NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Kenyataan Yang Harus Diterima

Bab 34. Kenyataan Yang Harus Diterima

Sementara itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya di PT. Herbalife, Brian memutuskan untuk mengunjungi rumah sakit.

Tujuan utamanya hanya satu.

Menemui Rania.

Sesampainya di ruangan pasien, Brian mendapati Rania sedang ditemani Ren.

Pria itu berdiri di sisi ranjang, memastikan keadaan Rania baik-baik saja.

Namun, begitu melihat kedatangan Brian, Ren segera berpamitan.

"Nona Rania, saya permisi terlebih dahulu."

Rania mengangguk. "Ren."

Pria itu menghentikan langkahnya. "Tolong beri aku kabar tentang keadaan Daffa," pinta Rania.

Ren kembali mengangguk. "Tentu, Nona."

Setelah itu, Ren berjalan keluar dan menghilang di balik pintu.

Klik!

Kini hanya tersisa Rania dan Brian di dalam ruangan.

Rania mengembuskan napas panjang.

Tatapannya beralih kepada pria yang berdiri di hadapannya.

"Apa sebenarnya rencanamu, Brian?" tanya Rania. "Knapa sampai membuat kehidupan Mona dan Daffa menjadi seperti ini?"

Brian tetap tenang.

"Aku sedang menyelamatkan anakku dan istriku."

Rania langsung membuang wajah.

Istri.

Kata itu kembali mengusik pikirannya.

Sebenarnya, sejak awal Rania memang berniat memanfaatkan situasi antara Daffa dan Brian untuk kepentingannya sendiri.

Namun, sekarang semuanya justru berjalan di luar kendalinya.

Rencananya perlahan berantakan.

Memang, ada satu keuntungan yang berhasil ia dapatkan.

Brian membantunya menjauh dari Daffa.

Tetapi di saat yang sama, ia justru semakin terikat dengan Brian.

Dan melihat keadaan Daffa sekarang...

Entah mengapa, Rania tetap merasa sedih.

Bagaimanapun juga, pria itu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Belum lagi keadaan Mona yang baru saja dilihatnya.

Wanita itu tampak begitu terpukul.

Rania terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Sementara itu, Brian sejak tadi hanya menatap wajah Rania.

Ia bahkan tidak tahu sudah berapa lama dirinya memperhatikan wanita itu.

Perlahan, tangannya terangkat.

Jemarinya membelai pipi Rania dengan lembut.

Sentuhan itu membuat Rania tersadar dari lamunannya. Ia segera menepis tangan Brian.

"Jangan mulai lagi, Brian," cicit Rania.

Brian justru tersenyum tipis. "Kau juga merindukannya, bukan?"

Brian melangkah mendekati sisi ranjang. Jarinya kembali menyentuh sisi wajah Rania.

Namun kali ini, Rania menahan tangan pria itu sebelum sentuhannya semakin jauh.

"Lebih baik kau menemaniku untuk memeriksakan kehamilanku."

Rania sengaja mengalihkan perhatian Brian.

Brian pun terdiam sesaat. Kemudian senyum lebar muncul di wajahnya.

"Tentu. Aku akan mengantarmu." Tatapan Brian turun sebentar ke perut Rania. "Bagaimanapun juga, aku ingin memastikan anakku baik-baik saja."

Rania hanya menghela napas.

Ruangan itu kembali hening.

---

Di sisi lain, Ren telah tiba di ruangan tempat Mona dirawat.

"Nona Mona."

Mona menoleh.

"Saya adalah asisten Tuan Daniel," ujar Ren memperkenalkan diri.

Mona mengernyit. "Tuan Daniel?"

"Tuan Daniel adalah ayah Tuan Muda Daffa."

Mona langsung terdiam. Ada sesuatu dalam tatapan Ren yang membuatnya merasa serius.

"Dengarkan saya baik-baik, Nona." Ren berjalan mendekat. "Atas kejadian memalukan yang terjadi antara Anda dan Tuan Muda Daffa semalam, Tuan Daniel telah mengambil keputusan."

Mona menelan ludah. "Keputusan apa?"

"Tuan Daniel memutuskan untuk menikahkan Anda dengan Tuan Muda Daffa."

Mata Mona membesar. "Benarkah?"

