NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:173.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemukan : 17

“Untuk apa?!” Hamima menyela cepat, sangat terkejut karena sama sekali tidak mengerti, dan baru mendengar tentang sesaji.

Giliran Rosna yang shock, ia tertegun menatap heran. “Suamimu gak ada cerita?”

Ujung kain jarik ditutup ke kepala Ara agar bayinya tenang, sebab sinar matahari tak lagi hangat, mulai menyengat kulit. “Mas Galih nggak ada cerita apapun. Tolong jelaskan ke aku, Ronsa!”

Permintaan penuh permohonan dengan nada menekan tersebut meyakinkan Rosna jika Hamima memang tidak tahu menahu soal sesaji. Dia berbicara cepat. “Setiap malam Jumat — aku dulu selalu menyiapkan satu sisir pisang raja buluh, sebatang rokok linting, sebutir telur ayam kampung, dan kembang tujuh rupa tak ketinggalan kuncup bunga kantil.”

Rasa hangat menjalar ke lengan Hamima, pori-pori membesar dengan bulu berdiri tegak, dia merinding mendengar ritual aneh yang belum pernah dilakukannya sekalipun.

“Kegunaannya buat apa?” suaranya seperti hembusan semilir angin. Lirih, tak bertenaga.

“Biar penunggu rumah kalian gak mengganggu,” ucap Rosna santai seakan tengah membahas hal biasa saja.

Hamima melebarkan kaki sebagai bentuk menjaga keseimbangan mulai goyah. “Maksudmu, di rumahku ada hantunya?”

“Kalau itu kurang paham aku, Mima. Tapi kebanyakan kalau rumah sudah lama dibiarkan kosong, ya kemungkinan besar ada penunggunya. Untuk berjaga-jaga dari gangguan makhluk halus, warga desa terbiasa menyediakan sesaji setiap malam Jumat. Katanya menyambut leluhur yang sudah meninggal, pulang kerumahnya,” terangnya ringan.

“Nanti coba aku tanya ke suamiku, terima kasih ya Rosna, informasinya,” Mima tak dapat berpikir jernih, dia juga belum sepenuhnya mempercayai teman barunya.

“Iya sama-sama. Besok pagi aku bawa dukun pijatnya ke rumahmu, sekitar jam sembilan, ya?” balasnya.

Hamima mengangguk setuju, lalu dia jalan menaiki bukit menuju rumahnya.

Otaknya dipaksa berpikir keras agar dapat menyimpulkan sesuatu dengan cepat, tepat.

“Kenapa mas Galih gak ada cerita soal sesaji? Dimana dia meletakkan barang-barang ritual atau apa lah itu namanya?” rasa kesal bercampur takut menjadi satu, dan berujung dia penasaran.

Ketika sudah sampai teras rumah, Hamima duduk dulu di bangku semen panjang menyerupai pagar yang bisa juga dijadikan tempat duduk.

Pundaknya sakit, tangan pegal lama-lama menggendong Pujiara yang memiliki berat badan 10 kilogram.

“Sebenarnya apa yang disembunyikan dariku? Kenapa harus dirahasiakan? Biasanya kami saling berbagi cerita apapun itu?” gumamnya seorang diri.

“Bu … nen.” Pujiara memukul-mukul buah dada ibunya, dia haus.

“Kita masuk ke dalam rumah dulu, baru adek mimik susu.” Hamima mengeluarkan kunci, lalu ia beranjak dan membuka pintu.

Daun pintu terbuka separuh, belum juga kakinya melangkah masuk, sudah disambut harum minyak kayu putih cap ayam jago.

‘Jangan takut Mima! Makhluk halus itu suka mengganggu orang penakut, jadi kamu harus berani!’ sekeras apapun menanamkan keberanian dihati, tetap saja detak jantungnya sudah menjadi bukti jika dirinya tak begitu bernyali.

Udara di dalam rumah terasa berbeda dengan di luar, suasana terlalu sepi, tapi ini bukan sunyi menenangkan melainkan mencekam.

Mima tak ubahnya seorang tamu masuk ke hunian orang lain. Melangkah sangat lambat, tak berani menjangkau seluruh ruangan dengan sorot mata bergetar. Ia duduk di kursi jati panjang, melepaskan simpul gendongan, lalu membuka kancing depan baju dasternya.

