Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Malam Perburuan
Peluit pertama membawa seluruh tim ke posisi masing-masing.
Arya berdiri di balik tanggul tanah pada sisi timur kebun singkong. Pakde Karyo berada dua langkah di belakang sebagai pengamat. Senapan tetap mengarah ke tanah sampai semua lampu merah berhenti bergerak.
“Tim penutup satu siap,” suara Jarwo terdengar melalui radio pinjaman.
“Tim pengarah siap,” jawab kelompok utara.
Arya memeriksa sekali lagi ruang kosong di belakang target. Tidak ada rumah, manusia, atau ternak. Lereng tanah akan menahan peluru bila tembakan meleset.
“Mulai perlahan.”
Kaleng dipukul dari kejauhan. Suaranya berpindah mengikuti pola, bukan meledak bersamaan. Daun di batas hutan bergetar. Seekor celeng muda muncul, berlari ke arah barat, lalu menghilang tanpa melewati lahan warga.
Tidak ada yang menembak.
Lima menit kemudian, dua bayangan lebih besar keluar dari semak. Salah satunya berbelok mendadak karena suara dari tim pengarah. Jarwo tetap di balik tanda putih, meski hewan itu mendekat ke jalurnya.
“Jangan bergerak,” perintah Arya.
Celeng melewati garis terbuka. Arya mengangkat senapan, menarik napas, dan menembak sekali.
Suara letusan memecah malam.
Hewan pertama roboh. Yang kedua berlari kembali ke hutan. Arya tidak mengejarnya.
“Semua tetap di posisi. Hitung anggota.”
Nama dipanggil satu per satu. Lengkap. Tidak ada yang terluka.
Di balai dusun, Laras mendengar letusan itu dan jemarinya membeku di atas daftar. Rukmini memegang bahunya.
“Arya tahu apa yang dilakukan,” bisik ibu mertuanya.
Laras mengangguk, tetapi baru bernapas lagi ketika radio Guntur berbunyi.
“Satu tertangani. Semua anggota aman,” suara Pakde Karyo terdengar.
Sekar langsung memberi tanda centang besar. Para perempuan mengucap syukur, lalu kembali memeriksa air dan kain pembalut luka. Mereka tidak bersorak terlalu dini.
Di ladang, Arya menunggu sepuluh menit sebelum mendekati hasil buruan. Pakde Karyo memastikan senapan aman. Dua petani memeriksa semak dari jarak jauh.
Tanah mendadak bergetar dari arah selatan.
Tiga celeng muncul sekaligus dari kebun jagung, bukan jalur yang diperkirakan. Salah satunya sangat besar. Tim pengarah terkejut, dan seorang lelaki melangkah keluar dari tanda.
Peluit panjang Arya menjerit.
“Mundur ke titik aman!”
Semua orang bergerak sesuai latihan. Lelaki tadi kembali di balik pohon. Jarwo menarik tali yang membuka pagar kosong ke arah lereng, memberi kawanan jalan menjauh dari permukiman.
Dua celeng mengikuti jalur itu. Yang terbesar justru berbalik menuju tanggul tempat Arya berdiri.
Pakde Karyo mengangkat radio. “Jarak menutup.”
Arya tidak mundur tergesa. Ia menunggu sampai semua lampu merah benar-benar berada di belakangnya. Celeng itu melaju, tanah tercabik di bawah kukunya.
Tembakan kedua terdengar.
Celeng terhuyung tetapi masih bergerak. Arya bergeser satu langkah, menjaga laras tidak pernah mengarah ke tim. Tembakan ketiga menghentikannya beberapa meter sebelum tanggul.
Setelah itu, malam kembali sunyi.
Tidak ada sorak. Arya meminta penghitungan anggota lagi, lalu memerintahkan tim medis memeriksa semua orang. Seorang petani mengalami kram betis, yang lain lecet karena berlutut di tanah, tetapi tidak ada luka akibat serangan atau senjata.
Lelaki yang sempat keluar dari tanda putih ternyata bernama Darto. Dalam ingatan Melati, dialah pemuda yang seharusnya diterjang malam ini. Arya memeriksa kedua lengan, kaki, dan napasnya sebelum mengizinkan ia berdiri.
