Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulangan geografi bikin pening
Suara kipas AC berdengung pelan bercampur dengan gesekan bolpoin di atas kertas. Ruangan kelas 10 IPS 1 telah sunyi semenjak 20 menit yang lalu.
Hanya terdengar sesekali suara batuk yang ditahan, lembar soal yang dibalik, dan helaan napas para siswa yang sedang berjibaku dengan ulangan geografi.
Di bangku paling depan, Angga mengernyit. Tatapannya berpindah dari lembar soal ke meja kayu di hadapannya.
12. Provinsi Indonesia yang paling dekat dengan Singapura adalah...
"Hmm..."
Angga bergumam sejenak sembari menopang dagu.
Kemudian lembar soal itu ia sisihkan ke sisi kiri. Telunjuk kanannya menggambar pada permukaan meja. Mencoba memetakan peta Indonesia berdasarkan ingatan spasialnya.
"Indonesia bagian utara kalau nggak salah..."
Jemarinya mulai bergerak melukis sebuah Pulau Sumatra imajiner.
Diikuti Kalimantan.
Kemudian disusul gugusan pulau kecil yang ia ingat dari buku atlas.
"Malaysia punya dua wilayah..."
"...berarti di tengahnya ada Laut Cina Selatan."
Gambaran khayal itu semakin meluas seperti seorang kartografer profesional. Meski hasil gambar itu tak pernah membekas dipermukaan meja.
"Kalau ke bawah..."
"...ada Selat Malaka."
"Terus..."
"Singapura..."
Ia mengetuk-ngetuk meja seolah sedang menggambar sebuah titik-titik kecil.
Berhenti sejenak.
Kemudian keningnya berkerut.
"Kalau Singapura di sini..."
"...berarti provinsi Indonesia yang paling dekat..."
"Hmm..."
Sudut matanya melirik sekilas untuk membaca soal. Kemudian beralih untuk melihat kembali peta imajiner yang barusan ia buat.
"Riau sama Bangka Belitung..."
"...yang paling deket sama Singapura yang mana?"
....
Beberapa bangku di belakang, lebih tepatnya hanya dua baris dari bangku Angga, suasana justru berbeda.
Putri menggigit pangkal bolpoinnya. Lembar soal sudah hampir setengah dibalik-balik. Tetapi satu nomor itu tetap membuatnya menyerah.
Pelan-pelan—penuh kehati-hatian—ia melirik ke samping.
"Ssst! Amanda..."
Amanda yang juga berkerut keningnya hanya bergumam pelan. Tangannya masih sibuk membolak-balikkan kertas soal itu seolah jawaban akan muncul secara tiba-tiba.
"Perbatasan wilayah barat Indonesia itu apaan sih?"
Amanda belum melirik sama sekali. Matanya justru semakin fokus membaca soal.
"Mana kutahu?"
Jawaban itu bagaikan petir di siang bolong bagi Putri.
"Nggak tahu? Bukannya itu bagian yang lu hafalin semalem? Kita kan udah bagi tugas, Manda!"
Amanda meringis kikuk. Diikuti sebutir tetesan keringat turun di pelipisnya.
"Iya sih. Tapi..."
Putri langsung memicing curiga.
"Tapi apaan? Jangan bikin gue khawatir jir!"
Beberapa detik ia mencoba menggali ingatan.
Kemudian—
"Kalau nggak salah..."
"...India deh."
Putri langsung menoleh cepat.
"India?"
Amanda mengangguk terlalu cepat.
"Kayaknya India. Suer!"
Putri pun menyipit curiga. Alisnya terangkat sebelah merasa ragu.
"Emang nggak kejauhan Indonesia sama India?"
Amanda semakin menegang.
Namun raut wajahnya sebisa mungkin ia pasang dengan cukup meyakinkan.
"Pasti India!"
Amanda menjentikkan jarinya.
"Yakin aku!"
Putri menatap kembali lembar jawabannya. Mencoba mencocokkan jawaban itu dengan pengetahuan geografinya yang hanya sebatas Jawa Barat.
"Oke, oke. Gue tulis India ya."
"Sip."
Tanpa berpikir panjang, bolpoin Putri langsung bergerak mantap.
Setelahnya, mereka berdua mengangguk puas. Seolah baru saja berhasil memecahkan misteri paling sulit dalam pelajaran geografi.