Pujiara mulai menghisap sumber air kehidupannya. Jemari kecil berkuku pendek tengah meremas-remas kulit dada sang ibu. Perlahan matanya sayu, ia mengantuk lalu tertidur sambil menyusu.

Bukan cuma Ara yang mengantuk, Hamima pun diserang rasa kantuk, tetapi dia terlalu takut memejamkan mata. Takut tiba-tiba ada sosok tak kasat mata menampakkan wujud dalam mimpi.

“Aku gak boleh tidur, disini hanya ada kami berdua.” Mima mengerjapkan mata seraya bergeleng kepala guna mengusir kantuk luar biasa.

Dia berdiri dengan putrinya dalam bopongan. Memutuskan masak untuk makan siang.

Bayi tertidur pulas dibaringkan di atas lantai sudah dialasi tikar terbuat dari daun pandan duri, dan atasnya dilapisi kain jarik yang tadi dipakai menggendong Ara.

Sebelum berjibaku dengan alat masak, terlebih dahulu Hamima membasuh muka agar kulitnya terasa segar dan mengusir rasa kantuk masih terasa meski tidak seberat tadi.

Kemudian ibu berumur jalan 30 tahun itu membuka lemari penyimpanan makanan hendak mengeluarkan ayam sudah diungkep, dan akan digoreng.

Siku Hamima menyenggol jatuh karet gelang yang dijadikan pengikat pintu sudah tak bisa mengunci.

‘Kalau gak fokus ya gini, ada saja yang buat lama,’ gerutunya berusaha berlutut mengambil karet.

Kening Hamima mengernyit, perasaannya jadi tak nyaman dan sikap mulai waspada. Karet yang sudah jatuh tepat di samping kaki, seolah bisa jalan sendiri masuk ke kolong lemari kayu jati dua pintu.

Lutut Hamima menekan lantai, dan sikunya menahan badan, dia menahan napas dulu baru berani melihat ke bawah lemari.

Sudut matanya berkedut, ada sesuatu di ujung sana, meski takut tapi rasa penasaran membuatnya terpaksa memacu keberanian mengulurkan tangan menarik sesuatu terlihat mencurigakan.

“Tampah apa ini?” Mima duduk dilantai, dibolak-balik tampah bulat dari anyaman bambu.

“Gak ada yang aneh.” Mima mencium wadah yang biasanya digunakan untuk memilih beras, atau menaruh bumbu dapur. “Baunya aneh, ada wangi bunga, tembakau.”

Mima tersentak, ia menegang dengan tangan mencengkram pinggiran tampah. “Apa ini wadah yang digunakan mas Galih untuk menaruh sesaji?”

Perkataan Rosna tadi kembali terngiang-ngiang. Hamima menarik napas panjang, menghembuskan cepat.

'Sabar, gak boleh mengedepan emosi, semua harus dipikirkan dengan kepala dingin,' ucapnya menurunkan amarah dalam dada.

Dikembalikan tampah ke tempat semula, paling tidak sekarang dia setengah percaya akan apa yang diucapkan Rosna, tinggal mencari bukti lainnya yakni, menangkap basah sang suami sedang menyiapkan sesaji.

Dikesampingkan sejenak pikiran negatif, dan ia mulai masak menu makan siang.

Beras dibilas, lalu dimasukkan ke dalam alat penanak nasi, kemudian Hamima menggoreng ayam bumbu kuning, setelahnya menumis sayur buncis, sebagai pelengkap membuat sambal terasi.

Selama proses memasak, wanita berambut pendek, badan berisi sedikit gemuk itu bisa bernapas lega. Tak ada kejadian aneh, rumah ini layaknya hunian nyaman pada umumnya.

Hampir satu jam lamanya, barulah Hamima selesai menghidangkan menu olahan tangan sendiri.

Pujiara masih tertidur, dibawa lagi oleh ibunya ke ruang tamu. Mima tidak berani berdiam diri dalam kamar.

Bagi Hamima, ruang istirahat itu bukan tempat yang tepat untuk melepaskan lelah. Ia merasa seperti diperhatikan oleh sesuatu tak terlihat, tetapi dapat dirasakan aura dingin, menyeramkan.

