Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pagi itu, cahaya matahari menyinari halaman luas Mansion Laurent.
Sudah hampir satu minggu Alyssa tidak pernah keluar dari gerbang mansion.
Setiap hari kegiatannya hampir sama.
Membaca buku di perpustakaan.
Membantu Maria di dapur.
Bermain bersama Leonardo—meski bocah itu masih sering menjahilinya.
Menyiram bunga di taman.
Lalu kembali masuk ke kamar.
Awalnya ia mencoba menikmati ketenangan itu.
Namun semakin hari...
Ia mulai merasa sesak.
Seperti seekor burung yang dikurung di sangkar emas.
Di ruang makan.
Alyssa hanya mengaduk sarapan di piringnya tanpa selera.
Leonardo yang duduk di seberangnya memperhatikan.
"Kak Alyssa."
"Hm?"
"Kenapa nasinya diputer-puter?"
Alyssa tersenyum kecil.
"Aku sedang berpikir."
Leonardo mengangguk.
"Oh."
"Kalau aku mikir..."
"...aku garuk kepala."
Alyssa tertawa kecil.
"Memangnya membantu?"
"Iya."
"Biar kelihatan pintar."
Lucas yang baru turun tangga mendengar percakapan itu.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Pagi."
Leonardo langsung melambaikan tangan.
"Daddy!"
Lucas duduk di kursinya.
Tatapannya langsung menangkap wajah Alyssa yang tampak murung.
"Kau kurang tidur?"
Alyssa menggeleng.
"Tidak."
"Lalu?"
Alyssa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
"Aku bosan."
Lucas mengangkat sebelah alis.
"Bosan?"
Alyssa langsung merasa tidak enak.
"Maaf."
"Bukan maksudku tidak bersyukur."
"Hanya saja..."
"Aku merasa seperti tidak melakukan apa-apa."
"Semua orang bekerja."
"Aku hanya diam."
Leonardo ikut menyahut.
"Iya."
"Kak Alyssa tiap hari cuma lihat ikan."
Alyssa langsung tertawa.
"Aku tidak setiap hari melihat ikan."
"Hampir."
Lucas menyesap kopinya.
Beberapa detik kemudian ia berkata,
"Kalau begitu ikut denganku."
Alyssa berkedip.
"Ke mana?"
"Ke kantor."
Sendok di tangan Alyssa hampir terjatuh.
"Kantor?"
Lucas mengangguk santai.
"Hari ini jadwalku tidak terlalu padat."
"Aku bisa mengawasimu langsung."
"Tapi..."
"Patrick..."
Lucas memotong.
"Pengawalan akan diperketat."
Alyssa masih ragu.
"Aku takut merepotkan."
Lucas tersenyum tipis.
"Kau sudah mengatakan kalimat itu hampir seratus kali."
Leonardo langsung mengangkat tangan.
"Aku ikut!"
Lucas menggeleng.
"Tidak."
"Lho?"
"Hari ini kau sekolah dengan Bu Jennie."
Leonardo langsung mengembuskan napas panjang.
"Yah..."
"Aku kalah sama kantor."
Satu jam kemudian...
Di lantai dua mansion.
Maria membuka pintu kamar Alyssa.
"Nona."
"Gaun yang Tuan pilih sudah datang."
Alyssa membelalakkan mata.
"Gaun?"
Maria tersenyum.
"Tuan Lucas meminta kami menyiapkannya."
Tak lama kemudian beberapa pelayan masuk membawa beberapa kotak.
Saat dibuka...
Isinya adalah beberapa dress sederhana namun elegan dengan warna-warna lembut.
Alyssa langsung panik.
"Ini terlalu mahal."
Maria tersenyum.
"Tuan berkata Nona tidak boleh menolak."
Empat puluh menit kemudian...
Lucas sedang menunggu di aula utama.
Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap.
Jam tangan klasik menghiasi pergelangan kirinya.
Adrian berdiri di samping.
"Tuan."
"Konvoi sudah siap."