Di depan kelas, Bu Endang yang sedang duduk mengawasi murid-muridnya perlahan mengangkat wajah. Menurunkan kacamata bacanya. Sembari tatapannya menyapu seisi kelas.
Beliau tentu tidak tahu percakapan barusan. Dan mungkin, lebih baik memang tidak tahu.
Karena negara India dengan samudera Hindia, benar-benar dua wilayah yang sangat berbeda.
.....
Di barisan paling depan, tepat di samping jendela. Bahkan hanya berjarak satu meja dari Bu Endang. Seorang siswi dengan jepit rambut merah muda berbentuk not musik tampak menulis begitu bersemangat.
Tak seperti teman-temannya yang mengernyit kebingungan, Melody justru mengangguk-angguk kecil. Seolah setiap soal berhasil membuka laci-laci ingatan yang sebelumnya terkunci.
"Negara maritim..."
"Gampang."
Ujung bolpoinnya menari cepat.
"Penjaga pantai..."
Tulis.
"Pemain surfing..."
Tulis lagi.
"Eee..."
Ia menggigit ujung bibirnya.
"Terus..."
Keningnya mulai berkerut.
"Oh! Pemburu ubur-ubur!"
Bolpoinnya kembali bergerak begitu mantap.
Namun baru menulis tiga huruf...
"Hmm..."
"Ubur-ubur bisa dimakan nggak ya?"
Melody memiringkan kepalanya. Seolah itu bisa membuat otaknya kembali tersambung.
"Keknya bisa deh."
Ia pun mengangguk puas. Tulisan itu ia lanjutkan.
"Pemburu ubur-ubur."
"Terus..."
"Penjaga stand hotdog."
"Nah."
"Dah."
"Selesai."
Ia menekan tombol pada pangkal bolpoin merah muda itu dengan jempolnya. Lalu membaca ulang soal dengan wajah penuh keyakinan.
Sebutkan mata pencaharian yang biasa ditemui pada negara-negara maritim!
Melody mengangguk mantap.
"Oke."
"Beres."
Ia bahkan sempat tersenyum kecil sembari menepuk pelan kedua telapak tangannya.
"Mudah-mudah banget loh soalnya."
Lalu tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia melanjutkan ke soal berikutnya.
Sama sekali tidak menyadari bahwa sebagian besar mata pencaharian yang baru saja ia tuliskan, lebih cocok ditemukan di negara Bikini Bottom ketimbang negara maritim mana pun di dunia.
....
Bangku paling belakang. Tepat di samping lemari penyimpanan sapu, pel, dan pengki. Tempat yang entah sejak kapan mendapat julukan bangku Keramat.
Konon, siapa pun yang duduk di sana akan otomatis menjadi orang-orang buangan dan tersingkirkan setiap kerja kelompok.
Karena namanya selalu tertulis.
Tetapi kontribusinya? Masih dipertanyakan.
Di sanalah tiga penghuni tetapnya sedang bergulat dengan lembar ulangan.
Michel menggigit tutup bolpoinnya.
Rio mengetuk-ngetukkan ujung bolpoin ke meja.
Sedangkan Rendy sudah memijat pelipisnya seolah sedang melepaskan sukmanya untuk mengembara mencari wangsit.
"Ssst!"
Rio melirik ke kanan.
"Nomor 18 apaan, Mike?"
Michel langsung mendesis balik.
"Belum gue jawab, jir."
Rio menatap tak percaya.
"Ah elah. Tadi nomor 15 juga lu bilangnya belum. Sekarang 18 masa juga belum? Lu belajar nggak sih semalem?"
Michel mendengus pelan.
"Lah? Lu aja nanya ke gue?
Rio langsung mengangkat kedua tangan.
"Gue ketiduran, jir. Semalem."
Michel spontan menunjuk dirinya sendiri.
"Ya sama! Gue aja nggak tahu kalau hari ini ada ulangan!"
"Bacot!"
Rendy yang duduk di sebelah mereka akhirnya tak tahan.
"Lu berdua ribut mulu dah! Mending mikir jawaban kek. Daripada debat siapa yang paling nggak belajar."
Ketiganya sama-sama mengembuskan napas panjang.
Lalu...
Seolah pikiran mereka saling terhubung, tiga kepala itu perlahan berputar ke arah kiri—menuju satu bangku.