Mima ikut berbaring di lantai, memeluk putrinya. Niatnya cuma rebahan mengistirahatkan tubuh, tapi tak lama kemudian ketiduran.

***

Matahari berada tepat di tengah-tengah langit terbentang luas, sinarnya menyengat kulit, membuat makhluk hidup mudah haus, letih.

Sebuah motor berhenti di halaman asri hunian besar, sang pengendara turun, lalu berjalan masuk ke rumah pribadinya.

Galih memandangi istri dan anaknya yang tertidur diatas lantai. Ia pun melepaskan sepatu, meletakkan tas kerja di atas meja.

Perutnya berbunyi pertanda minta segera diisi makanan, dia yang terbiasa dilayani, enggan mengambil makanan sendiri, dibangunkannya sang istri.

“Dek, bangun. Temani Mas makan.” Pundak Mima diguncang pelan.

Hamima pun terbangun, yang pertama dilihatnya pria tampan berpenampilan rapi dalam balutan seragam coklat muda.

Galih membantu Mima bangun, mengulang perkataan tadi, dan minta segera ditemani makan.

Mima mengangguk, tetapi tidak langsung beranjak, sejenak dia berpikir, hatinya merasa ada yang janggal. “Guntur mana, Mas? Apa belum pulang sekolah?”

Galih menjawab santai. “Dia pulang jalan kaki bareng teman barunya. Katanya, mereka mau langsung mampir mandi di sungai belakang rumah kita.”

“Mengapa diizinkan?!”

.

.

Bersambung.

1
Engkar Sukarsih
makasih kak cublik.... updatenya dah banyak hari ini 🥰🥰🥰tapi aku sedih ibu tilinya bang Ardan yang ganteng libur hari ini 🥺🥺🥺🥺
Engkar Sukarsih
aduh pusing kang duh aduh pusing... pusing tujuh keliling.rumah tangga tiada bahagia,karena si galih suka sama daun muda😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
aduh pusing kang duh aduh pusing... pusing tujuh keliling.rumah tangga tiada bahagia,karena si galih suka sama daun muda😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
di pikirin...pusing kepala 🤣🤣🤣gak di pikirin...nambah gede kepala lakimu mima.dasar galih kampret... preeet sepanjang jalan 🤪🤪🤪🤪
Engkar Sukarsih
bangun... bangunlah Mima....hajar suami laknatmu mima🤔🤔🤔 pastinya si galih lagi ajojing terus sama istri muda kampretnya si Sintia 🙄🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
ayo pak Yadi bunuh tuh orang yang bernama Bagiyo.tuntaskan dendammu sampai ke akar -akarnya🤔🤔🤔🤔
Eli Rahma
pembalasan dimulai..
AFPA
putus nggak?!
bisa digoreng jd keripik tu 😁
Shee_👚
baru ujung telinga aja dah kaya mau mati, begitu aja dah teriak kesakitan, dulu kamu yang menikam yadi sampai tulang rusuk patah pada hal raganya sudah tak bernyawa. sekarang dia datang untuk meminta nyawamu😏
Shee_👚
yadi: hai bagyo ku datang untung mengambil nyawamu

🤣🤣🤣🤣
AFPA
harusnya dikenain gundule bagiyo itu kak cublik 🤣
sryharty
jangan cuma telinganya doang uad
manuk e juga di iris sekalian,,tuman
Shee_👚
jangan terlalu pede bentar lagi kalian yang akan mati😤
Shee_👚
ayu ayok keluar tunjukkan dimana kamu🙈
Shee_👚
duh deg deg an takut mas dokter ketahuan
Shee_👚
sukurlah, setidaknya janin itu gak jadi tumbal
Shee_👚
para arwah aja masih ada rasa untuk berterima kasih, kenapa manusia durjana gak da rasa itu
Shee_👚
arum menyatu sama mima, jadi inget kisah bidan laila yang di pinjem raganya sama istri pak pras
Secret Admire
saatnya pembalasan... ayo Mima.. semangat 🥰
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai pembalasan dendam 😏😏 ini yg saya tunggu" dr kemarin Thor 🤗💪😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!