Lucas mengangguk.
Namun saat mendengar langkah kaki dari tangga...
Ia menoleh.
Dan untuk beberapa detik...
Lucas benar-benar terdiam.
Alyssa turun perlahan.
Ia mengenakan dress selutut berwarna biru muda dengan potongan sederhana.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai rapi.
Maria hanya memberi riasan yang sangat tipis.
Justru membuat wajah Alyssa terlihat semakin segar.
Alyssa terlihat gugup.
"Apakah..."
"...terlalu berlebihan?"
Lucas baru tersadar dari lamunannya.
"Tidak."
"Justru..."
Ia berhenti sejenak.
"Gaun itu cocok."
Pipi Alyssa langsung memerah.
"Terima kasih."
Adrian yang melihat ekspresi Lucas hanya tersenyum kecil dalam hati.
Jarang sekali Tuan sampai kehilangan kata-kata.
Beberapa menit kemudian.
Gerbang Mansion Laurent terbuka.
Di depan...
Empat SUV hitam keluar lebih dulu.
Disusul mobil sedan antipeluru milik Lucas.
Di belakangnya...
Empat kendaraan pengawal lain mengikuti.
Total sembilan kendaraan.
Alyssa sampai menoleh ke jendela.
"Sebanyak ini?"
Lucas menjawab tenang.
"Itu prosedur."
"Prosedur?"
"Iya."
Alyssa benar-benar tidak menyangka.
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
Konvoi memasuki kawasan bisnis paling elit di kota.
Di depan mereka berdiri sebuah gedung pencakar langit berlapis kaca.
Puluhan lantai.
Dengan logo perusahaan besar terpampang megah.
Laurent Artificial Intelligence Corporation.
Alyssa mendongak.
Mulutnya perlahan terbuka.
"Ini..."
"...perusahaanmu?"
Lucas mengangguk.
"Iya."
"Besarnya..."
"...seperti kota kecil."
Lucas hanya tersenyum tipis.
Begitu mobil berhenti...
Puluhan petugas keamanan langsung membentuk barisan.
Pintu dibuka.
Lucas turun lebih dulu.
Lalu mengulurkan tangan kepada Alyssa.
Alyssa sempat ragu.
Namun akhirnya menerima uluran tangan itu.
Begitu mereka berjalan memasuki lobi...
Seluruh karyawan langsung berdiri.
"Selamat pagi, Tuan Direktur!"
Suara mereka terdengar serempak.
Alyssa sampai sedikit terkejut.
Semua mata kini tertuju kepada dirinya.
"Siapa wanita itu?"
"Aku baru pertama kali melihatnya."
"Direktur membawa wanita?"
"Serius?"
Bisik-bisik mulai terdengar.
Salah seorang staf berbisik pelan,
"Itu pengawalnya banyak sekali."
"Hitung deh."
"Satu..."
"Dua..."
"Delapan."
"Itu semua tim elite."
"Katanya satu orang saja tarif tahunannya fantastis."
"Kalau semuanya ikut..."
"Berarti wanita itu sangat penting."
Alyssa mulai merasa gugup.
Ia mendekat sedikit kepada Lucas.
"Banyak yang melihat."
Lucas menjawab pelan.
"Biarkan."
"Mereka hanya penasaran."
Lift khusus direktur langsung terbuka.
Tak seorang pun boleh masuk selain Lucas.
Begitu tiba di lantai paling atas...
Pintu ruang direktur terbuka otomatis.
Ruangan itu begitu luas.
Jendela kaca membentang dari lantai hingga langit-langit.
Di salah satu sisi terdapat layar digital raksasa.
Rak buku.
Area rapat pribadi.
Dan taman kecil di balkon.
Alyssa berkeliling sambil menahan kagum.
"Indah sekali."
Lucas meletakkan map di meja.
"Kau boleh menunggu di sini."
"Aku harus menghadiri rapat sekitar satu jam."
Alyssa mengangguk.
"Baik."
Lucas menekan interkom.