Seseorang yang sebelumnya sempat gagal dalam praktek bola basket dan hanya bisa memasukkan satu dari lima percobaan. Seseorang bertubuh paling tinggi dari rata-rata seluruh siswa 10 IPS 1.
Di bangku belakang dekat jendela, sosok itu nampak duduk dengan punggung tegak. Wajah tenang. Bahkan bolpoinnya terus bergerak tanpa ragu.
Tak ada tanda-tanda panik.
Tak ada garukan kepala.
Tak ada helaan napas putus asa seperti biasanya.
Pemandangan yang justru membuat Michel, Rio, dan Rendy saling berpandangan. Hingga alis mereka pun terangkat bersamaan.
"..."
"..."
"..."
"Untung banget..."
"...Andito deket sama Yuna."
Ketiganya mengangguk penuh keyakinan.
Dalam benak mereka, tak mungkin Andito yang biasanya pusing membedakan batas astronomis dan geografis, tiba-tiba berubah menjadi ahli geografi hanya dalam semalam.
Untuk pertama kalinya sejak awal semester, Andito mengerjakan ulangan tanpa menggaruk kepala setiap tiga puluh detik.
Satu nomor.
Dua nomor.
Lima nomor.
Hingga halaman itu perlahan dipenuhi tulisan.
Dilihat sekilas, bahkan terlihat meyakinkan. Meski belum tentu semuanya benar.
Di sampingnya, Yuna yang tanpa sengaja melirik tingkah teman sebangkunya itu, gerakan menulisnya sempat terhenti. Sudut bibirnya pun ikut terangkat penuh kelegaan.
"Tumben kamu setenang ini?" tegurnya lirih.
Andito masih terus menulis tanpa menoleh.
"Yaa... ini juga gara-gara seseorang yang kalau ngomong suka sok saintis."
Yuna memiringkan kepalanya sejenak. Alisnya ikut terangkat sedikit.
"Maksudnya?"
Andito akhirnya menoleh sebentar.
"Gak ada."
"Thanks udah ngingetin gue semalem, Yun. Jadinya gue sempet belajar dikit."
Yuna menggeleng pelan.
"Itu kan memang seharusnya kamu yang belajar, untuk menghadapi ulangan ini."
"Ya tetep aja. Gue ngerasa terbantu udah lu ingetin."
Yuna mengangguk singkat, kemudian kembali menghadap lembar soalnya sendiri. Menyisakan senyum tipis yang belum sepenuhnya memudar.
Menyadari hal itu—
"Oh iya..."
Yuna melirik sejenak.
"Tumben akhir-akhir ini..."
"...lu sering senyum."
Detik itu juga, mata Yuna membulat.
Refleks kedua telapak tangannya langsung menutupi sebagian wajah. Seolah ingin menyembunyikan ekspresi yang baru saja ketahuan.
Melihat itu, Andito sampai terkekeh kecil melihat reaksinya yang terkesan berlebihan. Namun juga, terlihat menggemaskan di matanya.
"Loh..."
"Gapapa kali."
"Menurut gue malah bagus."
Yuna menurunkan kedua tangannya perlahan. Matanya mengintip melalui sela-sela jari—belum sepenuhnya membuka wajahnya.
Disebelah, Andito kembali menunduk untuk melanjutkan mengerjakan soal. Dengan senyum yang masih tertinggal di bibirnya.
"Duh..."
"Sifat aslinya ternyata begini ya."
"Capek juga tiap ngobrol sama dia harus siap senam jantung terus."
Ia menggeleng pelan sambil kembali mengisi jawaban berikutnya. Jantungnya pun belum berdetak normal.
Sementara itu di sampingnya, Yuna pada akhirnya menurunkan kedua tangannya dari pipi. Matanya kembali menatap lembar soal. Namun pikirannya sudah tak lagi berada di sana.
"Dia..."
"Benar-benar memperhatikanku?"
Ia meraih bolpoin hitam metalik yang tergeletak di samping lembar jawaban. Namun entah mengapa, gerakan jemarinya masih membeku—mencengkeram lebih erat kali ini.
"Kalau begini terus..."
"Akan semakin sulit bagiku berpura-pura menjadi murid biasa."
Untuk pertama kalinya...
Yang membuat Yuna gugup bukanlah soal geografi di hadapannya. Melainkan seseorang yang duduk tepat di sebelahnya.
"Cukup..."
"Berbahaya..."
sebelumnya lebar lapangan