NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Setelah memukul, melempar, dan memaki istrinya, Adrian langsung berbalik badan dan pergi begitu saja.

Sarah menyeka air mata yang terus mengalir, lalu menyeret tubuh lemahnya diatas air merasakan perih bekas siraman air panas Alena tadi.

Ia memegang pinggir kolam untuk mencoba naik ke atas, namun belum sempat tubuhnya keluar, Raisa—adik iparnya—datang dengan tumit sepatu yang tinggi. Tanpa rasa iba, ia langsung menginjakkan tumitnya tepat ke atas tangan Sarah.

"Aaaah! Sakit!" jerit Sarah gemetar menahan perih. "Tolong... lepaskan... sakit sekali..."

Namun bukannya melepaskan, Raisa justru semakin menguatkan tekanan kakinya.

Sarah yang tidak berdaya hanya bisa menahan rasa perih sambil menangis tersedu-sedu. Raisa pun berjongkok, menarik rambut Sarah yang basah hingga wanita itu terpaksa mendongak.

"Kau memang bodoh! Sudah tahu Kak Adrian tidak pernah menyukaimu, tapi kau masih saja bertahan di sini? Apa sebegitu murahnya harga dirimu sampai kau tidak tahu malu? Seharusnya kau sadar diri dan pergi! Kau tahu sendiri kau sudah tidak diinginkan! Sudah lima tahun kau menikah dengannya, tapi kau belum juga bisa hamil! Dasar perempuan mandul!"

Sebelum melepaskan injakannya, Raisa mengeratkan lagi tekanan hingga terdengar bunyi tulang kecil yang patah.

"Hah! Sakit!" jerit Sarah nyaris tak bersuara.

"Sudah tahu kau disiksa di sini tapi masih betah saja? Dasar bodoh!"

Tak lama kemudian, Rika ibu mertua Sarah—datang dengan gaya angkuh sembari melipat tangan di dada, menatap dengan pandangan merendahkan.

"Kau tahu tidak? Kau itu tidak layak menjadi menantuku. Yang layak justru seperti dia..." Rika memberi isyarat memanggil Alena mendekat. "Sini sayang..."

Alena pun mendekati Rika.

"Dialah yang pantas menjadi menantuku. Dia punya karir, tidak sepertimu yang hanya menjadi benalu di rumah ini."

"Bi Siska!" panggil Rika keras.

"I... Iya Nyonya," jawab Bibi Siska yang segera menghampiri.

"Ambil cabai yang sudah dihaluskan tadi! Aku ingin memandikan 'menantuku' dengan itu!"

Mata Sarah membelalak tak percaya, darahnya seketika membeku mendengar ucapan kejam itu.

"Bu... tolong Bu... jangan Bu... jangan..."

Bibi Siska sebenarnya enggan melakukannya, hatinya tidak tega melihat penderitaan istri tuannya itu. Namun apalah daya, ia hanyalah seorang pembantu. Dengan mata berkaca-kaca, ia terpaksa berjalan ke dapur untuk menuruti perintah Rika.

"Ini, Nyonya," ucapnya lirih saat kembali membawa wadah berisi sambal pedas.

"Ini dia, menantuku... Kau pasti sangat menyukainya, bukan? Setelah ini kau pasti akan benar-benar pergi dari sini," ujar Rika dingin.

"Jangan Bu! Tolong Bu, jangan! Aku masih menantu Ibu! Jangan lakukan ini padaku!" mohon Sarah memelas.

Namun seolah tak mendengar apa-apa, Rika langsung menyiramkan sambal itu ke arah Sarah.

"Aaaaah!" jerit Sarah lagi-lagi menahan perih yang menyengat seluruh kulitnya.

Ia segera menyelam ke dalam air kolam, berusaha membersihkan sisa cabai yang menempel di wajah dan kepalanya. Namun sudah terlambat, rasa pedas itu tak kunjung hilang—bahkan air kolam pun kini terasa panas terbakar. Tak lama kemudian, tubuh Sarah mulai kejang-kejang dan perlahan terapung.

"Tarik dia naik! Kalau dia mau mati, jangan biarkan dia mati di kolam ini!" perintah Rika tanpa belas kasihan.

Bibi Siska pun membantu menarik tubuh Sarah ke tepi, air mata terus menetes membasahi pipinya. Ia tak menyangka majikannya tega begitu menyiksa menantunya.

"Non... bangun Non Sarah..." panggilnya sambil menepuk-nepuk pelan wajah Sarah.

Namun wanita itu hanya terus kejang dengan mata terpejam rapat, hingga akhirnya ia pingsan tak berdaya.

"Pergi dari sini! Sebelum kau juga mendapat hukuman yang sama!" ancam Rika.

Bibi Siska terpaksa menghapus air matanya dan pergi.

_____

Sarah terbaring diam di tepi kolam. Berjam-jam berlalu hingga malam menjelang, tak ada satu pun yang datang memeriksa apakah ia masih bernapas atau sudah tiada.

