Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cream-nya Manis, Tapi Lebih Manis Bibir Kamu
Kanaya mengerjapkan mata. Pendengarannya yang masih samar menangkap bisikan lembut tepat di telinganya, mengucapkan kalimat selamat ulang tahun dengan hangat.
Meski kesadarannya belum pulih sepenuhnya dari rasa kantuk, ingatan bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya melekat kuat di benaknya. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang tertangkap oleh netranya adalah cahaya lilin di atas cake berbentuk hati yang sedang disodorkan oleh Yudha ke hadapannya.
"Happy birthday, Yank."
Cup.
Satu kecupan lembut mendarat di pipi seketika melenyapkan rasa kantuk Kanaya. Ia bergegas bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Jangan tiup dulu! Make a wish dulu!" seru Yudha. Pria itu mulai menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara rendah yang menenangkan, mengiringi Kanaya yang bersiap memanjatkan doa.
Kanaya menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata perlahan. Di usianya yang menginjak tiga puluh lima tahun ini, kebahagiaannya membuncah. Ini kali pertama ia menerima kejutan dari seseorang selain orang tua dan adik-adiknya. Kali ini, suaminya lah yang menjadi orang pertama yang menyambutnya di hari baru, meski ia yakin, ponsel di nakas mungkin sudah ramai oleh notifikasi ucapan selamat dari keluarga, teman juga muridnya.
"Terima kasih, Ya Allah," bisik Kanaya dalam hati, bersyukur atas yang ia raih di usia yang tidak muda lagi.
Tahun-tahun lalu, harapannya selalu berkisar tentang kelancaran karir dan kesehatan. Doa tentang jodoh yang selalu ia panjatkan hingga usianya genap tiga puluh empat, tahun lalu, akhirnya terwujud nyata tahun ini.
Mengingat betapa manisnya perlakuan Yudha selama mereka berumah tangga, Kanaya menyelipkan harapan baru, semoga pernikahan ini langgeng selamanya dan mereka segera dipercaya untuk menimang buah hati sebagai pelengkap kebahagiaan mereka.
Kanaya membuka mata, lalu mengembuskan napas hingga api di lilin ulir itu padam.
"Met Ultah, Yank, Hadiahnya nanti malam sekalian dikasih yang plus-plus," Yudha langsung menghujani wajah istrinya dengan kecupan bertubi-tubi, membuat Kanaya tertawa pelan dalam dekapan suaminya.
"Thanks, Yud." ucap Kanaya merasakan kelegaan.
"Oh ya, potong kue dulu." Yudha kembali mengambil pisau cake, menyuruh istrinya memotong cake sebagai simbolis.
"Kamu beli ini kapan? Aku nggak lihat ada ini di kulkas," tanya Kanaya, sementara tangannya sibuk memotong cake.
"Beli sekalian pulang, aku taruh di show case ruang keluarga di atas."
"Oh, pantes. Soalnya aku nggak lihat ada ini di kulkas semalam."
"Ngarep dikasih kejutan, ya?"
"Nggak, sih. Cuma nggak sangka aja."
Kanaya mengambil sepotong cake, lalu menyuapkannya dengan lembut ke mulut sang suami. Tak mau kalah, giliran Yudha yang melakukan hal sama. Namun, keisengan Yudha muncul kembali. Bukannya menyuapi dengan benar, ia sengaja mengoleskan cream hingga belepotan di sudut bibir Kanaya. Saat Kanaya mengangkat jemari ingin membersihkannya, lidah Yudha sudah lebih dulu menyapu sisa cream tersebut dengan sigap. "Cream-nya manis, tapi lebih manis bibir kamu," desisnya.
"Yud...."
Belum sempat Kanaya menyempurnakan kalimatnya, pagutan Yudha sudah menghadang wanita itu untuk berkata-kata, hingga suasana hangat pun menggantikan dinginnya udara di kamar tidur akibat ulah mereka.
***
"Pagi, Pak!"
Sapaan serempak dari staff keuangan menyambut langkah Yudha, begitu pria itu melewati pintu ruang divisi.
"Pagi," sahut Yudha, mengulas senyum ramah. tatapannya kini mengarah pada Ayumi yang diam-diam sedang memperhatikannya. "Yum, kalau senggang, tolong ke ruangan saya nanti," imbuhnya sebelum masuk ke ruangan kerjanya.