“Saya panik,” akunya.
“Itulah fungsi latihan,” kata Arya. “Kamu kembali saat peluit berbunyi. Jangan malu mengaku takut.”
Darto mengangguk dengan mata basah. Jarak antara dirinya dan hewan tadi hanya beberapa langkah sebelum pagar diarahkan terbuka. Jarwo menepuk bahunya, bukan untuk memuji keberanian, tetapi karena ia mematuhi perintah mundur.
Nama Darto dilaporkan ke balai sebagai aman. Ketika Sekar membacakannya, ibunya yang menunggu sejak malam langsung menangis lega.
Laras menggenggam tangan perempuan itu. Ia tidak pernah bertemu Darto sebelum malam tersebut, tetapi ia tahu betapa tipis garis yang baru saja mereka ubah.
Tidak ada seorang pun di balai yang tahu mereka sedang merayakan lebih dari keberhasilan perburuan. Mereka juga merayakan masa depan seorang anak muda yang tetap utuh.
“Dua ekor lain masuk lereng,” lapor Jarwo.
“Biarkan. Tujuan kita menjauhkan dari rumah dan ladang, bukan mengejar seluruh hutan.”
Mereka mengikat kain tanda di lokasi, mencatat tiga amunisi terpakai, dan mengangkut dua hasil buruan dengan tandu bambu. Arya tidak mengizinkan siapa pun memegang senapan untuk berfoto.
Menjelang fajar, rombongan kembali ke desa.
Laras menunggu di batas balai bersama Guntur. Begitu senter pertama terlihat, ia menghitung orang, bukan hasil buruan.
Satu, dua, tiga.
Jarwo muncul. Pakde Karyo menyusul. Arya berjalan paling belakang, sarung senapan tertutup di bahunya.
Jumlahnya lengkap.
Baru saat itu lutut Laras terasa lemas. Arya menyerahkan senapan kepada Pakde Karyo untuk diamankan, lalu langsung mendatanginya.
“Saya sudah berjanji pulang dengan semua orang.”
Laras menyentuh pipinya yang kotor oleh tanah. “Mas menepatinya.”
Arya memeriksa wajah dan perutnya seolah Laras yang baru pulang dari hutan. “Kamu duduk sepanjang malam?”
“Sebagian besar.”
“Sebagian besar bukan seluruhnya.”
“Mas baru menembak celeng dan masih sempat memarahiku?”
“Karena celengnya sudah selesai. Kamu belum.”
Warga yang mendengar tertawa. Ketegangan pecah menjadi sorak. Orang-orang memeluk anggota keluarganya, kentongan dipukul dengan irama kemenangan, dan matahari muncul di balik lereng tepat ketika tandu bambu diletakkan di lapangan.
Pak Waluyo maju. “Atas kepemimpinan desa, kita berhasil...”
“Atas kerja semua orang,” potong Jarwo, suaranya tetap sopan. “Dan rencana Mas Arya.”
Beberapa petani langsung menyebut tugas masing-masing. Karena daftar telah tertulis dan semua orang menyaksikan, tidak ada ruang untuk memindahkan pekerjaan ke nama orang yang tidak hadir.
Pak Waluyo mengubah ucapannya. “Tentu, kerja bersama seluruh warga.”
Laras membuka daftar pembagian yang disepakati. Keluarga dengan ladang paling rusak mendapat bagian lebih dulu. Setelah itu petugas lapangan dan balai, kemudian warga lanjut usia yang hidup sendiri.
“Keluarga Pak Guntur harus mengambil bagian terbaik,” kata seorang warga.
“Kami mengambil sesuai daftar,” jawab Laras. “Tidak lebih.”
Arya memilih satu bagian yang cukup untuk lima orang, lalu meminta bagian hati disisihkan untuk Laras setelah dimasak matang. Rukmini segera melarang menantunya makan sembarangan sebelum dipastikan bersih.
Bu Marni datang membawa keranjang terbesar meski tidak seorang pun dari keluarganya bertugas. Orang-orang mulai berbisik dan menutup barisan.
“Suamiku sakit pinggang,” protesnya. “Kami juga warga sini.”