Untuk pertama kalinya sejak pagi, wajah Mona menunjukkan sedikit kelegaan.

Namun, sesaat kemudian ia kembali teringat sesuatu.

"Tapi bagaimana caranya?" tanyanya. "Aku sudah bertunangan dengan Brian."

"Justru karena itu," jawab Ren tenang. "Anda harus bekerja sama dengan rencana Tuan Daniel."

Mona menatapnya penuh kebingungan.

"Anda cukup bersikap normal seperti biasa," lanjut Ren. "Anggap saja kejadian semalam tidak pernah terjadi."

Mona diam.

"Sampai waktunya tiba, Tuan Muda Daffa akan datang untuk menikahi Anda secara resmi."

Mona perlahan memahami maksud Ren. "Baiklah." Ia menarik napas. "Jika kalian benar-benar menjamin semuanya akan diselesaikan, aku bisa menyembunyikan rapat kejadian memalukan ini."

"Tentu."

"Tapi bagaimana dengan Daffa?" Mona kembali bertanya. "Sepertinya dia tidak akan pernah mau diajak bekerja sama."

Ren tersenyum tipis.

"Tuan Daniel yang akan mengurus Tuan Muda Daffa."

Ren menatap Mona dengan tegas.

"Anda hanya perlu memainkan peran Anda."

Mona terdiam beberapa saat.

Ada keraguan di wajahnya, tetapi perlahan harapan mulai muncul.

"Percayalah," ujar Ren. "Tuan Daniel akan menyelamatkan kehidupan Anda dari ayah Anda yang kejam."

Mona langsung mengangguk. "Aku mengerti."

Ia menundukkan wajahnya sejenak. "Jadi, Tuan Daniel menyelamatkan nyawaku... dan sebagai gantinya, bisnis keluarganya juga akan tetap aman?"

"Anda benar sekali, Nona." Ren tampak sedikit terkejut. "Saya senang Anda bisa berpikir sejauh itu."

Mona menatap Ren penuh kesungguhan. "Berjanjilah."

Ren mengernyit "Janji apa?"

"Berjanjilah bahwa kalian akan menepati semua ini," ucap Mona.

Ren mengangguk. "Tentu, Nona."

Mona tampak sedikit lega.

Namun ketika Ren hendak membuka pintu, suara Mona kembali menghentikannya.

"Tunggu!"

Ren menoleh.

“Bagaimana dengan Brian?” Mona menggenggam selimutnya erat. "Aku masih tunangannya."

Ren menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.

"Tuan Brian justru akan lebih senang jika Anda berpisah dengannya."

Mona terdiam.

"Ketika waktunya tiba," lanjut Ren, "buatlah seolah-olah Anda sendiri yang memilih Tuan Muda Daffa."

"Memilih Daffa?"

"Ya. Biarkan semuanya terlihat seperti keputusan Anda sendiri ketika lamaran dari Tuan Muda Daffa datang."

Mona mengangguk perlahan. "Terima kasih, Ren." Ia menarik napas panjang. "Aku sudah mengerti."

Ren mengangguk, lalu membuka pintu.

Klik!

Pintu tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Mona menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. "Akhirnya... aku bisa tenang."

Namun kalimat itu justru diiringi air mata yang kembali mengalir di pipinya.

Mona memejamkan mata.

Ingatan tentang malam itu kembali menghantam pikirannya.

Daffa.

Pria itu telah mengubah seluruh masa depannya hanya dalam satu malam.

Seandainya kejadian itu tidak pernah terjadi...

Mungkin ia masih memiliki kesempatan untuk menjadi istri Brian.

Mungkin ia masih bisa menjalani hidup yang selama ini ia bayangkan.

Namun sekarang, semua itu hanya tinggal angan-angan.

Mona harus menerima kenyataan.

Pria yang akan menjadi suaminya bukan Brian.

Melainkan Daffa.

Mona menundukkan wajah.

Seluruh tubuhnya masih terasa lelah akibat kejadian semalam, meninggalkan luka batin yang jauh lebih dalam daripada rasa sakit yang ia rasakan secara fisik.

Air matanya kembali jatuh. "Ayah... maafkan Mona," gumamnya lirih.

Ia tahu, mulai hari ini hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Dan suka atau tidak...

Ia harus menerima kenyataan yang telah menunggunya di depan mata.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!