"Baik, Pak." Ayumi mengangguk, sementara tangannya meremas ujung blazer yang ia pakai.
Sementara staff lain seketika saling berpandangan, penasaran apa yang ingin dibicarakan Yudha dengan Ayumi.
"Ada apa kamu dipanggil Pak Yudha, Yum?" tanya Chika berbisik, setelah Yudha menghilang di balik pintu ruangan kaca.
Ayumi hanya mendesah pelan dan menggelengkan kepala. Namun di dalam hati, kepanikan mulai menyergap. Kepalanya mendadak penuh dengan bayangan kejadian kemarin saat ia menghadapi murid-murid Kanaya.
"Pak Yudha udah nikah, lho, Yum! Jangan baperan nanti!" Kata-kata Lena bagai alarm peringatan bagi Ayumi, agar Ayumi tidak terjebak dengan perasaan.
Ayumi hanya mampu tersenyum getir. Fokusnya sedang tidak pada urusan hati. Ketakutan terbesarnya saat ini adalah tentang reputasi. Ia khawatir jika Yudha mengetahui sisi liciknya, yang akan menghancurkan citra wanita lembut dan penurut yang selama ini ia perlihatkan di depan pria itu.
***
Saat jelang waktu istirahat, Ayumi menghadap pada Yudha. Hatinya berkecamuk tak tenang. Benar-benar takut ulahnya kemarin diketahui Yudha.
"Duduklah!" Yudha mempersilakan Ayumi duduk di kursi depan mejanya.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Ayumi setelah duduk. Netranya tak berani menatap langsung mata Yudha.
Tuk tuk tuk
Suara jari tangan Yudha mengetuk meja terdengar, memecah ketegangan yang Ayumi rasakan saat ini.
"Saya ingin kamu menjawab jujur pertanyaan saya."
Deg
Debaran jantung Ayumi makin kencang Kata-kata Yudha terdengar seperti seorang detektif yang siap mengintrogasi tersangka.
"Dua hari lalu, apa kamu bertemu dengan anak-anak SMP Tunas Harapan Bangsa?" Yudha tak banyak berbasa-basi.
"S-saya..." Suara Ayumi serasa tercekat di tenggorokan, hingga sulit untuk berkata-kata kembali.
"Mereka anak-anak didik istri saya, kebetulan istri saya wali kelas mereka."
Ayumi memejamkan matanya. "Mati aku," gumamnya dalam hati, merasa tak menemukan cara untuk membela diri.
"Mau saya yang bicara atau kamu yang menjelaskan?" Melihat Ayumi kesulitan berkata-kata, Yudha memberikan pilihan. Meskipun ia yakin, dengan diamnya Ayumi, makin menegaskan jika wanita itu memang pelaku yang menyebarkan soal fakta tentang pernikahannya dengan Kanaya.
"Maaf, Pak." Hanya dua kata itu yang sanggup terucap dari bibir Ayumi, sementara cairan bening mulai mengembun di bola matanya.
Yudha mendengus kasar mendengar jawaban Ayumi. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap lurus ke arah wanita di hadapannya saat ini.
"Saya tidak tahu alasan kamu melakukan hal itu karena apa? Tapi, kalau kamu kecewa terhadap saya, kalau kamu marah pada saya, kenapa kekesalanmu tidak kamu tujukan langsung ke saya? Kenapa harus istri saya yang jadi korban? Dia tidak salah apa-apa dalam hal ini." Kalimat-kalimat Yudha menegaskan, dirinya adalah perisai yang siap melindungi Kanaya.
"Nasib baik, Kanaya itu guru kesayangan murid-murid yang kamu temui kemarin. Begitu ada gelagat tidak baik, mereka langsung melapor ke istrinya, sehingga saya bisa langsung melacak kalau kamu lah pelakunya."
Ayumi benar-benar tak bisa berkutik, hanya bisa menyesali apa yang ia lakukan. Rasa kecewanya memang membuat dirinya tak bisa berpikir normal hingga akhirnya melakukan kesalahan yang mempermalukan diri sendiri.
,❤️❤️❤️
Bersambung...
pasti senang sekali Yudha kalo tau Yaya tetiba positif
semoga garis dua ya nay