"Tolong panggil Ariana."
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian...
Pintu diketuk.
Seorang wanita muda masuk.
Usianya sekitar dua puluh delapan tahun.
Berpenampilan elegan.
Rambut cokelat bergelombang.
Setelan kerja mahal.
Wajahnya cantik dan percaya diri.
"Selamat pagi, Lucas."
Nada bicaranya terdengar akrab.
Lucas hanya mengangguk.
"Ariana."
Wanita itu kemudian baru menyadari keberadaan Alyssa.
Tatapannya berubah sesaat.
"Ini..."
Lucas memperkenalkan singkat.
"Namanya Alyssa."
"Alyssa."
"Ini Ariana."
"Manajer Umum perusahaan."
Ariana tersenyum sopan.
"Senang bertemu."
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
Alyssa membalas ramah.
"Senang bertemu juga."
Lucas berkata,
"Ariana."
"Tolong temani Alyssa berkeliling perusahaan."
Ariana mengangguk.
"Tentu."
Namun dalam hatinya...
Perasaannya mulai tidak nyaman.
Lucas... membawa wanita ke kantor?
Bahkan menyuruhku menemaninya?
Selama bertahun-tahun...
Lucas selalu menolak ajakannya makan malam.
Menolak hadiah ulang tahun.
Bahkan selalu menjaga jarak.
Kalau bukan karena ibunya Ariana adalah sahabat lama ibu Lucas...
Kemungkinan besar Lucas sudah memindahkannya ke cabang lain karena terlalu sering mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.
Setelah Lucas pergi menuju ruang rapat...
Ariana menoleh kepada Alyssa.
"Kalau begitu..."
"Mari."
Alyssa tersenyum.
"Terima kasih."
Mereka mulai berjalan melewati berbagai divisi.
Ruang pengembangan AI.
Laboratorium robotika.
Pusat server.
Studio simulasi.
Alyssa benar-benar terpukau.
"Semua ini..."
"...luar biasa."
Ariana menjawab datar.
"Lucas memang perfeksionis."
"Semua harus terbaik."
Alyssa mengangguk.
"Pantas semua orang sangat menghormatinya."
Ariana melirik Alyssa sekilas.
"Kau mengenalnya sejak kapan?"
"Belum lama."
"Hm."
Ariana kembali berjalan.
Beberapa staf yang melihat mereka mulai berbisik.
"Itu wanita tadi."
"Yang datang sama Direktur."
"Apa pacarnya?"
"Mana mungkin."
"Tapi Direktur belum pernah membawa siapa pun."
Bisikan-bisikan itu jelas terdengar oleh Ariana.
Rahangnya sedikit mengeras.
Ia sudah bertahun-tahun berada di sisi Lucas.
Membantu membangun perusahaan.
Lembur hingga larut malam.
Namun...
Tidak pernah sekalipun Lucas mengajaknya datang bersama seperti hari ini.
Sedangkan Alyssa...
Wanita yang bahkan baru dikenalnya.
Bisa berjalan berdampingan dengan Lucas di depan seluruh perusahaan.
Ariana memaksakan senyum.
"Kau tahu."
"Iya?"
"Lucas itu sulit didekati."
Alyssa tersenyum kecil.
"Aku juga berpikir begitu saat pertama kali bertemu."
Ariana tertawa kecil.
"Percayalah."
"Sudah bertahun-tahun aku mengenalnya."
"Dia hampir tidak pernah memberi perhatian khusus kepada wanita."
Alyssa mengangguk.
"Begitu ya."
"Tapi..."
Ariana berhenti berjalan.
Menatap Alyssa lurus-lurus.
"Hari ini ternyata berbeda."
Alyssa tampak bingung.
"Maksudmu?"
Ariana tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa."
"Hanya merasa..."
"...kau cukup beruntung."
Meski kata-katanya terdengar sopan...
Nada suaranya menyimpan rasa cemburu yang sulit disembunyikan.
Dan Alyssa yang polos...