Laras memeriksa daftar. “Semua lansia dan keluarga terdampak sudah mendapat bagian. Kalau masih ada sisa setelah petugas, Ibu tetap mendapat.”
Bu Marni tampak siap marah. Namun seorang janda tua di depannya menoleh sambil memegang bungkusan kecil. Bu Marni akhirnya menutup mulut.
Ketika benar-benar ada sisa, Laras tetap memberikan satu bagian kepadanya.
“Kenapa?” tanya Sekar pelan.
“Karena aturan tidak dibuat untuk membalas dendam.”
Jawaban itu terdengar oleh warga di dekat mereka. Bu Marni menerima daging tanpa berani menatap Laras. Untuk pertama kalinya sejak keluarga itu datang, ia pergi tanpa satu pun sindiran.
Pakde Karyo dan Arya kemudian menghitung kembali amunisi. Tiga terpakai, sisanya lengkap. Mereka mencatat waktu selesai, membersihkan bagian luar sarung, dan bersiap mengembalikan senjata pagi itu juga.
“Istirahat dulu,” kata Pak Waluyo. “Pengembalian bisa siang.”
“Sesuai perjanjian, segera setelah kegiatan,” jawab Arya.
Disiplin itu justru membuat warga semakin kagum. Arya tidak memperlakukan senjata sebagai lambang kuasa setelah kemenangan.
Menjelang pukul tujuh, kabar menyebar ke seluruh Girimulyo. Orang-orang yang dulu menutup pintu saat keluarga Reksonegoro lewat kini datang membawa teh, sayur, dan ucapan terima kasih. Petani yang sawahnya selamat menggenggam tangan Guntur dengan hormat.
“Bapak membesarkan putra yang baik,” katanya.
Guntur tidak menjawab selama beberapa detik. Matanya merah. Sejak namanya terseret perkara, hampir semua pujian kepada keluarganya terasa seperti sesuatu dari kehidupan lama.
“Yang membuat rencana aman juga menantu saya,” ucapnya akhirnya. “Mereka bekerja bersama.”
Arya kembali setelah senapan diserahkan dan dokumen pengembalian ditandatangani. Baju bersihnya belum menghapus lelah di wajah. Di tengah orang-orang yang ingin menyalami, ia mencari Laras lebih dahulu.
Laras sedang duduk di bawah pohon, memakan bubur buatan Rukmini. Arya berjongkok di depannya.
“Capek?” tanya Laras.
“Ya.”
“Takut?”
Arya menatapnya. “Saat kawanan berubah arah.”
“Tapi Mas tetap tenang.”
“Tenang bukan berarti tidak takut. Saya hanya tahu apa yang harus dilakukan.”
Laras menyodorkan sendok bubur. Arya memakannya tanpa peduli banyak orang melihat.
Ningsih bersiul kecil. Sekar menutup mulut untuk menahan tawa. Warga perempuan mulai berbisik bahwa Kapten Arya pulang dari hutan hanya untuk disuapi istrinya.
Arya tidak membantah. Ia bahkan mengambil mangkuk dari tangan Laras, lalu menyuapinya kembali karena khawatir istrinya belum sarapan cukup.
Di tengah lapangan yang dipenuhi rasa syukur, nama Reksonegoro berubah makna dalam satu malam. Bukan lagi keluarga pejabat yang jatuh, melainkan keluarga yang menjaga sawah, membagi hasil dengan adil, dan membawa semua orang pulang hidup-hidup.
Hanya satu orang yang tidak ikut bergembira.
Melati berdiri di luar lingkaran warga. Wajahnya pucat, kedua tangannya dingin.
Dalam kehidupan yang ia ingat, malam perburuan itu berakhir dengan jeritan, darah, dan seorang pemuda yang tidak pernah bisa berjalan normal lagi. Keluarga Reksonegoro seharusnya makin dibenci setelah kekacauan tersebut.
Namun di hadapannya, pemuda itu sedang tertawa bersama Jarwo tanpa satu luka pun.
Arya dipuji. Laras disayangi. Desa bersatu.
Skenario yang menjadi sandaran Melati telah mati di hutan sebelum fajar.