Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Arkan
Kabut turun masih cukup tebal. Sungai Mahakam tampak hitam dan tenang, dan yang terdengar hanya suara air yang bergemercik... tetapi seolah ada yang memanggil dari dalam.
Arkan membuka jendela rumah. Ia tahu jika ini terasa cukup dingin. Tetapi ia seperti merasakan sesuatu yang membuatnya terasa seperti ada bisikan yang mengusik telinganya.
Wuuuussh!
Angin bertiup dengan semilir, dan menghantarkan bau anyir yang sangat kuat.
Srrrtts!
Sekelebatan bayangan melintas diantara kegelapan malam yang semakin kelam.
Arkan merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Dimana bisikan yang cukup kuat kembali terdengar dan mengajaknya untuk segera menuju ke arah belakang rumah.
Ia berjalan menuju pintu depan. Saat bersamaan, Dayang Sari terbangun dari tidurnya.
"Arkan... Kamu mau kemana?" tanya Dayang Sari. Meskipun mengantuk ia tetap berusaha membuka matanya.
"Aku merasa ada yang memanggil dari tepi sungai." ucapnya.
"Jangan sembarangan keluar. Kamu masih belum pulih," cegah Dayang Sari.
Arkan tak mengindahkannya. Lalu memilih untuk terus turun menapaki anak tangga.
Ia terus berjalan dan tidak memperdulikan ucapan Dayang Sari yang sudah membuatnya khawatir.
Kakinya terus berjalan menapaki jalanan setapak menuju ke arah belakang, dan bisikan itu semakin jelas ditelinganya.
Bahkan ia berjalan tanpa alas kaki.
Saat tiba di bawah pohon ulin yang tumbuh tinggi menjulang dan daunnya yang cukup rimbun, ia berhenti sejenak, dan mengatur nafasnya yang tersengal.
"Eeerrgh!"
Tiba-tiba ia mendengar suara erangan dari balik rerumputan yang tumbuh tinggi.
Arkan mengedarkan pandangannya, sembari menajamkan indera pendengarannya.
"Uhuuuk..." suara batuk yang sangat pelan, dan membuat Arkan melihat ke arah timur.
Terlihat rerumputan itu bergoyang. Arkan merasa aneh dengan dirinya. Sejak batu merah darah itu masuk ke dalam tubuhnya, ia seperti dapat mendengar suara, meski di kejauhan.
Bahkan ia juga dapat melihat sesuatu tentang hal ghaib, dan menembus kegelapan.
"TOK!!" ucapnya dengan pelan.
Meski dalam gelap, ia dapat melihat siapa yang sedang terbaring di sana.
Arkan setengah berlari. Tubuhnya masih lemas, demamnya belum turun. Tapi saat ia melihat Damang Jaya tergeletak di antara rerumputan, dia langsung berjongkok, dan mengangkat tubuh tua tersebut.
Damang dalam kondisi pingsan. Napasnya tersengal. Bibirnya sudah membiru. Di tangannya masih tergenggam erat sesajen, kemenyan, tujuh butir padi, dan juga sehelai rambut yang berukuran cukup panjang.
Dayang Sari menyusul dari arah belakang. Wajahnya pucat. "Arkan... tolong cepet bawa ke rumah!" ucapnya dengan rasa khawatir.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Arkan menggendong tubuh tua itu. Terasa cukup berat, dan bahkan ia seperti mengakat beban yang cukup berat. Tetapi dia tetap maksa.
Tak tak tak!
Langkah mereka cukup cepat di atas tanah berlumpur. Warga masih di balai desa. Tidak ada yang tau.
Sesampainya di rumah singgah. Pintu belakang dibuka.
Arkan bergegas menaiki anak tangga, dan membaringkan Damang di atas tikar pandan, di sebelahnya ia sendiri sedang demam.
Dayang langsung mengambil air, kain, dan juga daun sirih. "Tok... bangun Tok..." bibirnya bergetar saat memanggil pria tersebut.
Saat Dayang Sari membuka kerah baju Damang buat mengompres...
Sesaat ia terdiam.
Suasana menjadi hening. Dayang Sari menengadahkan wajahnya menatap langit-langit rumah, lalu memejamkan kedua matanya.
Ia merasa jika apa yang di lihatnya saat ini, adalah sesuatu yang sangat sulit untuk ia ungkapkan. Beban yang cukup berat, bahkan ia syok untuk sekedar mengatakan sepatah katapun. Lidahnya terlalu keluh.
