahnya sedikit pelan karena rasa sakit yang dia rasakan.
Eldrick menatap sang istri dengan perasaan bersalah.
Eldrick meraih ponselnya.
"Belikan hadiah untuk istriku dan kirim ke kantor."Perintah Eldrick kepada seseorang.
Setelah mengatakan hal itu. Eldrick kembali meletakkan ponselnya.
Baru saja hendak beranjak dari tempat duduknya. Sang istri kini sudan keluar dari kamar mandi.
Di sisi lain, Ana baru saja tiba di kantor. Hari ini, wanita itu sengaja datang lebih awal. Tentu saja bukan tanpa sebab.
Begitu tiba di kantor. Hampir semua karyawan bersikap ramah kepada dirinya.
Melihat hal itu, Ana begitu puas. Dia duduk dengan tenang di meja kerjanya. Sesekali dia tersenyum ketika karyawan menyapa dirinya.
"Pagi Ana."Sapa Amber dan Jane.
Keduanya segera duduk di samping Ana.
"Ana, siapa yang menyangka jika kamu adalah tunangan tuan Eldrick. Sebentar lagi kamu bahkan menjadi nyonya Eldrick."Ujar Amber.
Ana hanya tersenyum kecil. Dia tidak mengatakan apa-apa. Meski dia tahu jika Eldrick sama sekali tidak menginginkan perjodohan ini. Ana tetap tidak peduli.
Dia tahu jika nyonya Morley akan membelanya. Perjodohan mereka akan tetap berlangsung.
"Lily, kamu sudah datang."
Grace yang sedari duduk dan mendengar semua percakapan mereka. Sengaja memanggil Lily. Hal itu di lakukan untuk mengalihkan perhatian mereka.
Lily melambaikan tangannya dan tersenyum kecil.
Ana dan Amber bersiap mengatakan sesuatu. Tapi terhentikan dengan kedatangan tuan Hartono.
"Pagi, terimah kasih atas kerja keras kalian. Tuan Eldrick akan mengajak dua karyawan di dalam tim ini. Namanya ada di dalam amplop yang baru saja di berikan tuan Wil."Ujar tuan Hartono.
Ana menoleh kepada Lily.
Wanita terlihat ingin menunjukkan jika dirinya yang akan terpilih.
Ekspresi tuan Hartono membuat Ana sedikit gugup. Terlebih saat tuan Hartono menoleh kepada Lily.
"Siapa pak? Kami sudah tidak sabar."Tanya Amber.
"Lily dan Grace."
"Apa tidak salah?"Kali ini Jane yang bertanya.
"Sepertinya karyawan yang di pilih adalah pemenang proposal."
"Lalu bagaimana dengan Grace? Dia sangat tidak kompoten."Tanya Amber yang terlihat tidak menerima hal itu.
"Apa kamu meragukan tuan Eldrick?" Tuan Hartono menoleh dengan kesal ke arah Amber.
"Saya tidak berani tuan."
"Persiapkan diri kalian. Kalian berdua akan ikut dalam perjalanan bisnis. Jadikan perjalanan kali ini sebagai pelajaran yang berharga."Ujar tuan Hartono kembali.
Pria paruh baya itu menoleh kepada Lily dan Grace.
"Baik tuan."Jawab Lily dan Grace bersamaan.
Ana kembali duduk.
Tangannya mengepal kuat. Dia menoleh ke arah sepupunya.
Rasanya dia ingin mencabik-cabik wajah Lily. Dia kembali merasakan kekalahan untuk kesekian kalinya dari sepupunya.
"Kenapa tuan Eldrick tidak memilih Ana? Bukankah Ana adalah tunangannya. Seharusnya Ana yang di pilih."Lirih Jane.
Tuan Hartono tidak menjawabnya. Dia berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Ada apa ini? Kenapa tuan Eldrick tidak memilih Ana?"Kali ini pertanyaan itu keluar dari mulut salah satu karyawan.
Ana menoleh dengan perasaan kesal.
Menyadari tatapan kesal Ana. Para karyawan tidak ada yang berani bertanya lagi. Mereka semua kembali bekerja dengan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Lily dan Grace tersenyum bahagia.
"Ini kesempatan kita Grace."
Lily terlihat begitu bahagia.
Berbeda dengan Grace. Dia bisa membayangkan perasaan canggung saat mereka pergi.
"Ada apa?"Bisik Lily.
"Entahlah. Sepertinya aku akan merasakan canggung berada di antara kalian?"Jawab Grace sedikit berbisik.
"Tenang saja. Aku ini profesional."
Lily tersenyum kecil setelah mengatakan hal itu. Grace hanya mengangguk.
Dari meja kerjanya. Ana mengamati mereka dengan perasaan kesal.
"Bagaimana bisa? Lily selalu saja mengalahkan ku. Jika terus seperti ini. Aku bisa kalah di hadapan Eldrick."Batin Ana semakin kesal.
"Bagaimana jika Eldrick tertarik kepadanya?"
"Tidak, Lily sudah menikah. Ana jernihkan pikiran mu."
Berbagai spekulasi mulai bermunculan di pikiran Ana. Wanita itu mulai tidak tenang.
Ana terus melirik ke arah sepupunya.
Rasa bencinya mulai semakin besar terhadap sepupunya itu.
Sementara Lily menatap layar komputernya dengan fokus. Beberapa menit kemudian, wanita itu beranjak dari tempat duduknya.
Ana mengikutinya dari belakang.
Tampaknya Ana telah salah paham. Ternyata Lily hanya pergi ke toilet.
"Awas saja kamu Lily."