Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan Undangan Emas
Kabar pertunangan resmi antara Elena dan Duke Xavier von Obsidian menjadi topik yang tak habis-habisnya dikuliti oleh publik. Jika perceraian Elena dengan Adrian dianggap sebagai skandal terbesar, maka pengumuman pernikahan yang akan datang ini adalah proklamasi berdirinya dinasti baru di Secilia City. Seluruh vendor kelas atas, mulai dari koki bintang lima internasional hingga rumah mode elit di Eropa, dikabarkan telah dikontrak secara eksklusif oleh Obsidian Group untuk mempersiapkan pesta pernikahan yang dijuluki sebagai "Pernikahan Abad Ini".
Di sisi lain kota, atmosfer kemegahan itu terasa seperti kabut beracun yang mencekik sisa-sisa kehidupan di kediaman utama keluarga Secilia. Raksasa bisnis yang dulu begitu kokoh, kini tampak seperti bangunan tua yang keropos. Tiga puluh persen saham yang telah dialihkan ke tangan Aethelgard Holdings membuat Adrian tidak lebih dari seorang direktur boneka di perusahaannya sendiri. Setiap keputusan rapat dewan komisaris harus melewati persetujuan Elena, dan hal itu benar-benar meremukkan ego Adrian hingga menjadi serpihan tak berharga.
Siang itu, Adrian duduk di ruang tamu utama Secilia. Ruangan megah yang biasanya dipenuhi oleh koleksi barang antik bernilai fantastis itu kini tampak sunyi dan suram. Gelas-gelas kristal yang biasanya bersih kini dibiarkan berdebu, mencerminkan kondisi finansial keluarga yang terus merosot akibat penalti utang yang sengaja diperketat oleh pihak Elena.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu ganda rumah memecah keheningan yang mencekam tersebut. Tak lama kemudian, kepala pelayan masuk dengan langkah yang kaku dan wajah yang pucat pasi. Di atas nampan perak yang dibawanya, tergeletak sebuah amplop tebal berwarna hitam pekat dengan pinggiran berlapis emas murni. Di bagian tengah amplop tersebut, terdapat segel lilin merah berlogo burung elang Obsidian yang sangat berwibawa.
"Tuan Muda Adrian..." ucap kepala pelayan dengan suara yang bergetar rendah, tidak berani menatap langsung mata majikannya. "Ada kurir khusus dari Obsidian Tower yang baru saja mengantarkan dokumen ini. Mereka... mereka menyatakan bahwa dokumen ini harus diserahkan langsung ke tangan Anda."
Adrian menatap amplop hitam emas tersebut dengan jantung yang mendadak berdegup kencang secara tidak teratur. Rasa cemas yang bercampur dengan rasa penasaran yang gila membuat tangannya gemetar saat meraih amplop itu dari atas nampan. Begitu segel lilin merah itu ia patahkan, aroma parfum lavender mahal yang sangat familier langsung menguar, menusuk indra penciumannya secara paksa.
Itu adalah aroma parfum yang selalu Elena kenakan belakangan ini.
Saat Adrian menarik isi amplop tersebut, selembar kartu undangan tebal berbahan beludru premium berwarna hitam pekat keluar. Di atas kartu itu, tertulis huruf-huruf kaligrafi timbul dari emas murni yang membentuk nama dua mempelai: Xavier von Obsidian & Elena.
Di bagian bawah undangan tersebut, tertera barisan kalimat formal yang mengundang seluruh silsilah keluarga Secilia untuk hadir dalam upacara pemberkatan dan resepsi pernikahan yang akan diadakan di Kastel Obsidian bulan depan. Kartu itu bukan sekadar undangan biasa; bagi Adrian, benda itu adalah surat kematian bagi seluruh harga dirinya sebagai seorang pria.
"Elena... kamu benar-benar mengundangku ke pernikahanmu?" bisik Adrian dengan suara yang parau, serak, dan sarat akan keputusasaan yang teramat sangat. Matanya memerah menahan air mata cemburu yang membakar seluruh dadanya.
Dia bisa membayangkan bagaimana nantinya Elena akan berjalan di atas altar dengan gaun pengantin yang megah, tersenyum menawan, namun bukan untuk dirinya, melainkan untuk pria lain yang jauh lebih perkasa dan berkuasa darinya. Wanita yang selama tiga tahun ini mengemis cintanya di rumah ini, kini secara resmi mengundangnya untuk menyaksikan bagaimana dia menyerahkan seluruh sisa hidupnya kepada Duke Xavier.