Perlahan kesadaran Sarah kembali.

Seluruh tubuhnya terasa nyeri luar biasa, rasa pedas menyengat masih membakar kulit wajah dan badannya.

Air matanya kembali menetes, dia bergerak pelan berusaha bangkit, menyeret kaki yang melepuh dan tangan yang tulang punggungnya nyeri akibat injakan tadi, berjalan keluar dari rumah mewah itu tanpa arah tujuan.

Ia terus berjalan sendirian hingga tengah malam. Tiba-tiba rintik hujan turun membasahi tubuhnya yang sudah tak berdaya.

Tubuhnya tak sanggup lagi menahan segala rasa sakit, dan untuk kedua kalinya Sarah kembali jatuh pingsan di tengah jalan.

Di tempat lain, Sera yang sedang bertugas di rumah sakit tiba-tiba merasa gelisah yang tak bisa dijelaskan.

"Kenapa tiba-tiba hatiku merasa cemas? Aku seperti mengkhawatirkan Kak Sarah..." gumamnya lirih.

Sera adalah adik kembar Sarah, seorang dokter bedah ahli yang bekerja di salah satu rumah sakit ternama.

Sejak kakaknya menikah dengan Adrian, Sera dan Sarah sudah sangat jarang bertemu.

Kadang mereka baru bisa berjumpa lima atau enam bulan sekali, bahkan tak jarang setahun sekali. Pasalnya, Sarah sama sekali tidak diizinkan pergi ke mana-mana oleh suaminya dan dikurung di dalam rumah itu.

Namun setiap kali Sera menghubunginya, Sarah selalu berkata berbohong bahwa dirinya baik-baik saja.

Ia juga kerap mengatakan sudah bahagia bersama suaminya, bahwa Adrian adalah pria yang baik dan sangat menyayanginya.

Hal itu membuat Sera tidak pernah merasa khawatir, dan sungguh-sungguh mengira kakak kembarannya itu hidup terlindungi serta mendapatkan kasih sayang yang layak—tanpa tahu sedikit pun tentang kenyataan yang sesungguhnya terjadi.

Seorang suster menghampirinya. "Dokter Sera, ada pasien yang perlu ditangani. Apakah Dokter ada waktu?"

Sera terdiam sejenak, lalu melihat suster itu. "Sus minta tolong sama Dokter Dion. Sepertinya saya harus segera pulang."

"Lho, kenapa? Apa Dokter sedang tidak enak badan?" tanya suster itu cemas.

Sera tersenyum tipis lalu menggeleng. "Tidak, saya baik-baik saja. Saya hanya merasa butuh istirahat yang cukup. Kamu ke ruangan Dokter Dion, minta tolong padanya."

"Baiklah, Dokter Sera."

Hati Sera semakin tidak tenang.

Ia berjalan cepat ke ruangannya, mengambil ponsel, lalu berkali-kali mencoba menelepon nomor kakaknya. Namun tak ada jawaban. Kegelisahan dan rasa takut bercampur menjadi satu di dalam dadanya.

Kak Sarah... kenapa aku merasa kakak tidak baik-baik saja?

Mata Sera mulai berkaca-kaca. Ia segera melangkah keluar rumah sakit tanpa sempat melepas seragam dokter putih yang ia kenakan.

Bergegas masuk ke mobil dan melajukan mobil itu secepat mungkin berniat menuju kediaman keluarga Adrian.

Di tengah perjalanan, Sera tampak bingung. Hujan perlahan mulai turun dengan deras.

Sera baru ingat, kalau dia sama sekali belum pernah berkunjung ke rumah suami kakaknya, dan tak tahu di mana letak kediaman Adrian berada.

Bahkan Adrian pun hanya pernah ia lihat lewat foto, belum pernah sekalipun ia bertemu langsung dan melihat wajah asli pria bengis serta tak berperasaan itu.

Ke mana aku harus pergi? Aku sama sekali belum pernah ke rumah Kak Sarah... batin Sera di tengah perjalanan.

Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan basah. Tunggu... bukankah itu seperti sosok manusia?

Tanpa ragu Sera segera menghentikan mobil dan turun, menembus hujan yang semakin deras. Ia berlari mendekat, lalu membalikkan tubuh wanita yang terbaring itu.

Hatinya seketika hancur berkeping-keping—ternyata itu adalah kakak kembarannya yang sedari tadi ia khawatirkan.

"Kak Sarah!" jerit Sera histeris melihat kondisi kakaknya yang begitu memprihatinkan. "Kakak... apa yang terjadi pada Kakak?"

Tangisnya pecah seketika saat ia memeluk tubuh kakaknya yang dingin.

Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Sera dengan cepat menyeret tubuh Sarah ke dalam mobil, membaringkan tubuh basah lemah kakaknya di belakang kursi penumpang.

Setelah itu, Sera kembali ke kemudi dan menancapkan gas menuju rumah sakit sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk pada kakaknya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!