Di leher Damang Jaya. Tepat di tengkuknya, ada tiga garis cakar yang sangat panjang. Dan itu berwarna hitam kebiruan.
Tanda itu seperti baru. Bahkan bekasnya masih basah. Dan itu pertanda, jika sang Atok baru saja mencari tumbal.
Arkan yang melihatnya ikut menahan napas. "Ini... ini manik Kuyang?" suaranya terdengar pelan. Bahkan hampir tenggelam.
Dayang Sari merasakan dadanya cukup sesak. Tangannya gemetar. Ia menggelengkan kepalanya "Gak mungkin... Atok bilang dia yang berin aku kalung buat menahan lapar. Katanya buat melindungi aku..."
Damang mengerang pelan. Matanya terbuka setengah. "J...Jangan... buka..." bisiknya lemah.
"Tok! Siapa yang menyakar Atok?!" tanya Arkan, menahan Damang agar tidak kejang.
Damang tertawa kecil. Suaranya serak. "Kalian... terlalu lambat..."
Ia menatap Dayang dalam-dalam. "Sari... Atok minta maaf..."
"Maaf buat apa?!" Dayang berteriak. Air matanya jatuh di disudut pipinya..
Damang Jaya tidak menjawab, ia hanya beranjak dari atas tikar pandan, lalu duduk dengan wajah yang masih pucat.
Dengan sempoyongan, ia menarik syal milik Dayang Sari yang tergeletak di atas lantai kayu.
Ia kemudian melilitkannya, dan beranjak pergi dari tempatnya.
Dayang Sari menatapnya dengan mulut tercengang.
"Atok mau kemana?!" tanya Dayang Sari dengan wajah yang menahan beban berat.
Damang Jaya terus berjalan, dan saat berada diambang pintu, ia berhenti sejenak. "Jika warga bertanya tentang aku, maka katakan aku sedang tidak enak badan," pesannya, lalu ia menapaki anak tangga, dan turun menuju pelataran rumah.
Di kejauhan, terdengar suara teriakan warga.
"Kuyang... Kuyang..." terlihat cahaya sorot senter berputar kesana dan kemari, seolah sedang mencari sosok buronan yang sangat berbahaya.
Dayang Sari mendadak tubuhnya menjadi lemas. Lalu merosot ke bawah.
"A-atoook...." bisiknya pelan.
Sementara itu, Damang Jaya sudah tiba di rumahnya. Ia langsung menuju kamarnya. bibirnya gemetar menahan rasa sakit yang tak dapat ia ungkapkan.
Ia duduk bersila menghadap sebuah mangkuk dengan berisi kembang melati, kenanga dan juga kantil.
Di depannya terdapat anglo yang berisi dupa dan juga asap kemenyan yang mengepulkan asap.
Mulutnya komat-kamit membaca mantra dan membuat ruangan kamarnya bergetar hebat.
Sedangkan di luar sana, suara warga yang berisik karena riuh mencari sosok Kuyang yang sudah memakan seorang bayi berusia satu tahun.
"Tadi kita melihatnya ke arah tepi sungai sisi Utara," teriak Pak Taslim dengan wajah geram, tetapi berkeringat dingin.
Di sisi lain, dari arah ventilasi kamar Damang Jaya, keluar asap hitam yang mengepul dan membentuk wajah mengerikan.
Asap hitam itu berubah menjadi bola api, dan melesat menuju tengah sungai, kemudian melayang rendah, dan di dekat warga yang sedang mencari kebedaan Kuyang tersebut.
"Itu...!" teriak Pak Thamrin, menunjuk ke arah bola api yang di yakini sebagai petunjuk untuk mengetahui tentang keberadaan sang Iblis.
"Ayo....!" teriak Pak Taslim. Mereka yang membawa mandau di acungkan ke atas.
"Ayo... Serbu.. Pekik warga lainnya dan mereka berlari menuju tepi sungai.
Pak Thamrin mengerutkan keningnya.
Ia mengendus aroma darah yang cukup kuat dan menyengat, lalu menguar di udara malam yang cukup dingin dan gelap.
Warga semakin banyak, dan lari mereka cukup kencang.
"Jangn berlari..! Datarannya licin!" teriak Thamrin cukup kencang.