"Tuan Muda..." Sekretaris Hendra mendadak melangkah masuk dari arah pintu samping dengan raut wajah yang tidak kalah berantakan. "Nyonya Besar baru saja membaca berita daring tentang undangan pernikahan ini... Beliau mendadak pingsan di kamarnya akibat tekanan darah yang melonjak tinggi karena menahan malu."
Adrian tidak memedulikan laporan Hendra tentang ibunya. Pria itu justru meremas kartu undangan beludru emas di tangannya hingga benda berharga fantastis itu kusut di dalam genggamannya. "Hendra... katakan padaku. Apa ini cara Elena untuk membalas dendam padaku? Dia ingin aku melihatnya bahagia di atas penderitaanku?!"
Hendra menunduk dalam-dalam, menatap lantai marmer dengan pandangan pasrah. "Tuan Muda Adrian, dari informasi yang saya dapatkan dari tim hukum Aethelgard Holdings... Nona Elena sengaja mengirimkan undangan ini ke seluruh relasi bisnis lama kita. Beliau ingin menegaskan posisi barunya di hadapan semua orang yang dulu meremehkannya. Ini adalah... keputusan mutlak yang tidak bisa diubah lagi."
Adrian tertawa hambar, sebuah suara tawa yang begitu menyedihkan dan sarat akan penyesalan yang terlambat. Dia menjatuhkan tubuh tegapnya ke atas sofa beludru, menatap langit-langit ruang tamu dengan pandangan yang kosong melongpong. Dia menyadari satu hal yang sangat pahit: batu yang dulu dia buang karena dianggap tidak berharga, kini telah kembali sebagai meteor raksasa yang menghancurkan seluruh dunianya tanpa sisa.
Sementara itu, di dalam ruang kerja pribadinya di paviliun barat yang kini sudah dipenuhi oleh koper-koper mewah berisi barang-barang pribadinya, Elena berdiri di dekat jendela, menatap ke arah bangunan utama kediaman Secilia dengan senyuman kemenangan yang sedingin es kutub. Cincin berlian hitam berbentuk mahkota di jari manisnya berkilau indah di bawah siraman cahaya sore.
"Apakah undangannya sudah sampai ke tangan Adrian, Nona?" tanya Sekretaris Lin yang berdiri dengan sikap hormat di belakangnya.
"Sudah," jawab Elena pendek, suaranya terdengar merdu namun penuh penekanan yang berwibawa. "Aku bisa merasakan bagaimana hancurnya ego pria itu saat ini dari balik dinding paviliun ini. Dia mengira aku adalah wanita lemah yang bisa dia abaikan seumur hidup. Sekarang, biarkan dia duduk di barisan paling belakang pesta pernikahan kita nanti, menyaksikan bagaimana aku memakai mahkotaku yang sesungguhnya di samping Duke Xavier."
Pintu kamar paviliun kemudian terbuka, dan Duke Xavier melangkah masuk dengan setelan jubah kasual sutra hitamnya yang mewah. Pria jangkung itu langsung berjalan mendekat, lalu dari arah belakang melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang ramping Elena, menarik lembut tubuh wanita berambut perak itu ke dalam dekapan hangatnya.
"Semua persiapan di Kastel Obsidian sudah selesai seratus persen, Permaisuriku," bisik Xavier dengan suara baritonnya yang berat dan dalam tepat di dekat telinga Elena, menyalurkan rasa aman yang mutlak. "Besok pagi, mobil Rolls-Royce milikku akan menjemputmu untuk meninggalkan tempat dingin ini selamanya. Bersiaplah untuk melangkah ke dalam duniamu yang baru, dunia di mana hanya ada kemewahan, kekuasaan, dan cintaku yang utuh untukmu."
Elena membalikkan tubuhnya di dalam pelukan Xavier, menatap sepasang mata abu-abu gelap milik suaminya dengan binar mata safir birunya yang kini dipenuhi oleh kelembutan yang tulus. "Aku sudah sangat siap, Xavier. Mari kita tutup babak masa lalu ini, dan buka lembaran baru takhta kita bersama."
Xavier tersenyum puas, lalu menundukkan kepalanya untuk mencium bibir merah Elena dengan penuh kehangatan—sebuah kecupan suci yang mengunci janji mereka di bawah siraman cahaya matahari terbenam, menandakan bahwa sang permaisuri perak telah sepenuhnya lepas dari jerat masa lalu dan siap naik ke puncak kejayaan tertinggi
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